Langsung ke konten utama

Politik Citraan

Rakhmat Giryadi
http://kamarbudaya.wordpress.com/

Siapa yang tidak kagum dengan artis cantik nan anggun, Zaskia Adya Mecca? Kecantikannya bertambah lengkap dengan jilbab yang dikenakannya. Dia salah satunya bintang sinetron yang masih remaja membaiat dirinya untuk berbusana muslim. Maka dalam waktu singkat citra yang diinginkan Zaskia disambut positif oleh pemirsa TV.

Namun akhir-akhir ini public terhenyak, ketika di internet beredar foto-foto Zaskia yang dikenal santun itu, sedang merokok dengan kaki medingkrang di kursi. Sungguh gambaran yang tak terkirakan di benak penggemar yang sudah terkadung mengagumi Zaskia terutama lewat perannya di sinetron religius Kiamat Sudah Dekat. Ini bukan adegan dalam sinetron, tapi justru dilakukan di sela-sela syuting sinetron Munajat Cinta.

Berkat perannya di sejumlah tayangan bernuansa religi itu, para pemirsa dan pengagum mengenal Zaskia sebagai sosok perempuan salehah. Penilaian itu wajar ketika kita menghubungkan dengan perannya di “Kiamat Sudah Dekat” sebagai “Sarah” yang pandai mengaji. Para fans pun tentunya menduga dan berharap bahwa apa yang diperankan idolanya dalam sinetron sejalan dengan perilaku kesehariannya.

Kabar miring Zaskia itu akan mengejutkan siapa saja yang selama ini mengenalnya lewat layar kaca. Anda barangkali akan bilang, Zaskia ternyata tak ubahnya sejumlah selebritis lain yang manis di depan kamera tapi perilakunya liar ketika di luar tuntutan perannya. Lepas dari kesahihan gosip infotainment dan gambar yang beredar di internet, masyarakat tak perlu memberikan reaksi yang berlebihan.

Dalam dunia peran, siapapun bisa menjadi apa yang diinginkan oleh sang sutradara. Dan kebetulan saja Zaskia dianggap lebih pas, atau dalam istilah pasar lebih marketable, untuk memerankan sosok muslimah yang salehah. Di luar itu, Zaskia punya otoritas penuh untuk menjalani kehidupannya sendiri.

Ini kehebatan media yang mampu membangun citra seorang menjadi citra yang lain. Karena itu, media (TV) menjadi alat yang paling efektif untuk menyebarkanvirus citra. Lihat saja, para politikus kita tiba-tiba bak bintang iklan. Hal itu dilakukan demi membangun citra. Sebusuk apapun kepribadian politikus, di televisi, citra seseorang bisa dikemas menjadi manis, semanis janji-janji yang dikampanyekan.

Politik pencitraan ini sejalan dengan masyarakat yang sangat gandrung dengan citra. Padahal citra itu bukan esensi, meski citra itu kata kaum eksistensialis mendahului esensi, namun citra bukanlan sesuatu yang ‘nyata.’ Dia hanya kulit. Bagi mereka yang mempercayaai citraan, maka sebenarnya mereka hanya mendapatkan kulitnya. Sementara isinya dibuang.

Kehebatan para selebriti kita, para politikus kita, para pejabat kita, para calon gubernur kita, menggunakan politik citraan ini untuk mengelabuhi masyarakat. Masyarakat yang tidak mengenal beda isi dan kulit. Ini persis ketika orang Barat (atau bahkan kita sendiri) memahami Islam. Bahwa orang yang bersorban putih, membawa tasbih, membawa bendera dengan tulisan Arab, adalah orang Islam.

Sikap kita yang mencurigai setiap orang yang berjubah, dan juga negara barat yang demam terhadap Islam, sebagai akibat cara pandang yang menempatkan simbol dan atribut di atas perilaku orang perorangnya. Yang kita pandang adalah jubahnya, yang membuat demam adalah orang islam yang melakukan kekerasan. Padahal jubah itu putih, belum tentu Islam. dan Islam tidak identik dengan jubah putih apalagi kekerasan.

Penyakit pencintraan telah menghinggapi seluruh segi kehidupan. Agama dicitrakan. Politik dicitrakan. Ekonomi dicitrakan. Hukum dicitrakan. Seks dicitrakan. Kita hidup di negeri citra. Hidup yang hanya seolah-olah.

Pembangunan citra bagi seorang aktris atau siapa saja itu penting. Ia menjadi semacam bumbu penglaris untuk menguatkan image yang diperankan. Sebagian masyarakat kita tampaknya tak menyadari hal itu. Mereka berharap banyak bahwa sang idola yang mereka kenal lewat layar kaca demikian adanya dalam dunia keseharian.

Ekspektasi para fans terhadap idolanya akhirnya berujung dengan kekecewaan ketika mereka mengetahui jika sang idola cuma tampil manis di layar kaca, tapi tidak demikian halnya dalam dunia nyata.

Hal itu tidak berbeda jauh dengan calon gubernur kita. Jangan jangan hanya manis dimuka, dibelakang kita digerogoti. Karena itu berhati-hatilah dengan politik pencitraan. ‘Hidup Adalah Pencitraan?’ Prek!

September 9, 2008

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mencari Indah dalam Buruk Rupa Dunia

Judul Buku : Cala Ibi
Penulis : Nukila Amal
Penerbit : Pena Gaia Klasik
Cetakan Pertama : April 2003
Tebal : 271 Halaman
Peresensi: Askolan Lubis
http://www.sinarharapan.co.id/

Petikan kalimat diatas diucapkan oleh Maia dalam fragmen terakhir (Surat dan Tanda Terakhir) dari novel Cala Ibi yang ditulis Nukila Amal ini.

Kalimat tersebut seolah hendak menegaskan tantang keberadaan karya ini: di tengah centang perenang realitas keseharian yang menyesakkan, Cala Ibi datang menyenandungkan irama lain yang teramat indah, namun acapkali dianggap tidak penting, yaitu mimpi.

Dengan memberi judul Cala Ibi (Naga)—yang tak lain adalah nama hewan agung lambang para kaisar Cina—pada novel ini, Nukila tampaknya hendak memberi tempat terhormat pada dunia bernama ”mimpi”.
Bagaimana tidak? Naga adalah hewan yang diyakini adanya, tapi tak seorangpun yang bisa memastikan atau melihat wujudnya.

Anehnya lagi, ia bukan sejenis reptil, tapi seperti ular. Bukan burung tapi bersayap dan bisa terbang. Bukan ikan, tapi bers…

POTRET MANUSIA MARJINAL DALAM CERPEN-CERPEN JONI ARIADINATA*

Maman S. Mahayana**)
http://mahayana-mahadewa.com/

00. Sastra adalah dunia yang serba mungkin; apapun bisa jadi mungkin (probability), termasuk di dalamnya, yang mustahil pun bisa saja menjadi mungkin. Jadi, dalam keser-bamungkinan atau kemustahilan itu, berbagai peristiwa yang mungkin dan yang mustahil, bisa saja terjadi sekali-sekali, gonta-ganti atau serempak secara tumpang-tindih. Oleh karena itu, salah satu kekhasan karya sastra (fiksi) yang sering dimanfaatkan untuk mem-bedakannya dengan karya nonfiksi adalah adanya kebolehjadian (plausibility) itu. Itulah sastra! Ia bisa menampilkan dunia yang realistik dan masuk akal secara meyakinkan. Na-mun, ia juga dapat menampilkan hal yang sebaliknya. Di sana, mungkin ada dunia jung-kir-balik, irasional, dan amburadul. Semua boleh saja terjadi, dan itu sah! Tidak ada rumus yang pasti yang berlaku universal. Selalu saja ada yang khas, unik, dan nyeleneh. Selalu ada saja kekhasan individual, meskipun ciri atau sifat-sifatnya, mungkin berlaku …

Sastra Indonesia Mutakhir: Jejak Historis dan Kecenderungan Estetiknya

Jamal T. Suryanata
http://tuasmedia-2.blogspot.com/

/ 1 /

Memperbincangkan ihwal sastra Indonesia mutakhir, sebagai suatu tema besar, tentu saja bukan sebuah persoalan yang tanpa risiko. Di samping karena begitu luasnya cakupan pengertian “sastra Indonesia” itu sendiri, juga dilantarankan oleh ketakrifan istilah “mutakhir” yang digunakan dalam judul tulisan ini memang cenderung bermakna bias (baca: bersifat deiktis).