Lahir
Aku mengenalnya sejak dalam rahimmu yang gelap.
Dari kedalamannya aku mengintip celah cahaya
Melalui pusarmu yang agung
Kesunyian sedemikian menggetarkan
Mengibarkan warna-warna jagat raya
Menjalani keniscayaan dari ketidakberhinggaan yang hampa
Ladang-ladang kerinduan
Menyampaikan harum tanah dalam kesunyian rahimmu
Menghendakkan aku lahir menyeutuh kefanaan
Ladang-ladang kesetiaanmu
Memastikan satu keutuhan abadi
Tak akan sirna
Lepas dari ruang dan waktu
Kau ajari aku bercocok tanam
Menanam kesabaran pada ladang-ladang
Menghitung helaian gerimis yang luruh pada senja hari
Memusykilkan waktu dan ruang
Di tepi segala pengasingan
Aku melambaikan kenangan kecil
Di tengah hutan
Aku tersesat pada sehelai sungai
Dan suaramu menggema menguasai segala ruang kesejatian
“Ke mana kamu, wahai belahan jiwa?”
“Di dalam rimbun rindumu.”
Ibu.
***
Gembala
Pada sebuah rumah
Puluhan kambing dan beberapa ekor bebek
Kau ajarkan padaku menggembalakan harapan
Menyeduh rindu saat senja bertamu
Pada pundakmu, setiap sunyi menjadi putih
Saat tak ada lagi kesombongan berdiri
Tak ada lagi embun jatuh tanpa sebatang pohon
Dan luka meneruskan diri dalam kecemasan
Dunia sebentuk ruang tunggu
Di situ setiap nafas menghisap bau kabel yang terbakar
Wajah-wajah muncul dari dalam kaca
Dengan segala kegamangan dengan segala ketidakutuhan
Aku lari ke atas bukit rindu yang setiap pagi
Selalu kau sirami dengan tanganmu
Hingga di situ aku telah meleleh bersama embun
Dan udara membawakan sehelai namamu
Ke dalam ketiadaanku
***
Anak-anak yang Berlari
Pengembaraan cahaya pada semesta
Lampu-lampu lokomotif tua menyorot ke dalam dirinya sendiri,
Mentasbihkan sebentuk keredupan usia,
Menimang gelisah
Segala jawab menjadi gerombolan debu menghambur
Pada tiap keasingan yang kabur
Pada kesedihan yang lezat
Bersarang pada dinding-dinding kota
“Apakah kita akan ke pesta?”
Sejuta kunci dari pintu-pintu kesunyian
Mematahkan ruang yang tenggelam
Anak-anakmu berlari mengerubungi jaman
Hendak menemukan kesejatian
Di antara radio, tv, koran, monitor yang menyala senantiasa
Dan pada atap-atap Warnet
Yang tidak pernah berhenti
Meminumkan air matamu
Yang bertahun-tahun menetes ketika kau mengepel lantai rumah
Saat udara senja mulai terasa
Hingga petang
Menjadi gamang
***
Samudera Senjakala
Samudera senjakala redup cahaya. Rimbun
Rindumu menyemak di ladang-ladang air mataku. Akulah
Kehampaan yang ngejawantah, menjadi batang pohon
Tumbuh di tengah keramaian kota. Aku
Rindu rahimmu yang sunyi. Tenang sebagaimana perjamuan
Makan malam redup, pada batas segala persoalan
Yang tak memerlukan jawaban. Kesunyian samuderamu
Mengajariku melambai seperti kenangan kecil sebelum malam terpejam. Aku
Ngembara mencari yang tak pernah bisa ditemukan, tak pernah bisa dipersembahkan.
Muncar, 2009
***
Ambang Juni
—Muzayana
Juni perlahan mengetuk daun jendelamu,
begitu pelan. Udara dingin rebah pada kaca,
pada sebuah musim yang bercerita
mengenai pergulatan dalam tiap jenak,
tiap denyut memanggil-manggil
nama-nama agung dari kejauhan,
dan rindumu sederhana
Diam-diam Juni membawa melati, pelan-pelan membisikkan
tentang halaman rumah yang teduh, di mana kau hendak hidup dengan cerita
mengenai hujan yang turun semalaman
Sebelum hawa tropika dengan lembut menyentuh hidungmu,
dan keresahan Juni berlari di atap-atap kota
rasakanlah bulan akan menguntum pada alismu
Masih sebentar lagi, bulan-bulan berjatuhan
bersama butiran jarum jam di halaman yang kita rencanakan
pada ambang segala kegelisahan
Dari balik jendela, ambang Juni diam-diam
melepas kerinduan musim yang merahasiakan
segala awal dari tiap pergulatan
orang-orang masih menghitung butiran gerimis
yang musykil dengan tangis
pada segenap perjalanan ruang,
pada tiap kuntum jam dindingmu
yang membiru berdebu
Pada ambang Juni, kita masih meratap di balik kegelisahan
segala kerinduan berdiam di tikungan
Langit perlahan terus melebar
tanpa mengungkapkan kisah
tentang teka teki sang penebang kayu yang mendesah
Kota hujan, dan Juni melambaikan udara
sebelum ia duduk
di kursi rumah kita
Muncar, 2009
***
Perkotaan
Aku ingin kembali ke dalam rahimmu yang sunyi dan gelap.
Akulah yang tumbuh menjadi sebatang pohon di tengah-tengah kota.
Sehelai sungai mengalir dalam mataku,
Saat dinding-dinding jaman terbakar oleh hasratmu.
Muncar, 2009
***
Sejenak
Kau mengarung lautan ketidakberhinggaan
Memantapkan tatap pada kaki langit senjakala.
“Ke mana, Tuan?” tanya sahabatnya.
“Ke tempat yang tak terjangkau kata
atau pantai yang tak menyediakan ruang bagi kepicikan.”
Di tengah segala kesemestaan
Sang tuan nahkoda
Merebah badan, menatap langit
Pergi tanpa pamit
2009
***
Senjakala Para Pemuja
Dari balik ruang pada tahun-tahun yang sisa,
laut menegaskan panggilan jauh seperti kesepian.
Orang-orang berkerumun di tepi meja perjamuan,
tak ingin disapa kala perjalanan usia.
Sayap-sayap bergemetar,
selampau lena mendera berderas-kemas pada batas yang melampau keras.
Pesta bulan diselenggarakan dalam bangunan tua dengan tarian,
pemujaan-pemujaan dan air mata di mangkuk cahaya,
darah dan daging berbusuk puja,
bergema menggagah abad-abad menggetar bersama golak bergelegar.
Mereka bercanda bersama derita.
2009
***
Panggilan
“Waktu sudah petang, anakku,” panggil seorang ibu.
Sang anak bermain,
Mengejar bola seperti waktu.
Pelan-pelan langit kesumba, turun senjakala,
Angin berdesing.
“Bergegaslah pulang pada ibu,” panggil ibunya.
Sang anak menoleh tangkas,
Namun ia tak mendapati sang ibu.
Hanya angin berpelan hembusan
Seperti kesepian yang panjang.
Malam menjelma ke dalam semesta.
2009
***
Menuju Samudera
Jarum-jarum arloji berguguran,
pada musim hujan yang tak pasti.
Bulan ini, para pedagang ikan mengenakan
jaket hitam di pasar ramai.
Tepian laut yang amis, ikan-ikan disiram hujan,
ada ketidakberhinggaan diam-diam mengamat pasar.
Matamu terpaku pada ikan-ikan mati. Di situ
anak dan cucumu dibesarkan gelombang.
Seekor ikan meledak di tengah jalan,
orang-orang meramu rindu
pada waktu yang berguguran dengan pasrah.
Laut berderu, berguruh langit senjakala.
Tahun ini gerimis begitu kurang,
menghantam diam pada karang.
Kalian masih mengeja kecemasan,
menyusupkan debu bergagah kata,
mengurai makna yang luka.
Pada laut sepi, perahu-perahu tambat,
orang-orang pulang di senjakala yang gamang.
Ikan-ikan didasarkan, beramis hidup menggairah,
tapi masih berbenam dalam galau kata.
Ke mana Tuan akan berlayar?
Dipecah sunyi dengan segelas kopi,
di mana hujan masih kembara.
Dari perkampungan di luar datang, pasar menjual ikan dan wortel,
bayam dan kentang. Tuan menyiapkan sebentuk persembahan,
bagi laut saat pantai masih memendam keengganan.
Dinding-dinding tua, malam turun pada tiap harap yang sidekap.
Kapal Tuan mengambang di tepian,
di situ jauh,
gelombang membawa jarum-jarum arloji
Gemetar hati.
Ke laut tak berpantau hingga,
sekeranjang wortel masih dingin,
di tengah pasar yang mulai ramai kembali.
Para pedagang menimbang gamang,
dan embun membasah pada jendela kantor pemerintah.
Kantor urusan pelabuhan peninggalan Belanda,
meja-meja berdebu, jendelanya basah dengan lara.
Kapan pulang, Tuan?
Jangan bertanya pulang
sebab kepergian tak menjanjikan datang.
Hujan jatuh di atas samudera,
senjakala tenggelam, petang berdatang.
Jaket hitam, celana hitam, selimut hitam,
topi hitam, tatapan yang hitam.
Kapal kayu, mesin tua, kemudi renta,
ruang tidur yang kosong, mata kail sepi.
Sebentar lagi ada panggilan laut,
turun hujan pada lelampu redup.
Berharap cuaca, menunggu bulan dan tata bintang.
Berlayar dengan sepi. Atau dengan pengikut,
yang jiwanya berlobang tak turut,
Kkrena samudera tanpa dinding tanpa tebing.
Samudera berluas,
berlepas.
Maka segala beban kandas.
Segenap wajah hanya malang,
setiap desah itu serah,
tiap harap.
Gelap.
Tak mengaduh berkeluh darat,
samudera ikan-ikan,
kapal karam ke dasar ketakberhinggaan
ke lubuk samudera,
berlapang
tenang
pulang
ke
dalam
Muncar, 2009
***
Pelabuhan Tua
Minyak dari tubuh Lemuru, berserak di jalan separuh aspalan.
Bumi padat. Diding tua warisan Belanda,
beranda malam dan angin yang kejam.
Orang-orang bergumul dengan waktu,
pada remang bergamang.
Kapal-kapal sandar, lelampu terus menyala seperti lelah.
Seorang penjaga kantor pemerintah
melepas asap dari hidungnya,
bertidur di lantai amis,
dan malam terus berdiam dalam sapu tangan,
rembulan kapar,
pada ruang yang lapar.
Muncar, 2009
***
Ruang Tiga
Ruang tak menemukan pasar; wortel dan bayam.
Tawa-tawa liar, bau kaporit yang nyengat.
Orang-orang dikumpul cinta
Yang diam-diam menyerbak dari sisa makanan tadi malam.
Aku tiba-tiba menjelma laut, memenuhi ruang.
Orang-orang naik perahu sambil bercanda bersama duka.
Di kedalaman cintamu yang agung, aku bercekung mencipta lubuk.
Lubuk kedalaman.
Kedalaman tenang, duka suka tidak merasa.
Baiklah akan mereka mulai dari mana perjalanan samudera ruang.
Tak ada sabda.
Dari yang abadi berlayar pada keabadian.
Rogojampi, 2009
***
http://lembarankebudayaanbanyuwangi.blogspot.com/2009/07/soliloqui-fatah-yasin-noor.html
Wahyaning wahyu tumelung, tulus tan kena tinegor (wirid hidayat jati, R.Ng. Ronggowarsito)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
A Rodhi Murtadho
A. Anzib
A. Junianto
A. Qorib Hidayatullah
A. Yusrianto Elga
A.D. Zubairi
A.S. Laksana
Abang Eddy Adriansyah
Abdi Purmono
Abdul Azis Sukarno
Abdul Aziz Rasjid
Abdul Hadi W. M.
Abdul Kirno Tanda
Abdul Wachid B.S.
Abdurahman Wahid
Abidah el Khalieqy
Abiyyu
Abu Salman
Acep Zamzam Noor
Achiar M Permana
Ade Ridwan Yandwiputra
Adhika Prasetya
Adi Marsiela
Adi Prasetyo
Adreas Anggit W.
Adrian Ramdani
Afrizal Malna
Afthonul Afif
Agama Para Bajingan
Aguk Irawan Mn
Agus B. Harianto
Agus Buchori
Agus R. Sarjono
Agus R. Subagyo
Agus Sulton
Agus Sunarto
Agus Utantoro
Agus Wibowo
Aguslia Hidayah
Ahda Imran
Ahmad Fatoni
Ahmad Muchlish Amrin
Ahmad Nurhasim
Ahmad Sahidah
Ahmad Yulden Erwin
Ahmad Zaini
Ahmadun Yosi Herfanda
Ajie Najmudin
Ajip Rosidi
Akbar Ananda Speedgo
Akhiriyati Sundari
Akhmad Fatoni
Akhmad Saefudin
Akhmad Sekhu
Akhmad Taufiq
Akhudiat
Alan Woods
Alex R. Nainggolan
Alexander G.B.
Alhafiz K
Ali Shari'ati
Alizar Tanjung
Alvi Puspita
Alwi Karmena
Amarzan Loebis
Amien Kamil
Amien Wangsitalaja
Amiruddin Al Rahab
Amirullah
Amril Taufiq Gobel
Amy Spangler
An. Ismanto
Andrea Hirata
Andy Riza Hidayat
Anes Prabu Sadjarwo
Anett Tapai
Anindita S Thayf
Anjrah Lelono Broto
Anne Rufaidah
Anton Kurnia
Anton Suparyanto
Anung Wendyartaka
Anwar Holid
Aprinus Salam
Ari Dwijayanthi
Arie MP Tamba
Arif B. Prasetyo
Arif Bagus Prasetyo
Arif Hidayat
Aris Darmawan
Aris Kurniawan
Arswendo Atmowiloto
Arti Bumi Intaran
Arwan Tuti Artha
AS Sumbawi
Asarpin
Asef Umar Fakhruddin
Asep Sambodja
Asep Yayat
Askolan Lubis
Asrul Sani
Asvi Marwan Adam
Asvi Warman Adam
Audifax
Awalludin GD Mualif
Awaludin Marwan
Bagja Hidayat
Balada
Bale Aksara
Bambang Bujono
Bambang Irawan
Bambang Kempling
Bambang Unjianto
Bamby Cahyadi
Bandung Mawardi
Beni Setia
Berita
Berita Utama
Bernando J. Sujibto
Berthold Damshäuser
Binhad Nurrohmat
Bobby Gunawan
Bonnie Triyana
Bre Redana
Brunel University London
Budhi Setyawan
Budi Darma
Budi Hatees
Budi Hutasuhut
Budi P. Hatees
Budiman S. Hartoyo
Burhanuddin Bella
Cak Kandar
Catatan
Cepi Zaenal Arifin
Cerbung
Cerpen
Chairil Anwar
Chamim Kohari
Cucuk Espe
D Pujiyono
D. Zawawi Imron
Dadang Ari Murtono
Dahono Fitrianto
Dahta Gautama
Damanhuri
Damhuri Muhammad
Dami N. Toda
Damiri Mahmud
Danarto
Dantje S Moeis
Darju Prasetya
Darwin
David Krisna Alka
Dedy Tri Riyadi
Deni Ahmad Fajar
Denny JA
Denny Mizhar
Deny Tri Aryanti
Dian Hartati
Dian Sukarno
Dicky
Dina Oktaviani
Dinas Perpustakaan Daerah Lamongan
Djenar Maesa Ayu
Djoko Pitono
Djoko Saryono
Djuli Djatiprambudi
Dodi Ambardi
Dody Kristianto
Donatus Nador
Donny Anggoro
Donny Syofyan
Dorothea Rosa Herliany
Dwi Arjanto
Dwi Cipta
Dwi Fitria
Dwi Kartika Rahayu
Dwi Khoirotun Nisa’
Dwi Pranoto
Dwicipta
Edy Firmansyah
Eep Saefulloh Fatah
Eka Budianta
Eka Fendri Putra
Eka Kurniawan
Eko Darmoko
Eko Hendri Saiful
Eko Suprianto
Emha Ainun Nadjib
Endah Sulwesi
Endi Haryono
Endri Y
Enung Sudrajat
Erwin
Erwin Dariyanto
Erwin Setia
Esai
Esha Tegar Putra
Evan Ys
Evieta Fadjar
F. Aziz Manna
Fadjriah Nurdiarsih
Fahrudin Nasrulloh
Faidil Akbar
Fakhrunnas MA Jabbar
Fanani Rahman
Farida-Suliadi
Fatah Yasin Noor
Fathurrahman Karyadi
Feby Indirani
Felik K. Nesi
Fenny Aprilia
Festival Sastra Gresik
Fikri MS
Firdaus Muhammad
Firman Nugraha
Fuad Nawawi
Galang Ari P.
Gampang Prawoto
Ganug Nugroho Adi
Gerakan Literasi Nasional
Gerakan Surah Buku (GSB)
Gerson Poyk
Goenawan Mohamad
Grathia Pitaloka
Gregorio Lopez y’ Fuentes
Gugun El-Guyanie
Gunawan Budi Susanto
Gunawan Maryanto
Guntur Alam
Gus tf Sakai
Gusti Eka
H Marjohan
HA. Cholil Mudjirin
Hadi Napster
Halim HD
Hamberan Syahbana
Hamdy Salad
Hamsad Rangkuti
Han Gagas
Hanik Uswatun Khasanah
Hans Pols
Hardi Hamzah
Haris del Hakim
Haris Firdaus
Hasan Gauk
Hasan Junus
Hasif Amini
Hasnan Bachtiar
Hasta Indriyana
Hawe Setiawan
Helwatin Najwa
Hepi Andi Bastoni
Heri KLM
Heri Latief
Heri Ruslan
Herman RN
Hermien Y. Kleden
Herry Lamongan
Heru Kurniawan
Heru Nugroho
Hudan Hidayat
Hudan Nur
Hudel
Humaidiy AS
Humam S Chudori
I.B. Putera Manuaba
Ibn Ghifarie
Ibnu Rizal
Ibnu Rusydi
Ibnu Wahyudi
Idrus
Ignas Kleden
Ika Karlina Idris
Ilham khoiri
Ilham Yusardi
Imam Cahyono
Imam Muhtarom
Imam Nawawi
Imamuddin SA
Iman Budhi Santosa
Imron Rosyid
Imron Tohari
Indiar Manggara
Indra Intisa
Indra Tranggono
Indrian Koto
Intan Indah Prathiwie
Inung AS
Iskandar Noe
Iskandar P Nugraha
Iwan Nurdaya-Djafar
Iyut Fitra
J.J. Rizal
Jacques Derrida
Jafar Fakhrurozi
Jafar M Sidik
Jafar M. Sidik
Jaleswari Pramodhawardani
Jamal D Rahman
Jamal T. Suryanata
Jamrin Abubakar
Janual Aidi
Javed Paul Syatha
Jean Couteau
Jean-Marie Gustave Le Clezio
Jefri al Malay
Jihan Fauziah
JJ Rizal
JJ. Kusni
Jodhi Yudono
Johan Edy Raharjo
Joko Pinurbo
Jokowi Undercover
Jonathan Ziberg
Joni Ariadinata
Joni Lis Efendi
Jual Buku
Juli
Jumari HS
Junaidi
Jusuf AN
Kang Warsa
Karya Lukisan: Andry Deblenk
Kasijanto Sastrodinomo
Kasnadi
Katrin Bandel
Kedung Darma Romansha
Keith Foulcher
Khansa Arifah Adila
Khisna Pabichara
Khrisna Pabichara
Kirana Kejora
Koh Young Hun
Komunitas Deo Gratias
Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias
Korrie Layun Rampan
Kostela (Komunitas Sastra Teater Lamongan)
Kristine McKenna
Kritik Sastra
Kukuh Yudha Karnanta
Kurie Suditomo
Kurniawan Yunianto
Kuswaidi Syafi'ie
Kuswinarto
L. Ridwan Muljosudarmo
Lan Fang
Langgeng W
Latief S. Nugraha
Leila S. Chudori
Leo Kelana
Leo Tolstoy
Lia Anggia Nasution
Linda Christanty
Liza Wahyuninto
LN Idayanie
Lukman Santoso Az
Luky Setyarini
Lutfi Mardiansyah
M Abdullah Badri
M Aditya
M Anta Kusuma
M Fadjroel Rachman
M. Arman AZ
M. Faizi
M. Harir Muzakki
M. Kanzul Fikri
M. Lubabun Ni’am Asshibbamal S.
M. Misbahuddin
M. Mushthafa
M. Nahdiansyah Abdi
M. Raudah Jambak
M. Yoesoef
M.D. Atmaja
Mahmud Jauhari Ali
Mahwi Air Tawar
Makyun Subuki
Maman S Mahayana
Marcus Suprihadi
Mardi Luhung
Marhalim Zaini
Mario F. Lawi
Maroeli Simbolon S. Sn
Martin Aleida
Martin Suryajaya
Marwanto
Mashuri
Matroni
Matroni El-Moezany
Mawar Kusuma
Max Lane
Media: Crayon on Paper
Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia
MG. Sungatno
Misbahus Surur
Miziansyah J.
Moh. Samsul Arifin
Mohammad Eri Irawan
Muhammad Antakusuma
Muhammad Firdaus Rahmatullah
Muhammad Muhibbuddin
Muhammad Rain
Muhammad Yasir
Muhammad Zuriat Fadil
Muhammadun A.S
Muhammd Ali Fakih AR
Muhidin M. Dahlan
Mukhlis Al-Anshor
Mulyo Sunyoto
Munawir Aziz
Murnierida Pram
Musa Asy’arie
Mustafa Ismail
N. Syamsuddin CH. Haesy
Nandang Darana
Nara Ahirullah
Naskah Teater
Nazar Nurdin
Nenden Lilis A
Nezar Patria
Nina Herlina Lubis
Ning Elia
Nirwan Ahmad Arsuka
Nirwan Dewanto
Nobel
Noor H. Dee
Noval Jubbek
Novelet
Nu’man ‘Zeus’ Anggara
Nunik Triana
Nur Faizah
Nur Wahida Idris
Nurcholish Madjid
Nurdin Kalim
Nurel Javissyarqi
Nuriel Imamah
Nurman Hartono
Nuruddin Al Indunissy
Nurul Anam
Nurul Hadi Koclok
Obrolan
Oka Rusmini
Oktamandjaya Wiguna
Olivia Kristinasinaga
Orasi Budaya Akhir Tahun 2018
Oyos Saroso H.N.
Pandu Jakasurya
Parak Seni
Parakitri T. Simbolon
PDS H.B. Jassin
PDS. H.B. Jassin
Pembebasan Sastra
Pramoedya Ananta Toer
Pramoedya Ananta-Toer
Pringadi Abdi Surya
Pringadi AS
Prof. Tamim Pardede sebut Bambang
Prosa
Proses Kreatif
Puisi
PuJa
Puji Santosa
Puput Amiranti N
PUstaka puJAngga
Putu Wijaya
Qaris Tajudin
R.N. Bayu Aji
Radhar Panca Dahana
Rahmat Hidayat
Rakai Lukman
Rakhmat Giryadi
Ranang Aji S.P.
Ranggawarsita
Ratih Kumala
Ratna Sarumpaet
Ratu Selvi Agnesia
Raudal Tanjung Banua
Remy Sylado
Rengga AP
Resensi
Resistensi Kaum Pergerakan
Revolusi
RF. Dhonna
Riadi Ngasiran
Ribut Wijoto
Ridwan Munawwar Galuh
Riki Dhamparan Putra
Risang Anom Pujayanto
Riswan Hidayat
Riyadi KS
Rodli TL
Rofiqi Hasan
Rojil Nugroho Bayu Aji
Rukardi
S Sopian
S Yoga
S. Jai
Sabrank Suparno
Sahaya Santayana
Sainul Hermawan
Sajak
Sakinah Annisa Mariz
Salamet Wahedi
Salman Rusydie Anwar
Samsudin Adlawi
Sanggar Teater Jerit
Sapardi Djoko Damono
Sarabunis Mubarok
Sari Oktafiana
Sartika Dian Nuraini
Sasti Gotama
Sastra
Sastra Liar Masa Awal
Satmoko Budi Santoso
Saut Situmorang
Sejarah
Sekolah Literasi Gratis (SLG)
Sekolah Literasi Gratis (SLG) STKIP Ponorogo
Selo Soemardjan
Seno Gumira Ajidarma
Seno Joko Suyono
Septi Sutrisna
Sergi Sutanto
Sevgi Soysal
Shinta Maharani
Shiny.ane el’poesya
Sholihul Huda
Sigit Susanto
Sihar Ramses Simatupang
Siswoyo
Sita Planasari A
Siti Rutmawati
Siti Sa’adah
Sitor Situmorang
Slamet Hadi Purnomo
Sobih Adnan
Soeprijadi Tomodihardjo
Sofyan RH. Zaid
Soni Farid Maulana
Sotyati
Sri Wintala Achmad
St. Sunardi
Stefanus P. Elu
Stevy Widia
Sugi Lanus
Sugilanus G. Hartha
Suherman
Sukardi Rinakit
Sulaiman Djaya
Sunaryono Basuki Ks
Sungatno
Sungging Raga
Sunlie Thomas Alexander
Sunu Wasono
Surat
Suripto SH
Suryadi
Suryanto Sastroatmodjo
Susianna
Susiyo Guntur
Sutan Iwan Soekri Munaf
Sutardji Calzoum Bachri
Sutejo
Suyadi San
Syafruddin Hasani
Syahruddin El-Fikri
Syaiful Amin
Syifa Aulia
Syu’bah Asa
T Agus Khaidir
Tasyriq Hifzhillah
Tatang Pahat
Taufik Ikram Jamil
Taufiq Ismail
Taufiq Wr. Hidayat
Teguh Presetyo
Teguh Ranusastra Asmara
Teguh Winarsho AS
Temu Penyair Timur Jawa
Tengsoe Tjahjono
Theresia Purbandini
Thowaf Zuharon
Tia Setiadi
Tita Maria Kanita
Tjahjono Widarmanto
Tjahjono Widijanto
Tony Herdianto
Tosa Poetra
Tri Purna Jaya
Triyanto Triwikromo
Tu-ngang Iskandar
Tulus S
Ulfatin Ch
Umbu Landu Paranggi
Umi Kulsum
Universitas Indonesia
Universitas Jember
Urwatul Wustqo
Usman Arrumy
Utami Widowati
UU Hamidy
Veronika Ninik
Vien Dimyati
Vino Warsono
Virdika Rizky Utama
Vyan Taswirul Afkar
W Haryanto
W. Herlya Winna
W.S. Rendra
Wahyu Heriyadi
Wahyu Hidayat
Wahyu Utomo
Walid Syaikhun
Wan Anwar
Wandi Juhadi
Warih Wisatsana
Wawan Eko Yulianto
Wawancara
Wayan Budiartha
Wayan Supartha
Wendoko
Wicaksono Adi
William Bradley Horton
Wisnu Kisawa
Wiwik Widayaningtias
Wong Wing King
Y. Wibowo
Yang Lian
Yanuar Yachya
Yetti A. KA
Yohanes Sehandi
Yona Primadesi
Yopie Setia Umbara
Yos Rizal Suriaji
Yoserizal Zein
Yosi M Giri
Yudhi Fachrudin
Yudhi Herwibowo
Yulia Permata Sari
Yurnaldi
Yusri Fajar
Yuval Noah Harari
Z. Afif
Zacky Khairul Uman
Zakki Amali
Zamakhsyari Abrar
Zawawi Se
Zehan Zareez
Zen Hae
Zhou Fuyuan
Zul Afrita
Tidak ada komentar:
Posting Komentar