Baju Natal

Kang Warsa
http://www.kompasiana.com/warsa

Satu hari menjelang Natal, Anne masih termenung duduk di atas kursi di beranda rumah. Wanita kecil, berumur 10 Tahun dengan hiasan rambut hitam legam dan panjang itu menatap jalan, kedipan di matanya hanya akan mengingatkan kalian pada seekor kunang-kunang, indah dan hampir saja padam. Pipinya putih bersih, walau bibir agak pecah -belah karena puasa. Anak kecil seperti itu kelak akan mengingatkan kalian pada seorang Oliver Twist, bocah dengan raut wajah kepedihan dan kesedihan yang bisa dibagikan kepada orang lain. Bocah yang bisa membawa kalian pada alam empati, dimana rasa sakit seakan lusinan paku menusuk dada dan jantung kalian, dan itu bisa dirasakan oleh kalian hanya dengan menatap wajah Anne.

Satu Hari menjelang Natal, Anne masih menunggu, kapan mamanya membelikan dia baju Natal. Padahal anak-anak lain telah membicarakan baju-baju baru di sekolahnya sejak seminggu terakhir ini. Natal tahun ini pasti lebih seru karena orangtua mereka telah membelikan untuk mereka baju-baju warna-warni. Natal memang akan dikunyah ibarat makanan renyah untuk anak-anak lain. Anne hanya duduk saja mengharap kepulangan mamanya.

Satu hari menjelang Natal, Anne masih berharap, mamamnya akan segera pulang dari pasar sambil membawa barang-barang, penganan, kue-kue dan sudah tentu baju Natal yang akan dipakainya ke Gereja nanti. Requim telah menggema, memecah udara alam sore, kering namun dingin, berhembus di altar pepohonan padi, gunung membiru seolah bersyukur menyambut Natal.

Satu Hari menjelang Natal, Mata Anne berkilatan, ada bahagia tersembur keluar, aura di wajahnya mengingatkan kalian pada bulat mentari sore dengan nuansa cerah emas. Satu fokus pandangan darinya menatap jalan dimana seorang ibu dengan baju merah jambu berjalan, penuh semangat, senyum, dan kalian akan membayangkan betapa di dalam diri wanita itu ada segudang kebahagiaan meskipun, jika kalian tahu, wanita itu telah lama ditinggal pergi oleh suaminya. Senyum itu sama sekali tidak keluar secara terpaksa, kecuali keluar tanpa paksaan, dan begitu hangat. Barisan giginya memang sengaja diperlihatkan kepada anaknya, supaya keceriaan dan rasa bahagia tidak akan terlepas lagi dari dalam diri Anne. Ya, kebahagiaan Anne bukan tanpa alasan, tentu saja kebahagiaan itu karena mamanya membawa barang-barang selaras dengan harapan dalam dirinya.

Satu hari menjelang Natal, Mama mencium Anne yang telah berdiri menyambutnya. Ciuman itu akan mengingatkan kalian pada cinta. Aku yakin, kalian pernah dicium oleh cinta. Penanda kebahagiaan lebih lengkap dan utuh ketika mama mengeluarkan bungkusan dan memberikannya kepada Anne. Baju Baru. Dengan alasan tertentu, maka mama berkata kepada anaknya.

” Baju Natal Untukmu…”

” Terimakasih, mama!” Ucap Anne , lalu memeluk erat mamanya seolah tidak ingin dilepaskan lagi.

Satu hari menjelang Natal, Anne menatap dirinya di cermin. Baju baru telah dipakai, dicoba, berdiri menyamping, membelakangi cermin, lalu menatap cermin lagi, seutas senyum coba dikeluarkan olehnya, memegang pipinya, dan lengkaplah ketika mamanya berkata; ” Sungguh cantik, kamu, Neu!”.

Satu Hari menjelang Natal, sebuah tangis terdengar dari rumah tetangga Anne. Anne mencoba menguping, mama pun demikian memasang telinga kuat-kuat. Lantas setelah segalanya jelas, anak dan ibu itu menggigit bibir kuat-kuat, saling menatap tanpa kata. Tangisan itu memberi berita, jika anak tetangga Anne hari ini masih belum memiliki baju Natal, padahal beberapa jam lagi hari akan berganti.

Satu hari menjelang Natal, Anne berbisik lembut kepada mamanya,

” Mama, biar baju Natal ini Anne berikan saja kepada Qinong…..”

Mama tersenyum. Demi melihat kelembutan hati anaknya. Dalam benaknya terpikir, hati Anne seolah terbuat dari mutiara yang pernah dipegang oleh Gabreal, mutiara kasih-sayang.

Malamnya, Anne memberikan baju Natal itu kepada Qinong, tetangganya. Ibu Qinong memeluk erat tubuh Anne, sambil berbisik, anak ini terbuat dari apa? Tangis pun keluar tanpa harus dipaksa dan disuruh oleh siapa pun.

Gema Requim membahana di seantero, nyanyi malaikat terdengar mengalahkan keloneng lonceng Natal dan kebahagiaan orang-orang menyuguhkan satu kemenangan, kebahagiaan menutupi Natal tahun ini. Anne dan Mama saling menatap dan tersenyum bahagia.

” Selepas dari Gereja kita ke kuburan ayah…” Kata mama kepada Anne.

Demi mendengar itu, Anne tersenyum. Diam dalam balutan gema requim yang diputar di tape recorder.

Lalu, menjelang pukul 20.00, ketika Anne akan memasuki alam mimpinya, pintu diketuk ringan. Mama membuka pintu, seseorang telah berdiri sambil membawa sebuah kardus, bisa diterka isinya pasti penuh.

” Ini untuk, Anne…!” Kata orang itu sambil meletakkan kardus di atas lantai, ” Pemberian bapak Pastur…”

Orang itu bergegas pergi. Mama membawa kardus itu ke dalam kamar Anne. Anne duduk di bibir ranjang, sambil tetap mempertahankan senyumnya.

” Kita Buka sama-sama ya?!” Kata mama.

Dan kardus pun dibuka, isnya adalah aneka kue, bahkan ada amplop, sudah barang tentu berisi uang, dan senyum di bibir Anne semakin kuat ketika di dalam kardus itu ada didapat baju baru.

” Ini baju Natalmu, Neu!” Kata ibu.

Tiba-tiba alam menjadi terang dengan kasih-sayang, kasih-sayang antara sesama manusia, tanpa batas… dan kalian akan selalu merindukannya… kasih-sayang tnpa aturan yang mengikat akan sebuah balasan dari orang lain kecuali dari Dia Yang Maha Penyanyang!

Semoga Natal Tahun ini lebih memiliki arti… Saya ucapkan Selamat Bagi Yang merayakannya

Komentar