Suaraku lebih mewah dari lanskap di wajah bersisik.
Maka tutup matamu
karna saat mata terpejam, para telinga terbangun.
Jika mampu manusia merajai indera lainnya, maka
kan kupinta pula kaututup lidah, hidung, serta arimu karna yang kumau
cuma telinga dan kepekaan gendangnya meski kental dan jingga berlilin.
Indera yang teragung bagi para
Muslim, Nasrani, dan Ibrani untuk kubisiki.
Bahwa menyimak wanita tidak
cuma dilihat, namun juga didengar.
Bandung, Juli 2008
Tentang Berebut Magelang
Kami tidak Cuma berterima kasih tapi juga menerima kasih untuk sebulan Juni
Saat Gunung Kidul kembali subur dan di Magelang tak ada lagi sakit gigi
kami nanti engkau di pangkal Selat Bali
Bandung, Agustus 2008
*) Sihir Terakhir, Antologi Puisi Penyair Perempuan ASAS, Penerbit PUstaka puJAngga, 2009.
http://sastra-indonesia.com/2010/01/puisi-puisi-tita-maria-kanita/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar