MISTERI TAWA ALA MILAN KUNDERA

Imamuddin SA *
http://www.forum-sastra-lamongan.blogspot.com/

Realitas yang terjadi dalam kehidupan, sebuah ritmik dinamis yang terbentuk lewat gerak manusianya. Darinya, segala sesuatu itu mengada. Peristiwa-peristiwa serta benda-benda yang bersifat baru yang merupakan komplemen itu hadir akibat dari pola eksistensi mausia. Misalkan saja keberadaan barang-barang elektronik. Barang-barang semacam itu pada mulanya bulum ada di lingkungan ini. Itu termasuk barang baru yang difungsikan untuk mengefisienkan pribadi manusia sendiri dalam melengkapi kebutuhannya. Dulu, sebelum ada telekomunikasi, manusia masih kerap memperdayakan burung untuk memberikan kabar ke suatu tempat. Ada lagi dengan memasukkan secarik kertas ke dalam botol, lalu dilemparkan ke laut. Namun keberadaan kabar yang disampaikan lewat tindakan semacam itu memiliki nilai kecil untuk sampai pada orang lain yang dimaksud. Adakalanya kabar itu dibawa langsung oleh seorang utusan. Dan ini membutuhkan rentang waktu yang relatif lama. Baru kemudian setelah alar relekomunikasi (telepon) ada, hanya dalam hitungan detik, seseorang dapat memberi kabar kepada sesamanya yang notabenenya berada di tempat yang jauh dan berlainan.

Proses terbentuknya barang baru tersebut masuk dalam sebuah peristiwa. Jika sebuah peristiwa berkonotasi pada tindakan yang besar, itu dapat dikategorikan sebagai sejarah peradaban manusia. Lebih jauh dari itu, terjadinya peristiwa-perisriwa kecil dan sederhana dalam realitas ini juga pengaruh dari gerak manusia. Semisal adanya ramah-tamah, tolong-menolong, pencurian, pemerkosaan dan lain-lain termasuk sebagian dari eksistensi manusia. Bahkan peristiwa perang pun akibat dari ulah tangan manusia.

Semua itu terjadi akibat pola pikir seorang manusia yang mendapat sugesti dari kehendak hatinya. Baru kemudian terciptalah gerak utuk membentuk sesuatu yang baru. Membentuk suatu perubahan yang ada dalam lingkungan sekitarnya. Entah itu perubahan yang bersifat universal maupun sebatas sederhana. Dan semuanya itu, juga tidak terlepas dari eksistensi tuhan yang tengah memberikan keleluasaan kepada manusia untuk mengatur dan mengolah segala yang ada dalam realitas kebendaan ini. Manusialah pemimpinya. Pemimpin bagi dirinya. Pemimpin untuk lingkungannya.

Peran serta manusia dalam realitas kebendaan ini sangatlah dominan. Namun kemutlakkannya masih berada di tangan tuhan. Eksistensi tuhan di sini kebanyakan hanya meng-amini apa yang telah menjadi kehendak manusia. Hanya dalam momen-momen tertentu, tuhan menunjukkan kebesarannya, bahwa Ia lebih kuasa ketimbang manusia. Itu dilakukan hanya untuk menunjukkan bahwa kekuasan manusia itu masih berada dalam naungan kekuasaan tuhan.

Keleluasaan itu diberikan untuk pendayagunaan akal manusia sendiri. Bagimana eksistensi akal di sini dipertanyakan dengan serius. Dengan kemampuan akal yang ada, manusia diharapkan memberikan suatu kevariatifan serta kedinamisan dalam lingkungannya. Namun hal itu masih dengan satu catatan, jangan sampai membuat kerusakan di dalamnya.

Pemberdayaan akal dalam realitas ini sangat berperan aktif. Sebab eksistensi manusia di sini ditunjukkan dengan eksistensi akalnya. Descartes juga sempat menekankan akan pentingnya akal dalam realitas ini. Dengan pernyataan; ketika aku berfikir maka aku ada, ia sebenarnya telah membongkar keberadaan manusia yang sebenar-benarnya dalam lingkungan ini. Dengan pengolahan dan penggerakan akal, maka realitas lingkungan akan turut bergerak pula. Mobilitas akan terjadi secara dinamis. Itulah yang kemudian dapat dirujukkan pada ungkapan Milan Kundera; saat manusia berfikir, Tuhan tertawa.

Tuhan tertawa saat melihat manusia berfikir sebenarnya masih menimbulkan pertanyaan. Saya kira tawa tuhan di sini masih menjadi misteri. Apakah tawa itu menunjukkan suatu kebanggaan terhadap manusia, ataukah justru malah sebaliknya. Tawa itu sebagian dari penghinaan oleh tuhan terhadap misi kemanusiaan. Pernyataan Kundera dapat mengena pada kedua premis ini. Ini tinggal tumpuan berfikir manusia ditujukan ke arah yang bagaimana. Jika orientasi berfikir seorang manusia itu ke arah yang positif, maka tuhan akan bangga dengan sikap terebut. Namun jika pola pikirnya tertuju pada sesuatu yang bersifat negatif dan buruk, maka tuhan pun akan menertawakannya. Tuhan merendahkan kredebilitas manusia sebagai makhluk yang sempurna dengan keberadaan akal padanya. Misalkan peristiwa perang. Sudah jelas, tuhan membenci perpecahan, pertumpahan darah, dan kerususakan, tapi mengapa perang masih saja tetap terjadi. Semua itu tidak lepas dari kepentingan personal yang dipicu gelar, nama besar, maupun kedudukan.. Sehingga pola pikir pun terserang virus keserakahan dan eksistensinya terkendali oleh nafsu. Akal tak sanggup memfilter, menimbang dan menilai dengan baik. Akal lemah. Saat itulah tuhan menertawakannya.

Ini tidak hanya merujuk pada peristiwa universal seperti peperangan saja. Suatu tindak penilaian yang buruk dan negatif terhadap segala ungkapan, pernyataan, maupun tindakan orang lain itu juga sanggup merendahkan kredebilitas manusia di hadapan tuhan. Tuhan akan menertawakannya. Termasuk yang hanya bersifat prasangka buruk juga. Segala yang ada dan terjadi sebagai suatu rangkaian peristiwa negatif itu seyogyanya tidak dipandang dengan nilai yang buruk. Realitas semacam itu semestinya kita pandang sebagai suatu kemutlakan untuk becermin terhadap diri sendiri. Mengambil kebaikannya dan menjadikan kenegatifannya sebagai wacana serta pengalaman yang berharga. Biar tuhan bangga dengan pola pikir kita. Tuhan bangga dengan keberadaan kita dalam mengemban amanahnya.

Kundera juga memberi pandangan akan kebajikan utama yang kudu dikembangbiakkan oleh manusia. Hal itu meliputi; toleransi, humor, dan imajinasi. Toleransi berkaitan erat dengan tindakan penghormatan terhadap individu lain. Selain itu gotong royong dan tolong-menolong juga tergolong dalam tindak toleransi. Fokusnya untuk menjalin harmonisasi antarindividu. Jika ini telah tercipta, maka rasa aman, kepercayaan, serta kesejahteraan akan menjadi buahnya dalam lingkungan masyarakat.

Masalah humor tidak hanya semata-mata sebuah lelucon yang mampu membuat seseorang tertawa terpingkal-pingkal. Ini dapat dibiaskan pada persoalan usaha memberi kebahagiaan serta menciptakan suasana yang menyenangkan kepada individu lain. Sedangkan imajinasi berkonotasi pada tindak berfikir untuk menciptakan sesuatu yang baru. Manusia dituntut untuk berkreasi. Tentunya kreasi itu bukanlah sesuatu yang bernilai negatif. Kreasi yang tidak sekedar menguntungkan diri sendiri namun merugikan orang bayak. Ini bertalian dengan pernyataan bahwa saat manusia berfikir, Tuhan tertawa. Dan ketiga rumusan kebajikan itu bersifat menunjang-mengisi satu sama lain. Yang semestinya diaplikasikan secara bersama-sama, bukan sebagian saja. Kita tidak bisa meninggalkan salah satu di antaranya.

Pebruari 2009

*) Imamuddin SA, lahir di desa Kendal-Kemlagi, Karanggeneng, Lamongan, JaTim. 13 Maret 1986, nama aslinya Imam Syaiful Aziz. Aktif mengikuti diskusi di Forum Sastra Lamongan [FSL], Candrakirana Kostela, Sanggar Seni Simurg. Sempat sebagai sekretaris redaksi pada Jurnal Sastra Timur Jauh, serta Jurnal Kebudayaan The Sandour. Karya-karyanya terpublikasi di Majalah Gelanggang, Gerbang Masa, Tabloid Telunjuk, Jurnal Kebudayaan The Sandour, dll. Karyanya terantologi di Lanskap Telunjuk, Absurditas Rindu, Khianat Waktu, dan Memori Biru. Antologi tunggalnya: Esensi Bayang-Bayang (PUstaka puJAngga), Sembah Rindu Sang Kekasih (PUstaka puJAngga).

Komentar