Langsung ke konten utama

Memahami Teknis Menulis yang Tepat

Judul : Teknik Menulis Artikel Opini
Penyusun : Wayan Windia & Jiwa Atmaja
Tebal : xvii + 168 halaman
Penerbit : Udayana University Press 2010
Peresensi : Wayan Supartha
http://www.balipost.co.id/

APAKAH Mangku Pastika Dapat Dipercaya? Kalimat dengan nada bertanya itu adalah judul salah satu artikel yang dimuat pada halaman 79 buku ini. Artikel itu memperbincangkan sosok Mangku Pastika yang mengundang pro dan kontra. Untuk jelasnya, artikel itu ada baiknya dikutip sebagai berikut.

Bila Tuhan berkenan, minggu ini Pastika akan dilantik sebagai Gubernur Bali. Hingga detik ini tampaknya masih menjadi wacana pablik tentang pro-kontra keterpilihannya sebagai Gubernur. Hal itu disebabkan pada saat pemilihan (hari H Pilkada) ia tidak memiliki hak pilih. Terbukti ia tidak memilih. Oleh karenanya (sesuai dengan UU Kepolisian), maka ia pun tidak memiliki hak untuk dipilih. Artinya, ia tidak memiliki hak pilih. Namun, KPU Bali tampaknya memiliki cara pandang yang lain. Inilah politik. Tampaknya sangat tergantung dari siapa yang berada di balik kepemimpinan KPU Bali. Itulah hukum. Tampaknya ia dapat “dipermainkan”, sejauh orang politik mampu “mempermainkannya”. Hal ini menunjukkan bahwa mereka cendrung berkarakter yang tidak memiliki etika politik, dan mungkin juga licik.

Namun, jauh sebelum Mangku Patika menjadi cagub (ketika ia masih menjadi Kapolda Bali), ia telah menyatakan statemen, bahwa ia tidak akan mau menjadi Gubernur Bali. Ternyata dalam perjalanan waktu, ia berbalik haluan dan menelan ludahnya sendiri. Kemudian, tetap pada saat ia masih menjadi Kapolda Bali, ia dengan gencar menangkap/membubarkan sabungan ayam (tajen) yang diselenggarakan oleh masyarakat Bali. Namun dalam proses perjalanannya menuju Bali-1, ia kembali menelan ludahnya yang kedua.

Cuplikan artikel di atas, entah memiliki tujuan untuk mengungkap kembali sikap Mangku Pastika dalam kancah politik, entahlah. Yang jelas, pesan-pesan yang hendak disampaikan oleh buku ini adalah bagaimana teknik menulis artikel opini. Sebagai awal proses penulisan, menurut penulis buku ini, perlu menetapkan permasalahan apa yang akan ditulis. Mencari dan menemukan masalah merupakan hal prinsip, karena tanpa itu, mana ada proses tulis menulis.

Umumnya, masalah yang baik dan menarik untuk ditulis adalah masalah/isu yang kontradiktif atau isu lain yang sedang hangat dibicarakan masyarakat. Mungkin itulah sebabnya, penulis buku ini mengajukan sebuah contoh tentang kiprah Mangku Pastika di kancah politik, karena ada beberapa hal yang kontradiktif pada diri orang nomor satu di Bali itu. Misalnya, seperti diungkap tadi, ia konon tidak memiliki hak untuk dipilih, tapi KPU memperkenankan ia mendaftar sebagai cagub. Semasih menjadi Kapolda Bali, ia mengeluarkan statemen “tidak ingin menjadi Gubernur Bali” tapi kemudian mencalonkan diri. Jua sewaktu masih Kapolda Bali, ia terkenal “galak” dengan bebotoh tajen, namun kemudian sikapnya itu menunjukkan kebalikannya saat menuju Bali-1. Setelah duduk di kursi Gubernur, ia menyatakan ada niat mengubah Perda tentang ketinggian bangunan. Ada beberapa lagi sikap Mangku Pastika yang kontradiktif yang dalam buku ini belum termuat. Tentu saja selain ada sisi “gelapnya” tentu saja ada sisi “terangnya”, karena manusia tidak luput dari hukum rwabhineda dan setiap orang bisa memiliki pandangan yang berbeda untuk menilai seseorang.

Masalah

Sekali lagi, itulah sebuah contoh masalah yang menarik untuk ditulis sebagai artikel opini. Kegiatan menulis, baik itu menulis karya fiksi maupun non fiksi sangat penting terutama dalam dunia pendidikan. Seorang pelajar dan mahasiswa sering stres, jika tidak memiliki kegamaran menulis, manakala disuruh gurunya menulis laporan atau karya tulis ilmiah. Jika ada kerja kelompok, artinya satu karya ilmiah bisa ditulis lebih dari satu orang, maka yang tak gemar menulis hanya menumpang nama dan meraih nilai yang sama dengan “penulis aslinya”. Jika “tradisi” ini dilakukan terus menerus dan dianggap sebagai “kenikmatan”, maka kelak suatu saat, sang mahasiswa yang hanya “numpang nama” akan sangat “tidak nikmat” setelah menulis skripsi. Jika menulis skripsi saja stres apalagi nanti menulis tesis dan disertasi saat melanjutkan jenjang pendidikannya.

Oleh karena itu, buku ini penting dibaca, disimak dan dipahami sebagai pembuka, petunjuk jalan atau mungkin pembakar semangat untuk mulai belajar menulis apa saja. Sebagaimana diungkapkan oleh penulis buku ini, bahwa seorang penulis yang kuat biasanya memulai kariernya dari seorang penulis puisi/cerpen, selanjutnya menjadi wartawan, penulis feature/human interest, penulis artikel/opini, dan terakhir pada penulis tajuk rencana. Penulis buku ini mengajak pembaca untuk merenungi pengakuan Sastrawan Polandia, Gunter Grass yang menerima hadiah Nobel Sastra tahun 1999, bahwa karier kepenulisannya dimulai dari puisi.

Agar sukses sebagai penulis, tentu saja dimulai dari kegiatan membaca. Sebab, membaca dan menulis saling berkausalitas satu sama lain. Artinya, untuk dapat menulis dengan baik, kegiatan utamanya adalah membaca. Seorang penulis haruslah membaca sebanyak mungkin karya tulis pendahulunya, sehingga mendapat banyak sumber informasi, disamping dapat menghayati struktur pemikiran yang terdapat dalam teks yang dibacanya.

Akan tetapi yang perlu pula diingat, bahwa belajar menulis tidak jauh berbeda dengan belajar naik mobil. Teori sangat perlu misalnya untuk mengetahui dimana letak rem, kopling, gas dan sebagainya. Namun jika tidak pernah dipraktikkan, maka selamanya tidak akan bisa naik mobil. Dalam belajar menulis pun perlu praktik dan pembiasaan.

Yang juga tak kalah pentingnya, intruktur kursus mengemudi, harus berpengalaman mengemudi mobil. Tidak mugkinlah ia bisa mengajar orang naik mobil kalau ia sendiri tak pernah menyetir mobil. Demikian pula untuk belajar menulis. Orang yang memberi teori teknik menulis, tentu adalah seorang penulis. Dan penulis buku ini, dalam dunia tulis menulis tidak perlu diragukan lagi kemampuannya dalam menulis. Wayan Windia adalah guru besar di Universitas Udayana, yang sejak muda aktif menulis fiksi dan nonfiksi, kemudian menjadi wartawan dan menulis sejumlah buku. Demikian pula Jiwa Atmaja, selain dosen dan penulis sastra/artikel di berabagai media massa, sejumlah bukunya telah terbit dan banyak diacu para peneliti.

Komentar

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com