Langsung ke konten utama

Eksotisme Kalimantan Timur dalam Sebuah Novel

Judul novel: Di Antara Dua Cinta (Mencumbu Jenggala, Berkalang Jeram)
Penulis: Inni Indarpuri
Penerbit: Qiyas Media
Cetakan I: April 2011
Harga: 45.000
Peresensi: RF. Dhonna
Tribun Kaltim, 19 Juni 2011

Tak banyak karya fiksi yang mengangkat lokalitas budaya Kalimantan Timur. Novel Diantara Dua Cinta (DDC) ini salah satunya. Novel bersetting Samarinda, seperti Mukjizat Cinta dan Jiwa-jiwa Bercahaya, kurang mengeksplorasi latar.

DDC bercerita tentang kisah cinta seorang guru muda bernama Horizon dan kekasihnya, Zahra. Jalinan cinta Horizon dan Zahra terbentang jarak karena Horizon mendapat tugas mengajar ke pedalaman Kalimantan Timur, tepatnya di Kampung Rikong. Kampung ini tidak ada di peta.  Alat transportasi satu-satunya ke kampung tersebut harus melalui sungai Mahakam, listrik belum ada, dan media komunikasi hanya radio (itupun dengan sinyal yang kurang baik). Tak heran jika banyak yang menganggap kampung ini terisolir.

Kisah long distance relatinship ini agak goyah sejak hari pertama Horizon datang di kampung itu. Leang, seorang gadis dayak yang merupakan anak kepala adat Kampung Rikong, mencoba masuk ke kehidupan Horizon. Horizon pun ternyata menaruh hati pada gadis berparas cantik itu sejak pertemuan pertama.

Kisah cinta segitiga mungkin memang sudah biasa diangkat menjadi tema dasar sebuah novel. Kisah itu menjadi tak biasa jika dikaitkan dengan adat istiadat penduduk setempat yang dijadikan setting novel. Konflik dan alur novel DDC ini tidak digerakkan oleh kisah cinta diantara tokoh-tokoh utamanya, tetapi justru adat-istiadat-lah yang menggerakkannya.

Mungkin tak banyak orang tahu, bahwa suku Dayak mempunyai aturan yang ketat dalam mengatur hubungan perempuan dan laki-laki yang tidak terikat pernikahan. Seperti yang digambarkan penulis di salah satu bab novel ini, Akan halnya adat mencari jodoh, Kampung Rikong pun punya tata cara pergaulan yang tidak lepas dari buku rukun adat. Sejak dahulu telah diatur bahwa tidak boleh ada seorang perempuan berjalan berdua-duaan dengan lelaki yang bukan suami atau keluarga dekatnya (hal.155). Lalu di bagian lain ada juga penjelasan mengenai hukuman dan denda apa yang harus dibayar jika melakukan pelanggaran (hal.156-168).

Inni Indarpuri sangat detail menggambarkan pedalaman Kalimantan Timur. Pembaca seperti digiring menyusuri suasana pedalaman dan serasa menetap disana.  Pembaca akan mendapat banyak pengetahuan baru tentang adat istiadat masyarakat Dayak. Hebatnya, penulis buku Kenapa Anakku Harus Mengidap Lupus? ini menuliskan deskripsi tersebut dengan sangat cantik, tidak berpanjang lebar seperti ceramah.

Penulis asli Samarinda ini sepertinya tidak main-main melakukan riset. Ia mengaku sempat datang langsung ke lokasi. Salah satu kelemahan novel yang berdasarkan riset lapangan adalah, penulis cenderung menuliskan hasil risetnya seperti laporan. Tetapi itu tidak terjadi pada novel lulusan Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman ini. Membaca hasil risetnya, pembaca tidak hanya akan memperoleh informasi, tetapi sekaligus memperoleh pengalaman batin. Emosi kita akan ikut terasah ketika menyelami kearifan-kearifan masyarakat pedalaman. Misalnya ketika Horizon bertanya kepada penduduk setempat, kenapa anak-anak Dayak lebih mementingkan membantu orangtua daripada sekolah, pembaca akan tersadar bahwa orang Dayak ternyata punya konsep hidup yang berpikiran sangat jauh ke depan (hal.77-86).

Kisah cinta Zahra-Horizon-Leang ini belum tuntas hingga halaman akhir, karena novel DDC ini merupakan bagian pertama dari dwilogi novel (yang kedua masih dalam proses penulisan).  Meskipun secara fisik (kover dan judul) novel ini kurang menarik, bahkan cenderung biasa saja, tetapi isinya sangat luar biasa. Novel ini bahkan layak difilmkan.
***

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mencari Indah dalam Buruk Rupa Dunia

Judul Buku : Cala Ibi
Penulis : Nukila Amal
Penerbit : Pena Gaia Klasik
Cetakan Pertama : April 2003
Tebal : 271 Halaman
Peresensi: Askolan Lubis
http://www.sinarharapan.co.id/

Petikan kalimat diatas diucapkan oleh Maia dalam fragmen terakhir (Surat dan Tanda Terakhir) dari novel Cala Ibi yang ditulis Nukila Amal ini.

Kalimat tersebut seolah hendak menegaskan tantang keberadaan karya ini: di tengah centang perenang realitas keseharian yang menyesakkan, Cala Ibi datang menyenandungkan irama lain yang teramat indah, namun acapkali dianggap tidak penting, yaitu mimpi.

Dengan memberi judul Cala Ibi (Naga)—yang tak lain adalah nama hewan agung lambang para kaisar Cina—pada novel ini, Nukila tampaknya hendak memberi tempat terhormat pada dunia bernama ”mimpi”.
Bagaimana tidak? Naga adalah hewan yang diyakini adanya, tapi tak seorangpun yang bisa memastikan atau melihat wujudnya.

Anehnya lagi, ia bukan sejenis reptil, tapi seperti ular. Bukan burung tapi bersayap dan bisa terbang. Bukan ikan, tapi bers…

POTRET MANUSIA MARJINAL DALAM CERPEN-CERPEN JONI ARIADINATA*

Maman S. Mahayana**)
http://mahayana-mahadewa.com/

00. Sastra adalah dunia yang serba mungkin; apapun bisa jadi mungkin (probability), termasuk di dalamnya, yang mustahil pun bisa saja menjadi mungkin. Jadi, dalam keser-bamungkinan atau kemustahilan itu, berbagai peristiwa yang mungkin dan yang mustahil, bisa saja terjadi sekali-sekali, gonta-ganti atau serempak secara tumpang-tindih. Oleh karena itu, salah satu kekhasan karya sastra (fiksi) yang sering dimanfaatkan untuk mem-bedakannya dengan karya nonfiksi adalah adanya kebolehjadian (plausibility) itu. Itulah sastra! Ia bisa menampilkan dunia yang realistik dan masuk akal secara meyakinkan. Na-mun, ia juga dapat menampilkan hal yang sebaliknya. Di sana, mungkin ada dunia jung-kir-balik, irasional, dan amburadul. Semua boleh saja terjadi, dan itu sah! Tidak ada rumus yang pasti yang berlaku universal. Selalu saja ada yang khas, unik, dan nyeleneh. Selalu ada saja kekhasan individual, meskipun ciri atau sifat-sifatnya, mungkin berlaku …

Sastra Indonesia Mutakhir: Jejak Historis dan Kecenderungan Estetiknya

Jamal T. Suryanata
http://tuasmedia-2.blogspot.com/

/ 1 /

Memperbincangkan ihwal sastra Indonesia mutakhir, sebagai suatu tema besar, tentu saja bukan sebuah persoalan yang tanpa risiko. Di samping karena begitu luasnya cakupan pengertian “sastra Indonesia” itu sendiri, juga dilantarankan oleh ketakrifan istilah “mutakhir” yang digunakan dalam judul tulisan ini memang cenderung bermakna bias (baca: bersifat deiktis).