21/09/19

Puisi-Puisi Dwi Pranoto

Pengakuan Lain Sritanjung

Di tepian sungai itu Sritanjung menantang Sidopekso untuk
menenggelamkan dirinya ke dalam maut.

: Bebaskan tubuhku dari pikiranmu, wahai. Biarkan darah bercerita
padamu tentang waktu-waktu yang menggelapi matamu. Biarkan suara-
suara yang mengalir dalam pembuluh dan mengerogotkan karat dalam
pikiran keluar dari kepalamu agar kau dengan sendirimu bertemu
binatang-binatang mesummu.

Tubuhku tak cukup kata untuk menerangi gelap yang kau lumurkan
padanya, Suami. Karena hayatku tak lebih kurang adalah hayatmu. Ia
yang tak pernah benar-benar kumiliki sendiri terlalu penuh hasrat
dan kehendak. Terlalu mudah dilemahkan angan-angan.
Maka aku pilih maut menjadi saksiku. Ia yang mashur dan tak
dikenali hanya punya satu bahasa: keheningan paling sembilu itu
akan membawamu menyeberang hayat yang menggaduhkan. Mengantarmu
pada cahaya paling terang seperti yang Rama dapati pada sisa api
pembakaran Sinta.
Wahai, Suami, hunuslah lidah api beku yang terselip di pinggangmu.
Biarkan aku menerjuninya. Biarkan aku menjelma Sinta!

Tubuh Sidopekso bergetar. Pandangannya dihanyutkan air sungai. Jauh
menjauh-jauh dari tubuh yang menegak di penjelangnya. Tak sekata
cakapan Sritanjung menyela deru gemuruh yang membanjiri telinganya.

: Ayo laki-laki wira turunan Puntadewa. Hunuslah lidah apimu, lalu
sarangkan pada  kenangan mesummu. Tak sanggup tubuhku bermandi
najismu.

Raut Sidopekso mengeras. Tangan kanannya meraba hulu lidah api di
pinggang. Sementara tangan kirinya bergerak hendak meraih pundak
Sritanjung. Alangkah! Kenapa mesti laki-laki membunuh malu,
pikirnya.

Tangan kiri Sidopekso hanya meraih angin.
Sekian inci sebelum ujung jarinya menyentuh pundak Sritanjung,
tubuh perempuan itu terhuyung ke belakang dan jatuh berselutut di
penjelangnya. Tangan kanan Sidopekso  yang bermenghunus membeku di
udara.

: Tak takutkah kau menelan ludah sesal yang pahit, Suami. Aku
bersumpah tak barang sekedipan mata berpaling darimu. Paralain
belaka cemburu padamu.

Sidopekso menatap perempuan yang bersimpuh itu. Ia ditiup bimbang.

: Apakah kau akan mengubur kenangan kita? Tega kau piatukan dua anak
kita? Apa jawabmu bila mereka menanyakan tentang diriku? Kau akan
bilang kalau kau telah membunuhku karena lidah angin? Atau kau
ingat laki-laki dari Tarub, lalu bilang selendang yang kembali
kutemukan telah membawaku meniti pelangi. Oh suami, aku ingin
melihat anak-anakku tumbuh besar di depan mataku sendiri.
Wahai, jangan biarkan lidah-lidah angin menerbang-lenyapkan
kenangan dan harapan kita. Jangan biarkan dengki mereka memenangi
pertempuran ini. Jangan  biarkan sesal bakal mengutuki seluruh
hayatmu.
Suami, padamkan lidah api dalam sarungnya.

Ia menciumi kedua ujung kaki Sidopekso.

: Baiklah, ampuni aku. Telah lewat batas aku.
Tapi apadayaku, sundal belaka tubuhku.

Ia menciumi kaki Sidopekso berulang-ulang kali.



Kepulauan Imaji

I
Perempuan berambut ular di sampul depan buku tulis tipis;
pengalaman visual masa kanak-kanak itu tak sudah menumbuhkan
kegelisahan. Bayang-bayang sebarisan pohon kelapa yang dilemparkan
cahaya matahari yang menyergap imajinasi Tagore kecil adalah jari-
jarinya yang berwarna merah terang di suatu pagi. Sepi membawanya
ke dalam lorong-lorong, menyusuri hamparan persawahan, membenamkan
wajah ke kali, bercakap dengan lumut yang tumbuh di dinding lembab
rumah kolonial, terbang menggunting-gunting cahaya bersama burung
layang-layang di atas laut dan menyusup ke relung-relung gelap gua.
Di padang penggembalaan ia masuki mimpi Endymion.

II
Alangkah imajinasi yang begitu membelukar meletakkan keindahan ke
dalam dirinya sebagai kegembiraan yang membingungkan. Angan-angan
erotik terlarang yang tak tertahankan membuatnya berpijar di dalam
jilatan melidah-lidah api nerakanya Rimbaud. Namun, masih ia
membayangkan diri sebagai kacang polong dalam syair Rumi. Berkas-
berkas cahaya lembut dari mimpi masa kanak-kanak memanggili:
Perseus! Perseus!

III
Dunia menjadi sebentuk cermin raksasa. Ia melihat sendirinya di
mana-mana. Di dalamnya juga terlihat jalan setapak  yang panjang
mengular sampai menyentuh tepian langit. Ia menyangka jalan setapak
itu berakhir di sebuah taman di mana ribuan puisi berpijaran
membacakan bait-baitnya sendiri. Malam demi malam disusurinya jalan
setapak di dalam cermin, membayangkan hikayat odyssey Bima dalam
imajinasi seorang wali pada abad sembilan belas. Tubuh ia
telentangkan di atas meja operasi, dibedahnya dan ia temukan air
suci dalam sebotol wiski.

IV
Kehampaan mengurungnya teramat ketat, semakin dalam menguburnya ke
dalam dirinya sendiri bersama baris-baris muram puisi Lermontov.
Alangkah beku waktu ciptakan dunia runtuh hingga menggemakan
kembali jerit kebosanan Baudelaire: Pergilah ke manapun asal jangan
di dunia yang ini!
Kemudian ia menuntun dirinya di depan pintu Vor Dem Gesetz,
merenungkan biografi Josef K. Pada awalnya melulu nampak
pemandangan muram musim rontok, deretan kumuh bangunan rumah Yahudi
yang mirip tempurung di ibu kota Bohemia, juga penantian Juru
Selamat yang berlarut. Namun kalimat penghabisan dalam Der Prozes:
seperti seekor anjing, menawarkan secangkir kopi komikal tanpa
gula.

V
Saat bertemu dengan Nyonya Vogler dalam kertas kerjanya Bergman ia
sedang bergelung dalam perut labirin, menunggu ayah membuatkan
sepasang sayap  dan matahari.
Seperti Oedipus sang detektif, tanpa setahunya ia merancang jalan
untuk takdirnya sendiri.

VI
Puri Elsinore bangkit dari kabut yang menyelubunginya. Menyelinap
ia bersama mambang sang raja pada suatu malam penghantuan. Menyusup
ke dalam jubah pangeran ketika pagi hampir pecah saat mambang sang
raja bergegas pulang. Lalu ia tuang racun gila ke dalam telinga
pangeran hingga ia mengandangbabikan ranjang ibu suri dalam raungan
lumpur cemburu hasrat insest.
Ia wujudkan gagasan penjaranya Hamlet sambil mengandaikan diri
dalam baris-baris pengakuan Pascual Duarte di balik jeruji penjara
Badajoz. Tapi malah menjadi Yorick ia; sedang bercakap di pemakaman
bersama penggali kubur yang tersesat di antara menara stadion
Wembley dan Taj Mahal. Orang India murtad itu mengenangkan kembali
masa kanak-kanak Hamlet yang menuntut ciuman selamat malam sang ibu
yang kelak menenggelamkan Ophelia yang putus asa dengan selaput
dara berdarah.

VII
Menjadi sesosok bayang dan menyelinap di antara kapal-kapal yang
berkakuan di pelabuhannya Chairil, meratapi denyut pembuluh halus
di batang penis dan bertanya jam berapa? Berkeras ia mengenangkan
Bhisma putra Gangga, namun pendeta dalam Simfoni Pastoral
menyanderanya dalam samaran untuk Getrude yang buta.

VIII
Bukan Ophelia atau Getrude. Tapi Woolf! Asap revolusi industri
menggulungnya, kota-kota kelabu berdebu. Seraut wajah narapidana
pelarian bangkit dari laut hitam Great Expectation yang kental
bergetah dan memantulkan kilau semirip warna pelangi.
Tiba-tiba udara digemuruhkan kereta api Walt Whitman. Gedung-degung
dan ribuan cerobong mengerumun cakrawala. Teriakan kotor orang-
orang yang menukas-nukas  derak mesin-mesin terdengar seperti lenguh
lembu pembajak. Dengan muka lesu anak-anak memintal angin. Di
ambang pintu rumah pelacuran, Sisipus dengan rambut masai duduk di
atas batu.
Para buruh mengalir di jalanan seperti ingin mengulang kisah
keluaran. Tapi mereka tak menemukan laut merah untuk dibelah dengan
Manifesto. Hanya hantu-hantu Gogol yang menggentayang dan merampasi
jas mantel di jalanan bersalju.

2008



Tamasya Musim Hujan

I
Hari-hari tercipta dari mendung;
Menahan uap air dan gelisahkan udara
Tumbuhkan jamur dan kapang
Cahaya belakang pematang asap: tipis dan gemetar

II
Hujan yang mampir dini hari tadi
Hapus kerlip bintang bungsu
Langit belaka bentang asap
Pijar fajar teruntai di reranting jadi kilau kristal

01/07

____________________
Dwi Pranoto lahir di Banyuwangi. Sempat setahun bekerja di sebuah perusahaan pelayaran yang beroperasi di selat Bali, kemudian pindah ke Cilegon, Jakarta, kembali ke Banyuwangi, terus ke Jember. Di Jakarta sempat bergabung dengan Teater Tanah Air dan Kelompok Teater Kami. Di Jember bergabung dengan Kelompok RumahKata sambil mengisi siaran Apresiasi Seni dan Budaya di RRI Pro 1 Jember.
http://kepadapuisi.blogspot.com/2015/10/hantu-api-butiran-abu.html

Tidak ada komentar:

A Rodhi Murtadho A. Anzib A. Junianto A. Qorib Hidayatullah A. Yusrianto Elga A.D. Zubairi A.S. Laksana Abang Eddy Adriansyah Abdi Purmono Abdul Azis Sukarno Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi W. M. Abdul Kirno Tanda Abdul Wachid B.S. Abdurahman Wahid Abidah el Khalieqy Abiyyu Abu Salman Acep Zamzam Noor Achiar M Permana Ade Ridwan Yandwiputra Adhika Prasetya Adi Marsiela Adi Prasetyo Adreas Anggit W. Adrian Ramdani Afrizal Malna Afthonul Afif Agama Para Bajingan Aguk Irawan Mn Agus B. Harianto Agus Buchori Agus R. Sarjono Agus R. Subagyo Agus Sulton Agus Sunarto Agus Utantoro Agus Wibowo Aguslia Hidayah Ahda Imran Ahmad Fatoni Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Nurhasim Ahmad Sahidah Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ajie Najmudin Ajip Rosidi Akbar Ananda Speedgo Akhiriyati Sundari Akhmad Fatoni Akhmad Saefudin Akhmad Sekhu Akhmad Taufiq Akhudiat Alan Woods Alex R. Nainggolan Alexander G.B. Alhafiz K Ali Shari'ati Alizar Tanjung Alvi Puspita Alwi Karmena Amarzan Loebis Amien Kamil Amien Wangsitalaja Amiruddin Al Rahab Amirullah Amril Taufiq Gobel Amy Spangler An. Ismanto Andrea Hirata Andy Riza Hidayat Anes Prabu Sadjarwo Anett Tapai Anindita S Thayf Anjrah Lelono Broto Anne Rufaidah Anton Kurnia Anton Suparyanto Anung Wendyartaka Anwar Holid Aprinus Salam Ari Dwijayanthi Arie MP Tamba Arif B. Prasetyo Arif Bagus Prasetyo Arif Hidayat Aris Darmawan Aris Kurniawan Arswendo Atmowiloto Arti Bumi Intaran Arwan Tuti Artha AS Sumbawi Asarpin Asef Umar Fakhruddin Asep Sambodja Asep Yayat Askolan Lubis Asrul Sani Asvi Marwan Adam Asvi Warman Adam Audifax Awalludin GD Mualif Awaludin Marwan Bagja Hidayat Balada Bale Aksara Bambang Bujono Bambang Irawan Bambang Kempling Bambang Unjianto Bamby Cahyadi Bandung Mawardi Beni Setia Berita Berita Utama Bernando J. Sujibto Berthold Damshäuser Binhad Nurrohmat Bobby Gunawan Bonnie Triyana Bre Redana Brunel University London Budhi Setyawan Budi Darma Budi Hatees Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budiman S. Hartoyo Burhanuddin Bella Cak Kandar Catatan Cepi Zaenal Arifin Cerbung Cerpen Chairil Anwar Chamim Kohari Cucuk Espe D Pujiyono D. Zawawi Imron Dadang Ari Murtono Dahono Fitrianto Dahta Gautama Damanhuri Damhuri Muhammad Dami N. Toda Damiri Mahmud Danarto Dantje S Moeis Darju Prasetya Darwin David Krisna Alka Dedy Tri Riyadi Deni Ahmad Fajar Denny JA Denny Mizhar Deny Tri Aryanti Dian Hartati Dian Sukarno Dicky Dina Oktaviani Dinas Perpustakaan Daerah Lamongan Djenar Maesa Ayu Djoko Pitono Djoko Saryono Djuli Djatiprambudi Dodi Ambardi Dody Kristianto Donatus Nador Donny Anggoro Donny Syofyan Dorothea Rosa Herliany Dwi Arjanto Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Kartika Rahayu Dwi Khoirotun Nisa’ Dwi Pranoto Dwicipta Edy Firmansyah Eep Saefulloh Fatah Eka Budianta Eka Fendri Putra Eka Kurniawan Eko Darmoko Eko Hendri Saiful Eko Suprianto Emha Ainun Nadjib Endah Sulwesi Endi Haryono Endri Y Enung Sudrajat Erwin Erwin Dariyanto Erwin Setia Esai Esha Tegar Putra Evan Ys Evieta Fadjar F. Aziz Manna Fadjriah Nurdiarsih Fahrudin Nasrulloh Faidil Akbar Fakhrunnas MA Jabbar Fanani Rahman Farida-Suliadi Fatah Yasin Noor Fathurrahman Karyadi Feby Indirani Felik K. Nesi Fenny Aprilia Festival Sastra Gresik Fikri MS Firdaus Muhammad Firman Nugraha Fuad Nawawi Galang Ari P. Gampang Prawoto Ganug Nugroho Adi Gerakan Literasi Nasional Gerakan Surah Buku (GSB) Gerson Poyk Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gregorio Lopez y’ Fuentes Gugun El-Guyanie Gunawan Budi Susanto Gunawan Maryanto Guntur Alam Gus tf Sakai Gusti Eka H Marjohan HA. Cholil Mudjirin Hadi Napster Halim HD Hamberan Syahbana Hamdy Salad Hamsad Rangkuti Han Gagas Hanik Uswatun Khasanah Hans Pols Hardi Hamzah Haris del Hakim Haris Firdaus Hasan Gauk Hasan Junus Hasif Amini Hasnan Bachtiar Hasta Indriyana Hawe Setiawan Helwatin Najwa Hepi Andi Bastoni Heri KLM Heri Latief Heri Ruslan Herman RN Hermien Y. Kleden Herry Lamongan Heru Kurniawan Heru Nugroho Hudan Hidayat Hudan Nur Hudel Humaidiy AS Humam S Chudori I.B. Putera Manuaba Ibn Ghifarie Ibnu Rizal Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi Idrus Ignas Kleden Ika Karlina Idris Ilham khoiri Ilham Yusardi Imam Cahyono Imam Muhtarom Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Imron Rosyid Imron Tohari Indiar Manggara Indra Intisa Indra Tranggono Indrian Koto Intan Indah Prathiwie Inung AS Iskandar Noe Iskandar P Nugraha Iwan Nurdaya-Djafar Iyut Fitra J.J. Rizal Jacques Derrida Jafar Fakhrurozi Jafar M Sidik Jafar M. Sidik Jaleswari Pramodhawardani Jamal D Rahman Jamal T. Suryanata Jamrin Abubakar Janual Aidi Javed Paul Syatha Jean Couteau Jean-Marie Gustave Le Clezio Jefri al Malay Jihan Fauziah JJ Rizal JJ. Kusni Jodhi Yudono Johan Edy Raharjo Joko Pinurbo Jokowi Undercover Jonathan Ziberg Joni Ariadinata Joni Lis Efendi Jual Buku Juli Jumari HS Junaidi Jusuf AN Kang Warsa Karya Lukisan: Andry Deblenk Kasijanto Sastrodinomo Kasnadi Katrin Bandel Kedung Darma Romansha Keith Foulcher Khansa Arifah Adila Khisna Pabichara Khrisna Pabichara Kirana Kejora Koh Young Hun Komunitas Deo Gratias Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias Korrie Layun Rampan Kostela (Komunitas Sastra Teater Lamongan) Kristine McKenna Kritik Sastra Kukuh Yudha Karnanta Kurie Suditomo Kurniawan Yunianto Kuswaidi Syafi'ie Kuswinarto L. Ridwan Muljosudarmo Lan Fang Langgeng W Latief S. Nugraha Leila S. Chudori Leo Kelana Leo Tolstoy Lia Anggia Nasution Linda Christanty Liza Wahyuninto LN Idayanie Lukman Santoso Az Luky Setyarini Lutfi Mardiansyah M Abdullah Badri M Aditya M Anta Kusuma M Fadjroel Rachman M. Arman AZ M. Faizi M. Harir Muzakki M. Kanzul Fikri M. Lubabun Ni’am Asshibbamal S. M. Misbahuddin M. Mushthafa M. Nahdiansyah Abdi M. Raudah Jambak M. Yoesoef M.D. Atmaja Mahmud Jauhari Ali Mahwi Air Tawar Makyun Subuki Maman S Mahayana Marcus Suprihadi Mardi Luhung Marhalim Zaini Mario F. Lawi Maroeli Simbolon S. Sn Martin Aleida Martin Suryajaya Marwanto Mashuri Matroni Matroni El-Moezany Mawar Kusuma Max Lane Media: Crayon on Paper Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia MG. Sungatno Misbahus Surur Miziansyah J. Moh. Samsul Arifin Mohammad Eri Irawan Muhammad Antakusuma Muhammad Firdaus Rahmatullah Muhammad Muhibbuddin Muhammad Rain Muhammad Yasir Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun A.S Muhammd Ali Fakih AR Muhidin M. Dahlan Mukhlis Al-Anshor Mulyo Sunyoto Munawir Aziz Murnierida Pram Musa Asy’arie Mustafa Ismail N. Syamsuddin CH. Haesy Nandang Darana Nara Ahirullah Naskah Teater Nazar Nurdin Nenden Lilis A Nezar Patria Nina Herlina Lubis Ning Elia Nirwan Ahmad Arsuka Nirwan Dewanto Nobel Noor H. Dee Noval Jubbek Novelet Nu’man ‘Zeus’ Anggara Nunik Triana Nur Faizah Nur Wahida Idris Nurcholish Madjid Nurdin Kalim Nurel Javissyarqi Nuriel Imamah Nurman Hartono Nuruddin Al Indunissy Nurul Anam Nurul Hadi Koclok Obrolan Oka Rusmini Oktamandjaya Wiguna Olivia Kristinasinaga Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Oyos Saroso H.N. Pandu Jakasurya Parak Seni Parakitri T. Simbolon PDS H.B. Jassin PDS. H.B. Jassin Pembebasan Sastra Pramoedya Ananta Toer Pramoedya Ananta-Toer Pringadi Abdi Surya Pringadi AS Prof. Tamim Pardede sebut Bambang Prosa Proses Kreatif Puisi PuJa Puji Santosa Puput Amiranti N PUstaka puJAngga Putu Wijaya Qaris Tajudin R.N. Bayu Aji Radhar Panca Dahana Rahmat Hidayat Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Ranang Aji S.P. Ranggawarsita Ratih Kumala Ratna Sarumpaet Ratu Selvi Agnesia Raudal Tanjung Banua Remy Sylado Rengga AP Resensi Resistensi Kaum Pergerakan Revolusi RF. Dhonna Riadi Ngasiran Ribut Wijoto Ridwan Munawwar Galuh Riki Dhamparan Putra Risang Anom Pujayanto Riswan Hidayat Riyadi KS Rodli TL Rofiqi Hasan Rojil Nugroho Bayu Aji Rukardi S Sopian S Yoga S. Jai Sabrank Suparno Sahaya Santayana Sainul Hermawan Sajak Sakinah Annisa Mariz Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sanggar Teater Jerit Sapardi Djoko Damono Sarabunis Mubarok Sari Oktafiana Sartika Dian Nuraini Sasti Gotama Sastra Sastra Liar Masa Awal Satmoko Budi Santoso Saut Situmorang Sejarah Sekolah Literasi Gratis (SLG) Sekolah Literasi Gratis (SLG) STKIP Ponorogo Selo Soemardjan Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Septi Sutrisna Sergi Sutanto Sevgi Soysal Shinta Maharani Shiny.ane el’poesya Sholihul Huda Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Siswoyo Sita Planasari A Siti Rutmawati Siti Sa’adah Sitor Situmorang Slamet Hadi Purnomo Sobih Adnan Soeprijadi Tomodihardjo Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sotyati Sri Wintala Achmad St. Sunardi Stefanus P. Elu Stevy Widia Sugi Lanus Sugilanus G. Hartha Suherman Sukardi Rinakit Sulaiman Djaya Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sungging Raga Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Surat Suripto SH Suryadi Suryanto Sastroatmodjo Susianna Susiyo Guntur Sutan Iwan Soekri Munaf Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Suyadi San Syafruddin Hasani Syahruddin El-Fikri Syaiful Amin Syifa Aulia Syu’bah Asa T Agus Khaidir Tasyriq Hifzhillah Tatang Pahat Taufik Ikram Jamil Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Presetyo Teguh Ranusastra Asmara Teguh Winarsho AS Temu Penyair Timur Jawa Tengsoe Tjahjono Theresia Purbandini Thowaf Zuharon Tia Setiadi Tita Maria Kanita Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Tony Herdianto Tosa Poetra Tri Purna Jaya Triyanto Triwikromo Tu-ngang Iskandar Tulus S Ulfatin Ch Umbu Landu Paranggi Umi Kulsum Universitas Indonesia Universitas Jember Urwatul Wustqo Usman Arrumy Utami Widowati UU Hamidy Veronika Ninik Vien Dimyati Vino Warsono Virdika Rizky Utama Vyan Taswirul Afkar W Haryanto W. Herlya Winna W.S. Rendra Wahyu Heriyadi Wahyu Hidayat Wahyu Utomo Walid Syaikhun Wan Anwar Wandi Juhadi Warih Wisatsana Wawan Eko Yulianto Wawancara Wayan Budiartha Wayan Supartha Wendoko Wicaksono Adi William Bradley Horton Wisnu Kisawa Wiwik Widayaningtias Wong Wing King Y. Wibowo Yang Lian Yanuar Yachya Yetti A. KA Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yopie Setia Umbara Yos Rizal Suriaji Yoserizal Zein Yosi M Giri Yudhi Fachrudin Yudhi Herwibowo Yulia Permata Sari Yurnaldi Yusri Fajar Yuval Noah Harari Z. Afif Zacky Khairul Uman Zakki Amali Zamakhsyari Abrar Zawawi Se Zehan Zareez Zen Hae Zhou Fuyuan Zul Afrita