Mungkin musim masih enggan mengantar kita
kembali seperti Februari tahun lalu.
Ada perjalanan yang terus kenang
terekam di memori bayang mata.
O jasad yang di seberang sana
aku sedang berlayar
menuju tanahmu yang ranum itu
sambil membaca puisi sulamanmu.
Parahyangan, Maret 2008
Cahaya di Halaman Mata
Kutanam cahaya di halaman mata
menghasilkan anak-anak matahari.
Kutulis kesetiaan sebagai garis tangan
melahir sajak-sajak perjalanan.
Kukayuh tubuh saat petang
rubuhkan sisa-sisa waktu.
Kusulam hujan pada tanah basah
menyisakan pohon-pohon kerinduan.
Parahyangan, Maret 2008
Serupa Selat
: Kang Nyonk
Meski jasad tak sampai di matamu
aku serupa selat
melayarkan sampan yang karam
ke lengkung senyummu.
Parahyangan, 31 Juli 2008
Pertalian Mata
: Novia
Sajak tumbuh di matamu
mengakar hingga penghujung musim
musim yang bertuan hujan.
Dan jantung bergetar
tanda siap berlayar
menuju tangan tak hambar.
Jangkrik merekam peristiwa
ombak jadi puntalan usia.
Sesampainya di telaga warna
tubuh serupa perahu
karam sebelum waktu.
Parahyangan, Juli 2008
*) Sihir Terakhir, Antologi Puisi Penyair Perempuan ASAS, Penerbit PUstaka puJAngga, 2009.
http://sastra-indonesia.com/2010/01/puisi-puisi-w-herlya-winna/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar