Ribut
Wijoto
beritajatim.com
TEATER kontemporer kerap kali memasukkan unsur-unsur di
luar teater. Sebuah kolaborasi. Teater yang dikolaborasikan dengan aspek tari,
musik, puisi, sulap-akrobat, atau berbagai pola seni tradisional.
Pada
dasarnya, seni kolaborasi dalam teater sah-sah saja. Sebab dalam wujudnya,
teater memang mencakup beragam hal dalam seni.
Dalam
seminggu terakhir, perhatian saya begitu tersita dengan rencana Bengkel Muda Surabaya
(BMS) yang bakal mementaskan ‘teater deklamatorium’. Mendengar istilah itu,
secara spontan, saya membayangkan sebuah pertunjukan musikalisasi puisi. Tetapi
BMS bersikukuh bahwa pertunjukan mereka bukan musikalisasi puisi. Mereka akan
menggarap pementasan teater deklamatorium.
Walau bukan musikalisasi puisi, mereka mengakui bahwa
deklamatorium bersandar dari deklamasi. Dasar-dasar dari deklamasi itulah yang
diekplorasi untuk sebuah pertunjukan teater. Perihal detail penggarapan dan
paparan konsepnya, mereka enggan mengungkap.
“Tunggu saja nanti, yang pasti, kita serius menggarap
deklamatorium ini,” kata Saiful Hadjar, tim artistik BMS.
Sebagai
salah satu bentuk keseriusan, Saiful menuturkan bahwa penggarapan ini
melibatkan seniman-seniman senior di BMS. Sutradara Amir Kiah, asisten
sutradara Ndindy Indiyati, supervisi Akhudiat, pimpro Jil Kalaran, musik ada
Mahamuni Paksi & Nasar Albatati, artistik Saiful Hadjar & Zaenuri.
“Mereka
tokoh-tokoh yang sudah lama malang melintang dan diakui kredibilitasnya dalam
dunia seni pertunjukan. Jadi antara konsep dan perwujudannya nanti di panggung
sudah digagas secara matang,” katanya.
Deklamasi.
Dalam catatan saya, Bengkel Muda Surabaya memang memiliki tradisi kuat di
bidang deklamasi. Merunut dari sejarahnya, BMS didirikan setelah ada even lomba
deklamasi antar pelajar SLTA (Sekolah Lanjutan Tingkat Atas) dan Mahasiswa
se-Surabaya yang diselenggarakan Dewan Kesenian Surabaya (DKS), 4 April 1972.
Pendiri
BMS Bambang Sujiyono seorang deklamator yang ulung. Ketua Umum saat ini pun,
Heroe Budiarto, pernah menjuarai lomba deklamasi. Belum lagi anggota-anggota
lain yang biasa menjadi langganan juara lomba deklamasi.
Melihat
fakta-fakta itu, deklamasi bukan sesuatu yang asing bagi BMS. Tinggal bagaimana
teknik-teknik deklamasi itu dieksplorasi dalam kerangka seni pertunjukan
teater.
Yang jelas, seorang deklamator mempunyai beragam
kelebihan yang bisa menunjang keaktoran. Pertama, olah vokal. Seorang
deklamator sudah dipastikan mampu bersuara lantang, pandai memainkan intonasi
dan ritme suara. Kedua, olah tubuh. Seorang deklamator terbiasa menyadari
potensi mimik, kerjap mata, pergerakan tangan, maupun keluwesan badan. Ketiga,
penguasaan panggung. Hanya dengan sendirian saja, seorang deklamator mampu
mengisi keseluruhan panggung. Memusatkan fokus audiens kepada performa dirinya.
Keempat, tafsir puisi. Seorang deklamator terbiasa menghapal, menafsirkan, dan
menghayati puisi. Kebiasaan ini tentu memudahkan dalam menafsirkan naskah dalam
drama.
Tapi
bagaimanapun juga, dalam artian formal, deklamasi bukanlah pertunjukan teater.
Ada hal-hal prinsip yang harus diperhatikan. Salah satunya tentang dramaturgi.
Eugenio
Barba, seorang tokoh teater antropologi dari Denmark, mendefinisikan dramaturgi
sebagai akumulasi aksi yang tidak terbatas pada gerakan-gerakan aktor, tetapi
juga meliputi aksi-aksi yang terkait dengan adegan-adegan, musik, cahaya, vokal
aktor, efek suara, dan objek-objek yang dipergunakan dalam pertunjukan. Merujuk
pada pendefinisian Barba, teater lebih luas dibanding deklamasi.
Maka,
ketika sang deklamator masuk ke wilayah teater, dia harus mempersiapkan
kemampuan untuk ruang yang lebih luas. Seni peran. Perihal konsentrasi, ingatan
emosi, pembangunan watak, laku dramatik, observasi, irama, ataupun sensasi
dramatik. Dari status deklamator menuju status aktor, yakni memainkan karakter
manusia-manusia yang lain sehingga penonton dapat memperoleh gambaran kehidupan
dari tokoh tersebut dan mampu mengikuti alur cerita dari drama yang disajikan.
Di
atas panggung, dia harus berinteraksi dengan aktor lain. Dialog, blocking, tata
panggung. Memahami pengaturan komposisi front stage (panggung depan) dan back
stage (panggung belakang). Menjadi sebuah bagian dari plot (alur cerita) dan
menciptakan klimaks.
Tentu
saja tantangan-tantangan (sekaligus peluang) itu telah dipahami oleh para penggawa
Bengkel Muda Surabaya. Sebab mereka, bahkan, sudah menggeluti 2 dunia ini
(teater dan deklamasi) puluhan tahun lamanya. Seperti Akhudiat misalnya, di
tahun 1970-an pun, dia sudah bolak balik menjuarai even teater tingkat
nasional.
Yang saya lihat dalam penggarapan ini tampaknya bukan
usaha menerapkan dramaturgi ke dalam deklamasi, justru sebaliknya, BMS
memasukkan potensi-potensi deklamasi dalam teater. Sehingga tetap saja
pertaruhannya pada nilai-nilai teater.
Bagaimana hasilnya? Kita tunggu saja pertunjukan
deklamatorium dari BMS ini.
Sebab, gagasan boleh besar, potensi boleh berlimpah,
wacana bisa saja setebal tembok China; penonton hanya akan menilai dari sajian
di atas panggung. Sebuah ruang terbatas yang diterangi cahaya, dimampatkan oleh
durasi (waktu).
Kita
hanya berharap, pertunjukan deklamatorium bakal memberi kontribusi positif bagi
perkembangan teater di Surabaya, Jatim, maupun nasional. Setidaknya, secara
gagasan, BMS menawarkan sesuatu yang segar. Dan mereka berani mengambil risiko.
[but]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar