Langsung ke konten utama

Generasi Terbaru Novelis Kita: Antara Marrakesh, Moskow, dan Spinoza

Seno Joko Suyono, Heru Nugroho, Imron Rosyid, Bobby Gunawan
http://majalah.tempointeraktif.com/

Perkenalkan Galih….
Ia dosen di Universitas Gadjah Mada. Dahulu tahun 1990-an tinggal di Moskow. Pernah memiliki pacar asli Rusia bernama Krasnaya. Krasnaya bekerja di Kalinin Bookstore di wilayah Kalinin Prospek. Berdua mereka dari Moskow sering ke St. Petersburg menjenguk nenek Krasnaya. Tapi, di era akhir pemerintahan Gorbachev, terjadilah tragedi itu. Suatu hari di depan pintu panti jompo sang nenek, tergeletak dua bungkusan mayat: mayat Krasnaya dan ayahnya—mereka dibunuh….

Perkenalkan juga Kejora….
Ia lulusan sebuah pesantren di Jawa, aktivis pelbagai kegiatan diskusi. Pengalamannya luar biasa. Ia menjelajah ke kota-kota, masjid-masjid, dan situs-situs kuno di Timur Tengah: Damaskus, Marrakesh, Casablanca, Tangier, El-Shareque, Amman, puing-puing kota Iram. Sering keluar-masuk kampus Universitas Qurowiyyin sampai Universitas Al-Akhawayn. Bergaul dengan mahasiswi-mahasiswi, baik Palestina maupun Yahudi. Hafal lagu-lagu Arab, Suriah, dan Maroko, dari El-Arabi Serghini, Omar Metioui, Jorge Rozemblum, Majida al-Roumi, Mayada el-Hennawi, sampai Rasheed Thaha.

Inilah tokoh-tokoh novel terbaru Indonesia. Kejora adalah tokoh dalam novel Geni Jora karya Abidah el-Khalieqy dan Galih adalah protagonis novel Tabula Rasa karya Ratih Kumala. Dua sastrawan perempuan ini adalah pemenang kedua dan ketiga penulisan novel Dewan Kesenian Jakarta 2003. Segera khazanah novel Indonesia mengalami perluasan setting. Sementara Nh. Dini pernah membuat novel dengan setting Jepang atau Paris, Bur Rasuanto dengan Vietnam, Ayu Utami dengan New York, dan Fira Basuki memakai setting Singapura, kini giliran Rusia dan Damaskus. “Ada kecenderungan generasi kini semakin menciptakan tokoh-tokoh yang memiliki mobilitas dalam dunia internasional,” kata Sapardi Djoko Damono, salah satu anggota dewan juri. Tokoh-tokoh tak lagi terkungkung dalam geografi lokal seperti Siti Nurbaya.

Yang menarik, perluasan lokasi itu bisa diperoleh sepenuhnya dengan riset. Kedua pengarang di atas sama sekali tak pernah ke daerah-daerah yang menjadi lokasi novel mereka. “Saya belum pernah ke Rusia. Saya tertarik mengambil setting Rusia karena bahasanya dinilai banyak orang sulit. Saya sendiri tak bisa bahasa Rusia,” kata Ratih Kumala, 24 tahun, sambil tertawa. Di beberapa bagian, mahasiswa sastra Inggris Universitas Sebelas Maret, Solo, ini menampilkan petikan kalimat-kalimat langsung berba-hasa Rusia. “…Ya zhdu tebya b Gorki Park (kutunggu kamu di Gorky Park)”—bagian ketika Krasnaya berteriak kangen kepada Galih.

Memang yang demikian bukan hal yang haram. Sebut saja Karl May, yang dengan kekuatan bahasanya mampu melukiskan sabana-sabana Amerika tanpa ia sendiri pernah pergi ke sana. Itu menandakan bahwa imajinasi bisa lebih perkasa dari pengalaman fisik. Namun lengkapnya data dan kualitas sumber informasi adalah tetap kunci utama untuk hal ini. Harus diingat, petualangan Winnetou dan Old Shatterhand sendiri, meski memikat, banyak yang ternyata tak akurat—nama-nama lokasi tak ada dalam kenyataan.

Untuk membangun setting novelnya, di samping mengandalkan buku-buku tentang Rusia, Ratih Kumala selalu berkonsultasi dengan seorang temannya, mahasiswa sas-tra Rusia Universitas Indonesia. “Saya sempat hendak mengganti setting ke Negara Jerman karena terbentur data, padahal sudah separuh lebih saya jalan. Saya kemudian memutuskan untuk mencari data tentang Rusia yang lebih lengkap dulu, kemudian baru menulisnya,” ujarnya.

Juga demikian Abidah el-Khalieqy. Ia pernah ke Mesir, tapi malah tidak memakai Mesir untuk setting Geni Jora, melainkan Maroko, Damaskus, Palestina, Libanon, dan sebagian Israel. “Saya pilih setting Timur Tengah karena saya melihat novel-novel mutakhir Indonesia lebih banyak mengambil setting negara Barat,” kata Abidah. Menurut Abidah, biasanya citra orang Timur Tengah negatif, padahal kota-kota tua Timur Tengah—setelah Athena, Yunani, dahulu—adalah jalur peradaban dunia. “Timur Tengah itu sebetulnya merupakan keseharian mimpi-mimpi saya. Kalau ada yang menawarkan perjalanan gratis ke luar negeri, saya pingin ke Timur Tengah, terutama ke daerah-daerah yang saya pakai dalam novel itu.”

Novel Geni Jora bukan novel pertama Abidah. Ia lebih dulu menghasilkan Perempuan Berkalung Sorban (2000). Novel pertamanya itu menekankan persoalan gender dan feminisme—berbeda dengan Geni Jora, yang lebih bercerita tentang gejolak perasaan cinta. Dari rumahnya di Jombang, Jawa Timur, ia menjangkau Timur Tengah lewat dua cara: buku-buku dan survei Internet. “Kalau soal lokasi, saya melihat di peta, tapi kalau soal cuaca, soal bunga, atau makanan dan bagaimana cara meramunya, saya chatting dengan teman-teman saya di Timur Tengah,” katanya.

Ketika mendeskripsikan musim dingin di Damaskus, misalnya, ia menulis dengan detail tentang segelas khamr, secangkir shahi nekna, sepiring falafel, sepiring besar dolmades…. Betapapun, mungkin karena bukan pandangan mata lang-sung, penggambarannya tak mengirim pembacanya ke suasana lokasi. Dalam soal makan tadi, misalnya, kita tak bisa membayangkan gerak-gerik mereka makan.

Juga ketika ia menyebut nama-nama masjid dan kampus, suasana atmosfer masjid atau kampus itu tak berdenyar. Maka, menurut Sapardi Djoko Damono, karena ini menyangkut soal akurasi, novel-novel pemenang ini harus diedit. Di mata Sapardi, pengarang harus rendah hati bahwa ia tak tahu tentang segala-galanya, tentang bahasa, dialek, atau detail sebuah lokasi. “Saya sering menjadi juri lomba penulisan cerita bersambung Femina. Banyak tokoh cerber itu dikisahkan tinggal Eropa dan penulisnya lalu sering menampilkan kutipan dialog dalam bahasa Inggris. Tapi 50 persen bahasa Inggrisnya salah kaprah semua,” kata Sapardi.

Perlunya diedit sebelum diterbitkan ini jadi penting karena para pemenang itu melakukan inovasi stilistika yang rumit. Diakui atau tidak, setelah Ayu Utami, makin banyak pengarang kita yang berani melakukan eksperimen struktur. Inovasi seolah tantangan yang menggairahkan. “Dari segi alur, saya melihat para novelis wanita sekarang cenderung menggunakan alur yang berbelit-belit atau tidak lurus. Naratornya juga tidak hanya satu orang,” kata Budi Darma.

Terlihat para pengarang sekarang dengan sangat sadar mengutak-atik sistem untuk menyiapkan kejutan-kejutan. Itu yang membedakan pengarang perempuan sastra Indonesia modern dengan pengarang sastra daerah. Dalam sastra daerah, perluasan tema apalagi inovasi strukturnya minim. Belum ada penelitian tentang perbandingan itu memang. Tapi kita mungkin dapat menduga penyebabnya. Para pembaca sastra Sunda atau Jawa tentu berbeda dengan segmen pembaca Dewi “Supernova” atau Djenar Maesa Ayu.

Djenar bisa dengan rileks menulis tentang kelamin, sisi bukunya yang kemudian menjadi perbincangan hangat para pembacanya. Tapi tidak begitu halnya sastrawan Sunda Holisoh. Guru dan Kepala Sekolah Dasar Cileunyi V, Bandung, yang dikenal produktif menulis novel berbahasa Sunda ini suatu kali pernah diprotes habis-habisan oleh koleganya lantaran tokoh utama novelnya, Kembang-Kembang Petingan. Mereka, para pembacanya, marah dan mempertanyakan mengapa ia sebagai pendidik malah justru mengangkat tokoh utama seorang pelacur.

Inovasi struktur dalam novel pemenang lomba penulisan Dewan Kesenian Jakarta tahun 2003 ini, misalnya, sangat tampak pada novel pemenang pertama, Dadaisme, karya Dewi Sartika. Dalam novelnya, tersebutlah tokoh yang berprofesi sebagai dokter jiwa. Namanya Dokter Aleda. Aleda adalah dokter yang menangani pasien anak kecil bernama Nedena. “Dia anak kecil yang memiliki khayalan. Dia bisa bicara dari umur 4 sampai 6 tahun. Umur 6 sampai 9 tahun tidak bisa bicara,” kata Dewi kepada TEMPO.

Alur ceritanya berpindah-pindah. Ada adegan soal Dokter Aleda yang berusaha membuat Nedena bisa bicara lagi. “Dipaksa bicara tapi tidak mau. Dia cuma bicara kepada teman khayalnya dalam hati,” kata Dewi. Teman khayalan Nedena itu bernama Michail. Dia seorang malaikat dengan satu sayap. Yang menarik, malaikat ini muncul juga di hati tokoh lain dalam novel. Misalnya ia muncul pada Ging, seorang biksu. “Michail ini karakter yang menggambarkan kesedihan saya sendiri,” kata Dewi. Dengan gagasan seperti itu, setiap karakter jadi mungkin berkisah sendiri-sendiri. Satu sama lain punya hubungan yang mengikatkan: si malaikat bersayap satu.

Yang lucu, banyak teman Dewi kaget ketika mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia ini menang. Wanita berumur 24 tahun ini memiliki taman bacaan Mochan—singkatan dari Monyet Cantik—di Jalan Saluyu B-IV Nomor 16, Kompleks Riung Bandung. Ketika TEMPO berkunjung ke sana, Tutu, teman sehari-hari Dewi, tak tahu bahwa diam-diam Dewi menulis novel. Sebab, selama ini, Dewi dikenalnya lebih suka cerita-cerita remaja. Dewi sendiri mengakui hal itu. Menurut dia, selama di SMU, ia malah sering menggambar komik dan selama ini sering mengirim cerita remaja ke media. Ironisnya, cerita remajanya tak pernah dimuat. Sebaliknya karya yang berbobot sastra: langsung menyambar hadiah. “Saya sangat suka dengan cerita remaja, tapi yang lolos malah yang sastra. Saya jadi bingung,” katanya jujur.

Struktur novel Dewi kompleks. Dan itu—menurut Sapardi—tidak mengejutkan betul. “Bagi saya, tidak ada satu pun novel yang mengikuti sayembara ini memuaskan dari segi struktur,” katanya. Sapardi melihat semua novel yang diikutsertakan dalam sayembara ini ditulis dengan tergesa-gesa. Buktinya, banyak yang datang ke panitia mendekati batas waktu pengiriman. Menurut Sapardi, kecerobohan, kekurangan, dan keteledoran banyak terjadi. Maka hasil tak memuaskan akan muncul jika buku diterbitkan begitu saja, tanpa dirapikan.

Semua karya pemenang Nobel sastra, menurut Sapardi, saat diterbitkan selalu melalui proses editing yang ketat. “Bahkan puisi T.S. Elliot, The Waste Land, yang membuat dia meraih Nobel, sebenarnya hasil editing habis-habisan Ezra Pound, temannya yang sesama penyair,” katanya. Pengalaman Sapardi menerjemahkan novel The Old Man and the Sea karya Ernest Hemingway semakin menguatkan keyakinan dia bahwa novel apa pun perlu pengeditan. Semua kata dan kalimat Lelaki Tua dan Laut begitu kompak. Tidak ada satu adegan pun yang tidak berguna atau tidak bermakna. Novel laris seperti karya John Grisham, Sidney Sheldon, dan J.K. Rowling juga hasil editing.

Menurut dia, sastrawan besar selalu menjadi sahabat karib editornya. Karena itu, proses penyuntingan selalu dalam dialog. Pengeditnya bisa bersama-sama pengarangnya melakukan penyuntingan. Novel Grisham, yang aslinya lebih dari 750 halaman, oleh editornya misalnya bisa dipadatkan menjadi 350 halaman. Tapi Grisham tetap merasa puas. Itu berlainan dengan mayoritas sastrawan Indonesia, yang marah bila diedit. Bagaimana dengan Saman, yang setelah menang sayembara Dewan Kesenian Jakarta langsung diterbitkan tanpa diubah sama sekali? “Tapi saya yakin seyakin-yakinnya, sebelum dikirimkan ke lomba, Saman mengalami editing. Jadi, sudah ada yang mengedit. Siapa? Saya tidak tahu, tapi pasti sudah ada yang mengedit karena hasilnya serapi itu,” kata Sapardi.

Tapi Sapardi mengakui yang menjadi soal sekarang adalah Indonesia kekurangan editor yang baik. “Itu krisis yang paling serius dalam dunia sastra kita,” katanya. Pengertian editor yang tumbuh di sini adalah seperti tukang yang hanya memperbaiki ejaan, abjad, dan koma. Padahal tugas editor lebih dari itu. Ia bisa menajamkan struktur, menghapuskan hal-hal yang tak relevan, pokoknya melakukan segala hal yang menajamkan gagasan. Di luar negeri, menurut Sapardi, orang bisa lebih bangga menjadi editor daripada penulis: “I am editor” bukan “I am writer.” Untuk tiga pemenang penulisan novel Dewan Kesenian Jakarta 2003 ini, Sapardi sebenarnya mau menjadi editor. Tapi, lantaran tak banyak waktu, ia meminta agar para novelis tersebut sabar. Tapi rupanya para novelis pemenang memilih jalan lain. Mereka lebih suka karyanya diterbitkan tanpa diedit.

Dan buku novel mereka diluncurkan di Galeri Cipta III Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 28 April lalu, yang dihadiri sekitar seratus orang. Novel yang kemudian dibukukan oleh penerbit Matahari itu dibahas oleh Melani Budianta dan Gadis Arivia Effendi. Melani memuji kekompleksan struktur Dadaisme dan kemampuan Dewi Sartika menyambung cerita. Tapi kritiknya, struktur membuat karakter tokoh jadi datar dan tak optimal karena ruang yang ditampilkan hanya sedikit. Penyebutan nama filsuf yang bertebaran di novel, menurut Melani, juga mengganggu. Dalam novel Dadaisme banyak terdapat paparan surat-menyurat via e-mail antara dokter jiwa Aleda dan rekannya, Magnos. Mereka berdiskusi tentang apa saja, malaikat, Tuhan.… Dan mereka banyak mengutip pendapat filsuf seperti Leibniz, Spinoza, dan Descartes. Menurut Melani, sebaiknya itu dihilangkan. Lebih nyaman ditampilkan gagasannya saja.

“Sastrawan yang tak mau diedit mengambil posisi tidak betul. Mereka seperti Gusti Allah,” kritik Sapardi. Lepas dari persoalan itu, Dewi, Abidah, dan Ratih makin memantapkan tesis Sapardi bahwa masa depan sastra Indonesia memang berada di tangan perempuan. Baik dalam lomba maupun nonlomba akhir-akhir ini, kehidupan sastra Indonesia didominasi pengarang perempuan. Dari mereka, lahir sesuatu yang kreatif. Budi Darma, misalnya, mengamati bahwa kini banyak mahasiswanya yang memiliki keinginan besar menjadi novelis—gejala yang justru banyak didapat di antara mahasiswa perempuan. “Sekarang ini saja ada empat novel karya seorang perempuan di atas meja saya. Penerbitnya minta saya memberikan kata pengantar ringkas,” kata guru besar sastra ini.

Komentar

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com