Kembali ke Bumi Tempat Berpijak

Bambang Bujono
http://majalah.tempointeraktif.com/

ADA masa ketika kita merindukan hal-hal yang sepele, pribadi sifatnya, tentang kegiatan dan apa pun yang tak jauh dari sekitar. Sehelai daun bunga yang jatuh di samping pot, langit luas di angkasa, atau sekadar aktivitas menyiram tanaman di halaman.

Itulah antara lain yang terkesan dari karya-karya seni rupa Lorong ke Masa Depan: Seni Rupa Generasi Baru Jepang. Sebuah pameran yang tak "meledak-ledak", rapi, dan dalam ruang yang-kebetulan, agaknya-pas: dinding melengkung Galeri Salihara, Jakarta Selatan, yang memberikan rasa akrab.

Keakraban itu kita rasakan ketika melihat seorang perempuan-mungkin tetangga kita-menyirami tanaman dengan air yang menyemprot dari selang plastik, di area lingkungan yang tampaknya urban. Kegiatan yang terbilang biasa, rutin, dan tak memerlukan komentar.

Fotografer Masafumi Sanai (lahir pada 1968) pun merekam kegiatan ini dengan cara biasa: seperti langsung "jepret", tanpa upaya memilih sudut pengambilan yang, misalnya, menghasilkan pemandangan yang tak sehari-hari. Seluruhnya, dalam karya ini, tersaji apa adanya: warna tanaman, tembok yang keabu-abuan, susunan obyek lain.

Lalu mengapa ini disebut karya seni rupa?

Sanai rupanya tidak "merekam" obyek dan kegiatan dengan kameranya. Fotografer yang berdomisili di Tokyo ini lebih tepat dikatakan "membekukan" obyek dan pemandangan lain, ketika denyut kehidupan hampir tak ada.

Tanaman itu "beku" seolah tak ada sepoi angin pun. Bahkan air yang menyemprot tak menggerakkan tanaman. Dan air membentuk garis agak lengkung yang keluar dari selang plastik itu pun "beku", tak mengesankan ada riak sedikit pun. Juga, tak terkesan ada ekspresi pada wajah perempuan itu.

"Pembekuan" itulah agaknya yang membuat karya Sanai "berhenti" menjadi foto fungsional yang lazim tersimpan dalam album foto keluarga.

Itu juga yang terkesan dari foto lahan luas keokeran, sepi, hanya sejumlah gawang (?) putih terserak jauh. Atau, sebuah rambu dilarang parkir yang sedikit penyok di pinggir. Juga foto pesawat "berhenti" dengan posisi mendongak. Dan sebuah close-up tumbuhan di sebuah pot. Semua "beku" tanpa gerak.

Di tengah pameran seni rupa yang kini biasanya menampilkan tema serta bentuk yang "besar", menyuguhkan berbagai "problem" manusia, pameran Generasi Baru Jepang ini berada di seberangnya.

Pameran ini menyuguhkan keseharian yang terkesan remeh-temeh tapi sublim karena ditampilkan dengan kecermatan seorang perajin yang mencintai material yang digarap dan digunakannya.

Kesebelas perupa Jepang ini kelahiran 1960-an dan 1970-an. Mereka dibesarkan, menurut dua penulis dalam katalog (Masanobu Ito dari Departemen Seni Rupa Japan Foundation dan Tetsuo Shimozu, kritikus yang mengajar di Universitas Zoke, Tokyo), ketika ilmu dan teknologi Jepang beralih dari produk yang "berat dan besar" ke produk "ringan dan mungil".

Dua peristiwa mempengaruhi mereka: pecahnya gelembung ekonomi Jepang pada 1980-an, dan usainya Perang Dingin pada akhir 1980-an. Dua peristiwa itu, tulis Ito, membuat mereka lebih "memperhatikan aspek sepele dan personal dalam hidup, dan memandang dengan kesegaran baru pada bumi tempat mereka berpijak".

Tentu saja mereka tak kembali ke masa Jepang klasik, ketika lukisan adalah pemandangan serba tenteram. Atau ke karya keramik, yang seolah menyimpan "jiwa" keramikusnya.

Bagaimanapun, mereka adalah generasi yang menyaksikan (juga tentunya mempelajari) masa ketika "seni rupa bisa apa saja" dan karena itu "seni rupa sudah mati". Diperlukan cara pandang berbeda ketika karya seni rupa bukan lagi diapresiasi, terutama, dengan cara melihat.

Yang terkesan dari pameran ini, betapapun sepele bentuk dan tema karya, cakrawala kreativitas mereka seluas perkembangan seni rupa masa kini. Setidaknya, perambahan media mereka tak terbatas.

Maka Miyuki Yokomizo, seorang pematung, dengan santai menciptakan karya instalasi: dua ruang berdampingan dengan dinding membentuk huruf "s" dengan sudut 90 derajat. Dinding itu sendiri terdiri atas rangkaian sabun berwarna-warni. Cahaya yang melewati dinding karena itu pun berwarna-warni. Judul karya ini: Silakan Hanyut.

Juga karya Katsuhiro Saiki "kontemporer" dalam bentuk. Ia mencetak foto pada aluminium, foto-foto langit nan luas, yang tiba-tiba kita temukan pesawat, sangat mungil, atau garis putih yang adalah asap pesawat. Karya foto Saiki tak digantung di dinding, tapi ditaruh di lantai.

Karya instalasi Tabaimo mirip miniatur karya arsitek. Dalam bangunan itulah ia putar karya videonya. Kita melihatnya serasa mengintip film porno. Film Tabaimo, tertera di katalog, "menjajarkan problem masa kini". Maka ada suasana di sebuah jalan kota, dan adegan di dapur.

Menurut Ito, karya Tabaimo diilhami oleh pertunjukan dalam tenda pada abad ke-19, yang vulgar tapi membangkitkan rasa penasaran dan keingintahuan masyarakat.

Juga Tetsuya Nakamura, yang menghadirkan obyek yang disebutnya patung. Tapi obyek itu dia bikin sendiri, bukan bikinan pabrik, meski diusahakan mirip produk pabrik.

"Patung" Nakamura berbentuk mirip mobil balap, merah, dengan permukaan halus licin. Kilat, demikian judul karya ini, serasa tak ingin menyajikan hal-hal besar, protes terhadap industri otomotif misalnya. Karya ini serasa hanya memberikan sugesti bahwa bentuk seperti itu bisa bergerak secepat kilat.

Dua karya instalasi ini hadir seperti juga sebuah patung, meja, almari di sekeliling kita: terasa tidak aneh, sehari-hari, dan bila diperhatikan ternyata ada "sesuatu"-nya.

Gagasan itulah-bahwa lingkungan sehari-hari kita yang lazimnya kita lewatkan begitu saja tanpa perhatian ternyata menyimpan hal-hal yang tak kita duga-menjadi napas lukisan Atsushi Fukui dan Nobuyuki Takahashi.

Sebuah sudut di anak tangga dalam suatu ruang; jalan aspal yang sering kita lalui lengkap dengan rerumputan di pinggirnya; sisi jendela; atau jendela kaca berdebu. Ada sesuatu yang kita temukan di pemandangan biasa itu dalam karya Atsushi Fukui ini.

Fukui tak melukiskan obyek dengan realistis. Ia membagankan pemandangan, menarik garis besar, dalam komposisi yang ia kehendaki, lalu mewarnainya dengan warna-warna muda dan ringan nan datar.

Sedangkan Takahashi, meringkas pemandangan, hanya menampilkan sisi-sisi penting, setelah pemandangan itu ia ubah-seperti pada Fukui tampaknya-menjadi hanya "garis besar".

Maka Sumber Air Panas Terpencil hanyalah beberapa garis yang mengesankan rumah, dan air mengalir. Pohon Jeruk Keprok di Musim Panas hanyalah garis-garis patah hitam yang mengesankan pohon dan bulatan-bulatan kuning muda dan kuning keokeran yang adalah buah jeruk.

Barangkali inilah yang dimaksudkan oleh Ito "memandang dengan kesegaran baru pada bumi tempat berpijak". Dua pelukis itu tak hendak mengkopi alam, tapi dengan santai dan bebas (segar mungkin) menyusun kembali alam pemandangan itu. Rasa akrab terhadap obyek yang diambil memungkinkan mereka berbuat "semaunya" tanpa menghilangkan sang obyek.

Kesegaran itu pula yang disuguhkan dua karya seni rupa video: oleh kelompok Maywa Denki dan Tomayasu Murata.

Kelompok Maywa Denki menyegarkan proses kreatif dengan mengubah istilah. Bila mereka bekerja, semuanya berseragam biru seperti karyawan pabrik. Mereka namakan studionya pabrik; dan mereka sebut karya seni rupa mereka sebagai produk.

Mereka memang menciptakan karya-karya terinspirasi barang pabrik: dari mainan sampai alat olahraga dan instrumen musik. Karya Maywa Denki bisa digunakan juga, tentu tak sepenuh mirip barang sebenarnya. Harpa Ikan, misalnya, yang dipamerkan di Salihara ini, bisa dibunyikan. Bahkan, menurut katalog, kelompok yang dipimpin oleh Nobumichi Tosa ini suka membuat pertunjukan musik, misalnya, dan instrumennya adalah Harpa Ikan tadi dan lain-lain.

Mereka sendiri menyebut karya mereka sebagai "mesin-mesin entah" (nonsense machines). Semacam parodi untuk produk pabrik? Mungkin; dengan catatan: ini bukan parodi yang mengejek, apalagi mengkritik. Ini "parodi" demi menemukan bentuk baru dengan fungsi baru sebuah produk, dengan semangat apa saja bisa terjadi.

Sedangkan video Murata memang sebuah animasi tiga dimensi, yang seluruhnya-dari membuat bonekanya, menyusun ceritanya, perekamannya dengan kamera video-dikerjakan sendiri. Karena itu, ia bisa "seenaknya", membelokkan atau menyusun rangkaian gambar.

Karya tiga dimensi Satoshi Hirose tampaknya juga berangkat dari produk pabrik, benda hias yang dimasukkan ke kotak kaca, terutama karya yang bertema semesta.

Maka Napoletana Mini adalah tiga rumah dan bintang-bintang dalam sebuah kotak kaca (?). Tapi tiga rumah itu menempel pada bidang atas kotak, sedangkan bintang-bintang yang sekilas hanya serupa noktah biru ditaruh di bidang dasar. Jungkir balik jadinya, seperti "napoletana" bejana untuk mengocok kopi yang memang harus dijungkirbalikkan.

Karya paling "sepele" dalam pameran ini adalah patung kayu selembar daun bunga peoni merah darah dalam ukuran sebenarnya, lengkap dengan setangkai benang sari dan serbuknya. Begitu kecilnya patung Yoshihiro Suda ini hingga memerlukan pendamping sebagai "tanda" bahwa ada patung, begitu kira-kira. Pendamping itu adalah mangkuk keramik hitam, bukan karya Suda.

Disebut-sebut dalam katalog bahwa pameran ini mewakili pandangan generasi muda Jepang kini: sebuah masa depan yang tidak pasti. Ketika karya bukan hanya multifokus, melainkan tanpa fokus. Ketika "tata bahasa" karya kontemporer tak lagi relevan dengan yang mereka lihat sehari-hari. Mereka kembali ke dalam diri sambil menyertakan lingkungan terdekat, termasuk kembali ke dunia kekriyaan Jepang masa silam.

Dan, itu tadi, mereka masuk ke dalam diri tapi dengan perbendaharaan yang begitu luas, perbendaharaan "seni rupa sudah mati" dan "seni rupa bisa apa saja".

Komentar