Mahasiswa UIN Yogyakarta Memahami “Maha Cinta”

Dwi Khoirotun Nisa’, Alhafiz K
http://www.nu.or.id/

Senat Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta mengadakan bedah buku “Maha Cinta”, Selasa (16/09). Perbincangan terhadap karya Aguk Irawan MN di Convention Hall UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini, menghadirkan Ahmad Tohari, pengasuh pesantren Maulana Rumi Kiai Kuswaidi Syafi’i, dan penulisnya sendiri sebagai narasumber.

Sebagai kritikus sastra yang mendalami tasawuf, Kiai Kuswaidi melihat novel Maha Cinta berkisah tentang cinta yang bersifat sufistik-keilahian yang bisa mengalahkan kefanaan dunia.

Menurutnya, membahas cinta adalah satu bentuk tema yang tidak akan pernah usang. “Karena Allah-lah sesungguhnya sang Maha Guru Cinta itu. Orang yang sedang sakit cinta tidak akan mau sembuh dari sakitnya,” kata Cak Kus, sapaan akrab Kiai Kuswaidi.

Ketika membaca novel ini, Cak Kus menambahkan, pembaca memasuki ruang-ruang di mana ia memiliki keagungan makna tentang cinta itu sendiri. “Semakin cerdas seorang pembaca, maka akan semakin banyak makna yang didapat,” pungkas Cak Kus.

Sementara itu, penulis novel Aguk Irawan MN menyebutkan inspirasi penulisan novel ini hadir di tengah-tengah penulisan novel tentang KH Wahid Hasyim. Kisah novel yang mulai ditulis pada malam 17 Ramadhan dan selesai saat malam Idhul Fitri ini, berangkat dari kisah nyata seorang temannya di Wonosobo.

Novel “Maha Cinta” mengisahkan perjalanan cinta Imron kepada Marwa yang akhirnya harus terpisahkan, karena Marwa telah menikah dengan seorang pengusaha kaya. Imron pun menolak saat Laila ingin hadir dalam hati Imron menggantikan Marwa. Dari perpisahan tersebut Imron mulai meniti perjalanan cinta yang sebenarnya menuju Sang Maha Cinta.
***

Komentar