Langsung ke konten utama

Mencegah Timbulnya Mitos Baru

MITOS PRIBUMI MALAS
Oleh: S.H. Alatas
Penerjemah: Akhmad Rofi’ie
Penerbit: LP3ES, Jakarta, 1988, 358 halaman
Peresensi: Selo Soemardjan
http://majalah.tempointeraktif.com/

ALATAS, bekas guru besar sosiologi di Universitas Nasional Singapura, telah menulis sejumlah buku dan artikel yang terbit di berbagai majalah. Yang terkenal adalah bukunya The Sociology of Corruption, 1968. Karena buku itu, Alatas pernah diundang oleh Emil Salim, Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup, untuk ikut serta dalam diskusi mengenai korupsi sebagai gejala sosial dan cara memberantasnya.

Buku Mitos Pribumi Malas diberi subjudul: Citra Orang Jawa (bukan Indonesia), Melayu (bukan Malaysia), dan Filipina dalam kapitalisme kolonial. Jangkauan waktunya meliputi abad ke-16 sampai ke-20. Pada kurun waktu itu Jawa dijajah oleh Belanda, masyarakat Melayu oleh Inggris, dan Filipina oleh Spanyol. Penjajahan Filipina oleh Amerika tidak diliput dalam buku ini.

Mitos yang disebarkan oleh kaum penjajah di seluruh Eropa dalam abad-abad itu sebenarnya tidak hanya mengenai kemalasan orang pribumi, tetapi malah lebih luas cakupannya. Orang-orang pribumi (natives, inlanders) dari ketiga daerah jajahan itu digambarkan sebagai orang lamban, dungu, terbelakang, curang, berinteligensi tidak lebih dari anak-anak umur 12-14 di Eropa.

Citra yang demikian itu dicerminkan dalam tulisan para pengarang, administrator, dan pengunjung di antara kaum penjajah secara terus-menerus, sehingga menjadi mitos di Eropa. Mitos yang merendahkan kaum pribumi itu sebenarnya merupakan refleksi sikap angkuh dan anggapan diri kaum penjajah sebagai ras yang superior di atas kaum pribumi.

Selanjutnya, mitos itu diperlukan untuk mengesahkan politik kerja paksa, jual paksa, dan tanam paksa yang mereka terapkan terhadap kaum pribumi di tanahnya masing-masing. Dalam sistem kapitalisme kolonial yang mereka lakukan, mereka menganggap malas segala sikap yang tidak cocok dengan cara kerja yang mereka inginkan, yaitu kerja paksa untuk menghasilkan keuntungan sebesar-besarnya bagi mereka.

Mereka tidak berusaha melihat kenyataan bahwa para pribumi itu dengan sendirinya bekerja keras apabila mereka berada dalam keadaan yang mereka rasakan adil dan penuh dengan kemanusiaan. Mereka tidak mampu mengerti bahwa sikap acuh tak acuh terhadap sistem paksa mereka adalah suatu cara memprotes dari pihak masyarakat pribumi.

Sayang sekali, demikian buku ini, bahwa citra negatif mengenai masyarakat pribumi itu diperkuat oleh golongan yang berkuasa pada masyarakat itu sendiri. Banyak penguasa kolonial asing maupun penguasa pribumi bertindak sewenang-wenang terhadap rakyat atas dasar anggapan bahwa orang-orang pribumi itu malas dan tidak suka bekerja.

Sebenarnya, para penguasa asing dan pribumi sendirilah yang malas dan kejam. Mereka sendiri tidak suka bekerja kasar dan keras. Kalau orang pribumi bekerja santai karena menurut musim pertanian memang tidak banyak pekerjaan, mereka dikatakan malas. Tetapi kalau kaum penjajah sampai lama tidak bekerja, mereka dikatakan libur.

Pengangguran bukan kemalasan, tetapi menolak bekerja adalah malas. Sesudah masyarakat Melayu, Jawa, dan Filipina merdeka, citra yang amat merendahkan mereka itu cepat hilang dari pandangan orang-orang asing. Tetapi khususnya di Malaysia, demikian Alatas dalam buku-nya, timbul sumber baru di dalam negeri yang menimbulkan citra semacam.

Pada tahun 1971, UMNO menerbitkan brosur Revolusi Mental, yang ditulis oleh sebuah panitia di bawah pimpinan sekretaris jenderal partai, untuk disebarkan kepada para anggotanya dengan maksud agar mereka mengubah cara berpikir dan sikapnya untuk menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman.

Menurut brosur partai UMNO itu, masyarakat Melayu kurang berani berjuang demi kebenaran, berwatak fatalistis, tidak berpikir rasional, lebih sering mengikuti perasaan, tidak berdisiplin dan tidak menepati janji atau waktu, ingin lekas kaya tanpa upaya yang memadai, dan seterusnya.

Menurut Alatas, citra yang disebarkan lewat brosur itu mencerminkan kemiskinan intelektual para penulisnya. Di sini tampak sikap politik Alatas yang tidak mendukung pimpinan UMNO (disebut-sebut juga nama Mahathir, Perdana Menteri Malaysia sekarang). Citra dalam brosur UMNO itu hanya terbatas pada masyarakat Melayu, sedangkan citra baru yang diamati oleh penulis buku itu mempunyai lingkup yang amat luas.

Citra itu timbul sesudah banyak negara jajahan menjadi negara merdeka. Terhadap mereka itu sekarang ada citra dalam masyarakat-masyarakat- yang sudah maju ekonomi dan teknologinya, bahwa masyarakat yang baru mulai berkembang hidup dalam ketergantungan pada negara-negara donor. Tanpa bantuan, masyarakat-masyarakat itu tidak mampu hidup wajar di zaman kemajuan ini.

Mitos Pribumi Malas yang digambarkan Alatas itu di zaman penjajahan memang ada di Eropa. Kita yang dijajah pada waktu itu tidak mampu mengubahnya. Apakah sekarang akan timbul mitos baru? Mitos Pribumi Tergantung dari negara donor? Sekarang kita sudah merdeka, sekarang kita sudah jauh maju dalam pendidikan, sekarang kita harus mampu mencegah timbulnya mitos baru itu. Dengan sikap kerja dan hasil karya kita sendiri.

Semoga. Kita di Indonesia harus berterima kasih kepada Alatas dengan bukunya yang dapat menggugah kembah harga diri kita sebagai masyarakat dan bangsa yang terhormat.

21 Mei 1988

Komentar

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com