Langsung ke konten utama

KEGAMANGAN MANUSIA PASCAMODERNISME

Maman S Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Pamusuk Eneste, Tuan Gendrik (Puspa Swara, Jakarta: 1993) v + 102 halaman.

Totalitas, kesatuan, dan pudarnya otoritas tunggal yang digantikan oleh heterogenitas dan pluralitas, merupakan beberapa ciri kehidupan manusia pascamodernisme. Bentuk hegemoni dan dominasi dengan pemanipulasian konsensus, telah menyeret ego menemui ajalnya.

Dalam kenyataannya, kini ego memang terbenam oleh neokolonialisme dalam bentuk percepatan arus komunikasi, serbuan informasi dan keterikatan pada ilmu pengetahuan.

Buku kecil antologi cerpen karya Pamusuk Eneste ini sama sekali tidak menyinggung pemikiran Lyotard Jameson. Tetapi, tokoh-tokoh yang diangkat Pamusuk, cenderung menggambarkan kegelisahan manusia pascamodernisme. Antologi ini juga dalam beberapa hal telah menghilangkan batas pemisah antara kebudayaan tinggi (high culture) dan kebudayaan massa atau populer (mass atau popular culture).

Dalam cerpen pertama, misalnya, tampil tokoh Barero. Dengan kedudukannya sebagai direktur salah satu perusahaan terkenal di negeri antah berantah, Barero disegani karyawannya. Kebaikan dan kedermawanannya telah membuat banyak orang kagum dan hormat. Ia juga dikenal rajin beribadah.

Saat ia cuti, seorang penelepon gelap tiba-tiba mengancam: “Keselamatan istri Saudara tidak bisa kami jamin,” dengan demikian suara dalam telepon (h. 5). Penelepon yang tidak jelas jati dirinya itu juga meminta Barero menyediakan uang seratus juta dolar. Barero gamang. Pecahlah otoritasnya. Ada bentuk hegemoni dan dominasi yang mesti diterima dan diselesaikan melalui konsensus. “Barero yang punya hak veto penuh di perusahaannya, kini jstru menerima hak veto dari seseorang yang tak jelas identitasnya.” (h. 7)

Kesembilan cerpen lainnya, juga menggambarkan kegamangan macam itu. Kekuasaan dan kemapanan bisa mendadak amburadul hanya lantaran ulah manusia iseng atau karena manusia tidak dapat menyelesaikan masalahnya sendiri. Maka, kemelut rumah tangga Buggati, rumah tangga Ponderos, Marsose, kemandulan suami Makeba, bolosnya sekretaris Tuan Gendrik, hilangnya mesin tik Molli, Benino yang mendadak diangkat menjadi pahlawan, dan persoalan remeh-temeh lainnya, bisa secara tiba-tiba menjadi persoalan orang lain. Dan orang lain pun tidak tahu, mengapa itu dapat terjadi dan bagaimana menyelesaikannya.

Persoalan manusia
Secara tematik, ke-10 cerpen Pamusuk ini, terkesan kuat hendak menyodorkan persoalan kehidupan masyarakat perkotaan. Alienasi, kegamangan, kegelisahan, dan ketidakberdayaan, telah menciptakan pribadi-pribadi menjadi tak bermakna.

Rutinitas dan kehidupan yang berjalan secara mekanis, serta kedudukan seseorang dalam sebuah sistem, justru malah menghilangkan makna dirinya sebagai pribadi. Ia tidak dapat melepaskan diri dari ketergantungan unsur lain. Orang pun bicara tidak lagi mewakili diri sendiri. Ego terbenam dalam mekanisme raksasa. Lalu, manakala salah satu unsur itu macet, pecahlah otoritasnya.

Masih senada dengan kumpulan cerpen Pamusuk sebelumnya, Isabel Blumenkol (1986), nama-nama tokoh yang menjadi pelaku cerita dalam Tuan Gendrik, juga terasa begitu asing dan aneh. Demikian juga latar ceritanya membawa kita ke dunia antah berantah dan sama sekali tidak mengindonesia.

Dari sudut ini, Pamusuk tampaknya sengaja hendak mengembalikan hakikat sastra sebagai fiksi. Tetapi dari sudut tema, ia justru mengangkat masalah kehidupan keseharian masyarakat perkotaan (baca: Jakarta) atau dampak yang ditimbulkannya. Dengan cara demikian, persoalan yang disodorkannya menjadi ambivalen; bukan persoalan kita tetapi juga menjadi persoalan kita!

Jika kini orang ramai membicarakan problem manusia pascamodernisme, barangkali gambaran yang dihadapi tokoh-tokoh dalam kumpulan cerpen ini, memberi lain mengenai problem itu. Paling tidak, tema-temanya relevan. Dalam konteks ini, boleh jadi kumpulan cerpen Tuan Gendrik akan menjadi bahan diskusi yang menarik jika kita menghubungkannya dengan problem manusia pascamodernisme.

Agak disayangkan, bahwa tema-tema yang sesungguhnya amat menarik itu, kurang didukung oleh cara bercerita yang lancar mengalir. Dengan begitu, jalinan cerita dalam dua cerpen, terasa agak terbata-bata. Untunglah, beberapa kesalahan cetak tidak terlalu mengganggu, sehingga kita masih dapat menikmati cerpen itu dengan baik. Namun, persoalannya menjadi lain jika kita terpengaruh oleh komentar yang terdapat di halaman belakang buku itu, yang sebenarnya kurang pas dengan tema-tema cerita yang terdapat di dalamnya. Terlepas dari kekurangan kecil itu, kumpulan cerpen ini jelas telah ikut memperkaya tema-tema cerpen kita.

Komentar

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com