Langsung ke konten utama

SEKUNTUM BUNGA REVOLUSI; DALAM SUATU PENCARIAN

M.D. Atmaja
http://sastra-indonesia.com/

PENGANTAR

Seluruh dari kita, pastinya sepakat kalau saya mengatakan kehidupan manusia ini selayaknya perjalanan dari suatu tempat menuju suatu tempat yang lain. Dalam perjalanan itu, kita akan menemukan berbagai persoalan, entah persoalan yang menyenangkan maupun yang tidak kita senangi. Pun, selayaknya dalam perjalanan juga, dapat dipastikan kita melewati suatu jalan yang kita pilih. Terdengar menyenangkan saat membayangkan keadaan ini, berjalan dalam suatu perjalanan yang kita ingini, di jalan sendiri yang kita pilih, dengan menggunakan kendaraan yang dipilih juga sendiri kemudian diusahakan, demi menuju ke suatu tempat juga yang sudah kita tentukan.

Dalam perjalanan itu, seringkali menemukan berbagai macam hal yang berbeda dari apa yang ada di dalam pikiran. Misalnya saja, kita bertemu dengan seseorang yang memiliki jalan lain dengan tujuan yang (mungkin saja) sama dengan kita. Namun, banyak sekali perbedaan yang akan kita temukan, entah itu jalan, kendaraan, atau sikap dan cara pandang seseorang tersebut di dalam menjalani perjalanan(hidup)nya.

Tulisan ini, adalah uraian mengenai aspek-aspek perjalanan yang termuat di dalam surat Sekuntum Bunga Revolusi, X : I-XCI dalam antologi puisi Kitab Para Malaikat (2007) karya Nurel Javissyarqi yang diterbitkan oleh Pustaka Pujangga.

Perjalanan di dalam surat ini terekam, yang menurut saya merupakan pencerminan dari kehidupan sang penyair itu sendiri, tentang bagaimana dia menentukan sikap dalam hidup dan cara menjalani kehidupannya. Lebih jauh dari itu semua, si penyair yang terus saja menisbatkan diri sebagai “pengelana” secara tidak langsung mengumpulkan berbagai pengalaman perjalanan yang (semoga) dapat memberikan manfaat untuk kita yang membacanya. Bukan suatu hal yang baru, ketika kita membaca perjalanan orang lain dan menemukan pengalaman di sana sebagai guru untuk mendidik jiwa kita sendiri.
Dari sini, kita bisa mengambil manfaat dari ungkapan “belajar dari pengalaman orang lain” yang mana, sastra merupakan pencerminan sosio-budaya masyarakat (Teuuw, 1990: 11) yang terekam oleh seorang sastrawan. Dalam analisis ini, untuk mengetahui pengalaman yang terdapat di dalamnya, menurut saya, lebih tepat jika kita mendekati menggunakan skema Fenomenologi yang memandang objek sebagai kesatuan dengan bertumpu pada pengalaman intuitif (Eagleton, 1983: 87). Nilai pengalaman yang diracik Nurel Javissyarqi coba kita pahami dalam konteksnya sebagai seorang pengelana. Walau tidak setiap kita ingin menjadi pengelana, namun mari kita mengikuti sang Nurel Javissyarqi dalam menskema dan menorehkan pengalaman.

JALAN

Hal pertama yang ingin saya uraikan, tidak pada tujuannya akantetapi lebih pada jalan mana yang akan kita pilih. Sebab, tujuan sudah ada di dalam gambaran, jikalau manusia hidup tujuannya beraneka ragam, dan berhenti dengan mati. Karena itu, sebelum kita sampai pada mati, alangkah lebih baiknya kita menentukan jalan terlebih dahulu. Seperti yang juga diungkapkan NJ di bait pertama Sekuntum Bunga Revolusi, yaitu:

Sebelum jauh tulisan ini melangkah, ingin menyapamu terlebih dulu;
apakah mimpi perlahan mulai sirna oleh sorot matahari realita menempa jiwa,
entah masih ada, malam-malam lembut terjaga alunan sejati rasa (X: I) (Kitab Para Malaikat, 2007: 57)

Sebelum tulisan ini jauh melangkah, begitu NJ membuka tulisan ini dengan bahasa yang teramat sederhana namun sudah memberikan kita patokan. Ini menyoal langkah, berarti ini menyoal perjalanan. Pada tahap ini, NJ sama sekali tidak menanyakan mengenai kabar, tapi jauh pada penggerak langkah manusia, yaitu mimpi. Manusia melangkah dalam suatu perjalanan perjuangan karena dorongan mimpi atau keinginan. Pergerakan manusia tidak terjadi begitu saja, melainkan dikarenakan adanya stimulus atau rangsangan (Woodworth dan Schlosberg dalam Walgito, 2002: 9). Stimulus atau rangsangan dapat berupa apa saja, salah satunya adalah gerak yang dilakukan karena mimpi (atau cita-cita/ keinginan).

Untuk membawa seseorang di dalam suatu perjalanan, maka pertanyaan mengenai mimpi yang diusahakan cukup realistis, mengingat mimpi itu yang menjadi rangsangan sekaligus menjadi bahan bakar. Keberadaan dari mimpi ini, bisa saja hilang atau berganti karena berbagai faktor, salah satunya keadaan yang tidak mendukung. Misalnya saja, saya ingin menjadi seorang polisi namun karena saya tidak begitu baik (tidak tahan) berlari, maka otomatis saya gagal. Tapi tunggu sebentar, karena ini mimpi, saya pun berniat mengusahakan sampai pada titik-titik tertentu agar cukup terhormat ketika menyerah. Lalu, saya mendengar adanya isu (katakan saja sebagai gosip murahan) bahwa dengan uang pelicin, yang tadinya saya payah dalam berlari, ya tentu saja karena jalannya sudah licin.

Taraf untuk mencapai mimpi itu sudah berada di depan mata, ibarat tinggal melangkah sejengkal dan mimpi akan segera terwujud. Namun dasar apes juga nasib manusia, uang yang dipersyaratkan untuk melicinkan jalan agar bisa berlari dengan baik jumlahnya banyak. Katakan saja, lima puluh juta sedangkan saya hanya memiliki lima puluh ribu. Kontan, mimpi itu pun gagal dan sirna begitu saja mengingat berbagai kelemahan yang tidak sanggup saya tutup dan perbaiki. Karena itu, cukup masuk akal saat NJ mengatakan: “mimpi perlahan mulai sirna oleh sorot matahari realita menempa jiwa”.

“Sorot matahari realita menempa jiwa” suatu ungkapan yang kali ini memang terkesan lebih komunikatif. Dari kalimat ini, membawa kita untuk merenung arti dari sebuah matahari yang telah menghanguskan mimpi. Matahari sebagai guru, sekaligus tantangan bagi seseorang untuk memperkuat dirinya. Mimpi atau cita-cita ini, walau mungkin saja gagal diraih, manusia hendaknya tidak boleh menyerah begitu saja. Karena, kehilangan mimpi berarti dia kehilangan rangsangan untuk bergerak. Akantetapi, diketika kegagalan itu menjadi penghalang dalam perjalanan, kita mesti mengubah cara pandang mengenai kegagalan itu sendiri. Nurel Javissyarqi sudah menjawabnya, dengan menyatakan kalau kita terus gagal, maka: “matahari realita menempa jiwa”.

Kegagalan sebagai penyemangat, medan untuk terus berlatih dalam memupuk mimpi-mimpi manusia. Tidak ada kegagalan dalam konteks ini, melainkan kita diarahkan untuk menempuh cara lain. Cita-cita tetap harus terwujud, akantetapi hal yang paling penting adalah hakekat dari cita-cita itu sendiri. Misalnya, kembali pada cita-cita menjadi polisi. Polisi dengan seragam hanya semacam wadah yang membawa manusia pada hakekat dari polisi itu sendiri. Sedangkan cita-cita tidak berbatas pada wadah itu sendiri, tidak terbatasi pada bentuk karena lebih mementingkan pada hakekat serta nilai yang ada di dalamnya. Hakekat (nilai) dari polisi adalah semangat untuk mengabdi pada masyarakat dengan memberikan ketenangan, dan pengayoman pada masyarakat demi tegaknya keadilan.

Suatu kasus yang mungkin saja terjadi dalam kehidupan realitas, bahwa adanya keberadaan polisi di sekitar mereka justru tidak mendatangkan ketenangan, pengayoman maupun penegakkan keadilan. Polisi justru menjadi suatu kondisi yang ditakuti oleh masyarakat. Hal ini, dikarenakan para polisi yang ada di dalam kasus tersebut tidak memiliki cita-cita menjadi polisi, yang sehingga penyelewenangan dari wadah (simbol) itu terus terjadi. Bagaimana bisa menjalanka hakekat kalau individu tersebut tidak mengerti dengan hakekatnya. Jabatan yang diemban pun sebatas pada profesi yang sering diselewengkan bukan sebagai jati diri yang mesti ditegakkan. Kalau saja polisi tidak hanya sebagai profesi namun juga sebagai jati diri maka hakekat polisi itu akan tercipta.

Mimpi yang tidak tercapai kemudian menjadikan setiap kegagalan menjadi tempaan namun manusia tidak kehilangan hakekat dari mimpi-mimpinya itu, maka si individu yang bermimpi menjadi polisi itu akan mencari jalan lain. Jalan yang tentu saja dimana dia mampu menjalankan sifat mengabdi, memberikan rasa aman, pengayoman dan keadilan pada masyarakatnya, tanpa harus menjadi polisi. Katakan, M.D. Atmaja gagal menjadi polisi namun tidak kehilangan hakekat, maka saya pun akan berusaha lebih baik lagi. Bukan lagi menjadi polisi, tapi bagaimana menjadi Bupati, Menteri, bahkan Presiden RI.

Dalam lingkup perubahan wadah (simbol) tentang menjadi yang tidak kehilangan hakekat dapat terlaksana di sini. Menjadi Bupati, pengayoman, perlindungan itu dapat saya lakukan tanpa harus berlari. Tentu saja, saya tidak mesti capek berlari kalau saya tidak korupsi dan kepergok orang-orang yang iri. Jadi, selama manusia masih memegang esensi maupun hakekat dari mimpinya, maka dia patut untuk terus memelihara dan mencari jalan lain demi pelaksanaan dari nilai yang menjadi tujuan kehidupannya. Hal ini, yang NJ ketengahkan dan seminimal mungkin terbaca: “malam-malam lembut terjaga alunan sejati rasa”.

“Alunan sejati rasa” itulah yang disebut dengan hakekat dari suatu tujuan (mimpi) manusia. Saya ini ingin menjadi apa? Lalu bagaimana? Caranya seperti apa? Selama “malam-malam lembut terjaga alunan sejati rasa” terus terjaga, manusia tidak akan lelah dalam pergerakannya. Dia masih memiliki ruh dari mimpi yang sirna karena matahari realitas, atau setiap tembok kegagalan yang menutup jalan.

Seseorang yang telah memilih jalan hidupnya, akan dengan setia melangkah untuk mewujudkan mimpi yang dia tuju. Di sana, kita akan menemui perjuangan berat yang terkadang begitu berat di dalam pikiran, jikalau kita tidak melangkah. Berat itu karena hanya ada di dalam pikiran, namun ketika telah melangkah maka jalan itu terlewati seiring dengan proses, seperti yang diungkapkan Nurel Javissyarqi dalam ayat berikut:

Ia berkata; wujud tintaku darah kematian dan setiap torehan kata,
usiaku dikurangi serupa tercerabutnya nyawa di medan perang suci (X: X)

Adakah kesia-siaan pada ruang belum terisi sekalipun?,
ia berucap; inilah keindahan, ketinggian seni bagimu (X: XI) (Kitab Para Malaikat, 2007: 57)

Saya menemukan makna esensial dari jalan yang ditempuh oleh seseorang dalam perjalanan hidupnya, yaitu dalam kalimat “wujud tintaku darah kematian” yang merujuk pada nasib manusia. Hal ini dilihat dari nasib manusia yang sudah ditulis dalam Kitab Langit, yang di sana dikatakan bahwa nasib manusia sudah diciptakan sebelum manusia itu diciptakan. Ungkapan “darah kematian” sebagai goresan akhir yang mau tidak mau mesti kita terima dengan seabrek perangkat yang ada, diantaranya kesabaran dan keikhlasan.

Dengan melaksanakan apa yang namanya kepasrahan manusia pada takdir kehidupan, manusia itu secara tidak langsung sudah menjalani fase kehidupan yang tinggi. Bentuk dari penyerahan dan cinta yang dalam ungkapan manusia Jawa dijabarkan melalui kebijaksanaan: urip mung sakdermo nglakoni (Hidup hanya sekedar menjalani suatu hal yang sudah Tuhan tentukan). Jikalau manusia sudah mampu melaksanakan nilai kebijaksanaan hidup itu, maka manusia akan lebih mampu untuk menjalankan aspek nrimo atas apa yang Tuhan kehendaki.

Sikap nrimo dalam masyarakat Jawa seringkali diucapkan dalam menghadapi suatu kondisi, yang dibarengi dengan permasalahan nasib sebagai pandhum (pembagian). Manusia Jawa cenderung menilai yang terjadi bukan suatu persoalan besar dan menyerahkan semua kejadian pada kebaikan dan kebijaksanaan Tuhan dengan mengatakan nrimo ing pandhum yaitu menerima pembagian nasib dari Tuhan dengan sebaik-baiknya kesabaran dan keikhlasan.

Masyarakat Jawa, dalam menjalani kehidupannya mengacu tiga aspek utama yaitu rila (rela atau ikhlas), nrimo (menerima) dan sabar (kesabaran) yang hanya bisa dicapai dengan tapa atau mau melaksanakan laku (jalan hidup) yang sudah diniatkan atau dapat dikatakan sebagai kewajiban manusia itu sendiri (Mulder, 1984: 41). Aspek-aspek kehidupan di atas sebagai laku hidup yang menjadi idaman setiap manusia Jawa, sehingga dalam kehidupan mereka akan mendapatkan puncak dari jalan spiritual yang namanya slamet. Kita perlu mengingat bahwa slamet dalam budaya Jawa tidak hanya merujuk pada sistem dunia (mikro kosmos) melainkan pada sistem ketuhanan (makro-kosmos).

Ketika kita, manusia, mampu menjalankan tiga hal mendasar, maka bagi kita sudah cukup untuk mencari kebahagiaan dunia, dan akhirat. Karena itu, tidak suatu hal yang mengada-ada ketika Nurel Javissyarqi lalu mengatakan: “usiaku dikurangi serupa tercerabutnya nyawa di medan perang suci”. Bahwa, tahapan-tahapan dari rela (ikhlas), menerima, dan sabar dapat membawa manusia pada tingkatan tinggi dalam perjalanan spiritualitas. Ibnu Qayyim Al-Jauziyah dalam bukunya “Madarijus Salikin” (2009) mengenai persinggahan-persinggahan dalam menuju keesaan Allah menyatakan bahwa ikhlas, menerima (yang juga disebut dengan ridha) dan sabar merupakan persinggahan tertinggi yang dapat dicapai manusia.

Jalan, yang diniatkan untuk menggapai suatu tujuan, apalagi itu menyangkut dala persoalan spiritualitas, maka kita akan dituntut untuk menuju pada kekosongan. Yang saya maksudkan dengan kekosongan ialah, mengenai satu tujuan yang dibarengi dengan ikhlas, ridha, dan sabar untuk mensatukan tujuan hidup. Saya membacanya dalam “ruang belum terisi” yang memberikan saya pemahaman akan ruang kosong dan di sana hanya ada keheningan untuk melangkah di jalan spiritualitas. “Ruang belum terisi” sekali lagi bukan tanpa tujuan, namun di sana adalah ruang hidup manusia yang dapat dikatakan sebagai ruang tanpa pamrih atau keinginan selain menuju kepada-Nya.

Dan Nurel Javissyarqi pun menyatakan: “inilah keindahan, ketinggian seni bagimu” yang mengisyaratkan pada peletakan dasar dan tujuan dari suatu perjalanan. Saya mengatakan, ruang kosong sebagai jalan tanpa pamrih yang menuju pada-Nya, sehingga dalam konteks ini, saya pun kembali menegaskan, apabila perjalanan hidup manusia diyakini hanya menuju pada-Nya, bukan pada keduniawian, maka manusia itu akan mendapatkan keindahan yang tidak terkira. Tampat yang di dalanya terkandung “ketinggian seni” karena seni sebagai ruh di dalam kehidupan.

Seni sebagai ruh dari kehidupan, yang mana para pemikir lama mengatakan kalau seni (di dalamnya adalah sastra) sebagai media yang dapat dijadikan, atau berfungsi untuk mensucikan jiwa manusia (Aristoteles dalam Ratna, 2007: 70). Hal ini senada dengan ungkapan Imam Al-Ghazali (Abdul Hadi W.M., 2004: 34) yang menyatakan bahwa efek yang ditimbulkan karya seni terhadap jiwa manusia sangat besar, dan karenanya menentukan pembentukan moral dan penghayatan keagamaannya. Di sini lah, bagaimana seni menjadi ruh dari kehidupan, kalau seni bernilai buruk maka kehidupan manusia di dalam masyarakat pun akan ikut buruk, dan sebaliknya kalau nilai seni yang ada di kehidupan masyarakat baik, maka masyarakat itu akan menjadi baik. Dia (seni) sebagai ruh, guru, dan pensuci jiwa manusia.

Seni adalah ruh, yang lahir dari kedekatannya dengan Tuhan, yang mengacu pada keselarasan dan kebenaran. T.S. Eliot (dalam Abdul Hadi W.M., 2004: 4) menyatakan bahwa kebudayaan (baca: tingkah laku masyarakat) tidak akan bisa mengalami masa cerah tanpa dilandasi nilai-nilai keagamaan. Budaya, saya tekankan sebagai tingkah laku masyarakat, dan tingkah laku secara pribadi, yang mana di dalamnya pun perlu dilandasi dengan nilai keagamaan. Nilai keagamaan akan membawa manusia pada tujuan yang tidak mengarah pada duniawi, akantetapi mengarah kepada hakekat dari kehidupan, yaitu Tuhan itu sendiri.

Tuhan, dalam tradisi Jawa dapat kita temui tidak di Mekah, tapi di dalam hati sanubari setiap manusia dan hidup manusia sendiri harus menjadi doa terus menerus kepada Yang Mahakuasa (Mulder, 1984: 11). Karena Tuhan ada di dalam hati, maka manusia harus lebih memperhatikan pertimbangan hati dalam penempuhan jalan, sehingga hati sebagai penunjuk sekaligus peneterjemah atas perjalanan hidup manusia yang panjang. Oleh karena itu, mari kita cermati bagaimana Nurel Javissyarqi mengetengahkan suara hati di dalam perjalanannya:

Inilah nyanyian kalbu mendaki ke pebukitan seribu
takkan habis walau jutaan kaki merayap di punggung malam (X: XVI) (Kitab Para Malaikat, 2007: 57)

“Nyanyian kalbu mendaki ke pebukitan seribu” begitu Nurel Javissyarqi melukiskan suatu perjalanan manusia. Kita masih berada di tahap jalan hidup, jadi ini masih membicarakan masalah jalan yang seharusnya lebih mengedepankan hati untuk menjadi pentunjuk arah dan penterjemah atas setiap persoalan. Perjalanan hidup manusia yang menempuh jalan untuk menuju pada-Nya, seperti perjalanan berat untuk mendaki “pebukitan seribu” yang mana bertemu dengan seribu keinginan manusia yang terkadang mengecoh tujuan awal.

KEBIJAKSANAAN

Menjalani babak kehidupan yang berada di jalan mengusahakan mimpi, hal lain yang perlu diperhatikan adalah nilai kebijaksanaan. Nilai ini menentukan bagaimana kita memandang dunia dan sekaligus bagaimana dunia memandang kita sebagai diri yang berdiri merdeka. Kenapa saya mengatakan merdeka, karena mereka yang berjalan di jalan untuk mengukir impian adalah orang yang merdeka, melangkah sekehendak hati. Kemerdekaan hidup yang paling mendasar adalah kemerdekaan dari kemauan, yang di dalamnya bisa meraup aspek hati dan pikiran. Bersebab itulah, seringkali kita mendengar ungkapan: “bisa saja kalian penjarakan tubuhku, tapi tidak pikiran dan jiwa”.

Kebijaksanaan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kemerdekaan pikiran dan jiwa. Gerakan untuk mencapai bijaksana dibutuhkan adanya kekuatan dari dalam diri untuk menghadapi realitas yang berbeda dari apa yang namanya bijak dan ideal. Realitas kadangkala jauh dari apa yang namanya ideal, begitu juga realitas jauh dari apa yang namanya bijak. Dan kebijaksanaan di sini, adalah mengenai bagaimana kita berjalan dengan selaras dengan realitas itu sendiri. Pada diri manusia, ada keidealan yang diidamkan dan kebijaksanaan yang diyakini, yang musti diselaraskan. Selaras tidak merujuk pada pengekoran atas realitas, namun berjalan seiring tanpa harus berkonflik atau menciptakan penyakit-penyakit yang dibaca kebencian.

Saya menemukan, bagaimana Nurel Javissyarqi mengajak kita untuk menjalani laku hidup yang dipenuhi dengan kebijaksanaan. Tidak perlu memandang buruk orang lain, atau menyalahkan pihak lain atas suatu realitas yang tidak ideal. Hal ini nampak dalam:

Yang datang terlambat tak seharusnya menghakimi sebelumnya
dengan ketentuan membuta, ingatlah bunga-bunga rontok sebelum mekar,
nalar mentah keluar terlalu dini, reranting menunggu lebat sayapnya (X: II) (Kitab Para Malaikat, 2007: 57)

Kebijaksanaan itu perlu bagi manusia, baik secara pribadi maupun kolektif. Ia (kebijaksanaan) sebagai nilai moral yang mengatur hubungan manusia dengan sesama, lingkungan, dan secara lebih khusus pada Tuhannya. Kebijaksanaan dan juga moral menyangkut permasalahan kepatutan, hal yang tidak patut dan dilaksanakan menjadi gerakan yang tidak bijaksana dan sekaligus tidak etis. Karena penyimpangan itu tidak patut dilakukan oleh seseorang, meskipun itu adalah benar namun ada etika kolektif yang harus individu hormati.

Sehingga dengan demikian, kebijaksanaan bersinggungan erat dengan apa yang namanya moral (akhlak) untuk mencapai keselarasan sehingga terlaksananya etika manusia. Moral (akhlak) sebagai bagian dari jiwa manusia yang tertanam, yang dapat menciptakan gerakan tanpa pertimbangan dari pemikiran dan pertimbangan (Al-Ghazali dalam Tafsir et al, 2002: 14). Dalam pelaksanaan hidup, manusia tidak berdiri seorang diri namun sebagai makhluk sosial yang dalam proses kehidupan membutuhkan interaksi. Untuk melangsungkan kehidupan yang baik, diperlukan kebijaksanaan untuk menuju keselarasan sosial agar nilai dari masyarakat (maksud saya adalah kerukunan atau keselamatan hidup) dapat terjaga.

Kebijaksanaan melahirkan keselarasan, yang di dalamnya dibangun dengan apa yang bernama etika. Secara lebih jauh, ini akan menciptakan adanya keselarasan sosial yang berangkat dari etika kebijaksanaan. Dalam khasanah masyarakat Jawa, etika kebijaksanaan dianggap sebagai nilai untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan masyarakat dan untuk memenuhi kewajiban-kewajiban yang ditentukan oleh lingkungan itu (Magnis-Suseno SJ, 1985: 214). Lebih jauh lagi menyoal etika, menurut Franz Magnis-Suseno (Tafsir et al, 2002: 15-16) sebagai keseluruhan norma dan penilaian yang digunakan untuk mengetahui bagaimana seseorang menjalani hidup; mengenai bagaimana individu membawa diri, bersikap, dan tindakan dalam mencapai tujuan hidup.

Nilai dari etika yang diketengahkan oleh Nurel Javissyarqi dapat diketahui dalam kalimat: “Yang datang terlambat tak seharusnya menghakimi sebelumnya dengan ketentuan membuta”. Lebih dahulu kita melihat pada sisi ideal, kemudian pada realitas dan dengan kebijaksanaan, kita menafsirkan suatu realitas untuk melakukan suatu gerakan. Tentu saja, suatu gerakan yang bijak, karena bagaimana pun juga kita “datang terlambat”. Ucapan “datang terlambat” dapat ditafsir sebagai segolongan generasi muda yang menemukan dunia hasil dari pembentukan generasi tua. Kita ini, yang muda, sebagai generasi terlambat yang tidak seharusnya dengan sikap sok pintar (mungkin karena sudah merasa modern dengan pendidikan barat) kemudian menggurui generasi tua dengan kasar.

Bukan berarti kita tidak boleh melakukan kritik, akantetapi kita harus melihat keadaan yang melatar-belakangi dari proses pembentukan budaya dari generasi terdahulu. Melihat proses, kalau tidak sesuai dengan keidealan yang dapat dilihat dalam: “ketentuan membuta” untuk mencari tahu aspek apa yang kurang sampai pembentukan budaya atau kondisi masyarakat tidak bisa mendekati ideal. Jadi, tidak langsung menyalahkan, melainkan menenggok sebab akibat, karena bagaimana pun juga hal ini masuk ke dalam etika, keselarasan sosial.

Apabila dilihat lebih jauh di aspek yang juga bersinggungan, kita akan memasuki pada suatu nilai penting yang disebut dengan hormat untuk mencapai kerukunan yang sekaligus keselarasan sosial. Geertz (dalam Magnis-Suseno SJ, 1985: 38) mengemukakan dua pola yang menetukan dalam pergaulan masyarakat Jawa, yaitu kaidah kerukunan yang memfokuskan manusia dalam setiap situasi agar bersikap sedemikian rupa hingga tidak menimbulkan konflik dan kaidah hormat yang menuntut manusia untuk membawa diri, menunjukkan sikap hormat sesuai dengan derajat kedudukannya.

Dua kaidah ini, oleh Franz Magnis Suseno (1985: 38) disebut dengan Prinsip Rukun dan Prinsip Hormat yang merupakan kerangka normatif dalam bentuk konkret semua interaksi. Hubungan dua prinsip kehidupan yang saling mendukung, saat kita memposisikan untuk menghormati generasi tua karena kita ini sebagai generasi yang “datang terlambat”, maka secara tidak langsung kita sudah melaksanakan prinsip hormat dan kerukunan secara bersamaan. Dua prinsip ini, membawa pada keselarasan sosial yang memberikan keselamatan pada kita. Sebab, selain karena ketidak-tahuan kondisi-situasi pada masa dimana generasi tua melakukan proses pembentukan tersebut, falsafah Jawa membawa pada pengertian yang lebih hakekat. Mulder (1984: 17) mengungkapkan bahwa, “Bila seseorang menghormati saudara tua, orang tua, guru dan rajanya, maka orang itu menghormati Tuhan”.

Jadi, Nurel Javissyarqi pun berpesan: “tak seharusnya menghakimi” karena, “ingatlah bunga-bunga rontok sebelum mekar”. Dengan tidak terburu-buru menghakimi suatu generasi atas suatu kondisi, kita diajak Nurel Javissyarqi untuk menilik lebih jauh ke masa itu. Hakekat dan belajar dari alam, bahwa tidak setiap bunga menjadi buah, hendaknya memberikan pendeskripsian lebih jauh. Melihat untuk mengetahui kemudian memahami situasi serta kondisi menjadi hal yang lebih baik, ketimbang menghakimi karena suatu realitas. Dalam petikan kalimat tersebut, kita dapat mengambil berbagai kebijaksanaan yang Nurel Javissyarqi sematkan di surat ke X ayat II ini.

Jikalau di sana ada akibat, tentu saja ada sebab. Suatu kejadian atau fenomena merupakan pembentukan dari fenomena yang ada sebelumnya. Memahami suatu keadaan yang menjadi pendorong atas lahirnya suatu ketidak-patutan. Sikap seperti ini, akan membuat kita tidak dengan mudah menghakimi suatu persoalan. Karena kita sudah memahami latar-belakang pembentukannya, sampai kondisi yang tidak kita inginkan terjadi dalam kehidupan realitas. Mungkin saja, yang menurut Nurel Javissyarqi katakan sebagai: “nalar mentah keluar terlalu dini” atau “reranting menunggu lebat sayapnya”. Sehingga tidak bijak kalau kita menilai sesuatu dengan tidak melihat latar belakang dari permasalahan atau kondisi yang ada.

Kebijaksanaan yang dimiliki seseorang tidak hanya mengarah pada perilaku dalam kehidupan kolektif seseorang, akantetapi juga merasuk ke dalam diri dan menjadi jati diri bagi seseorang tersebut untuk bersikap. Inilah yang dikatakan sebagai kebijaksanaan diri, yang dalam Sekuntum Bunga Revolusi, Nurel Javissyarqi mengungkapkannya dengan bahasa berikut:

Jika sayap-sayap bertumpuk memberatkan kepakan, cabuti bulu-bulunya,
barangkali compang-campingmu sanggup menggedor kemampuan semu (X: VI) (Kitab Para Malaikat, 2007: 57).

Manusia yang memiliki kebijaksanaan diri akan mengarahkan perilaku diri untuk lebih realistis, tanpa harus menyiksa diri. Hal ini membawa dirinya untuk mengekang pamrih serta meninggalkan segala sesuatu yang sebenarnya tidak terlalu penting. Kalaimat “sayap-sayap bertumpuk” dapat kita pandang sebagai suatu keadaan yang di sana terlihat mengenai kemegahan atau suatu kebanggaan ketika memutuskan untuk menumpuk sayap. Seperti burung, sebut saja Cenderawasih yang memiliki sayap-sayap indah, membuatnya mempesona dan terlihat agung. Suatu keindahan yang dari “sayap-sayap bertumpuk” itu tadi.

Hal yang Nurel Javissyarqi tekankan pada aspek fungsional dari keberadaan sayap tersebut. Ingin mengatakan pada kita semua, untuk apa memiliki sayap yang bagus, indah, bertumpuk dan nampak anggun kalau justru sayap (kemegahan) itu memberati diri saat kita ingin terbang? Salah satu nilai yang dikandungi burung adalah bagaimana cara hidup dia dengan sayap tersebut, yaitu terbang di angkasa raya dengan penuh kemerdekaan. Burung yang terbang di angkasa dapat dinisbatkan sebagai simbol dari kebebasan (dan kemerdekaan).

Menjadi burung, sama halnya menjadi manusia yang merdeka. Kehidupannya hanya dipengaruhi oleh angin, begitu saya seringkali mendengar kebebasan dari Nurel Javissyarqi. Burung yang terbang memiliki kebebasan, angin sebagai salah satu kawan yang dapat dikatakan sebagai penunjuk arah, sedangkan angin sendiri sebagai khas dari kemerdekaan itu sendiri. Jika manusia yang memiliki keagungan, namun tidak mampu terbang dengan kebebasan, berarti manusia tersebut seperti burung yang dipenjarakan ke dalam sangkar. Keindahannya hanya mendatangkan bencana untuk dirinya sendiri, kehilangan kebebasan yang menjadi ruh bagi kehidupannya.

Terkadang, kebanyakan diantara kita yang lebih memilih untuk hidup di dalam kemewahan dengan menukar dari kebebasan, entah itu kebebasan secara badaniah maupun kebebasan dalam hal ruh (akal dan hati). Kemewahan yang saya maksudkan di sini tidak berkisar pada material, tetapi juga termasuk di dalamnya pola pikir. Kemewahan dari segi materi sudah menjadi kejelasan yang akan mengangkat prestise, namun ada hal lain yang dari segi pola pikir. Misalkan saya, dalam suatu diskusi kita sering menemukan berbagai macam istilah yang luar biasa, namun terkadang dengan menggunakan istilah-istilah tersebut, kita justru kehilangan makna yang seharusnya kita pahami.

Karena itu, Nurel Javissyarqi mengatakan, “cabuti bulu-bulunya” kalau kemewahan tidak mendatangkan apa-apa bagi individu tersebut. Sikap untuk mau membuang beberapa aspek yang tidak terlalu penting, akan membuat diri kita semakin ringan untuk melangkahkan kaki menuju kebebasan.

Hal lain, yang dapat saya dapatkan dalam kalimat ini: “Jika sayap-sayap bertumpuk memberatkan kepakan, cabuti bulu-bulunya” adalah mengenai kesederhanaan. Baik kesederhanaan secara fisik, gerakan, maupun di dalamnya pola pikir. Tidak perlu, kita menggunakan istilah yang tinggi-tinggi untuk mengatakan mengenai sesuatu hal, tapi katakan dengan sederhana. Sebab, misal di dalam suatu pembicaraan, ketika kita menggunakan istilah yang tinggi, bisa saja orang yang kita ajak bicara tidak paham dengan istilah kita sehingga maksud dari pembicaraan tidak tersampaikan.

Kesederhanaan di dalam hidup, seperti singkatnya yang akan membentuk kebebasan dan keanggunan tersendiri, yang tentu saja lebih mampu merasuk ke dalam isi ketimbang pada keindahan bentuk. Untuk itu, saya sangat sepakat ketika Nurel Javissyarqi mengatakan: “compang-campingmu sanggup menggedor kemampuan semu”. Indah itu bukan terletak pada bentuknya, melainkan pada isi yang ada di dalamnya sehingga tidak ada lagi, “kemampuan semu” tersebut. Jangan bangga ketika orang melihat kita intelek ketika kita menggunakan bahasa yang super rumit namun kita tidak memahami apa yang sebenarnya kita katakan. Lebih baik, berbicara dengan sederhana sehingga kita dan orang lain paham dengan apa yang ingin kita sampaikan.

Nilai kebijaksanaan yang lain, juga kita temukan mengenai hakekat dari kesadaran manusia dalam melakukan sesuatu. Semisal di ayat berikut:

Kesadaran pejuang mengikuti awan-gemawan gerilya,
aliran sungai menyusuri lekuk seluruh tubuhnya mencari makna,
menggelinjak bertemu akar pohon dari batin kutub kekuatan (X: XII) (Kitab Para Malaikat, 2007: 57).

Manusia yang bijak adalah manusia yang sadar dengan apa yang dia lakukan, untuk mempelajari sesuatu dari alam. Manusia (yang modern) yang mengembalikan diri pada alam raya, menjadikan alam sebagai guru, dan sekaligus kawan dalam perjalanan. “Mengikuti awan-gemawan gerilya” merupakan pengungkapan untuk hidup dalam kebebasan, dimana seperti awan yang tidak bergantung pada apa pun selain angin. Kemana angin berhembus, di sana awan akan melaju. “Mengikuti awan-gemawan gerilya” tidak mengisyaratkan pada kekosongan tujuan, melainkan lebih pada keinginan yang ada di dalam diri. Keinginan itu diselaraskan dengan angin, yang mana mengalir sesuai dengan kodratnya.

Menjalani hidup dengan mengalir, seperti angin, pun juga demikian seperti layaknya air. Angin dan air, lebih kurangnya memiliki sifat yang sama. Bersatu dan membentuk wadah (tempat) dan ketika keduanya bertemu halangan, maka mereka tidak akan menghancurkan jikalau kekuatan yang dikandungi sedikit. Mereka (air dan angin) akan mencari jalan lain, membelok. Lain halnya ketika, angin dan air mengandungi kekuatan yang besar, maka segala sesuatu yang menghalangi perjalanan mereka akan dihancurkan.

Sikap hidup untuk mau mengalir seperti angin dan air merupakan bagian dari kepasrahan diri terhadap takdir yang Tuhan Yang Mahakuasa. Selain itu, manusia tersebut juga mampu untuk menimbang kekuatannya sendiri, untuk terus melangkah dengan menghancurkan penghalang atau membelok dan mencari jalan lain ketika dirinya dirasa tidak mampu mengatasi rintangan yang ada. Kemampuan untuk menakar kekuatan diri sendiri, kemudian mengakuinya merupakan kebijaksanaan hidup. Menjadikan hidup manusia tidak ngongso atau memburu napsu tanpa perduli dengan keadaannya sendiri membuat hidup menjadi lebih tenang dan bahagia.

Semisalnya dalam peperangan, ketika seorang tentara merasa mampu untuk mengalahkan lawannya, maka dia akan terus menggempur untuk mengalahkan musuh. Akantetapi, diketika dirinya merasa tidak mampu dia akan mundur untuk mengatur strategi lain agar bisa menang, atau setidaknya mencari jalan lain agar tidak perlu berhadapan dengan musuh. Sikap untuk mau menakar kemampuan diri adalah sikap para Pandawa yang diketika mengalami kekalahan biasanya mundur sejenak untuk mencari strategi yang biasanya muncul dari sosok Semar kemudian maju kembali. Sedangkan, seseorang yang tidak mampu mengenal kemampuan diri akan menjadi seperi Buta Cakil yang terus berperang walau menyadari akan kalah. Dan Buta Cakil sebagai satria yang tidak pernah mundur itu selalu saja kalah ketika berhadapan dengan Pandawa. Manusia yang berperang dengan tanpa memperhitungkan kekuatan sendiri, entah akan mengalami kemenangan atau kekalahan maka manusia tersebut dapat dikatakan sebagai manusia yang konyol.

“Mengikuti awan-gemawan gerilya” dapat diungkap sebagai jalan hidup yang mengalir bersama angin untuk mencapai keselamatan serta kebijaksanaan. Lalu “aliran sungai menyusuri lekuk seluruh tubuhnya mencari makna” sebagai pengungkapan diri dalam perjalanan mengenal diri sendiri dalam usaha mencari pengetahuan terdalam. Guru yang paling baik bagi manusia adalah pengalaman yang mana pengalaman tersebut muncul dari dirinya sendiri. Dalam ilmu mengenai jalan hidup manusia Jawa, mereka memandang kalau guru sejati satu-satunya adalah diri sendiri (Beatty, 2001: 267).

Dengan demikian, ketika manusia sudah menelusur dirinya sendiri, bahwa manusia Jawa pun seringkali mengungkapkan kalau Kitab Suci Quran itu sebagai kitab yang kering yang artinya sebagai tulisan, sementara Tuhan juga menurunkan kitab yang basah yang di sana menyimpan ilmu pengetahuan yang luas. Masyarakat muslim Jawa yang tradisional menganggap Quran sebagai objek yang suci tetapi, sejauh mengenai rincian pesan-pesannya, ia adalah buku yang tertutub (Beatty, 2001: 172). Dalam kepercayaan Islam Kejawen memandang dunia sehari-hari sebagai teks kuncinya dan tubuh manusia sebagai kitab sucinya (Beatty, 2001: 219). Sehingga, cukup relevan kalau Nurel Javissyarqi mengungkapkan “menyusuri seluruh lekuk tubuhnya mencari makna” karena di sana kita akan menemukan “akar pohon dari batin kutub kekuatan”.

Dengan memahami kehidupan dan tubuh manusia sendiri sebagai kunci dan guru bagi manusia, maka manusia tersebut akan menemukan hakekat dari kekuatan spiritual. Jawa memandang lebih dari sekedar teks yang dibaca dengan alunan merdu tanpa mengetahui apa hakekat dari isi teks tersebut. Quran membawa suatu pengetahuan, namun lebih banyak dari kita yang mengetahui huruf Arabnya tanpa mengetahui maksud yang ingin Allah sampaikan pada manusia. Dengan mempelajari diri, berguru pada kehidupan dan memahami Quran sebagai pesan yang harus dilaksanakan, manusia akan mendapatkan kebijaksanaan.

BERTAHAN DALAM JATI DIRI

Kita tidak mungkin hidup sendiri dengan meninggalkan orang lain. Bukan suatu pilihan bijak ketika kita kemudian memilih untuk lari ke suatu perbukitan yang sunyi, menutup diri dengan manusia yang lain. Manusia bijak adalah manusia yang mampu berada di tengah masyarakatnya, berkomunikasi untuk belajar dari manusia lain, alam raya dan lebih jauh pada Tuhan. Ilmu sosiologi memandang manusia sebagai makhluk sosial yang keberadaannya saling membutuhkan dan melengkapi satu sama lain. Keadaan ini membawa manusia untuk berada di tengah-tengah masyarakat yang di dalamnya terdapat adanya jati diri kolektif.

Manusia dalam kerangka sebagai mahluk sosial harus bersinggungan dengan suatu keadaan yang mana disebut sebagai proses sosial dan interaksi sosial. Proses sosial memandang bagaimana individu di dalam kelompok sosial dalam rangka melahirkan interaksi sosial. Selanjutnya, Kimbal Young dan W.Mack Raymond (Soekanto, 1990: 67) mengatakan bahwa interaksi sosial sebagai kunci kehidupan sosial. Interaksi sosial inilah yang pada akhirnya akan melahirkan suatu bentuk identitas sosial (kolektif). Di dalam interaksi sosial, hendaknya, seseorang tidak kehilangan identitas diri sendiri, yang berperan sebagai jati diri perseorangan. Walau pun di dalam suatu interaksi sosial, terkadang manusia kehilangan jati diri karena melebur ke dalam identitas kelompak, namun identitas diri perlu dipertahankan.

Identitas diri seseorang ini yang pada nantinya akan disebut dengan kepribadian, yang mana dia sebagai organisasi biologis, psikologis dan faktor sosiologis yang menjadi dasar bagi tingkah laku seorang individu (Roucek dan Warren, 1984: 31). Identitas diri yang dimiliki oleh seseorang harus tetap dipertahankan, karena identitas ini yang digunakan untuk membedakan dirinya dengan kelompok sosial tempat dimana manusia hidup.

Seperti halnya di dalam suatu karya sastra, seorang penulis dia berada di dua dimensi edentitas, yaitu identitas diri dan identitas kelompok. Ungkapan yang menyatakan, kalau sastra tidak lahir dari kekosongan budaya (Teeuw, 1990: 11). Kekosongan budaya di sini dapat dipandang sebagai interaksi sosial yang dilakukan oleh seorang penulis. Akantetapi, dalam interaksi sosial, dalam suatu penciptaan karya sastra dapat dipastikan kalau seorang sastrawan masih memegang identitas diri. Sebab, karya itu dimulai dari identitas diri yang mana berperan sebagai tolok ukur atas suatu penilaian yang akhirnya melahirkan karya.

Identitas diri, adalah mengenai siapa diri kita, berdiri dalam lingkup golongan yang mana, dan bagaimana ide atau pemikiran kita mengenai suatu keadaan masyarakat. Identitas diri ini yang menjadi semacam ciri khas bagi seseorang di dalam menanggapi kondisi lingkungan sekitar. Walau terkadang, keadaan lingkungan berusaha mempengaruhi, sebab jika kita mengumpamakan kehidupan ini dengan sungai, identitas kolektif sebagai arus. Apabila kita tidak sekuat tenaga (dengan serius) mempertahankan identitas diri maka kita pasti akan terseret arus kolektif yang biasanya kuat menarik.

Sudahkah diawali pergesekan ini serasa salju tambah memikat panasnya
saat daging jari-jemari mengepal sekali dalam genggaman keyakinan (X: VII) (Kitab Para Malaikat, 2007: 57).

Dalam ayat ini, saya menemukan adanya penekanan untuk memiliki identitas diri dalam kehidupan bermasyarakat. Meskipun, dia berada di dalam arus identitas kolektif, seseorang individu mesti memiliki identitas diri yang kuat demi keberadaan dan eksistensi dirinya sebagai anggota masyarakat. Hal penting untuk terus berpegang pada identitas diri adalah keberanian yang terbaca dalam: “Sudahkah diawali pergesekan ini serasa salju tambah memikat panasnya” karena dengan terus berpegang pada identitasnya sendiri, seseorang akan mendapatkan tekanan, entah dari dirinya sendiri yang merasa terkucil atau dari kelompoknya.

Bahkan, hal yang menarik dari keberanian untuk terus bertahan dalam identitasnya sendiri, Nurel Javissyarqi ungkapkan dalam simbolisme “salju” yang justru terasa “panas”. Bukankah menjadi hal yang aneh ketika merasakan salju sebagai sesuatu yang memiliki sifat panas? Kita pasti akan menolak hal ini, sebab sifat dari salju secara faktanya memiliki sifat dingin. Akantetapi, penyimbolan yang dilakukan Nurel Javissyarqi dalam ayat ini untuk memberikan penekanan, bahwa ketika kita ingin berada pada taraf menjalani identitas pribadi, kita akan menemukan hal-hal yang tidak terduga. Bisa dibilang sebagai keajaiban dari hikmah yang memberikan kita pelajaran mengenai hidup, atau sebagai tantangan yang musti dijalani dengan “jari-jemari mengepal sekali dalam genggaman keyakinan”.

Keberanian dari sikap ini, karena memang sudah didasari dengan keyakinan yang kuat. Seseorang berani untuk mempertahankan pemikirannya (ideas) karena dia yakin dengan apa yang sedang ditempuh (atau diperjuangkan). Kata “genggaman keyakinan” mengisyaratkan pada kebulatan tekat yang tidak mudah diusik oleh resiko ketika si individu melawan identitas kolektif. Sebenarnya bukan melawan, melainkan hanya lebih memperlihatkan karakter pribadi sebagai seorang manusia.

Kemudian, Nurel Javissyarqi mengungkapkan suatu kelebihan lain yang dimiliki seseroang yang memiliki identitas diri di tengah identitas kolektif dalam ayat:

Kenanglah ikan-ikan Bethik bertubuh daging gurih
tersebab hidupnya melawan arus terus menerus (X: VIII) (Kitab Para Malaikat, 2007: 57).

Penyimbolan yang perlu di dasari dengan pemahaman akan kehidupan seekor ikan. Dalam hal ini adalah ikan Bethik, yang memiliki tubuh yang kuat, keras sisiknya, kemudian memiliki duri yang kuat dan juga tajam. Saya secara pribadi tidak terlalu memahami bagaimana kehidupan ikan ini, namun saya cukup merasa familir karena sedari kecil saya hidup di pedesaan dan saat kecil terkenal ngglidik di sepanjang sungai. Ikan Bethik yang dagingnya gurih karena ia melawan arus, saya mencoba memahami, apakah ada hubungannya saat hidup melawan arus maka daging kita akan menjadi gurih?

Ya, tentu saja, ini hanya bangunan simbolisme yang mengacu kepada jati diri seseorang. Kalau kita membuat perbandingan, misalnya dalam peribahasa “Gajah mati meninggalkan gadingnya, macan mati meninggalkan kulitnya” yang mana merupakan suatu penggambaran mengenai jati-diri yang menjadi spesial di mata orang lain. Yang membedakan manusia satu dengan yang lainnya, adalah karakter. Hal tersebut (karakter maksud saya) yang akan paling dikenang ketika kita jauh atau bahkan mati. Sehingga, Nurel Javissyarqi berpesan pada kita untuk memiliki karakter tersendiri sebagai manusia, sebagai jati diri yang membuat kita berbeda dari orang lain.

Mempertahankan jati diri di tengah identitas kolektif memang sangat berat, seperti melawan arus terus menerus, akantetapi di akhirnya nanti, kita sendiri yang akan merasakan. Bagaimana kita menjalani hidup, atau bagaimana kita menghadapi realitas yang serba pelik dan tidak sesuai dengan apa yang sebenarnya ada di dalam pemikiran kita. “Melawan arus terus menerus” menjadi simbol bagi perjuangan, pelajaran dan guru yang tidak terkira manfaatnya. Karena, Nurel Javissyarqi menyadari, akan tiba saat dimana kita manusia, akan menggunakan kekuatan kita sendiri. Hal ini diungkapkan dalam ayat:

Di sini bergejolak birahi sejati, menenggelamkan jiwa di lumpur semesta,
karamnya kapal ditakdirkan, warisan pemberontak menantang (X: XXXVIII) (Kitab Para Malaikat, 2007: 58)

DALAM HENING, MEMETIK BUNGA REVOLUSI

Revolusi di sini bukan pergerakan sosial yang terjadi di suatu masyarakat dalam perubahan besar yang disertai kekacauan sosial, ekonomi maupun kekacauan politik. Itu, sebutan revolusi untuk sebuah tatanan yang buruk, dipenuhi dengan pembusukan jati diri dan penyelewenangan kekuasaan oleh mereka yang tidak tahu dengan caranya berterima kasih. Akantetapi, revolusi yang saya tangkap dari Nurel Javissyarqi adalah perubahan yang besar dari perjalanan panjang kehidupan manusia.

Manusia yang sudah dengan ketatnya ritual melaksanakan laku perjalanan batin, akan menemui perubahan besar di dalam dirinya. Perubahan ini lebih merujuk pada aspek batin, ketimbang pada badaniah yang tidak mengartikan apa-apa dalam perjalanan hidup manusia. Ketika, perjalanan telah terlewati, kita (manusia) akan menemukan suatu babak yang mana merasuki hening, hidup hanya ada dirinya sendiri sehingga:

Mengambili kelopak-kelopak sunyi akar-akaran terdalam,
tiada kehidupan selain nafas dicukupkan baginya seorang (X : LIII) (Kitab Para Malaikat, 2007: 59)

Permainan bahasa yang cukup indah, ketika Nurel Javissyarqi mengatakan: “mengambili kelopak-kelopak sunyi akar-akaran terdalam” dimana kita diajak untuk memojokkan diri dalam kesunyian. Sunyi, tidak berarti kosong atau senyap, namun Sunyi, kalimat ini mengingatkan saya pada ungkapan bijak Ibu Theresa (Jejak Tanah, 2002: 143) yang mengatakan kalau buah dari sunyi itu doa. Kebijaksanaan yang memberikan saya batu pijakan untuk menulis beberapa kata dalam subbab ini. Sunyi, yang bagi saya memberikan pengertian mengenai suatu ruang renungan, ruang ketiadaan yang disana saya bisa memikirkan sesuatu mengenai kehidupan yang serba kompleks ini. Sunyi adalah ruang kosong, di suatu tempat yang tidak harus kosong. Di dalam keramaian, apakah kita bisa menemukan ruang kosong yang dimaksud? Tentu saja bisa, karena ruang kosong ini mampu kita dapatkan di ruang yang penuh sesak dengan berbagai kepentingan. Biasanya, menurut pendapat saya, ruang kosong ini sebagai celah hubungan antara manusia dengan Tuhan.

Dalam tradisi Jawa, ada pohon bernama Kemuning, yang menyimbolkan mengenai keheningan, atau kebeningan. Keberadaan heneng, wening, dan bening menjadi kesempatan bagi manusia untuk lebih banyak diam dan belajar dari tanda-tanda. “Kelopak sunyi” itu yang memuat tanda-tanda yang akan membawa kita manusia ke “akar-akaran terdalam”. Apabila kehidupan selayaknya pohon, maka akar dapat dianggap sebagai suatu kesejatian, awal mula dari kehidupan manusia yang mana sebagai tempat berdiri dan sebagai jalan dalam memperoleh sumber kehidupan.

Akar, apabila dalam skema Pohon Filsafat (2007) yang dikemukakan Dr. Stephen Palmquis, akar sebagai bagian dari metafisika. Di dunia Jawa, pandangan mengenai metafisika seringkali disebut sebagai dunia Numinus, yaitu alam kehidupan sehari-hari. Numinus sebagai hakekat dan cahaya ketuhana, yang membawa manusia pada kehidupan yang lebih baik.

Konteks “akar-akaran terdalam” yang diungkapkan Nurel Javissyarqi dapat dikatakan sebagai kebenaran hakiki yang berada di dalam mitos. Esensial dari kebenaran yang ada, sehingga manusia yang sudah mencapai pemahaman akan kebenaran ini tidak lagi membutuhkan barang lain dalam pencukupan kehidupannya. Seperti para pertapa yang hanya napas, tanpa makan atau minum untuk meluangkan waktu lebih banyak dalam usaha pendekatan diri pada Hidup (Tuhan).

Ketika pemahaman dan jalan hidup sudah sampai ke sini, maka manusia akan mengalami puncak, kenikmatan ketika manusia bisa melihat cahaya biru (ndaru):

Jiwa-jiwa merdeka bertarian dalam selubung ketinggian biruanya cahaya
sematang malam dipanjatkan asap kemenyan mewangi doa-doa berterbangan,
kelepak sayap lembutnya menarik maksud perjuangan perdamaian abadi (X : XCI) (Kitab Para Malaikat, 2007: 61).

Bantul – Studio SDS Fictionbooks, 26 Februari 2011

Komentar

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com