Korupsi

Korrie Layun Rampan
http://www.suarakarya-online.com/

Teluk Nyomit ditandai oleh tanjung yang tajam di arah kiri mudik setelah sungai membentuk teluk dari potongan sungai mati yang kemudian menciptakan Danau Nyomit. Entah nama ini dicomot dari mana dan bermakna apa, tak ada yang tahu. Tak ada juga yang ingin bertanya. Semua mulut akan menyebutnya Teluk Nyomit, yang ke arah daratannya membentuk sebuah kawasan berhutan belukar yang sekelilingnya merimbun pokok-pokok rotan jahab dan rotan sega milik Kepala Adat Roksobo.

Kepala adat sendiri tak berumah di situ. Karena ia merupakan kepala adat di sebuah kampung yang jauh di Daratan Temula. Ia hanya memiliki kawasan yang didapatnya dari ayahnya yang juga kepala adat. Pada zaman lampau seorang kepala adat setingkat akuwu (raja kecil) di suatu kawasan, memiliki luasan hutan yang berisi rotan, kayu, dan pohon tanyut sebagai tanda kekuasaan.

Pada suatu hari Kinas – tanpa ujung pangkal – berusaha menjelaskan istilah nyomit yang berarti kunyit.

“Mengapa?” aku bertanya saat kami sedang menderu melewati teluk ke arah rumah Laweq yang berada di bagian agak jauh di hulu teluk. Saat itu sedang musim panen rotan pelas, dan Laweq merupakan pengumpul rotan yang dibelinya dari para pekerja yang mengambilnya dari hutan-hutan dataran redah di kawasan itu. Aku dan kakakku Tingawalo memgambil upah mengangkut rotan-rotan itu ke ibu kota kecamatan, kebetulan bersamaan dengan liburan sekolah, dan aku serta kakakku merasa mendapatkan durian runtuh dengan upah sewa yang kami terima. Dengan menyewa kapal Madon di Damai, kami berdua mendapat bayaran dua kali lipat dari penyewaan kapal, setelah dipotong pembelian bahan bakar dan upah kuli angkut. Kinas merupakan juragan yang merangkap masinis, sehingga aku dan kakakku hanya berleha-leha di sepanjang perjalanan kapal sehari penuh, dan sesudahnya mendapat pembayaran tinggi.

“Kau tahu kan, Mo, kunyit itu berwarna kuning?” Kinas menjelaskan untuk meyakinkan aku. “Di zaman raja-raja masa lampau, di rantau itu berdiri sebuah lou yang panjangnya lima ratus meter,” Kinas memotong kalimatnya, karena dikejutkan tunggul kayu yang menggepak lunas kapal. Ia segera membanting stir ke kiri, dan kapal terlepas dari sodokan tunggul kayu bencahaaq yang tajam.

“Apa hubungan lou dengan warna kuning?” aku merasa tertarik dengan kisah Kinas.
“Lou itu dibangun pada rantau yang panjang, sebelum sungai terpotong karena tanjung yang putus,” Kinas dengan antusias menjelaskan. “Waktu itu belum ada teluk. Suatu ketika lou diserang tentara Negeri Kepa yang menggunakan pakaian perang berwarna kuning. Seluruh wilayah itu kuning merata. Warga lou yang melihat warna itu saling berteriak, ‘Jomit! Jomit! Jomit!’ yang artinya kunyit sebagai konotasi warna kuning! Pasukan musuh menyangka warga lou sudah menyerah dengan menyebut, “Pamit! Pamit! Pamit!”

“Lalu?”
“Tentara Negeri Kepa serentak meninggalkan senjata, meletakkannya di tanah, dan segera menjarah isi lou. Saat itu, warga yang siap dengan tombak, keris berbisa, jembia, dan sumpitan berdamak racun mematikan mengambil-alih penyerangan. Musuh yang lengah dengan mudah ditaklukkan, dan mayat-mayat pun bergelimpangan di sembarang tempat dengan uniform kuning merata. Sejak itu nama ‘jomit’ melekat di lidah warga, dan nama itu lama-kelamaan berubah lafal menjadi ‘nyomit’ yang diucapkan seperti lafal lidah orang pelo.”

Entah cerita Kinas itu benar atau hanya isapan jempol, namun aku mendapat bahan baru untuk kutuliskan sebuah dongeng yang nanti akan kujual sebagai naskah inpres. Kata ibu, di zaman lampau, penulisan buku-buku inpres membuat rekan-rekannya guru SD mampu membeli rumah dan sepeda motor, jika naskah inpres itu lolos menjadi bacaan di seluruh sekolah dasar di Indonesia. Rumah itu dapat mereka pakai sebagai tempat berteduh dan sepeda motor digunakan sebagai sarana transportasi mengajar. Sebab, dengan mengandalkan gaji guru, bahkan hingga pensiunan pun tak akan mampu membeli rumah dan sepeda motor, karena untuk makan sehari-hari saja tak pernah cukup. Kuharap dongeng Teluk Nyomit dapat kukembangkan menjadi sebuah bacaan yang memikat dan enak dibaca, meskipun aku nanti mungkin saja tidak akan menjadi guru seperti ibu.

Tapi itu juga ide yang konyol. Kapankah aku mampu menulis cerita? SMA saja baru kelas tiga, dan belum sepotong kalimat pun yang telah aku goreskan di atas kertas. Namun dorongan ibu atas berbagai bacaan, apakah nanti aku bukan hanya bermimpi, tapi dapat mewujudkan cita-citaku menjadi pengarang.

Aku tersenyum sendiri mengingat diriku rasanya telah menjadi pengarang ternama! Pantatku akan terasa gatal dan ketiakku akan seperti digelitiki jari bayi karena aku mabuk sanjungan disebabkan telah berhasil menulis sebuah buku bacaan tingkat sekolah dasar untuk inpres!

Namun lamunan dan kenyataan taklah selalu berjalan seiring. Hanya tiga rit, kami dapat mengangkut dengan mulus, pada rit keempat, kapal membentur tunggul kayu yang baru muncul karena air surut hingga pasir pantai melandai sampai ke tengah sungai. Kinas terlalu banyak mengambil ke arah kiri, menghindari tanjung pasir yang menjorok ke arah gosong di tepi, sehingga tunggul kayu Teluk Nyomit menyabit lunas kapal yang sarat muatan. Papan kayu di dasar lunas ambrol, dan air menyeruak ke dalam kapal membuat kapal sedikit demi sedikit menjadi karam.

Semua rencana seperti sebuah kiamat.

Bertiga kami berkutat menyelamatkan kapal dan muatan rotan. Namun nasib memang lagi apes, kapal tetap nyangsang di tunggul kayu dan makin lama makin tenggelam karena tekanan lima ton rotan yang kami bawa. Tak ada jalan lain, Kinas bersama kakakku harus segera meminta bantuan Laweq dan para pekerja rotan untuk mengangkat pak-pak rotan yang meringkuk basah di dalam palka lunas kapal.

Sementara menunggu bantuan datang, aku naik ke arah tebing sungai. Tak terlalu kuperhatikan, ternyata di tempat itu terdapat sebuah rumah. Ke arah barat rumah terdapat pohon tanyut berupa puti, itir, dan rengas yang di beberapa dahannya sedang digayuti madu. Di sekeliling rumah itu terdapat kebun kerwila yang buahnya menjuntai dari pohon-pohon entoq karena akar-akar kerwila itu memanjat hingga pepohonan tinggi. Ke arah timurnya terdapat kebun tebu, dan di arah dekat turunan jamban sungai terdapat kayu penggolongan tebu berikut kawah raksasa pemasak gula. Kawah itu masih berkukus dengan api yang mulai redup karena ujung kayu bakarnya mulai memendek.

Ingin kutahu siapa pemilik rumah itu. Kuucapkan salam. Wajah yang muncul di depan pintu rumah panggung itu adalah wajah seorang wanita.
Gadis sebenarnya.
“Boleh aku naik?” aku berbasa-basi.
“Silakan,” suaranya begitu lembut.
“Anda yang punya kapal mogok di teluk?” suara gadis itu bertanya.
“Bukan mogok. Tapi karam karena menabrak tunggul kayu!”
“Karam?”
“Kakakku bersama Kinas sedang mencari bala-bantuan.”
“Anda bukan orang sini?”

“Saya dari kampung seberang. Baru vakansi, dan saya gunakan untuk mengambil upah menghanyutkan rotan. Anda sendiri orang sini?”
“Saya dari Temula. Cicit Kepala Adat Roksobo.”
“Jadi Anda turunan pemilik kawasan ini?”
“Saya lagi liburan.”
“Sekolah di mana?”
“SMA di Melak. Anda? Sekolah di mana?”
“Juga SMA, di Samarinda.”

* * *

Hampir habis keuntungan tiga rit untuk biaya mengangkut dan mengeringkan rotan yang basah. Lain lagi biaya menambal papan kayu lunas kapal yang rengkah. Namun kurasa kerugian itu tak jadi apa karena aku dapat mengenal Buamamih. Gadis SMA Melak itu rasaku tak akan mengecewakan, bukan hanya wajahnya yang jelita, ia juga turunan ningrat yang memiliki berhektar-hektar kebun rotan dan puluhan pohon tanyut yang selalu digelantungi madu. Lebih dari itu, Buamamih tak mengecewakanku dengan cinta, karena setelah pengeringan rotan dan penambalan selesai dikerjakan, aku masih sempat mengunjungi gadis itu sebelum aku pulang ke Samarinda.

Kurasakan debaran dadaku saat aku hanya berduaan dengan Buamamih. Dengan keberanian pemuda kelas tiga SMA, kuikrarkan bahwa aku akan datang lagi mengunnjunginya di Teluk Nyomit, jika aku sudah lulus dari perguruan tinggi.

“Tak hanya datang biasa,” bunyi suaraku kubuat seperti pemain tonil di televisi. “Tapi aku datang untuk melamar dan memboyong Buamamih.”

Senyum itu dalam mataku lebih manis dari air gula tebu yang digodoknya di dalam kuali raksasa.

“Pemuda kota kadang tak bisa dipercaya,” suaranya tulus tak dibuat-buat. “Berjanji karena ada keinginan hati.”

“Puutnmo memang menyimpan keinginan yang hendak direalisasi,” aku berkata seperti intonasi tokoh pahlawan kebangsaan. “Untuk menjadikan Buahmamih istri!”

“Tapi kalau Puutnmo justru nanti memboyong istri bukan Buamamih?”

“Nama dan tubuhmu hanya satu, Bua. Mo juga satu. Yang satu itu kita jadikan dua yang satu,” suaraku bagaikan aksen dialog pentas tonil kocak Moliere.

“Mo hanya ingin bergagah pemuda kota atau memang siap sedia?” suaranya juga bagaikan aksen lakon melodramatis opera sabun. “Jangan aku mati kutu di tengah kutu hutan yang merayap ke seantero kehidupan.”

“Kita diuji waktu dan kesetiaan, Bua. Ingin kutemukan kau di sini seperti ini jika aku sudah membawa lembaran ijazah dan uang hasil kerja. Kita bangun rumah sederhana yang diisi oleh cinta.”

“Berkata mudah tapi kenyataan? Bua akan menunggu kenyataan, Mo.”

Itu kata-kata yang kami ucapkan terakhir, saat aku segera ambil pengayuh dan mendayung sampan ke arah hilir menuju kota kecamatan, dan seterusnya menuju Samarinda dengan menumpang kapal dagang milik Boen Liem Hie yang penuh muatan rotan dan damar.

Karena aku mendapat PMDK dan hasil ujianku sangat memuaskan, aku segera mengambil kopor kayu, memasukkan barang-barangku ke dalamnya, dan terus berangkat kuliah di Yogyakarta. Lima tahun aku berkutat dengan pelajaran dan lima tahun lagi aku berkutat dengan pekerjaanku di Jakarta, baru aku punya waktu menepati janjiku dengan Buamamih.

Kurasa tak akan mengecewakan kedatanganku, sebab, selain ijazah, aku juga membawa lamaran dan kemudian akan kuboyong istriku itu ke rumah BTN-ku di salah satu pinggiran kota Jakarta. Dengan usiaku yang dua puluh tujuh – juga Buamamih sama-sama dua tujuh – kami dapat memulai hidup baru dengan apa yang telah kusiapkan. Adakah ia juga sarjana? Ia dapat menggunakan ilmunya dengan mengambil pekerjaan yang disukainya.

Di dalam pesawat dari Jakarta menuju Balikpapan dan di dalam speed-boat yang membawaku menuju Teluk Nyomit, kureka-reka kata-kata pertama yang akan aku ucapkan pada Buamamih. Jika saja aku penyair atau sastrawan, akan kukarang kata-kata indah semanis gula yang likat di lidah. Tapi aku hanya sarjana ilmu pemerintahan, yang kutahu kebanyakan hal yang berhubungan dengan tata pemerintahan, kalimat undang-undang, dan berbagai perda serta perpu. Selebihnya aku memang harus membenamkan cita-citaku menjadi penulis dongeng, sebab tak sebaris pun kata-kata dongeng yang pernah kutimbulkan di layar komputer.

Saat aku tiba di Teluk Nyomit, mataku hampir pangling. Tak ada lagi suasana yang kulihat saat lampau, karena kawasan hutan berotan dahulu telah rusak dan terlantar mengenaskan. Ladang huma dengan kebun serta akar-akar kerwila rupanya telah lama musnah, diganti dengan pohon-pohon karet yang tampak compang-camping merana tak terurus. Ke arah jauh terdapat jalur-jalur jalan alat-alat berat dan di bagian lain tampak berdiri sejumlah bivak yang sepi tanpa penghuni.

Hanya rumah Buamamih masih juga ada di situ, meskipun tampak ringkih. Mirip wanita tua yang pikun dan kurapan.

“Buamamih ada?” aku bertanya kepada lelaki muda, mungkin adiknya.
“Anda siapa?” suara pemuda itu tak menjawab tanyaku.
“Aku Puutnmo, ingin bertemu dengan Buamamih.”
“Kau yang berjanji akan menikahi Buamamih?”

“Ya,” aku berkata dengan gagah. Lelaki lain, agak tua, beringsut duduk agak ke tengah. “Aku ingin segera bertemu dengan Bua, melamarnya, menikahinya, dan sekaligus memboyongnya ke Jakarta.”

“Menyenangkan sekali, Nak Mo. Aku ayah Bua. Sayang Anak sudah terlambat.”
“Terlambat? Terlambat bagaimana? Bua sudah menikah?”
“Belum,” lelaki tua itu menjawab singkat.
“Jadi maksud Bapak terlambat? Dalam hal apa?”
“Anak lihat kawasan ini. Lima tahun lalu di kawasan ini dimasuki onderneming karet. Dengan pongah pemilik onderneming menjarah kawasan kami karena mereka telah mendapat izin penanaman karet seluas tiga ratus ribu hektar. Kawasan ini habis tercaplok. Tak ada lagi milik kami!”
“Lalu?”

“Buamamih melawan. Karena hanya ia yang mampu melawan. Karena hanya dia yang berpendidikan sarjana di sini. Tapi, karena melawan konglomerat saat itu sama dengan melawan penguasa. Ia dijebloskan ke dalam penjara!”

“Dihukum penjara?”
“Belum dihukum, sebenarnya. Masih ditahan. Tapi akhirnya ia dijatuhi hukuman, bukan karena melawan penguasa onderneming, tapi karena pembunuhan!”
“Pembunuhan? Buamamih membunuh siapa?”
“Pemerkosanya, Nak Mo!”
“Pemerkosa? Siapa yang memperkosa Bua?”
“Petugas!”
“Petugas?!”

“Ibunya meninggal dunia karena serangan jantung melihat anaknya digiring petugas ke balik terali besi. Sementara hutan di sini rusak dan terlantar, mirip kerusakan lahan sejuta hektar, karena semua warga yang tanahnya dicaplok begitu saja tak ada yang mau diberi ganti rugi yang tak pantas dan tak memadai. Bukan hanya rotan, pohon tanyut, dan kebun buahan-buahan yang mati, istriku pun ikut mati!” suara ayah Bua terdengar nelangsa.

Saat kutemui Buamamih di penjara wanita, kulihat wajahnya sangat lusuh. Kecantikannya telah berubah menjadi rupa wajah yang tua, karena derita. Tujuh tahun putusan yang cukup memberatkan karena dianggap pembunuhan berencana. Tapi mengenai pemerkosaannya sendiri? Siapa yang dituntut karena pemerkosa itu telah mati di tangan Bua sendiri?

“Aku telah kem bali, Buamamih,” suaraku kutekan dengan nada yang jauh dari irama sedih. “Sesuai janjiku di Teluk Nyomit. Tapi kau tak kutemukan di sana. Tak apa kutemui di sini. Sekarang lamaran kuteruskan seperti kata-kata kita dulu!”

Kulihat wajahnya menegang.
“Kata-kata itu sudah berlalu, Mo.”
“Berlalu?”
“Aku dipenjara! Hutan rusak. Ibuku mati. Masa depanku sudah pergi!”
“Tapi usiamu baru dua tujuh, seperti aku. Masih muda. Kita mulai lagi dari awal!”
“Bagiku semuanya dimulai dari akhir karena masa depanku sudah berakhir!”
“Kau jangan berputus asa begitu,” suaraku seperti merayu melunakkan. “Aku akan mendampingimu.”
“Terima kasih. Kaudampingi wanita lain saja. Aku masih ada urusan yang harus diselesaikan. Perhitungan terakhir.”
“Perhitungan apa?”
“Pemerkosaku sudah mati. Tapi pemilik onderneming masih hidup. Sebebas aku dari sini aku akan membunuhnya mati!”

“Itu pekerjaan orang putus asa, Bua. Jangan kau habiskan hidupmu hanya untuk sesuatu yang tak berguna. Kau masih punya masa depan.”

“Masa depan? Kataku masa depanku sudah berakhir. Ingin kupersembahkan kesucianku untuk suamiku, tapi kesucian itu direnggut orang biadab. Itu semua akibat perbuatan konglomerat yang mencaplok hutan dan tanah kami!”
“Tapi aku tetap menganggap kau suci, Bua.”
“Anggapan tak sama dengan kenyataan.”
“Tapi aku tetap ingin menikah dengan kau.”
“Carilah gadis perawan.”
“Tapi aku tetap ingin menikah denganmu. Bua lebih dari perawan.”
“Aku tak mau. Tak sudi!”
“Tapi aku akan tabah menantimu ke luar dari sini. Kita akan bangun hidup bahagia di Jakarta.”
“Tidak!”
“Tapi aku tetap ingin kau mau menikah denganku.”
“Tidak! Aku tak ingin!”
“Kita bisa berbahagia, Bua.”
“Berbahagialah dengan gadis lain.”
“Aku ingin berbahagia dengan Bua.”
“Tak mungkin!”
“Jadi kau tetap tak mau menikah dengan aku?”
“Ya!”
“Tetap tidak?”
“Menikah di luar kesucian itu dosa!”

Mataku hampir berkunang-kunang. Sebuah siluet Teluk Nyomit dan derita panjang kekasihku karena ketamakan nafsu manusia. Dalam mataku yang berkunang-kunang tampak kerusakan hutan dan tanah dan kerusakan akhlak manusia merajalela di mana-mana. termasuk kerusakan akhlakku sendiri yang dengan rakus dan tega-teganya melakukan korupsi uang negara dengan tujuan mengayakan dan membahagiakan diriku sendiri dan istriku Buamamih jika kami telah menikah dan membangun kehidupan berumah tangga di Jakarta.

Dadaku tiba-tiba menggigil tersentak berdebar kencang, sementara mataku terus berkunang-kunang. Aku rasa aku benar-benar tidak siap jika harus dibuang ke dalam neraka penjara seperti Buamamih. Bagaimana caranya aku bisa ciptakan alibi korupsi? ***

Catatan:
rotan jahab dan rotan sega = dua jenis rotan bermutu tinggi dan mahal harganya.
tanyut = pohon yang dipelihara tempat madu bersarang.
bencahaaq = salah satu jenis kayu yang tumbuh di tepi sungai dan danau; buahnya jadi makanan ikan.
rotan pelas = salah sati jenis rotan yang mahal harganya;
jembia = keris kecil dan pendek.
lou = rumah panjang orang Dayak; sama dengan kampung dan rumah adat.
puti, itir = dua jenis pohon tanyut.
entoq = kayu sejenis jati belanda.
penggolongan tebu = kayu gelondong yang dijadikan sarana pemeras air tebu.
lahan sejuta hektar = pembukaan areal sawah yang gagal di Kalimantan Tengah, di zaman Orde Baru.

Komentar