03/01/19

Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 *

Nurel Javissyarqi **

Bangsa Indonesia merupakan salah satu bangsa terbesar di dunia, dalam dirinya terhimpun bersuku-suku, berbangsa-bangsa pun pelbagai bahasa (bahasa daerah) yang menghidupi cakrawala penalaran-kalbunya, demikian pula adat istiadat serta budayanya beragam melimpah dengan wewarna alam keindahan hayatnya.
Namun barangkali, kita masih patut bersyukur atas datangnya gelombang penjajahan tempo dulu, (dari kata namun itu, senada esai saya yang bertitel “Indonesia Merangkak Menuju Matahari, di buku Trilogi Kesadaran, hal 6, PUstaka puJAngga, 2005) lantaran olehnya, kita dipersatukan di bawah arak-arakan awan nasib yang sama, yakni takdir ketertindasan, perbudakan, pembuangan. Tapi alangkah sayang, meski pintu gerbang kemerdekaan telah terbuka, tidak lantas bisa lepas merdeka dari bekas tuan-tuan kita hingga sekarang, dikarena masih suka menggembol perasaan minder terlalu atau kepercayaan diri yang belum tegak berdiri kokoh di bumi pertiwi.

Adalah sangat baik sekaligus cantik, berbijak menimba pengetahuan dari berbagai belahan penjuru dunia, tapi setelah memperolehnya kerap kali lupa nilai-nilai luhur, mutiara kearifan agung yang mendenyut-nafaskan kebangsaan sejak jaman lama, sebagaimana prasasti-prasasti kuno yang diketemukan kemudian hari di bentangan peradaban Nusantara. Dan walau betapa mulianya nyanyian siur melambai riang anak-anak bumi putra, masih selalu diragukan kedudukannya, dengan berpaling terus menyerukan nada-nada suara asing mereka di telinga. Bukan hanya di situ, sejarah berdirinya kampus-kampus pertama di Indonesia, tidak dijadikan model rujukan demi perbaikan karakter generasi selanjutnya, malahan mengambil cara-cara yang dibuat bekas tuan-tuan kita, padahal sudah sampai pada titik menyadari yang dimaui mereka, namun tetap perasaan inferior menyudutkan diri ke ambang kematian semu, menjadi kembang bayang istilah Jawanya.

Akhir tahun ini menjelang 2019, Negara Kesatuan Republik Indonesia akan menggelar Pilihan Presiden beserta wakilnya, namun apa yang dihidangkan lima tahun sekali itu kepada rakyat jelata, menunjukkan semakin rapuhnya tali goni persaudaraan, persatuan; golongan-golongan itu par tai gurem pula besar, tidak lebih saling unjuk gigi demi memperebutkan kekuasaan, atau hampir semuanya dipastikan fanatik buta terhadap gerombolannya. Di saat itu bekas tuan-tuan kita sedang tertawa terbahak-bahak melihat mulut-mulut tersebut begitu lincah menyuarakan himne humanisme, pruralisme, hak asasi manusia, dsb, hingga jauh melupakan bulir-bulir perolehan mulia dari nenek moyang, lantaran dianggapnya telah usang; tepo seliro, ewuh pakewuh, tenggang rasa, kasih sesama, bhineka tunggal ika, dst.

Menjelang hura-hura pesta pora PilPres, saya tidak menyebut pesta rakyat, apalagi menulisnya dengan huruf tebal, sebab di hadapan kami (putra-putri Indonesia), peristiwa itu sekadar menyuarakan nafsu kelompok, kepentingan sempit, pendek, sementara, seolah hukum rimba yang dijalankan. Padahal musibah bencana berkali-kali menegur lelangkah kita, dan keinsafan menjelma panggung tontonan, sandiwara, bahasa lain pencitraan. Kita seakan tidak mengenal tuhan lagi, karena sudah menuhankan kekuasaan, dan menjelma berhala-berlaha di layar televisi, pada puncaknya kekhilafan ucap dan perilaku ditampakkan para petinggi, yang otaknya sudah dicuci oleh bekas tuan-tuan. Lalu di atas pengetahuan yang telah terperoleh dari negeri bekas tuan-tuan kita (imperialis), sudah pandai berdialektika, bersilat lidah bermuka dua demi memenangkan pertarungan keserakahan, sambil terus melupakan hati tulus sebening embun di daun pagi.

Barangkali kita tengah memasuki jaman pancaroba penuh fitnah, lupa sanak-saudara kecuali yang sepaham hasrat-hasrat rendah, dan sejauh mata memandang bolehlah dipastikan lebih menderita terjajah sekarang, karena kian tumbuh suburnya bebentuk penghianatan; wabah koruptor merajalela tidak ditumpas dengan hukuman jerah, sehingga bertambah membiak mental-mental pecundang beranak-pinak. Tidak sampai di situ, kesengsaraan sebab mengkonsumsi gaya-gaya mereka, hingga muncullah kata-kata teroris, dan di antara kita sampai di ambang putus asa menjadi kambing hitam sesama, lalu oleh kesibukan saling sikut berebut kuasa, luputlah sudah tidak menjadikan perhatian atas temuan-temuan adi luhung dari anak-anak bumi putra. Mungkin di garis ini nilai-nilai ketimuran mulai memudar, jiwa-jiwa kesatria tergerus menghilang, yang tampak tinggallah dagelan rendah.

Sudah banyak kita memakan prodak-prodak turunan nalar mereka; demokrasi, sosialisme, marxisme, liberalisme, nasionalisme, dlsb, yang sesuai iklim tropis di bentangan zamrud khatulistiwa, bolehlah ditiup lembut angin segarnya, dan bayu keindahan pemikiran tersebut sudah disaring sebaik-baiknya oleh para tokoh perjuangan, Bung Hatta dan M. Yamin contohnya, namun kita seolah tidak ingin menjadi bangsa yang besar, lantaran tidak menghargai pengorbanan para pahlawan, ataukah sudah terserang racun kemalasan, lantas sekadar mengambil apa yang mudah dari jangkauan, yakni kekinian yang lepas dari akar pengabdian tulus kepada leluhur. Jangankan menghormati moyang, kasih sayang bagi anak-anak pun sebatas pandangan, atau kurangnya perhatian lebih, tepatnya tidak memiliki rasa pengorbanan demi kejayaan akan datang, semuanya dikeruk habis demi hawa nafsu sepintas nyawa di badan.

Menumpuknya hutang yang seakan tidak terbayar sampai tujuh turunan, merupakan strategi para bekas tuan-tuan kita di dalam menancapkan kuku-kuku tajam penjajahan, dengan gampangnya tergiur iming-iming kemudahan, gula-gula luaran dalam menjalani hidup disaat memenuhi kebutuhan, namun nyatanya seolah dikejar-kejar setan, karena sudah terlanjur larut ingin memenuhi desakan kebutuhan jasmani sampai luput menguri-uri ruhani. Bagaimana bisa beribadah khusyuk, mencari ilmu bersikap tawadhuk, jika impian sebatas materi, sebesar ketakutannya sendiri, sehingga tidak lagi sanggup memaknai indahnya daun-daun berdzikir, bunga-bunga menebarkan sholawat, karena batang-batangnya menderita oleh paku-paku yang menancapkan wajah-wajah para calon perusak bangsa. Yang tersisa dalam diri hanyalah keluguan semu, karena paras kelicikan sudah sedemikian rupa pura-pura begitu pintar mengadali sesama.

Sejarah juang demi perjuangan untuk memperjuangkan kemerdekaan tempo dulu di samping taktik strategi yang dikembangkannya, tidak menjadikan perhatian serius senantiasa giat mendalam-maknai bagi laluan berikutnya, sehingga kelicikan adu domba yang dilancarkan bekas tuan-tuan kita kian merusak kerukunan memecah belah, oleh di antara kita dengan bangga menjadi duta-duta wacana mereka, tubuh-tubuh sudah dicap besi panas pendidikan tinggi dengan gagahnya mengangkangi hasil-hasil ikhtiar para pejuang sendiri, misalkan tidak diperkenankannya mengambil rujukan dari tahun-tahun lawas, padahal seyogyanya masih patut menyinauhi jaman keemasan; bangunan percandian tegak berdiri, gunungan pesawahan menghampar luas dengan pola pengairan nan menyejukkan, kerajaan-kerajaan dari Sabang sampai Merauke sudi berdaulat ke dalam negeri tercinta Indonesia demi menekan timbulkan bibi-bibit pemberontakan, sehingga tidak terbelah bangsa-bangsa yang telah dipersatukan dalam himpunan besar bangsa Indonesia untuk merdeka sendiri-sendiri, dan atau gambaran perpecahan terjadi sebab ketidakmampuan mengolah hargai capaian luhur leluhur, di sisi nafsu seraka terhadap kekuasaan yang dipercayakan kepada para wakil kita yang nyata nalarnya sebatas umur jagung, yakni para petinggi yang selalu disibukkan merebut-langgengkan kekuasaan semata, lebih buruk lagi jika itu semacam arisan. Maka alangkah eloknya kita kembali menyuntuki ujaran salah satu santri Gebang Tinatar, Tegalsari, Ponorogo, muridnya Kyai Ageng Hasan Besari, HOS Cokroaminoto; Setinggi-tinggi ilmu, semurni-murni tauhid, sepintar-pintar siasat!

Maka semoga dengan kegiatan Andong Buku #3 kali ini lewat tajuk Sumilir, kesadaran terhadap pentingnya pendidikan (khazanah ilmu pengetahuan) seperti angin yang sumilir, laksana air jernih mengalir menyebarnya alam dunia perbukuan ke pelosok-pelosok negeri; menggalakkan terjemahan karya, berdiskudi atas karya-karya sendiri disetiap kesempatan, merenung dalam di pojok-pojok kesendirian dikala keluar-masukkan nafas-nafas bacaan sebagaimana kewajiban menyuntuki keilmuan hingga akhir hayat. Ini menjadikan pegangan serius sebagai tongkat estafet demi mengejar ketertinggalan dari bangsa-bangsa lain, dikarena “Buku bukan sekadar menyapa, tapi juga sarana berdialog dengan dunia” ***. Di sini janganlah menunjukkan satu-dua jari, tetapi mari kepalkan jemari tangan, agar jantung tetap berdegup kencang dengan tujuan besar memukul bekas tuan-tuan kita untuk masa kejayaan mendatang, Merdeka, sekali Merdeka tetap Merdeka!


*) Orasi budaya dalam acara Andong Buku #3, tanggal 28-30 Desember 2018 di Bentara Budaya Yogyakarta, Jln. Suroto 2 Kotabaru, Gondokusuman, Yogyakarta. Catatan ini Insyaallah dibaca dalam Grand Opening, pukul 19:45 WIB sampai selesai.

**) Pengelana kelahiran Indonesia, Lamongan. Buku terbarunya: Edisi Revolusi dalam Kritik Sastra, Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia, Buku Pertama: Esai-esai Pelopor Pemberontakan Sejarah Kesusastraan Indonesia, Penerbit PUstaka puJAngga (PuJa), bekerjasama dengan Arti Bumi Intaran Yogyakarta, dan Sekolah Literasi Gratis STKIP PGRI Ponorogo, Cetakan I; Desember 2017, II; April 2018.

***) Motto Penerbit PuJa (PUstaka puJAngga).

Tidak ada komentar:

A Rodhi Murtadho A. Anzib A. Junianto A. Qorib Hidayatullah A. Yusrianto Elga A.D. Zubairi A.S. Laksana Abang Eddy Adriansyah Abdi Purmono Abdul Azis Sukarno Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi W. M. Abdul Kirno Tanda Abdul Wachid B.S. Abdurahman Wahid Abidah el Khalieqy Abiyyu Abu Salman Acep Zamzam Noor Achiar M Permana Ade Ridwan Yandwiputra Adhika Prasetya Adi Marsiela Adi Prasetyo Adreas Anggit W. Adrian Ramdani Afrizal Malna Afthonul Afif Agama Para Bajingan Aguk Irawan Mn Agus B. Harianto Agus Buchori Agus R. Sarjono Agus R. Subagyo Agus Sulton Agus Sunarto Agus Utantoro Agus Wibowo Aguslia Hidayah Ahda Imran Ahmad Fatoni Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Nurhasim Ahmad Sahidah Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ajie Najmudin Ajip Rosidi Akbar Ananda Speedgo Akhiriyati Sundari Akhmad Fatoni Akhmad Saefudin Akhmad Sekhu Akhmad Taufiq Akhudiat Alan Woods Alex R. Nainggolan Alexander G.B. Alhafiz K Ali Shari'ati Alizar Tanjung Alvi Puspita Alwi Karmena Amarzan Loebis Amien Kamil Amien Wangsitalaja Amiruddin Al Rahab Amirullah Amril Taufiq Gobel Amy Spangler An. Ismanto Andrea Hirata Andy Riza Hidayat Anes Prabu Sadjarwo Anett Tapai Anindita S Thayf Anjrah Lelono Broto Anne Rufaidah Anton Kurnia Anton Suparyanto Anung Wendyartaka Anwar Holid Aprinus Salam Ari Dwijayanthi Arie MP Tamba Arif B. Prasetyo Arif Bagus Prasetyo Arif Hidayat Aris Darmawan Aris Kurniawan Arswendo Atmowiloto Arti Bumi Intaran Arwan Tuti Artha AS Sumbawi Asarpin Asef Umar Fakhruddin Asep Sambodja Asep Yayat Askolan Lubis Asrul Sani Asvi Marwan Adam Asvi Warman Adam Audifax Awalludin GD Mualif Awaludin Marwan Bagja Hidayat Balada Bale Aksara Bambang Bujono Bambang Irawan Bambang Kempling Bambang Unjianto Bamby Cahyadi Bandung Mawardi Beni Setia Berita Berita Utama Bernando J. Sujibto Berthold Damshäuser Binhad Nurrohmat Bobby Gunawan Bonnie Triyana Bre Redana Brunel University London Budhi Setyawan Budi Darma Budi Hatees Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budiman S. Hartoyo Burhanuddin Bella Cak Kandar Catatan Cepi Zaenal Arifin Cerbung Cerpen Chairil Anwar Chamim Kohari Cucuk Espe D Pujiyono D. Zawawi Imron Dadang Ari Murtono Dahono Fitrianto Dahta Gautama Damanhuri Damhuri Muhammad Dami N. Toda Damiri Mahmud Danarto Dantje S Moeis Darju Prasetya Darwin David Krisna Alka Dedy Tri Riyadi Deni Ahmad Fajar Denny JA Denny Mizhar Deny Tri Aryanti Dian Hartati Dian Sukarno Dicky Dina Oktaviani Dinas Perpustakaan Daerah Lamongan Djenar Maesa Ayu Djoko Pitono Djoko Saryono Djuli Djatiprambudi Dodi Ambardi Dody Kristianto Donatus Nador Donny Anggoro Donny Syofyan Dorothea Rosa Herliany Dwi Arjanto Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Kartika Rahayu Dwi Khoirotun Nisa’ Dwi Pranoto Dwicipta Edy Firmansyah Eep Saefulloh Fatah Eka Budianta Eka Fendri Putra Eka Kurniawan Eko Darmoko Eko Hendri Saiful Eko Suprianto Emha Ainun Nadjib Endah Sulwesi Endi Haryono Endri Y Enung Sudrajat Erwin Erwin Dariyanto Erwin Setia Esai Esha Tegar Putra Evan Ys Evieta Fadjar F. Aziz Manna Fadjriah Nurdiarsih Fahrudin Nasrulloh Faidil Akbar Fakhrunnas MA Jabbar Fanani Rahman Farida-Suliadi Fatah Yasin Noor Fathurrahman Karyadi Feby Indirani Felik K. Nesi Fenny Aprilia Festival Sastra Gresik Fikri MS Firdaus Muhammad Firman Nugraha Fuad Nawawi Galang Ari P. Gampang Prawoto Ganug Nugroho Adi Gerakan Literasi Nasional Gerakan Surah Buku (GSB) Gerson Poyk Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gregorio Lopez y’ Fuentes Gugun El-Guyanie Gunawan Budi Susanto Gunawan Maryanto Guntur Alam Gus tf Sakai Gusti Eka H Marjohan HA. Cholil Mudjirin Hadi Napster Halim HD Hamberan Syahbana Hamdy Salad Hamsad Rangkuti Han Gagas Hanik Uswatun Khasanah Hans Pols Hardi Hamzah Haris del Hakim Haris Firdaus Hasan Gauk Hasan Junus Hasif Amini Hasnan Bachtiar Hasta Indriyana Hawe Setiawan Helwatin Najwa Hepi Andi Bastoni Heri KLM Heri Latief Heri Ruslan Herman RN Hermien Y. Kleden Herry Lamongan Heru Kurniawan Heru Nugroho Hudan Hidayat Hudan Nur Hudel Humaidiy AS Humam S Chudori I.B. Putera Manuaba Ibn Ghifarie Ibnu Rizal Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi Idrus Ignas Kleden Ika Karlina Idris Ilham khoiri Ilham Yusardi Imam Cahyono Imam Muhtarom Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Imron Rosyid Imron Tohari Indiar Manggara Indra Intisa Indra Tranggono Indrian Koto Intan Indah Prathiwie Inung AS Iskandar Noe Iskandar P Nugraha Iwan Nurdaya-Djafar Iyut Fitra J.J. Rizal Jacques Derrida Jafar Fakhrurozi Jafar M Sidik Jafar M. Sidik Jaleswari Pramodhawardani Jamal D Rahman Jamal T. Suryanata Jamrin Abubakar Janual Aidi Javed Paul Syatha Jean Couteau Jean-Marie Gustave Le Clezio Jefri al Malay Jihan Fauziah JJ Rizal JJ. Kusni Jodhi Yudono Johan Edy Raharjo Joko Pinurbo Jokowi Undercover Jonathan Ziberg Joni Ariadinata Joni Lis Efendi Jual Buku Juli Jumari HS Junaidi Jusuf AN Kang Warsa Karya Lukisan: Andry Deblenk Kasijanto Sastrodinomo Kasnadi Katrin Bandel Kedung Darma Romansha Keith Foulcher Khansa Arifah Adila Khisna Pabichara Khrisna Pabichara Kirana Kejora Koh Young Hun Komunitas Deo Gratias Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias Korrie Layun Rampan Kostela (Komunitas Sastra Teater Lamongan) Kristine McKenna Kritik Sastra Kukuh Yudha Karnanta Kurie Suditomo Kurniawan Yunianto Kuswaidi Syafi'ie Kuswinarto L. Ridwan Muljosudarmo Lan Fang Langgeng W Latief S. Nugraha Leila S. Chudori Leo Kelana Leo Tolstoy Lia Anggia Nasution Linda Christanty Liza Wahyuninto LN Idayanie Lukman Santoso Az Luky Setyarini Lutfi Mardiansyah M Abdullah Badri M Aditya M Anta Kusuma M Fadjroel Rachman M. Arman AZ M. Faizi M. Harir Muzakki M. Kanzul Fikri M. Lubabun Ni’am Asshibbamal S. M. Misbahuddin M. Mushthafa M. Nahdiansyah Abdi M. Raudah Jambak M. Yoesoef M.D. Atmaja Mahmud Jauhari Ali Mahwi Air Tawar Makyun Subuki Maman S Mahayana Marcus Suprihadi Mardi Luhung Marhalim Zaini Mario F. Lawi Maroeli Simbolon S. Sn Martin Aleida Martin Suryajaya Marwanto Mashuri Matroni Matroni El-Moezany Mawar Kusuma Max Lane Media: Crayon on Paper Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia MG. Sungatno Misbahus Surur Miziansyah J. Moh. Samsul Arifin Mohammad Eri Irawan Muhammad Antakusuma Muhammad Firdaus Rahmatullah Muhammad Muhibbuddin Muhammad Rain Muhammad Yasir Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun A.S Muhammd Ali Fakih AR Muhidin M. Dahlan Mukhlis Al-Anshor Mulyo Sunyoto Munawir Aziz Murnierida Pram Musa Asy’arie Mustafa Ismail N. Syamsuddin CH. Haesy Nandang Darana Nara Ahirullah Naskah Teater Nazar Nurdin Nenden Lilis A Nezar Patria Nina Herlina Lubis Ning Elia Nirwan Ahmad Arsuka Nirwan Dewanto Nobel Noor H. Dee Noval Jubbek Novelet Nu’man ‘Zeus’ Anggara Nunik Triana Nur Faizah Nur Wahida Idris Nurcholish Madjid Nurdin Kalim Nurel Javissyarqi Nuriel Imamah Nurman Hartono Nuruddin Al Indunissy Nurul Anam Nurul Hadi Koclok Obrolan Oka Rusmini Oktamandjaya Wiguna Olivia Kristinasinaga Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Oyos Saroso H.N. Pandu Jakasurya Parak Seni Parakitri T. Simbolon PDS H.B. Jassin PDS. H.B. Jassin Pembebasan Sastra Pramoedya Ananta Toer Pramoedya Ananta-Toer Pringadi Abdi Surya Pringadi AS Prof. Tamim Pardede sebut Bambang Prosa Proses Kreatif Puisi PuJa Puji Santosa Puput Amiranti N PUstaka puJAngga Putu Wijaya Qaris Tajudin R.N. Bayu Aji Radhar Panca Dahana Rahmat Hidayat Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Ranang Aji S.P. Ranggawarsita Ratih Kumala Ratna Sarumpaet Ratu Selvi Agnesia Raudal Tanjung Banua Remy Sylado Rengga AP Resensi Resistensi Kaum Pergerakan Revolusi RF. Dhonna Riadi Ngasiran Ribut Wijoto Ridwan Munawwar Galuh Riki Dhamparan Putra Risang Anom Pujayanto Riswan Hidayat Riyadi KS Rodli TL Rofiqi Hasan Rojil Nugroho Bayu Aji Rukardi S Sopian S Yoga S. Jai Sabrank Suparno Sahaya Santayana Sainul Hermawan Sajak Sakinah Annisa Mariz Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sanggar Teater Jerit Sapardi Djoko Damono Sarabunis Mubarok Sari Oktafiana Sartika Dian Nuraini Sasti Gotama Sastra Sastra Liar Masa Awal Satmoko Budi Santoso Saut Situmorang Sejarah Sekolah Literasi Gratis (SLG) Sekolah Literasi Gratis (SLG) STKIP Ponorogo Selo Soemardjan Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Septi Sutrisna Sergi Sutanto Sevgi Soysal Shinta Maharani Shiny.ane el’poesya Sholihul Huda Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Siswoyo Sita Planasari A Siti Rutmawati Siti Sa’adah Sitor Situmorang Slamet Hadi Purnomo Sobih Adnan Soeprijadi Tomodihardjo Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sotyati Sri Wintala Achmad St. Sunardi Stefanus P. Elu Stevy Widia Sugi Lanus Sugilanus G. Hartha Suherman Sukardi Rinakit Sulaiman Djaya Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sungging Raga Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Surat Suripto SH Suryadi Suryanto Sastroatmodjo Susianna Susiyo Guntur Sutan Iwan Soekri Munaf Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Suyadi San Syafruddin Hasani Syahruddin El-Fikri Syaiful Amin Syifa Aulia Syu’bah Asa T Agus Khaidir Tasyriq Hifzhillah Tatang Pahat Taufik Ikram Jamil Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Presetyo Teguh Ranusastra Asmara Teguh Winarsho AS Temu Penyair Timur Jawa Tengsoe Tjahjono Theresia Purbandini Thowaf Zuharon Tia Setiadi Tita Maria Kanita Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Tony Herdianto Tosa Poetra Tri Purna Jaya Triyanto Triwikromo Tu-ngang Iskandar Tulus S Ulfatin Ch Umbu Landu Paranggi Umi Kulsum Universitas Indonesia Universitas Jember Urwatul Wustqo Usman Arrumy Utami Widowati UU Hamidy Veronika Ninik Vien Dimyati Vino Warsono Virdika Rizky Utama Vyan Taswirul Afkar W Haryanto W. Herlya Winna W.S. Rendra Wahyu Heriyadi Wahyu Hidayat Wahyu Utomo Walid Syaikhun Wan Anwar Wandi Juhadi Warih Wisatsana Wawan Eko Yulianto Wawancara Wayan Budiartha Wayan Supartha Wendoko Wicaksono Adi William Bradley Horton Wisnu Kisawa Wiwik Widayaningtias Wong Wing King Y. Wibowo Yang Lian Yanuar Yachya Yetti A. KA Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yopie Setia Umbara Yos Rizal Suriaji Yoserizal Zein Yosi M Giri Yudhi Fachrudin Yudhi Herwibowo Yulia Permata Sari Yurnaldi Yusri Fajar Yuval Noah Harari Z. Afif Zacky Khairul Uman Zakki Amali Zamakhsyari Abrar Zawawi Se Zehan Zareez Zen Hae Zhou Fuyuan Zul Afrita