29/11/10

Geliat Penulisan Sastra dari Negeri Shohibul Kitab

Joni Lis Efendi
http://www.riaupos.com/

Pembicaraan dalam esai ini tidak berniatkan semata untuk membuka nostalgia lama. Kembali ke masa 200 tahun silam, di saat-saat jayanya dinamika kesusastraan di ranah Melayu, terutama di pusat kerajaan Melayu, Pulau Penyengat.

Pulau Penyengat, yang hanya berupa pulau kecil yang kaya bauksit seluas 240 hektare yang terletak di seberang Barat Pulau Bintan, Kepulauan Riau, menyimpan tapak kegemilangan sastra Melayu. Sapardi Djoko Damono menyebutkan nama Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi, Raja Ali Haji, Hamzah Fansyuri yang karya-karyanya menjadi tonggak dasar bagi kesastraan Indonesia modern.

Pada awal abad ke-19, sastra Melayu berkembang pesat di Pulau Penyengat. Ketika itu kegiatan tulis menulis dipandang sebagai pekerjaan mulia. Bukan hanya bangsawan dan sastrawan yang melakukan kegiatan tulis-menulis, siapa saja boleh terlibat. Kerajaan sepenuhnya membiayai untuk perlengkapan seperti kertas dan pena serta mendirikan percetakan untuk menerbitka karya-karya. Perpustakaan didirikan, buku-buku banyak diterbitkan. Orang biasa yang tak berpangkat dan berstatus putra mahkota pun banyak yang menulis. Tersebutlah semua orang yang tinggal di Penyengat terlibat aktif berkarya. Kaum nelayan dan perempuan menulis banyak karangan. Sebuah buku Perkawinan Penduduk Penyengat dikarang oleh seorang nelayan bernama Encik Abdullah diterbitkan pada tahun 1902.

Dukungan penerbitan karya sastra sangat terbantu dengan didirikannya percetakan Mathba’atul Riauwiyah dan Mathba‘atul Al Ahmadi pada tahun 1890-an. Percetakan turut mempercepat banyak hasil karya yang ditulis penulis Melayu sekaligus memperluas penyebaran buku. Sebagai ciri umum dari kegiatan bersastra selalu ditopang dengan keberadaan sebuah komunitas penulis. Hal ini juga dijumpai pada permulaan geliat sastra Melayu dengan hadirnya Rusdiyah Klab, yang merupakan tempat berkumpulnya orang-orang intelektual dan sastrawan Melayu. Komunitas ini dibentuk sebagai forum bersama untuk mengembangkan sastra Melayu. Fungsi dan perannya sama dengan komunitas penulisan yang ada saat ini. Mereka juga mencetak karya anggotanya. Sehingga semakin semarak dunia tulis-menulis di kerajaan Melayu Riau.

Sejumlah sastrawan Melayu lahir dari klab ini. Salah satunya adalah pengarang Raja Haji Ahmad Engku Tua, putera tertua Raja Haji Fisabillilah. Raja Haji Ahmad Engku Tua menulis banyak syair yang di antaranya adalah Syair Engku Puteri dan Syair Perang Johor serta membuat kerangka awal buku Tuhfat An-Nafis yang penulisannya dilanjutkan oleh puteranya Raja Ali Haji.

Perkembangan dan kemajuan sastra Melayu ketika itu mendorong pemerintah Belanda menjadikan Bahasa Melayu Riau sebagai bahasa pengantar di sekolah-sekolah Indonesia sejak tahun 1865. Namun ketika mulai berkecamuknya perang melawan penjajahan Belanda di Penyengat, perkembangan sastra Melayu mulai surut dan mencapai titik terendah ketika tahun 1911 Belanda menguasai pulau itu. Setelah penaklukan itu, banyak sastrawan dan penulis yang meninggalkan Penyengat untuk pindah ke Singapura dan Malaysia. Dalam perkembangan selanjutnya, Singapura menjadi pusat penulisan dan penerbitan karya sastra Melayu.

Beriringan dengan masa Raja Ali Haji, ada dua orang ulama pengarang yang begitu berpengaruh di Riau daratan, yakni Tuan Guru Abdurrahman Siddiq (Mufti Kerajaan Inderagiri Hilir) yang menulis 8 buah kitab dan Haji Abdurrahman Ya’kub (guru madrasah Sungai Gergaji Inderagiri Hilir) yang menulis 3 buah kitab. Semarak kesusatraan Riau daratan lebih didominasi dengan sastra lisan seperti randai, bakaba, cerita rakyat, cerita jenaka, syair, satir, pepatah-petitih dan pantun yang hampir dijumpai di daerah Kampar, Rengat, Kuansing, Siak, Bengkalis sampai ke sungai Rokan. Sosok sastrawan lisan yang cukup terkenal pada masanya seperti Yong Dolah dari Bengkalis dan Ganti di sepanjang Sungai Rokan. Sebagian saja dari sastra lisan tersebut yang dapat ditemukan dalam bentuk tulisan berupa manuskrip dan tambo.

Fase penting dari perkembangan sastra Riau daratan dengan lahirnya karya-karya Soeman Hs pada tahun 1930-1940-an. Soeman Hs mewakili eksistensi kesusastraan Riau pada awal-awal angkatan Balai Pustaka. Karya Soeman Hs bisa dikata sebagai permulaan kebangkitan sastra Riau. Sampai sekarang kita masih bisa menikmati karya satra Soeman Hs; Mencari Pencuri Anak Perawan, Kasih tak Terlerai, Tebusan Darah, Percobaan Setia dan kumpulan cerita jenaka Teman Bergelut yang semua itu dibukukan dengan baik oleh Balai Pustaka, beberapa diantaranya sudah dicetak ulang. Dalam catatan sejarah kesusastraan Riau, hampir dapat dikata hanya sosok Soeman Hs yang mewakili Riau pada permulaan perkembangan sastra Indonesia. Dan, kumpulan cerita jenakanya Teman Bergelut dinyatakan sebagai pioner genre cerita pendek Indonesia.

Selanjutnya kita menjumpai angkatan Tengku Nazir yang telah membukukan cerita rakyat Riau pada tahun 1960-an. Pengarang Riau pada angkatan ini ada Tenas Effendi, Johan Sarifuddin dan Wan Saleh Tamin (pengumpul Tambo Kesukuan). Generasi ini disebut sebagai generasi BPKD (Badan Pembina Kesenian Daerah Riau) sebab karya-karya mereka diterbitkan oleh badan tersebut.

Setelah generasi BPKD, ada generasi seangkatan dengan Ibrahim Sattah dan Sutardji Calzoum Bachri yang mulai terkenal sejak tahun 1970-an. Sastrawan Riau yang segenerasi dengan mereka adalah Hasan Junus, BM Syamsuddin, Idrus Tintin, Edi Ruslan Pe Amanriza, Taufik Efendi Aria dan Syamsul Bachri Judin. Bahkan, sampai awal milenium ketiga ini sebagian dari mereka masih menunjukkan karya dan tetap membawa nama besarnya. Jujur saja, pada angkatan inilah nama Riau begitu masyur dalam peta sastra Indonesia. Prof Dr Sapardi Djoko Damono, guru besar Sastra UI, memuji penyair Sutardji Calzoum Bachri sebagai seorang sastrawan besar Riau yang telah memberikan sumbangan cukup besar terhadap sastra Indonesia mutakhir. Sutardji Calzoum Bachri mengakui ingin mengembalikan kata kepada mantra.

Pada dekade pertama awal milenium ketiga, bermunculan sastrawan dan penulis muda di Bumi Lancang Kuning. Hal ini tidak terlepas dari dukungan media dalam mempublikasikan karya-karya mereka. Kegiatan tulis-menulis akan mati suri ketika tidak ada media untuk menerbitkannya. Beriringan dengan makin semaraknya penulisan di Riau, tumbuh dan muncul beberapa komunitas penulisan. Fenomena ini baik dan membahagiakan. Mereka lahir, tumbuh dan berkembang dengan kemandirian dan idealisme masing-masing. Sebenarnya hal itu baik.

Namun dalam perkembangan lebih lanjut, adanya niatan pemerintah untuk memberikan perhatian bagi para pengiat sastra di Riau akan memberikan percepatan yang baik. Tentu dalam batasan-batasan tidak mengurusi isi dan idealisme para sastrawan dan penulis tersebut. Di negara-negara maju telah makhluknya, bahkan kerajaan Melayu Riau juga telah melakukannya dan berhasil menyemarakan dunia penulisan sastra waktu itu. Apakah itu akan berulang lagi pada zaman kita ini?***

Joni Lis Efendi, adalah penulis dan peminat sastra, tinggal di Pekanbaru.

Tidak ada komentar:

A Rodhi Murtadho A. Anzib A. Junianto A. Qorib Hidayatullah A. Yusrianto Elga A.D. Zubairi A.S. Laksana Abang Eddy Adriansyah Abdi Purmono Abdul Azis Sukarno Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi W. M. Abdul Kirno Tanda Abdul Wachid B.S. Abdurahman Wahid Abidah el Khalieqy Abiyyu Abu Salman Acep Zamzam Noor Achiar M Permana Ade Ridwan Yandwiputra Adhika Prasetya Adi Marsiela Adi Prasetyo Adreas Anggit W. Adrian Ramdani Afrizal Malna Afthonul Afif Agama Para Bajingan Aguk Irawan Mn Agus B. Harianto Agus Buchori Agus R. Sarjono Agus R. Subagyo Agus Sulton Agus Sunarto Agus Utantoro Agus Wibowo Aguslia Hidayah Ahda Imran Ahmad Fatoni Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Nurhasim Ahmad Sahidah Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ajie Najmudin Ajip Rosidi Akbar Ananda Speedgo Akhiriyati Sundari Akhmad Fatoni Akhmad Saefudin Akhmad Sekhu Akhmad Taufiq Akhudiat Alan Woods Alex R. Nainggolan Alexander G.B. Alhafiz K Ali Shari'ati Alizar Tanjung Alvi Puspita Alwi Karmena Amarzan Loebis Amien Kamil Amien Wangsitalaja Amiruddin Al Rahab Amirullah Amril Taufiq Gobel Amy Spangler An. Ismanto Andrea Hirata Andy Riza Hidayat Anes Prabu Sadjarwo Anett Tapai Anindita S Thayf Anjrah Lelono Broto Anne Rufaidah Anton Kurnia Anton Suparyanto Anung Wendyartaka Anwar Holid Aprinus Salam Ari Dwijayanthi Arie MP Tamba Arif B. Prasetyo Arif Bagus Prasetyo Arif Hidayat Aris Darmawan Aris Kurniawan Arswendo Atmowiloto Arti Bumi Intaran Arwan Tuti Artha AS Sumbawi Asarpin Asef Umar Fakhruddin Asep Sambodja Asep Yayat Askolan Lubis Asrul Sani Asvi Marwan Adam Asvi Warman Adam Audifax Awalludin GD Mualif Awaludin Marwan Bagja Hidayat Balada Bale Aksara Bambang Bujono Bambang Irawan Bambang Kempling Bambang Unjianto Bamby Cahyadi Bandung Mawardi Beni Setia Berita Berita Utama Bernando J. Sujibto Berthold Damshäuser Binhad Nurrohmat Bobby Gunawan Bonnie Triyana Bre Redana Brunel University London Budhi Setyawan Budi Darma Budi Hatees Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budiman S. Hartoyo Burhanuddin Bella Cak Kandar Catatan Cepi Zaenal Arifin Cerbung Cerpen Chairil Anwar Chamim Kohari Cucuk Espe D Pujiyono D. Zawawi Imron Dadang Ari Murtono Dahono Fitrianto Dahta Gautama Damanhuri Damhuri Muhammad Dami N. Toda Damiri Mahmud Danarto Dantje S Moeis Darju Prasetya Darwin David Krisna Alka Dedy Tri Riyadi Deni Ahmad Fajar Denny JA Denny Mizhar Deny Tri Aryanti Dian Hartati Dian Sukarno Dicky Dina Oktaviani Dinas Perpustakaan Daerah Lamongan Djenar Maesa Ayu Djoko Pitono Djoko Saryono Djuli Djatiprambudi Dodi Ambardi Dody Kristianto Donatus Nador Donny Anggoro Donny Syofyan Dorothea Rosa Herliany Dwi Arjanto Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Kartika Rahayu Dwi Khoirotun Nisa’ Dwi Pranoto Dwicipta Edy Firmansyah Eep Saefulloh Fatah Eka Budianta Eka Fendri Putra Eka Kurniawan Eko Darmoko Eko Hendri Saiful Eko Suprianto Emha Ainun Nadjib Endah Sulwesi Endi Haryono Endri Y Enung Sudrajat Erwin Erwin Dariyanto Erwin Setia Esai Esha Tegar Putra Evan Ys Evieta Fadjar F. Aziz Manna Fadjriah Nurdiarsih Fahrudin Nasrulloh Faidil Akbar Fakhrunnas MA Jabbar Fanani Rahman Farida-Suliadi Fatah Yasin Noor Fathurrahman Karyadi Feby Indirani Felik K. Nesi Fenny Aprilia Festival Sastra Gresik Fikri MS Firdaus Muhammad Firman Nugraha Fuad Nawawi Galang Ari P. Gampang Prawoto Ganug Nugroho Adi Gerakan Literasi Nasional Gerakan Surah Buku (GSB) Gerson Poyk Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gregorio Lopez y’ Fuentes Gugun El-Guyanie Gunawan Budi Susanto Gunawan Maryanto Guntur Alam Gus tf Sakai Gusti Eka H Marjohan HA. Cholil Mudjirin Hadi Napster Halim HD Hamberan Syahbana Hamdy Salad Hamsad Rangkuti Han Gagas Hanik Uswatun Khasanah Hans Pols Hardi Hamzah Haris del Hakim Haris Firdaus Hasan Gauk Hasan Junus Hasif Amini Hasnan Bachtiar Hasta Indriyana Hawe Setiawan Helwatin Najwa Hepi Andi Bastoni Heri KLM Heri Latief Heri Ruslan Herman RN Hermien Y. Kleden Herry Lamongan Heru Kurniawan Heru Nugroho Hudan Hidayat Hudan Nur Hudel Humaidiy AS Humam S Chudori I.B. Putera Manuaba Ibn Ghifarie Ibnu Rizal Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi Idrus Ignas Kleden Ika Karlina Idris Ilham khoiri Ilham Yusardi Imam Cahyono Imam Muhtarom Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Imron Rosyid Imron Tohari Indiar Manggara Indra Intisa Indra Tranggono Indrian Koto Intan Indah Prathiwie Inung AS Iskandar Noe Iskandar P Nugraha Iwan Nurdaya-Djafar Iyut Fitra J.J. Rizal Jacques Derrida Jafar Fakhrurozi Jafar M Sidik Jafar M. Sidik Jaleswari Pramodhawardani Jamal D Rahman Jamal T. Suryanata Jamrin Abubakar Janual Aidi Javed Paul Syatha Jean Couteau Jean-Marie Gustave Le Clezio Jefri al Malay Jihan Fauziah JJ Rizal JJ. Kusni Jodhi Yudono Johan Edy Raharjo Joko Pinurbo Jokowi Undercover Jonathan Ziberg Joni Ariadinata Joni Lis Efendi Jual Buku Juli Jumari HS Junaidi Jusuf AN Kang Warsa Karya Lukisan: Andry Deblenk Kasijanto Sastrodinomo Kasnadi Katrin Bandel Kedung Darma Romansha Keith Foulcher Khansa Arifah Adila Khisna Pabichara Khrisna Pabichara Kirana Kejora Koh Young Hun Komunitas Deo Gratias Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias Korrie Layun Rampan Kostela (Komunitas Sastra Teater Lamongan) Kristine McKenna Kritik Sastra Kukuh Yudha Karnanta Kurie Suditomo Kurniawan Yunianto Kuswaidi Syafi'ie Kuswinarto L. Ridwan Muljosudarmo Lan Fang Langgeng W Latief S. Nugraha Leila S. Chudori Leo Kelana Leo Tolstoy Lia Anggia Nasution Linda Christanty Liza Wahyuninto LN Idayanie Lukman Santoso Az Luky Setyarini Lutfi Mardiansyah M Abdullah Badri M Aditya M Anta Kusuma M Fadjroel Rachman M. Arman AZ M. Faizi M. Harir Muzakki M. Kanzul Fikri M. Lubabun Ni’am Asshibbamal S. M. Misbahuddin M. Mushthafa M. Nahdiansyah Abdi M. Raudah Jambak M. Yoesoef M.D. Atmaja Mahmud Jauhari Ali Mahwi Air Tawar Makyun Subuki Maman S Mahayana Marcus Suprihadi Mardi Luhung Marhalim Zaini Mario F. Lawi Maroeli Simbolon S. Sn Martin Aleida Martin Suryajaya Marwanto Mashuri Matroni Matroni El-Moezany Mawar Kusuma Max Lane Media: Crayon on Paper Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia MG. Sungatno Misbahus Surur Miziansyah J. Moh. Samsul Arifin Mohammad Eri Irawan Muhammad Antakusuma Muhammad Firdaus Rahmatullah Muhammad Muhibbuddin Muhammad Rain Muhammad Yasir Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun A.S Muhammd Ali Fakih AR Muhidin M. Dahlan Mukhlis Al-Anshor Mulyo Sunyoto Munawir Aziz Murnierida Pram Musa Asy’arie Mustafa Ismail N. Syamsuddin CH. Haesy Nandang Darana Nara Ahirullah Naskah Teater Nazar Nurdin Nenden Lilis A Nezar Patria Nina Herlina Lubis Ning Elia Nirwan Ahmad Arsuka Nirwan Dewanto Nobel Noor H. Dee Noval Jubbek Novelet Nu’man ‘Zeus’ Anggara Nunik Triana Nur Faizah Nur Wahida Idris Nurcholish Madjid Nurdin Kalim Nurel Javissyarqi Nuriel Imamah Nurman Hartono Nuruddin Al Indunissy Nurul Anam Nurul Hadi Koclok Obrolan Oka Rusmini Oktamandjaya Wiguna Olivia Kristinasinaga Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Oyos Saroso H.N. Pandu Jakasurya Parak Seni Parakitri T. Simbolon PDS H.B. Jassin PDS. H.B. Jassin Pembebasan Sastra Pramoedya Ananta Toer Pramoedya Ananta-Toer Pringadi Abdi Surya Pringadi AS Prof. Tamim Pardede sebut Bambang Prosa Proses Kreatif Puisi PuJa Puji Santosa Puput Amiranti N PUstaka puJAngga Putu Wijaya Qaris Tajudin R.N. Bayu Aji Radhar Panca Dahana Rahmat Hidayat Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Ranang Aji S.P. Ranggawarsita Ratih Kumala Ratna Sarumpaet Ratu Selvi Agnesia Raudal Tanjung Banua Remy Sylado Rengga AP Resensi Resistensi Kaum Pergerakan Revolusi RF. Dhonna Riadi Ngasiran Ribut Wijoto Ridwan Munawwar Galuh Riki Dhamparan Putra Risang Anom Pujayanto Riswan Hidayat Riyadi KS Rodli TL Rofiqi Hasan Rojil Nugroho Bayu Aji Rukardi S Sopian S Yoga S. Jai Sabrank Suparno Sahaya Santayana Sainul Hermawan Sajak Sakinah Annisa Mariz Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sanggar Teater Jerit Sapardi Djoko Damono Sarabunis Mubarok Sari Oktafiana Sartika Dian Nuraini Sasti Gotama Sastra Sastra Liar Masa Awal Satmoko Budi Santoso Saut Situmorang Sejarah Sekolah Literasi Gratis (SLG) Sekolah Literasi Gratis (SLG) STKIP Ponorogo Selo Soemardjan Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Septi Sutrisna Sergi Sutanto Sevgi Soysal Shinta Maharani Shiny.ane el’poesya Sholihul Huda Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Siswoyo Sita Planasari A Siti Rutmawati Siti Sa’adah Sitor Situmorang Slamet Hadi Purnomo Sobih Adnan Soeprijadi Tomodihardjo Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sotyati Sri Wintala Achmad St. Sunardi Stefanus P. Elu Stevy Widia Sugi Lanus Sugilanus G. Hartha Suherman Sukardi Rinakit Sulaiman Djaya Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sungging Raga Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Surat Suripto SH Suryadi Suryanto Sastroatmodjo Susianna Susiyo Guntur Sutan Iwan Soekri Munaf Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Suyadi San Syafruddin Hasani Syahruddin El-Fikri Syaiful Amin Syifa Aulia Syu’bah Asa T Agus Khaidir Tasyriq Hifzhillah Tatang Pahat Taufik Ikram Jamil Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Presetyo Teguh Ranusastra Asmara Teguh Winarsho AS Temu Penyair Timur Jawa Tengsoe Tjahjono Theresia Purbandini Thowaf Zuharon Tia Setiadi Tita Maria Kanita Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Tony Herdianto Tosa Poetra Tri Purna Jaya Triyanto Triwikromo Tu-ngang Iskandar Tulus S Ulfatin Ch Umbu Landu Paranggi Umi Kulsum Universitas Indonesia Universitas Jember Urwatul Wustqo Usman Arrumy Utami Widowati UU Hamidy Veronika Ninik Vien Dimyati Vino Warsono Virdika Rizky Utama Vyan Taswirul Afkar W Haryanto W. Herlya Winna W.S. Rendra Wahyu Heriyadi Wahyu Hidayat Wahyu Utomo Walid Syaikhun Wan Anwar Wandi Juhadi Warih Wisatsana Wawan Eko Yulianto Wawancara Wayan Budiartha Wayan Supartha Wendoko Wicaksono Adi William Bradley Horton Wisnu Kisawa Wiwik Widayaningtias Wong Wing King Y. Wibowo Yang Lian Yanuar Yachya Yetti A. KA Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yopie Setia Umbara Yos Rizal Suriaji Yoserizal Zein Yosi M Giri Yudhi Fachrudin Yudhi Herwibowo Yulia Permata Sari Yurnaldi Yusri Fajar Yuval Noah Harari Z. Afif Zacky Khairul Uman Zakki Amali Zamakhsyari Abrar Zawawi Se Zehan Zareez Zen Hae Zhou Fuyuan Zul Afrita