02/12/15

Bahasa Ruhani

Kuswaidi Syafi'ie
kabarbangsa.com

Bahasa merupakan sarana bagi berlangsungnya transformasi pemahaman dari “orang pertama tunggal” kepada komunikannya atau sebaliknya. Dilukiskan bahwa ketika kerja bahasa berlangsung, di situ sesungguhnya terbentang jarak yang sedang diatasi di antara dua kutub atau lebih. Bahasa tampil sebagai aktualisasi dan perayaan terhadap “kebersamaan di antara aku-engkau” dalam pemahamannya yang luas dan majmuk.

Karena menyangkut pihak-pihak lain dengan kapasitas yang beraneka ragam, maka bahasa tentu saja dengan sendirinya memiliki lapis-lapis dengan nilai dan urgensi yang berbeda-beda pula. Mulai dari yang paling wadag dan permukaan hingga yang paling subtil dan mendalam. Mulai dari yang paling minus nilai sampai yang paling tidak terhingga pemahamannya. Mulai dari yang gaduh dengan huruf dan suara hingga yang senyap dari kehadiran huruf dan suara.

Bagi siapa saja yang telah dianugrahi kesanggupan untuk mengunyah manik-manik pemahaman dari komunikannya tanpa keterlibatan jejal-jejal huruf dan suara, maka sebenarnya apakah peran dan arti bahasa lewat media keduanya? Secara pragmatik, fungsi dari kedua entitas itu kemudian menjadi gugur. Bahasa lalu merayap secepat mungkin ke sebuah halimun yang tidak tersentuh oleh hingar-bingar huruf dan suara. Hal yang demikian seringkali terjadi di antara para aulia, para kekasih Allah SWT.

Pernah suatu saat Syaikh Muhyiddin ibn ‘Arabi yang dikenal dengan sebutan asy-Syaikhul Akbar bertemu dengan Syaikh Suhrawardi al-Maqtul. Selama sekitar satu jam keduanya sama sekali tidak mengucapkan sepatah kata pun. Lalu keduanya berpisah tanpa juga saling bertukar huruf lewat tulisan sebagai sarana komunikasi. Setelah pertemuan itu, ditanyakan kepada ibn ‘Arabi tentang Suhrawardi, beliau menjawab: “Dari ujung rambut hingga ujung kakinya, yang kutemukan tidak lain adalah keteladanan Rasulullah saw”. Juga ditanyakan kepada Suhrawardi tentang ibn ‘Arabi, beliau bertutur: “Yang kutemukan adalah samudra ilmu Allah SWT yang karena saking begitu dalam dan luasnya sampai tidak tampak dasar dan tepinya”.

Adanya dua jawaban dari masing-masing sufi itu tidak saja mengandaikan tentang telah berlangsungnya komunikasi yang sangat padat di luar gorong-gorong babasa yang verbal sebagaimana umumnya bahasa orang kebanyakan, akan tetapi juka merupakan indikasi bahwa penglihatan batin (bashirah) mereka sedemikian cepat dan cermat dalam memotret pihak-pihak lain, termasuk pula menelisik pada dimensi-dimensi terdalam dan paling rahasia dari kehidupan seseorang.

Dalam komunikasi yang begitu akslaratif dan berlangsung secara laten seperti di atas, hampir saja logika yang terpakai di situ adalah “kau adalah aku dan aku adalah kau”. Tentu saja tidak sepenuhnya lebur atau bersenyawa secara mutlak sehingga hilang segala batas dan lenyap segala warna. Akan tetapi ketika demarkasi yang sangat dekat itu ditekuk satu jengkal lagi oleh transendensi dan kekuatan cinta, maka adanya “kekaburan” di antara dua entitas akan menjadi semakin nyata. Itulah yang pernah dialami oleh sufi agung, Syaikh Husen bin Manshur al-Hallaj (wafat 922 M), ketika menghablurkan seluruh kegempalan dan keutuhan cintanya terhadap Allah SWT sebagai Mahakekasih satu-satunya: “Adnaytani minka hatta zhanantu annaka anni, Kau dekatkan diriku kepadaMu sehingga aku menyangka bahwa sesungguhnya Kau tak lain adalah aku”.

Pengalaman spiritual yang tercermin lewat ungkapan puitik di atas menunjukkan dengan gamblang kepada kita bahwa maju dan mundurnya nilai bahasa tidaklah terutama ditentukan oleh pengaruh akal pikiran sebagaimana yang ditengarai oleh kebanyakan tokoh dari kalangan para ahli bahasa, akan tetapi murni sepenuhnya ditentukan dan dikendalikan oleh aktivitas ruh yang merupakan sumber utama bagi segala keluhuran dan kemuliaan manusia.

Tugas akal pikiran manusia adalah melakukan kalkulasi dan pemotretan terhadap hal-ihwal yang salah dan benar, terhadap segala perkara yang serasi dan rancu, terhadap segala yang baik dan buruk. Sementara ruh selain sanggup menjangkau kawasan pasangan-pasangan nilai yang merupakan medan “garapan” akal pikiran di atas, ia juga mampu meletupkan energi paling dahsyat dan suci yang oleh orang-orang sufi biasanya disebut dengan istilah kerinduan dan cinta: sebentuk kobaran energi teramat kudus yang memiliki watak untuk selalu melesat secepat mungkin menuju “tempat kekasih” tinggal.

Ketika si pecinta secara hakiki berhadap-hadapan dengan kekasihnya, maka keduanya saling menjadi cermin antara yang satu dengan yang lain: si pecinta menemukan potret dirinya yang hidup pada kekasihnya, sedangkan si kekasih memandang dirinya terbelah menjadi dua. Benar-benar duakah secara realitas atau hakikatnya satu? Ternyata kemenduaan itu tak lebih seperti sebuah pohon rindang dengan bayang-bayangnya sendiri ketika matahari yang mulai condong ke arah barat menyemprongkan sinarnya yang tegas sekaligus bersahaja terhadap pohon tersebut.

Dalam konteks kemajuan ruhani yang seperti itu, segala dialog yang berlangsung di antara keduanya sungguh tidak lebih dari “kepura-puraan” semata. Ciri-ciri dialog yang dicitrakan sebagai persilangan kayu-kayu bakar di dalam tungku yang menyala sama sekali senyap di situ. Sungguh, sejatinya yang sedang berlangsung di sana adalah “monolog” yang gemuruh, renyah dan penuh kehangatan. Wallahu a’lamu bish shawab. (*)

*) Kuswaidi Syafi’ie, Penyair, juga Pengasuh Pondok Pesantren Maulana Rumi, Bantul Jogjakarta.
http://www.kabarbangsa.com/2015/11/bahasa-ruhani.html

Tidak ada komentar: