Langsung ke konten utama

Perempuan Kupu-kupu

Dian Hartati**

Aku adalah perempuan kupu-kupu. Setiap langkah yang tercipta selalu menghadirkan kepak sayap. Ruang-ruang di rumahku adalah sebuah dimensi yang menceritakan kisah-kisah menawan dan selalu menghadirkan gelak tawa. Senda gurau perempuan lain, ibuku yang kupanggil dengan sebutan Mama..

Di leherku sebuah tato tergambar jelas. Tato kupu-kupu dengan sayap mengepak. Tidak begitu lebar dan terdapat motif bintik-bintik berwarna hitam. Jika kamu meraba lehermu dan menemukan tonjolan tulang leher, maka di situlah gambar kupu-kupu tepat berada di leherku. Tato yang manis dan aku sangat menyukainya. Serangga pengisap madu yang terletak di leherku ini sering kali membuat rasa penasaran pada diriku sendiri untuk selalu melihatnya. Namun aku hanya dapat melihat dengan bantuan cermin atau kaca besar yang berada di kamarku. Mengintip bayangan mungil yang muncul seketika.

Aku ingat peristiwa yang melatari bagaimana kupu-kupu itu berada di leherku. Beberapa bulan yang lalu aku mendapati surat panjang di inbox e-mailku. Seorang lelaki dewasa bercerita tentang harapan yang menurutku aneh. Nama lelaki dewasa itu adalah Lepidoptera, nama yang unik bukan. Lepi - begitu aku memanggilnya - memiliki keinginan ketika dia bangun tidur, Lepi tidak ingin menemukan siapapun. Lepi ingin tidak ada seorang pun yang mengenalnya. Setiap bangun tidur Lepi mengharapkan berada di dunia lain, dunia yang berbeda dengan hari kemarin. Kamu tahu aku hanya tersenyum membaca surat itu.

Maka keesokan harinya aku membalas surat Lepi. Aku katakan padanya bahwa suata saat Lepi akan menemukan harapannya. Bangun tidur dan tak menemukan apapun. Mencoba-coba mengingat hari kemarin tapi sekuat apapun usaha Lepi dia takkan menemukan dirinya di hari kemarin. Saat Lepi terbangun dari tidur lelapnya dia akan menemukan seorang perempuan berambut pendek, bahkan sangat pendek untuk ukuran seorang perempuan. Lepi mencoba mengingat-ingat, mengira-ngira siapa perempuan yang berani menggangu tidurnya di pagi hangat. Usaha Lepi sia-sia karena dia tak dapat mengingat. Lepi hanya menemukan tato kupu-kupu di jenjang leher perempuan itu.

Begitu aku membalas surat panjang seorang lelaki dewasa bernama Lepidoptera. Kamu tahu, setelah aku mengirimkan e-mail itu tiba-tiba saja tato kupu-kupu menempel di leherku. Tentu saja aku takut karena kalimat-kalimatku di surat itu menjadi kenyataan. Aku sangat tidak nyaman dengan tato itu, ada sebuah ketakutan. Aku sangka itu adalah kutukan karena aku membalas surat seseorang dengan imaji yang berlebih. Sungguh aku khawatir dengan keadaan diriku. Di tubuhku, di leherku, di kulitku ada sepetak gambar yang tidak pernah aku sangka-sangka. Tidak pernah aku duga sebelumnya.

Beberapa kali Lepi mengirimi aku surat, tapi aku tak lagi menghiraukannya. Aku takut kalimat-kalimat yang kubangun di surat menjadi kenyataan seperti tato kupu-kupu yang kini mengepak di leherku. Aku lupakan lelaki dewasa itu. Saat ini aku sudah terbiasa dengan tato kupu-kupu yang menghias jenjang leher, terkadang aku berucap syukur mungkin ini adalah anugerah. Seorang perempuan dengan tato kupu-kupu di leher, begitu manis.

Seperti siang ini. Entah siang yang keberapa karena aku tak pernah mengingatnya. Siang hari yang terik, sepulang kuliah aku mendatangi sebuah mall di pusat kota. Sekadar membuang jenuh karena rutinitas perkuliahan yang membosankan. Mengelilingi gedung berlantai lima dan memasuki sebuah tempat yang hanya menjual pewangi ruangan. Aku memilah beberapa pewangi yang berbeda-beda aromanya. Ada wangi buah, bunga, sampai aroma kopi. Aku membeli beberapa untuk ruang-ruang yang ada di rumahku. Aku suka sesuatu yang wangi. Menyenangi segala hal yang harum. Selalu ada semangat yang terhirup dari wangi-wangian itu.

Tak lelah aku memasuki beberapa show room. Ada yang aneh. Beberapa pengunjung mall memperhatikan aku. Adakah yang salah dengan penampilanku atau keringat berlelehan di wajahku. Mungkin mereka melihat tato kupu-kupu di leherku dan itu sesuatu yang aneh bagi mereka. Tapi kurasa bukan itu. Tato bukanlah hal yang asing di kota ini. Banyak perempuan yang melukiskan tato di tempat-tempat tertentu di bagian tubuhnya. Kudengar bisik-bisik dari suara mereka. Apel. Wangi apel. Aroma apel. Aku mempercepat langkahku karena tak biasa di tatap seperti itu oleh banyak orang.

Berjalan menuruni setiap lantai dan bergegas pulang. Sepanjang koridor aku hanya mendengar bisik suara orang-orang. Apel. Wangi Apel. Aroma Apel. Aku ingat mungkin saja orang-orang itu menghirup pewangi ruangan yang meruap dari kantong belanjaanku. Ya, pasti itu alasannya mengapa mereka, orang-orang itu, membisikkan kata apel berulang-ulang. Kamu tahu, sesuatu yang membuatku heran adalah aku tidak pernah membeli pewangi ruangan beraroma apel. Akhirnya aku memeriksa apa saja yang kubeli. Aroma sedap malam untuk ruang tidur, mawar untuk ruang tamu, jeruk untuk ruang baca, aroma kopi untuk dapur, dan anggrek untuk kamar mandi. Kupastikan tak ada pewangi ruangan yang beraroma apel.

Di lantai dasar aroma keju memenuhi ruangan. Sebuah toko roti sedang mengadakan promosi besar-besaran. Kulihat seorang laki-laki memeragakan cara membuat roti dengan tahapan-tahapan yang jelas. Aku melangkah menuju pintu keluar. Orang-orang tetap memperhatikan aku dan berbisik. Apel. Wangi Apel. Aroma Apel. Apakah mereka tidak salah? Lantai ini dipenuhi aroma keju dari toko roti yang luas itu, begitu semerbak. Tapi mengapa orang-orang mengucapkan kata-kata apel. Siang yang aneh dan aku tak mau terjebak dalam pendengaran yang dikacaukan oleh mereka, orang-orang itu.

Sampai di luar mall aku langsung menyeberang. Sebuah jalan raya yang padat menghadangku secara nyata. Menunggu. Mencoba mencari kesempatan agar aku dapat leluasa berjalan sampai ke seberang sana. Berbagai kendaraan menyeruak, saling merebut posisi untuk selalu menjadi yang tercepat. Tak menghiraukan para pejalan yang akan menyeberang. Sebuah zebra cross terhampar di hadapanku. Panas matahari dan waktu telah memudarkan cat putih yang menjadi batas antara jalan raya dan garis zebra cross. Aku masih bertahan menunggu berkurangnya debit kecepatan berbagai kendaraan itu. Beberapa orang mulai bertumpuk, sama-sama hendak menyeberang. Kemana polisi lalu lintas? Biasanya mereka ada di sekitar sini untuk membantu menghalau kendaraan-kendaraan itu.

Angin berhembus. Bayang-bayang pohon bergerak searah angin yang datang. Makin banyak orang yang hendak menyeberang tapi kesempatan belum ada. Laju mobil-mobil itu begitu cepatnya. Sedikit saja salah mengambil kesempatan pastilah badai klakson memenuhi ruas jalan yang hanya cukup untuk tiga jalur mobil yang bergerak satu arah. Di sekelilingku orang-orang sudah mulai tak sabar. Beberapa orang berbisik tak karuan. Apel. Wangi Apel. Aroma Apel. Aku menoleh ke arah mereka. Lagi-lagi yang kudengar hanya apel. Wangi Apel. Aroma Apel. Aku sudah tidak tahan. Maka kulangkahkan saja kaki. Menyeberang tak memikirkan nyawa yang masih betah di raga. Aku tak habis pikir mengapa orang-orang di sekelilingku selalu mengucapkan kata-kata yang sama.

Di seberang jalan aku harus meneruskan langkah sampai perempatan. Tak jauh hanya lima menit saja aku sudah tiba di tiang lampu merah. Kulihat di seberang sana orang-orang tengah menunggu lampu berwarna merah menyala. Menunggu giliran mereka untuk menyeberang. Melihat mereka yang tengah menunggu aku jadi ingat lintasan peristiwa yang terjadi setahun lampau. Aku berada di seberang sana bersama seorang laki-laki. Menunggu giliran untuk menyeberang. Syailendra nama laki-laki yang bersamaku ketika itu. Lendra - begitu aku mengingat namanya sampai saat ini - begitu erat memegang tanganku. Berkali-kali Lendra mengingatkan aku bahwa dia takut menyeberang. Tak pernah berhasil menyeberangi jalan seorang diri. Seorang laki-laki yang berbeda dengan lelaki lainnya. Sepengetahuanku setiap laki-laki selalu ingin menjaga perempuan di sampingnya saat menyeberang. Tapi Lendra berbeda, dia begitu ingin dilindungi.

Aku selalu mengingatkan Lendra bahwa menyeberang adalah hal yang mudah. Keberanian dapat diasah dengan keterbiasaan. Setiap akhir pekan ketika menghabiskan waktu bersama, aku selalu mengajak Lendra berjalan. Menjelajahi ruas-ruas jalan untuk diseberangi. Sebuah agenda yang disepakati bersama. Sampai akhirnya Lendra dapat menyeberang sendiri. Tanpa harus ada aku atau siapapun di sampingnya. Lendra jadi tahu bagaimana bersiasat saat menyeberang jalan. Maka aku tak khawatir lagi ketika harus membiarkannya sendirian di jalan raya.

Namun berita buruk kudapati ketika Lendra sedang bertugas di luar kota saat mengadakan penelitian untuk studi kuliahnya. Di sore hari yang tenang aku mendengar kabar Lendra tertabrak mobil saat menyeberang. Betapa sedihnya mendengar kejadian tersebut. Hidup Lendra harus berakhir di jalan raya. Kamu tahu, kepergian Lendra adalah kesalahanku. Aku tak menemani saat Lendra menyeberang.

Apel. Wangi Apel. Aroma Apel. Aku tiba-tiba saja tersadar dari lamunanku. Orang-orang yang hendak menyeberang di seberang sana kini telah ada di sekelilingku. Sama-sama menunggu angkutan kota yang akan membawa kami ke arah utara. Apel. Wangi Apel. Aroma Apel. Bisik-bisik itu terasa menggangu. Aku langsung naik mobil yang tiba-tiba saja muncul di hadapanku. Aku tak melihat arah datangnya karena beberapa saat pikiranku mundur ke masa lampau, setahun yang lalu.

Turun dari mobil aku harus berjalan sepuluh menit untuk sampai di rumah. Sebuah pohon belimbing akan menyambutmu jika kamu hendak bertamu ke rumahku. Pohon yang menjadi saksi aku tumbuh sebagai anak yang ceria. Pohon yang aku tanam ketika berusia lima tahun. Ketika itu seorang nenek memberikan bibit belimbing padaku. Aku menanam dan merawatnya sampai saat ini di usiaku yang ke duapuluh tahun. Di samping pohon belimbing bermekaran wijaya kusuma. Bunga yang jika sedang mekar selalu meruapkan aroma yang khas.

Ketika kecil aku selalu mengintip mekarnya wijaya kusuma. Setahuku bunga itu selalu mekar pada tengah malam. Sekitar pukul tujuh malam aku keluar rumah, mencium dan menghirup wangi bunga yang bakal mekar malam itu. Ketika kuncupnya masih mengatup aku selalu minta sesuatu. Pernah suatu ketika aku mengucapkan keinginanku di hadapan wijaya kusuma: jadi anak pintar. Masuk rumah dan mengintip dari balik jendela menantikan bunga itu mekar. Menunggu sampai tengah malam dan akhirnya tertidur tanpa melihat mekarnnya wijaya kusuma. Keesokkan harinya ketika berangkat sekolah, bunga itu telah mekar. Menampakkan kecantikkannya sebagai bunga para raja. Bunga yang dapat membangkitkan orang yang telah meninggal. Bunga yang dikenal sebagai wijaya mala, diperbincangkan oleh beberapa orang sebagai wijaya mulia.

Memasuki ruang tamu aku mendapati aroma apel yang kuat. Aku jadi ingat bisik-bisik orang di mall tadi siang. Ternyata penciuman mereka tidak salah. Aku mencium kedua lenganku, aroma apel muncul dari sana. Membaui kedua kaki, lagi-lagi aroma apel terhirup. Tubuhku beraroma apel. Mengapa keringatku beraroma apel? Aku tak percaya, mungkin penciumanku yang salah. Aku harus segera mandi.

Masuk kamar mandi aku baru menyadari ternyata motif keramik yang menempel di dinding kamar mandi adalah kupu-kupu biru dengan sayap yang sedang mengepak. Memasuki ruang tidur ternyata lukisan yang menempel di dinding adalah sekelompok kupu-kupu yang sedang menyedot madu di antara rimbun bunga-bunga. Memasuki ruang baca setumpuk buku berkisah tentang siklus hidup kupu-kupu. Kain pelengkap ibadahku bermotifkan kupu-kupu. Botol minyak wangi milikku bergambar kupu-kupu. Kamu tahu, yang paling mengherankan adalah ketika minggu ini aku mendapat kiriman buku berjudul Kupu-kupu Bersayap Gelap*. Aku jadi bingung sejak kapan hari-hariku dipenuhi kupu-kupu.

Malam hari aku hanya ditemani sebatang lilin. Aku begitu damai dengan suasana kamar yang remang. Aroma apel memenuhi ruang tidurku. Karena terlampau lelah aku melupakan semua pertanyaan yang tak dapat kujawab. Apel. Wangi Apel. Aroma Apel.

Aku adalah perempuan kupu-kupu yang meruapkan aroma apel. Setiap langkah yang tercipta selalu menghadirkan kepak sayap. Ruang-ruang di rumahku adalah sebuah dimensi yang menceritakan kisah-kisah menawan dan selalu menghadirkan gelak tawa. Senda gurau perempuan lain, ibuku yang kupanggil dengan sebutan Mama..

Di tubuhku terdapat bercak ungu letaknya di telapak tangan. Aku tidak tahu sejak kapan warna ungu itu menempel di tangan kananku. Aku menyadarinya ketika aku telah dapat mengingat. Aku pernah bertanya pada Mama, dia hanya tersenyum dan menjawab singkat: itu warisan dari leluhurmu. Di hari lain Mama pernah mengatakan bahwa bercak ungu itu akan hilang dengan sendirinya ketika aku telah menemukan seseorang yang pantas menjadi pendamping. Maka kutunggu saja waktu di mana seseorang datang dan akan menjadi pendampingku.

Kini ruang-ruang di rumahku dipenuhi berbagai aroma. Aroma sedap malam untuk ruang tidur. Aroma mawar untuk ruang tamu. Aroma jeruk untuk ruang baca. Aroma kopi untuk dapur. Aroma anggrek untuk kamar mandi. Tetapi jika aku mendatangi ruang-ruang itu berbagai aroma menghilang begitu saja tergantikan aroma apel yang meruap dari tubuhku. Kini aku terbiasa dengan bisik-bisik yang selalu terucap dari orang-orang di dekatku. Apel. Wangi Apel. Aroma Apel.

Malam ini aku mendapati situasi yang berbeda. Aku tak dapat tidur. Untuk memejamkan mata saja terasa sulit. Berkali-kali aku membaca buku agar kantuk datang namun tak berhasil. Terasa olehku lelah yang semakin membebat. Ada apa gerangan? Malam telah larut. Aroma apel telah menjelaga di setiap sudut kamar. Aku tak mengerti dengan kondisi tubuhku saat ini. Terlintas bayang-bayang masa lalu, saat aku kehilangan seseorang, ketika aku mendapatkan sesuatu. Apakah demam memerangkap tubuhku. Kulihat bercak ungu di telapak tanganku menghilang sedikit demi sedikit. Kamu tahu, mungkin ini adalah waktuku untuk menjalani fase kehidupan selanjutnya. Bermetamorfosis.

SudutBumi, Oktober 2006
~untuk dua laki-laki yang memiliki satu kesamaan~

Keterangan:
* Kupu-kupu Bersayap Gelap adalah judul buku yang ditulis oleh Phutut EA
**)Sumber,http://sudutbumi.wordpress.com/

Komentar

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com