Menulis Puisi Sebagai Praksis Politik

Ahmad Nurhasim*
http://www.korantempo.com/

Seandainya saja menulis puisi tidak mempunyai kekuatan praksis serius dan hanya dianggap sebagai sekadar “ratapan dan kegelisahan personal”, tentu Wiji Thukul, penyair dari Solo, tidak akan dianggap sangat berbahaya bagi penguasa Orde Baru.

Judul Buku: Bunglon! Penulis : Hasyim Wahid Penerbit: Fresh Book Jakarta Cetakan I: Juli 2005 Tebal: xi + 84 halaman

Seandainya saja menulis puisi tidak mempunyai kekuatan praksis serius dan hanya dianggap sebagai sekadar “ratapan dan kegelisahan personal”, tentu Wiji Thukul, penyair dari Solo, tidak akan dianggap sangat berbahaya bagi penguasa Orde Baru. Tentu pula ia tidak akan “dilenyapkan” tanpa jejak dan kita semua tidak tahu rimbanya hingga rezim itu runtuh.

Karena itu, sesuai saja jika Hasyim Wahid dalam kumpulan puisinya berjudul Bunglon! ini menyatakan: menulis puisi adalah kutukan (hlm. 2). Kutukan bagi siapa? Tentu saja kutukan bagi mereka (baca: penguasa lalim) yang merasa “terancam” oleh tajamnya ujung lidah pena para penyair. Bukankah puisi memiliki “daya” dobrak terhadap keheningan, puisi mengusik rasa hampa, dan puisi mampu membukakan mata pembacanya?

Teks prosa dan puisi memang berbeda. Prosa memberikan kejelasan maksud secara langsung kepada pembacanya. Sedangkan puisi memberikan kesempatan kepada para pembacanya untuk memberikan tafsiran dan respons yang berbeda dalam penghayatannya.

Selain itu, puisi dan politik berjumpa dalam serba kemungkinan.

Lewat kumpulan puisi ini, Gus Im–panggilan Hasyim Wahid–ingin menyodorkan kepada pembaca bagaimana “persekongkolan” antarelite politik, praktek politik kotor, pengisapan sumber daya rakyat dan alam oleh penguasa dan pengusaha, kemunafikan, dan penindasan penguasa terhadap rakyat berlangsung kasatmata dan tanpa malu-malu. Berbagai tema, seperti kemiskinan, kekerasan sosial, eksistensi penyair, carut-marutnya kehidupan politik, tumpulnya nurani, derita rakyat jelata, tosan aji, dan agama ditulis dengan bahasa bernas dan jelas.

Puisi-puisi yang dihimpun dalam buku ini lebih banyak berupa kritik sosial tajam terhadap penyelewengan kekuasaan. Misalnya, dalam sajak berjudul Trias Politic (hlm. 23) ia menulis: politik nasional ibarat/film porno XXX: eksekutif legislatif judikatif/dirantai disetubuhi disodomi oleh sila utama/Keuangan Yang Maha Esa! Tentu saja Gus Im memahami bahwa puisi bukan demi puisi itu sendiri seperti keyakinan sebagian penyair. Selain itu, Gus Im tampaknya tidak mau terjebak pada estetika bahasa, sebagaimana dikatakan Budiarto Danujaya di sampul belakang buku ini, ketika kebanyakan penyair kita “tersesat” dalam belantara keindahan kata dan rima…. Ia lebih mengutamakan isi daripada kemasan.

Ia mengakui bahwa dalam menulis puisi banyak belajar kepada sastrawan “senior”, seperti Sutardji Calzoum Bachri, Sapardi Djoko Damono, Saut Sitomorang, Chairil Anwar, dan Rendra. Dalam Untuk Empu dan Engku (4) (untuk W.S. Rendra) (hlm. 10), ia mengakui kagum kepada Rendra atas kepiawaiannya memainkan kata dan mengolah kalimat. /Tapi keadaan yang luar biasa memaksaku/menyampaikan cerita yang tidak biasa. Engku/dalam terbangun ijinkan aku bercerita/tentang anak-anak yang berhenti sekolah/karena subsidi pendidikan tak kunjung tiba/sementara ibu-ibu mereka tak henti berkeluh-kesah/karena kenaikan harga bensin dan minyak tanah.

Sosok “misterius” yang digambarkan Radhar Panca Dahana sebagai manusia serba bisa ini termasuk orang langka. Minatnya yang luas tentang anggur, sastra, musik klasik/rock/metal, tosan aji, mistisisme Islam, sejarah, geopolitik, dan masalah intelijen menyebabkan ia sulit “dikelompokkan” ke dalam bidang profesi tertentu. Bunglon! ini adalah kumpulan puisi pertamanya ditulis pada usia setengah abad lebih setahun dan menunjukkan penguasaan yang luas dalam berbagai bidang sekaligus.

Pembaca akan menemukan susun bait puisi yang berjumlah 69 judul itu saling terkait satu sama lain. Seolah puisi-puisi itu disusun seperti rentetan peristiwa sosial-politik yang tidak jauh dari kehidupan kita, seperti kekerasan sosial, korupsi, kenaikan harga BBM, anak miskin sulit sekolah, dan utang luar negeri. Kegelisahannya tentang kemunafikan manusia Indonesia dituangkan dalam puisi Tentang Bunglon dan Manusia (hlm. 22): Ratusan bunglon penuh warna-warni/asyik bertarung sendiri di dalam/kandang beton berkubah dua/setelah menyandera lebih dari/dua ratus juta manusia. Nah, pertanyaannya, saudara:/Apakah bunglon-bunglon itu/terlalu sadis ataukah/manusia-manusia itu/terlalu masokhis?

Kumpulan puisi, yang dikomentari: “Dahsyat!” oleh KH Mustofa Bisri, ini bagian dari “dekonstruksi” bahwa puisi bukan hanya dilahirkan dari mereka yang sudah bergelar sastrawan dan diakui publik. Namun, puisi bisa juga diterbitkan oleh mereka yang baru “belajar” menulis puisi dan belum pernah mempublikasikan karyanya di media massa, seperti Hasyim Wahid.

*) Penggemar puisi, alumni UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.

Komentar