Pengakuan Lain Sritanjung
Di tepian sungai itu Sritanjung menantang Sidopekso untuk
menenggelamkan dirinya ke dalam maut.
: Bebaskan tubuhku dari pikiranmu, wahai. Biarkan darah bercerita
padamu tentang waktu-waktu yang menggelapi matamu. Biarkan suara-
suara yang mengalir dalam pembuluh dan mengerogotkan karat dalam
pikiran keluar dari kepalamu agar kau dengan sendirimu bertemu
binatang-binatang mesummu.
Tubuhku tak cukup kata untuk menerangi gelap yang kau lumurkan
padanya, Suami. Karena hayatku tak lebih kurang adalah hayatmu. Ia
yang tak pernah benar-benar kumiliki sendiri terlalu penuh hasrat
dan kehendak. Terlalu mudah dilemahkan angan-angan.
Maka aku pilih maut menjadi saksiku. Ia yang mashur dan tak
dikenali hanya punya satu bahasa: keheningan paling sembilu itu
akan membawamu menyeberang hayat yang menggaduhkan. Mengantarmu
pada cahaya paling terang seperti yang Rama dapati pada sisa api
pembakaran Sinta.
Wahai, Suami, hunuslah lidah api beku yang terselip di pinggangmu.
Biarkan aku menerjuninya. Biarkan aku menjelma Sinta!
Tubuh Sidopekso bergetar. Pandangannya dihanyutkan air sungai. Jauh
menjauh-jauh dari tubuh yang menegak di penjelangnya. Tak sekata
cakapan Sritanjung menyela deru gemuruh yang membanjiri telinganya.
: Ayo laki-laki wira turunan Puntadewa. Hunuslah lidah apimu, lalu
sarangkan pada kenangan mesummu. Tak sanggup tubuhku bermandi
najismu.
Raut Sidopekso mengeras. Tangan kanannya meraba hulu lidah api di
pinggang. Sementara tangan kirinya bergerak hendak meraih pundak
Sritanjung. Alangkah! Kenapa mesti laki-laki membunuh malu,
pikirnya.
Tangan kiri Sidopekso hanya meraih angin.
Sekian inci sebelum ujung jarinya menyentuh pundak Sritanjung,
tubuh perempuan itu terhuyung ke belakang dan jatuh berselutut di
penjelangnya. Tangan kanan Sidopekso yang bermenghunus membeku di
udara.
: Tak takutkah kau menelan ludah sesal yang pahit, Suami. Aku
bersumpah tak barang sekedipan mata berpaling darimu. Paralain
belaka cemburu padamu.
Sidopekso menatap perempuan yang bersimpuh itu. Ia ditiup bimbang.
: Apakah kau akan mengubur kenangan kita? Tega kau piatukan dua anak
kita? Apa jawabmu bila mereka menanyakan tentang diriku? Kau akan
bilang kalau kau telah membunuhku karena lidah angin? Atau kau
ingat laki-laki dari Tarub, lalu bilang selendang yang kembali
kutemukan telah membawaku meniti pelangi. Oh suami, aku ingin
melihat anak-anakku tumbuh besar di depan mataku sendiri.
Wahai, jangan biarkan lidah-lidah angin menerbang-lenyapkan
kenangan dan harapan kita. Jangan biarkan dengki mereka memenangi
pertempuran ini. Jangan biarkan sesal bakal mengutuki seluruh
hayatmu.
Suami, padamkan lidah api dalam sarungnya.
Ia menciumi kedua ujung kaki Sidopekso.
: Baiklah, ampuni aku. Telah lewat batas aku.
Tapi apadayaku, sundal belaka tubuhku.
Ia menciumi kaki Sidopekso berulang-ulang kali.
Kepulauan Imaji
I
Perempuan berambut ular di sampul depan buku tulis tipis;
pengalaman visual masa kanak-kanak itu tak sudah menumbuhkan
kegelisahan. Bayang-bayang sebarisan pohon kelapa yang dilemparkan
cahaya matahari yang menyergap imajinasi Tagore kecil adalah jari-
jarinya yang berwarna merah terang di suatu pagi. Sepi membawanya
ke dalam lorong-lorong, menyusuri hamparan persawahan, membenamkan
wajah ke kali, bercakap dengan lumut yang tumbuh di dinding lembab
rumah kolonial, terbang menggunting-gunting cahaya bersama burung
layang-layang di atas laut dan menyusup ke relung-relung gelap gua.
Di padang penggembalaan ia masuki mimpi Endymion.
II
Alangkah imajinasi yang begitu membelukar meletakkan keindahan ke
dalam dirinya sebagai kegembiraan yang membingungkan. Angan-angan
erotik terlarang yang tak tertahankan membuatnya berpijar di dalam
jilatan melidah-lidah api nerakanya Rimbaud. Namun, masih ia
membayangkan diri sebagai kacang polong dalam syair Rumi. Berkas-
berkas cahaya lembut dari mimpi masa kanak-kanak memanggili:
Perseus! Perseus!
III
Dunia menjadi sebentuk cermin raksasa. Ia melihat sendirinya di
mana-mana. Di dalamnya juga terlihat jalan setapak yang panjang
mengular sampai menyentuh tepian langit. Ia menyangka jalan setapak
itu berakhir di sebuah taman di mana ribuan puisi berpijaran
membacakan bait-baitnya sendiri. Malam demi malam disusurinya jalan
setapak di dalam cermin, membayangkan hikayat odyssey Bima dalam
imajinasi seorang wali pada abad sembilan belas. Tubuh ia
telentangkan di atas meja operasi, dibedahnya dan ia temukan air
suci dalam sebotol wiski.
IV
Kehampaan mengurungnya teramat ketat, semakin dalam menguburnya ke
dalam dirinya sendiri bersama baris-baris muram puisi Lermontov.
Alangkah beku waktu ciptakan dunia runtuh hingga menggemakan
kembali jerit kebosanan Baudelaire: Pergilah ke manapun asal jangan
di dunia yang ini!
Kemudian ia menuntun dirinya di depan pintu Vor Dem Gesetz,
merenungkan biografi Josef K. Pada awalnya melulu nampak
pemandangan muram musim rontok, deretan kumuh bangunan rumah Yahudi
yang mirip tempurung di ibu kota Bohemia, juga penantian Juru
Selamat yang berlarut. Namun kalimat penghabisan dalam Der Prozes:
seperti seekor anjing, menawarkan secangkir kopi komikal tanpa
gula.
V
Saat bertemu dengan Nyonya Vogler dalam kertas kerjanya Bergman ia
sedang bergelung dalam perut labirin, menunggu ayah membuatkan
sepasang sayap dan matahari.
Seperti Oedipus sang detektif, tanpa setahunya ia merancang jalan
untuk takdirnya sendiri.
VI
Puri Elsinore bangkit dari kabut yang menyelubunginya. Menyelinap
ia bersama mambang sang raja pada suatu malam penghantuan. Menyusup
ke dalam jubah pangeran ketika pagi hampir pecah saat mambang sang
raja bergegas pulang. Lalu ia tuang racun gila ke dalam telinga
pangeran hingga ia mengandangbabikan ranjang ibu suri dalam raungan
lumpur cemburu hasrat insest.
Ia wujudkan gagasan penjaranya Hamlet sambil mengandaikan diri
dalam baris-baris pengakuan Pascual Duarte di balik jeruji penjara
Badajoz. Tapi malah menjadi Yorick ia; sedang bercakap di pemakaman
bersama penggali kubur yang tersesat di antara menara stadion
Wembley dan Taj Mahal. Orang India murtad itu mengenangkan kembali
masa kanak-kanak Hamlet yang menuntut ciuman selamat malam sang ibu
yang kelak menenggelamkan Ophelia yang putus asa dengan selaput
dara berdarah.
VII
Menjadi sesosok bayang dan menyelinap di antara kapal-kapal yang
berkakuan di pelabuhannya Chairil, meratapi denyut pembuluh halus
di batang penis dan bertanya jam berapa? Berkeras ia mengenangkan
Bhisma putra Gangga, namun pendeta dalam Simfoni Pastoral
menyanderanya dalam samaran untuk Getrude yang buta.
VIII
Bukan Ophelia atau Getrude. Tapi Woolf! Asap revolusi industri
menggulungnya, kota-kota kelabu berdebu. Seraut wajah narapidana
pelarian bangkit dari laut hitam Great Expectation yang kental
bergetah dan memantulkan kilau semirip warna pelangi.
Tiba-tiba udara digemuruhkan kereta api Walt Whitman. Gedung-degung
dan ribuan cerobong mengerumun cakrawala. Teriakan kotor orang-
orang yang menukas-nukas derak mesin-mesin terdengar seperti lenguh
lembu pembajak. Dengan muka lesu anak-anak memintal angin. Di
ambang pintu rumah pelacuran, Sisipus dengan rambut masai duduk di
atas batu.
Para buruh mengalir di jalanan seperti ingin mengulang kisah
keluaran. Tapi mereka tak menemukan laut merah untuk dibelah dengan
Manifesto. Hanya hantu-hantu Gogol yang menggentayang dan merampasi
jas mantel di jalanan bersalju.
2008
Tamasya Musim Hujan
I
Hari-hari tercipta dari mendung;
Menahan uap air dan gelisahkan udara
Tumbuhkan jamur dan kapang
Cahaya belakang pematang asap: tipis dan gemetar
II
Hujan yang mampir dini hari tadi
Hapus kerlip bintang bungsu
Langit belaka bentang asap
Pijar fajar teruntai di reranting jadi kilau kristal
01/07
____________________
Dwi Pranoto lahir di Banyuwangi. Sempat setahun bekerja di sebuah perusahaan pelayaran yang beroperasi di selat Bali, kemudian pindah ke Cilegon, Jakarta, kembali ke Banyuwangi, terus ke Jember. Di Jakarta sempat bergabung dengan Teater Tanah Air dan Kelompok Teater Kami. Di Jember bergabung dengan Kelompok RumahKata sambil mengisi siaran Apresiasi Seni dan Budaya di RRI Pro 1 Jember.
http://kepadapuisi.blogspot.com/2015/10/hantu-api-butiran-abu.html
Wahyaning wahyu tumelung, tulus tan kena tinegor (wirid hidayat jati, R.Ng. Ronggowarsito)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
A Rodhi Murtadho
A. Anzib
A. Junianto
A. Qorib Hidayatullah
A. Yusrianto Elga
A.D. Zubairi
A.S. Laksana
Abang Eddy Adriansyah
Abdi Purmono
Abdul Azis Sukarno
Abdul Aziz Rasjid
Abdul Hadi W. M.
Abdul Kirno Tanda
Abdul Wachid B.S.
Abdurahman Wahid
Abidah el Khalieqy
Abiyyu
Abu Salman
Acep Zamzam Noor
Achiar M Permana
Ade Ridwan Yandwiputra
Adhika Prasetya
Adi Marsiela
Adi Prasetyo
Adreas Anggit W.
Adrian Ramdani
Afrizal Malna
Afthonul Afif
Agama Para Bajingan
Aguk Irawan Mn
Agus B. Harianto
Agus Buchori
Agus R. Sarjono
Agus R. Subagyo
Agus Sulton
Agus Sunarto
Agus Utantoro
Agus Wibowo
Aguslia Hidayah
Ahda Imran
Ahmad Fatoni
Ahmad Muchlish Amrin
Ahmad Nurhasim
Ahmad Sahidah
Ahmad Yulden Erwin
Ahmad Zaini
Ahmadun Yosi Herfanda
Ajie Najmudin
Ajip Rosidi
Akbar Ananda Speedgo
Akhiriyati Sundari
Akhmad Fatoni
Akhmad Saefudin
Akhmad Sekhu
Akhmad Taufiq
Akhudiat
Alan Woods
Alex R. Nainggolan
Alexander G.B.
Alhafiz K
Ali Shari'ati
Alizar Tanjung
Alvi Puspita
Alwi Karmena
Amarzan Loebis
Amien Kamil
Amien Wangsitalaja
Amiruddin Al Rahab
Amirullah
Amril Taufiq Gobel
Amy Spangler
An. Ismanto
Andrea Hirata
Andy Riza Hidayat
Anes Prabu Sadjarwo
Anett Tapai
Anindita S Thayf
Anjrah Lelono Broto
Anne Rufaidah
Anton Kurnia
Anton Suparyanto
Anung Wendyartaka
Anwar Holid
Aprinus Salam
Ari Dwijayanthi
Arie MP Tamba
Arif B. Prasetyo
Arif Bagus Prasetyo
Arif Hidayat
Aris Darmawan
Aris Kurniawan
Arswendo Atmowiloto
Arti Bumi Intaran
Arwan Tuti Artha
AS Sumbawi
Asarpin
Asef Umar Fakhruddin
Asep Sambodja
Asep Yayat
Askolan Lubis
Asrul Sani
Asvi Marwan Adam
Asvi Warman Adam
Audifax
Awalludin GD Mualif
Awaludin Marwan
Bagja Hidayat
Balada
Bale Aksara
Bambang Bujono
Bambang Irawan
Bambang Kempling
Bambang Unjianto
Bamby Cahyadi
Bandung Mawardi
Beni Setia
Berita
Berita Utama
Bernando J. Sujibto
Berthold Damshäuser
Binhad Nurrohmat
Bobby Gunawan
Bonnie Triyana
Bre Redana
Brunel University London
Budhi Setyawan
Budi Darma
Budi Hatees
Budi Hutasuhut
Budi P. Hatees
Budiman S. Hartoyo
Burhanuddin Bella
Cak Kandar
Catatan
Cepi Zaenal Arifin
Cerbung
Cerpen
Chairil Anwar
Chamim Kohari
Cucuk Espe
D Pujiyono
D. Zawawi Imron
Dadang Ari Murtono
Dahono Fitrianto
Dahta Gautama
Damanhuri
Damhuri Muhammad
Dami N. Toda
Damiri Mahmud
Danarto
Dantje S Moeis
Darju Prasetya
Darwin
David Krisna Alka
Dedy Tri Riyadi
Deni Ahmad Fajar
Denny JA
Denny Mizhar
Deny Tri Aryanti
Dian Hartati
Dian Sukarno
Dicky
Dina Oktaviani
Dinas Perpustakaan Daerah Lamongan
Djenar Maesa Ayu
Djoko Pitono
Djoko Saryono
Djuli Djatiprambudi
Dodi Ambardi
Dody Kristianto
Donatus Nador
Donny Anggoro
Donny Syofyan
Dorothea Rosa Herliany
Dwi Arjanto
Dwi Cipta
Dwi Fitria
Dwi Kartika Rahayu
Dwi Khoirotun Nisa’
Dwi Pranoto
Dwicipta
Edy Firmansyah
Eep Saefulloh Fatah
Eka Budianta
Eka Fendri Putra
Eka Kurniawan
Eko Darmoko
Eko Hendri Saiful
Eko Suprianto
Emha Ainun Nadjib
Endah Sulwesi
Endi Haryono
Endri Y
Enung Sudrajat
Erwin
Erwin Dariyanto
Erwin Setia
Esai
Esha Tegar Putra
Evan Ys
Evieta Fadjar
F. Aziz Manna
Fadjriah Nurdiarsih
Fahrudin Nasrulloh
Faidil Akbar
Fakhrunnas MA Jabbar
Fanani Rahman
Farida-Suliadi
Fatah Yasin Noor
Fathurrahman Karyadi
Feby Indirani
Felik K. Nesi
Fenny Aprilia
Festival Sastra Gresik
Fikri MS
Firdaus Muhammad
Firman Nugraha
Fuad Nawawi
Galang Ari P.
Gampang Prawoto
Ganug Nugroho Adi
Gerakan Literasi Nasional
Gerakan Surah Buku (GSB)
Gerson Poyk
Goenawan Mohamad
Grathia Pitaloka
Gregorio Lopez y’ Fuentes
Gugun El-Guyanie
Gunawan Budi Susanto
Gunawan Maryanto
Guntur Alam
Gus tf Sakai
Gusti Eka
H Marjohan
HA. Cholil Mudjirin
Hadi Napster
Halim HD
Hamberan Syahbana
Hamdy Salad
Hamsad Rangkuti
Han Gagas
Hanik Uswatun Khasanah
Hans Pols
Hardi Hamzah
Haris del Hakim
Haris Firdaus
Hasan Gauk
Hasan Junus
Hasif Amini
Hasnan Bachtiar
Hasta Indriyana
Hawe Setiawan
Helwatin Najwa
Hepi Andi Bastoni
Heri KLM
Heri Latief
Heri Ruslan
Herman RN
Hermien Y. Kleden
Herry Lamongan
Heru Kurniawan
Heru Nugroho
Hudan Hidayat
Hudan Nur
Hudel
Humaidiy AS
Humam S Chudori
I.B. Putera Manuaba
Ibn Ghifarie
Ibnu Rizal
Ibnu Rusydi
Ibnu Wahyudi
Idrus
Ignas Kleden
Ika Karlina Idris
Ilham khoiri
Ilham Yusardi
Imam Cahyono
Imam Muhtarom
Imam Nawawi
Imamuddin SA
Iman Budhi Santosa
Imron Rosyid
Imron Tohari
Indiar Manggara
Indra Intisa
Indra Tranggono
Indrian Koto
Intan Indah Prathiwie
Inung AS
Iskandar Noe
Iskandar P Nugraha
Iwan Nurdaya-Djafar
Iyut Fitra
J.J. Rizal
Jacques Derrida
Jafar Fakhrurozi
Jafar M Sidik
Jafar M. Sidik
Jaleswari Pramodhawardani
Jamal D Rahman
Jamal T. Suryanata
Jamrin Abubakar
Janual Aidi
Javed Paul Syatha
Jean Couteau
Jean-Marie Gustave Le Clezio
Jefri al Malay
Jihan Fauziah
JJ Rizal
JJ. Kusni
Jodhi Yudono
Johan Edy Raharjo
Joko Pinurbo
Jokowi Undercover
Jonathan Ziberg
Joni Ariadinata
Joni Lis Efendi
Jual Buku
Juli
Jumari HS
Junaidi
Jusuf AN
Kang Warsa
Karya Lukisan: Andry Deblenk
Kasijanto Sastrodinomo
Kasnadi
Katrin Bandel
Kedung Darma Romansha
Keith Foulcher
Khansa Arifah Adila
Khisna Pabichara
Khrisna Pabichara
Kirana Kejora
Koh Young Hun
Komunitas Deo Gratias
Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias
Korrie Layun Rampan
Kostela (Komunitas Sastra Teater Lamongan)
Kristine McKenna
Kritik Sastra
Kukuh Yudha Karnanta
Kurie Suditomo
Kurniawan Yunianto
Kuswaidi Syafi'ie
Kuswinarto
L. Ridwan Muljosudarmo
Lan Fang
Langgeng W
Latief S. Nugraha
Leila S. Chudori
Leo Kelana
Leo Tolstoy
Lia Anggia Nasution
Linda Christanty
Liza Wahyuninto
LN Idayanie
Lukman Santoso Az
Luky Setyarini
Lutfi Mardiansyah
M Abdullah Badri
M Aditya
M Anta Kusuma
M Fadjroel Rachman
M. Arman AZ
M. Faizi
M. Harir Muzakki
M. Kanzul Fikri
M. Lubabun Ni’am Asshibbamal S.
M. Misbahuddin
M. Mushthafa
M. Nahdiansyah Abdi
M. Raudah Jambak
M. Yoesoef
M.D. Atmaja
Mahmud Jauhari Ali
Mahwi Air Tawar
Makyun Subuki
Maman S Mahayana
Marcus Suprihadi
Mardi Luhung
Marhalim Zaini
Mario F. Lawi
Maroeli Simbolon S. Sn
Martin Aleida
Martin Suryajaya
Marwanto
Mashuri
Matroni
Matroni El-Moezany
Mawar Kusuma
Max Lane
Media: Crayon on Paper
Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia
MG. Sungatno
Misbahus Surur
Miziansyah J.
Moh. Samsul Arifin
Mohammad Eri Irawan
Muhammad Antakusuma
Muhammad Firdaus Rahmatullah
Muhammad Muhibbuddin
Muhammad Rain
Muhammad Yasir
Muhammad Zuriat Fadil
Muhammadun A.S
Muhammd Ali Fakih AR
Muhidin M. Dahlan
Mukhlis Al-Anshor
Mulyo Sunyoto
Munawir Aziz
Murnierida Pram
Musa Asy’arie
Mustafa Ismail
N. Syamsuddin CH. Haesy
Nandang Darana
Nara Ahirullah
Naskah Teater
Nazar Nurdin
Nenden Lilis A
Nezar Patria
Nina Herlina Lubis
Ning Elia
Nirwan Ahmad Arsuka
Nirwan Dewanto
Nobel
Noor H. Dee
Noval Jubbek
Novelet
Nu’man ‘Zeus’ Anggara
Nunik Triana
Nur Faizah
Nur Wahida Idris
Nurcholish Madjid
Nurdin Kalim
Nurel Javissyarqi
Nuriel Imamah
Nurman Hartono
Nuruddin Al Indunissy
Nurul Anam
Nurul Hadi Koclok
Obrolan
Oka Rusmini
Oktamandjaya Wiguna
Olivia Kristinasinaga
Orasi Budaya Akhir Tahun 2018
Oyos Saroso H.N.
Pandu Jakasurya
Parak Seni
Parakitri T. Simbolon
PDS H.B. Jassin
PDS. H.B. Jassin
Pembebasan Sastra
Pramoedya Ananta Toer
Pramoedya Ananta-Toer
Pringadi Abdi Surya
Pringadi AS
Prof. Tamim Pardede sebut Bambang
Prosa
Proses Kreatif
Puisi
PuJa
Puji Santosa
Puput Amiranti N
PUstaka puJAngga
Putu Wijaya
Qaris Tajudin
R.N. Bayu Aji
Radhar Panca Dahana
Rahmat Hidayat
Rakai Lukman
Rakhmat Giryadi
Ranang Aji S.P.
Ranggawarsita
Ratih Kumala
Ratna Sarumpaet
Ratu Selvi Agnesia
Raudal Tanjung Banua
Remy Sylado
Rengga AP
Resensi
Resistensi Kaum Pergerakan
Revolusi
RF. Dhonna
Riadi Ngasiran
Ribut Wijoto
Ridwan Munawwar Galuh
Riki Dhamparan Putra
Risang Anom Pujayanto
Riswan Hidayat
Riyadi KS
Rodli TL
Rofiqi Hasan
Rojil Nugroho Bayu Aji
Rukardi
S Sopian
S Yoga
S. Jai
Sabrank Suparno
Sahaya Santayana
Sainul Hermawan
Sajak
Sakinah Annisa Mariz
Salamet Wahedi
Salman Rusydie Anwar
Samsudin Adlawi
Sanggar Teater Jerit
Sapardi Djoko Damono
Sarabunis Mubarok
Sari Oktafiana
Sartika Dian Nuraini
Sasti Gotama
Sastra
Sastra Liar Masa Awal
Satmoko Budi Santoso
Saut Situmorang
Sejarah
Sekolah Literasi Gratis (SLG)
Sekolah Literasi Gratis (SLG) STKIP Ponorogo
Selo Soemardjan
Seno Gumira Ajidarma
Seno Joko Suyono
Septi Sutrisna
Sergi Sutanto
Sevgi Soysal
Shinta Maharani
Shiny.ane el’poesya
Sholihul Huda
Sigit Susanto
Sihar Ramses Simatupang
Siswoyo
Sita Planasari A
Siti Rutmawati
Siti Sa’adah
Sitor Situmorang
Slamet Hadi Purnomo
Sobih Adnan
Soeprijadi Tomodihardjo
Sofyan RH. Zaid
Soni Farid Maulana
Sotyati
Sri Wintala Achmad
St. Sunardi
Stefanus P. Elu
Stevy Widia
Sugi Lanus
Sugilanus G. Hartha
Suherman
Sukardi Rinakit
Sulaiman Djaya
Sunaryono Basuki Ks
Sungatno
Sungging Raga
Sunlie Thomas Alexander
Sunu Wasono
Surat
Suripto SH
Suryadi
Suryanto Sastroatmodjo
Susianna
Susiyo Guntur
Sutan Iwan Soekri Munaf
Sutardji Calzoum Bachri
Sutejo
Suyadi San
Syafruddin Hasani
Syahruddin El-Fikri
Syaiful Amin
Syifa Aulia
Syu’bah Asa
T Agus Khaidir
Tasyriq Hifzhillah
Tatang Pahat
Taufik Ikram Jamil
Taufiq Ismail
Taufiq Wr. Hidayat
Teguh Presetyo
Teguh Ranusastra Asmara
Teguh Winarsho AS
Temu Penyair Timur Jawa
Tengsoe Tjahjono
Theresia Purbandini
Thowaf Zuharon
Tia Setiadi
Tita Maria Kanita
Tjahjono Widarmanto
Tjahjono Widijanto
Tony Herdianto
Tosa Poetra
Tri Purna Jaya
Triyanto Triwikromo
Tu-ngang Iskandar
Tulus S
Ulfatin Ch
Umbu Landu Paranggi
Umi Kulsum
Universitas Indonesia
Universitas Jember
Urwatul Wustqo
Usman Arrumy
Utami Widowati
UU Hamidy
Veronika Ninik
Vien Dimyati
Vino Warsono
Virdika Rizky Utama
Vyan Taswirul Afkar
W Haryanto
W. Herlya Winna
W.S. Rendra
Wahyu Heriyadi
Wahyu Hidayat
Wahyu Utomo
Walid Syaikhun
Wan Anwar
Wandi Juhadi
Warih Wisatsana
Wawan Eko Yulianto
Wawancara
Wayan Budiartha
Wayan Supartha
Wendoko
Wicaksono Adi
William Bradley Horton
Wisnu Kisawa
Wiwik Widayaningtias
Wong Wing King
Y. Wibowo
Yang Lian
Yanuar Yachya
Yetti A. KA
Yohanes Sehandi
Yona Primadesi
Yopie Setia Umbara
Yos Rizal Suriaji
Yoserizal Zein
Yosi M Giri
Yudhi Fachrudin
Yudhi Herwibowo
Yulia Permata Sari
Yurnaldi
Yusri Fajar
Yuval Noah Harari
Z. Afif
Zacky Khairul Uman
Zakki Amali
Zamakhsyari Abrar
Zawawi Se
Zehan Zareez
Zen Hae
Zhou Fuyuan
Zul Afrita
Tidak ada komentar:
Posting Komentar