Sucipto

Gunawan Maryanto
http://suaramerdeka.com/

SUCIPTO tahu besok pagi dia akan kalah. “Tak ada yang mendukungku sama sekali!” Tak ada tenaga dalam suaranya. Keras tapi kopong. Dyah hanya diam menatap ayahnya yang duduk terpekur di kursi tamu. “Masmu tetap tak pulang?” Dyah menggeleng.

“Sudah kutelepon dan SMS berkali-kali.”
Sucipto beranjak dari tempat duduknya. Melangkah pergi keluar rumah. “Pintu jangan dikunci.”

Dyah mengambil ponselnya yang tergeletak di meja, memencet nomor kakaknya. Tapi tak ada jawaban. Ia coba sekali lagi. Tetap sama. Lalu ia kirim SMS: Mas Lanjar tolong pulang. Besok bapak pilihan dukuh.

“Sudahlah. Nggak usah njago dukuh, Pak?” kata Lanjar sebulan yang lalu. “Dan apakah bapak mampu? Nggak mudah jadi dukuh. Apalagi di Karang Watu.”

“Mbahmu bisa. Mestinya aku juga bisa. Aku tahu bagaimana memimpin kampung ini,” jawab Sucipto keras.

“Mimpin orang banyak itu nggak gampang. Mimpin keluarga sendiri saja dulu yang bener,” Lanjar tak kalah keras.

Lalu pergi meninggalkan bapaknya. Sejak malam itu Lanjar tak pernah datang ke rumah bapaknya lagi. Beberapa kali Dyah menemuinya di kantor maupun rumah kontrakannya. Tapi Lanjar tetap tak mau menemui bapaknya lagi.

“Buat apa coba? Apa tidak malu? Ngurusi rumah sendiri saja tidak bisa malah mau aneh-aneh nyalon dukuh segala.”

“Iya, Mas. Aku ngerti kok alasanmu. Aku juga tidak setuju bapak nyalon. Orang-orang juga pasti tak akan memilihnya. Aku dengar sendiri bagaimana mereka menertawakan rencana bapak,” kata Dyah.

“Kenapa kamu nggak bilang ke Bapak bahwa orang-orang tak akan memilihnya?”
Dyah menggeleng. “Aku tak tega, Mas.” Matanya berkaca-kaca.

“Aku sama sekali tidak membenci Bapak. Tapi aku tetap tak akan pulang. Aku tak tega melihatnya kalah. Sudah pulang sana. Kamu masuk kerja malam ini kan?”

“Tidak, Mas. Aku sudah keluar.”
“Lho, kenapa?”
“Disuruh Bapak.”
Dyah tertunduk.

“Ngawur lagi. Pasti karena desakan perempuan itu. Supaya kamu bisa njagain Santi kan?”

“Iya, Mas.”
“Kamu itu ngalah terus, Yah! Kalau dia nggak mau ngrawat Santi kenapa dia nggak nyari pembantu saja. Yang susah kan jadinya kamu. Jadi nggak punya pekerjaan. Nggak bisa nabung buat kuliah lagi.”

“Iya sih, Mas. Tapi aku kasihan Bapak dan Santi.”
“Ya sudah. Pulanglah. Nanti kemalaman. Bilang saja sama Bapak kamu tidak ketemu aku.”

Lanjar menatap kepergian adiknya. Ia menatap kesedihan yang berjalan pelan meninggalkannya. Ia sangat menghargai keputusan adiknya untuk tetap bertahan di sana —di dalam rumah yang sudah duapuluh tahun ia tinggalkan— dan masih tetap perawan pada usia yang hampir tigapuluhan.

***

SEMENJAK bapaknya kawin lagi Lanjar pergi meninggalkan rumah —entah kenapa kepergian itu seperti sudah direncanakannya sejak lama. Ia seperti tahu bahwa kelak ia harus pergi meninggalkan rumah sebelum waktunya. Mungkin dalam sebuah mimpi ia pernah mengalaminya. Mimpi yang datang di saat-saat awal bapaknya mulai menggandeng perempuan-perempuan yang tak dikenalnya ke rumah. “Kalau tidak setuju Bapak kawin lagi tidak usah tinggal di rumah ini lagi,” kata Sucipto waktu itu.

Karena itu Lanjar pun pergi. Dyah masih terlalu kecil untuk mengambil keputusan. Dan seperti yang Lanjar takutkan, perempuan itu begitu mengendalikan bapaknya, membuat rumah itu hancur lebih cepat dari yang seharusnya.

Sebenarnya Lanjar tak pernah benar-benar pergi. Tak bisa. Ia begitu mencintai keluarganya. Begitu mencintai kampungnya. Tak pelak ia pun terus mengikuti perkembangan rumahnya dari kejauhan. Kabar-kabar tentang rumah terus ia kumpulkan dari saudara-saudaranya. Dari petilan-petilan kabar itu ia mencoba menggambar rumahnya, bapaknya, ibu barunya, Dyah, ruang tamu yang berantakan, kamar mandi yang tak pernah disikat, cucian yang menumpuk di kursi teras.

“Ibumu itu memang bikin malu, Njar. Ia berantem terus dengan tetangga-tetangga.”
“Ibu-ibu di sini sudah memutuskan tidak akan membantu bapakmu kalau punya hajat. Sudah dua hajatan ibumu tidak memberi bekal kepada ibu-ibu yang membantu masak di rumah.”

“Dyah terus yang bekerja ngurus rumah. Padahal kan dia mesti kerja juga. Sementara ibumu blas tidak melakukan apa-apa.”

“Duit bapakmu habis gara-gara ia sakit terus. Katanya gara-gara pusaka peninggalan almarhumah ibumu. Sekarang semua pusaka itu dibuang oleh bapakmu.”

Kabar-kabar itu semakin meneguhkan tekad Lanjar untuk bisa hidup sendiri. Ia bekerja serabutan agar bisa tetap sekolah. Kadang ia juga mendapat bantuan dari beberapa saudara yang bersimpati kepadanya. Untuk tinggal sehari-hari ia menempati ruangan kecil di sudut sekolahnya. Berkali-kali ia harus mendapat peringatan dari kepala sekolah karena tidak boleh tidur di sekolah. Setiap habis mendapat peringatan Lanjar memang tak tidur di sana. Ia menginap di rumah salah seorang teman dekatnya. Atau kalau tidak ia tidur di angkringan dekat sekolahannya sampai pagi. Tapi kemudian ia balik lagi tidur di “kamar”-nya sampai peringatan berikutnya datang. Demikianlah sampai ia dapat lulus, masuk kuliah, bekerja dan dapat mengontrak rumah sendiri.

Lain lagi dengan Dyah. Sehabis lulus SMA ia tak boleh melanjutkan kuliah. Ibu tirinya itu memintanya untuk langsung bekerja di sebuah toko swalayan. “Anak perempuan buat apa sekolah tinggi-tinggi. Buang-buang uang saja,” begitulah alasan Warsiyah, nama perempuan itu. Lanjar tak habis pikir masih ada seseorang berpikiran macam itu di jaman semaju ini. Diam-diam Lanjar mengirim uang kepada Dyah supaya ia dapat mendaftar masuk ke perguruan tinggi. Sampai ujian dua kali Dyah masih gagal lolos. Tapi pada percobaan yang ketiga ia mendapatkan kesempatan yang diinginkannya itu. Tapi kesempatan itu pun akhirnya kandas. Ia tetap tak boleh kuliah. Lanjar sampai harus pulang untuk bicara langsung dengan ayahnya. Tapi ayahnya sepaham dengan perempuan itu, Dyah tak boleh kuliah. Lanjar meledak marah. Ia seperti tidak sedang berhadapan dengan ayah yang dulu dikenalnya, ayah yang menginginkan seluruh anaknya dapat bersekolah setinggi mungkin. Dan ketika perempuan itu mulai ikut bicara mempertahankan pendapatnya, Lanjar meraih sebuah piring di depannya dan memukul kepala perempuan itu hingga piring itu hancur berkeping-keping. Sucipto diam saja. Lelaki yang bagi Lanjar begitu kuat dan galak itu tak mampu berbuat apa-apa. Ia tak tahu harus membela siapa: anak-anaknya atau istrinya.

Persoalan semakin menajam ketika lahir anak dari perkawinan Sucipto dan Warsiyah. Santi lahir dengan kelainan: retardasi mental. Warsiyah semakin bertingkah. Ia menuduh perkutut-perkutut Sucipto yang menyebabkannya. Kandang-kandang penangkaran perkutut Sucipto pun harus dibongkar dan dibakar. Kondisi ekonomi keluarga itu makin tidak karuan. Selama ini penghasilan Sucipto sebagai sopir pribadi yang tak seberapa banyak dibantu oleh hasil penjualan perkutut-perkututnya. Parahnya lagi Warsiyah membeli beberapa ekor kambing untuk dipelihara. Untuk tambah-tambah penghasilan katanya. Kontan saja para tetangga protes karena bau kotoran kambing yang menyengat. Mereka juga menyoal Sucipto yang mendadak berubah menjadi penggembala kambing. Tapi Warsiyah tetap keras kepala. Ia melabrak siapa pun yang menyoal kambingnya. Keluarga Sucipto yang dulu begitu disegani keluarga baik-baik dan keturunan pendiri kampung sekarang menjadi keluarga yang dibenci. Tentu saja orang-orang tak berani menampakkan kebencian mereka di hadapan Sucipto. Mereka hanya berani bergunjing di belakang.

Perkumpulan ketoprak kampung yang dipimpin oleh Sucipto pun tak luput dari petaka Warsiyah. Ia memaksa Sucipto agar memasukkannya menjadi pemain utama perempuan. Padahal semua orang di kampung tahu ia sama sekali tak bisa bermain ketoprak. Dengan beragam alasan, setelah satu dua kali Warsiyah ikut bermain, orang-orang mundur teratur. Akhirnya Sucipto mengubah haluan kelompok itu menjadi kelompok campursari. Tapi itu pun tak bertahan lama. Gara-garanya sama: Warsiyah memaksakan diri menjadi penyanyi dengan suaranya yang payah.

***

WARSIYAH pulalah yang mendorong Sucipto maju dalam pemilihan kepala dukuh sebulan yang lalu. Mungkin ia ingin orang-orang memanggilnya Bu Dukuh. Lanjar yang mendengar kabar itu dari beberapa saudaranya langsung pulang untuk menyatakan ketidaksetujuannya.

“Dengan menjadi kepala dukuh aku bisa mengembalikan martabat keluarga ini yang sudah hancur gara-gara kamu minggat.”

Lanjar mencoba bersabar mendengar serangan Sucipto. Ia hanya tak ingin nama bapaknya semakin jatuh lagi.

“Simbah dulu menjadi kepala dukuh karena ia sangat dihormati di kampung ini, Pak. Dan yang terpenting, ia bisa memimpin kampung ini.” Lanjar memang tidak mengalami sendiri saat simbahnya menjadi kepala dukuh. Tapi dari orang-orang kampung, ia tahu betapa simbahnya sangat dihormati karena kepemimpinannya. Ia membangun kampung tanpa pamrih apa pun, dari kampung yang semula adalah kebun-kebun kosong menjadi sebuah perkampungan yang ramai dan disegani.

“Dan saingan Bapak saat ini juga berat. Pak Parman sangat dicintai anak-anak muda di sini. Ia banyak membantu kegiatan pemuda.”

“Parman itu pendatang. Orang-orang tua jelas akan memilihku. Mereka ingin kampung ini kembali seperti dulu.”

Lanjar tak ingin mendebat bapaknya. Tak ada gunanya. Di dalam kamar ia tahu Warsiyah tengah menguping pembicaraan mereka.

Percakapan terhenti karena Bagas masuk. Bagas adalah sepupu Sucipto yang paling dekat. Ia dan Lanjar pun begitu akrab. Ia datang membawa setumpuk fotokopian bergambar wajah Sucipto. Rupanya ia menjadi satu-satunya tim sukses Sucipto.

“Sudah, Lik. Aku bikin 100 lembar. Anggarannya ngepas. Gak bisa nyetak berwarna seperti punya Parman.”
“Gak apa-apa. Tanpa poster pun orang sudah tahu siapa aku.”
“O ya, Lik. Parman juga bikin kaus untuk klub sepak bola.”

“Nyogok anak-anak muda supaya milih dia ya? Aku nggak perlu seperti itu. Mendhing duitnya buat nanggap wayang kalau nanti aku menang.” Lanjar tahu apa yang keluar dari mulut Sucipto berbeda dari apa yang benar-benar ada di dalam hatinya. Ia merasa bapaknya gentar dan tengah berusaha menutupinya. Ia sudah tak punya apa-apa lagi. Menjadi dukuh mungkin satu-satunya yang bisa membuatnya bangga. Tapi apa bisa? Semuanya sudah jauh berubah.

***

DYAH gelisah di dalam kamarnya. Sudah hampir pagi tapi Sucipto tak juga pulang. Ia melongok kamar bapaknya. Tak ada. Hanya tampak Warsiyah dan Santi tengah meringkuk kedinginan di atas kasur. Dyah bergegas keluar. Tak ada siapa-siapa di teras. Ia berlari ke rumah Bagas. Mengetuk rumahnya dengan keras. “Mas...Mas...”

Bagas membuka pintu. “Ada apa, Yah?”
“Bapak belum pulang, Mas. Tadi pamitnya cuma keluar sebentar.”
“Tadi memang dia ke sini. Minta ditemani ke kedung. Mau kungkum di sana katanya.”
Dyah bertambah cemas. “Ayo, Mas kita susul. Aku khawatir ada apa-apa dengan Bapak.”
“Sebentar, aku ambil jaket dan senter. Kamu juga jaketan dulu sana. Nanti aku jemput di rumahmu.”

***

DENGAN motor mereka berdua melaju ke arah kedung yang terletak di pinggir kampung. Sebuah bendungan milik proyek irigasi yang dibangun 30 tahun yang lalu. Setelah Bagas memarkir motornya mereka berdua beriringan menuruni tebing. “Pak...Pak...!” Dyah tak sabar memanggil-manggil nama bapaknya. Ia begitu khawatir dengan keselamatannya. Bagas pun mengarahkan senter ke permukaan kedung. Tapi tak tampak apa pun di sana. Hanya permukaan air yang tenang. “Lik... Lik...!” Mereka pun lantas menyisir pinggiran kedung sambil memanggil-manggil Sucipto. Tak ada jawaban. Sama sekali tak ada. Mereka hanya mendengar suara mereka sendiri.

***

MAS Lanjar. Pulang. Bapak hilang! Dyah mengirim pesan ke Lanjar dengan gemetar.

Jogjakarta, 2010

Komentar