28/06/14

Gerakan Paderi dan Puifikasi Islam

H Marjohan *
www.harianhaluan.com, 10 Nov 2013

Dalam sebuah Hadits yang shahih lagi mutawatir, Nabi Muhammad SAW bersabda: al-Islamu ya’lu wa la-yu’la ‘alaihi (Islam itu unggul dan tidak satu pun ajaran yang mampu menandingi keunggulan Islam). Namun, ketinggian Islam akan tetap bertengger di awang-awang bila umatnya enggan membawa turun ke peradaban bumi. Melangitkan yang menggeliat di pelataran bumi serta membumikan yang bergelayut di langit (wahyu) itulah gawe pokok pemuka Islam. Dalam satu kali tarikan nafas: disebut tajdidu fi al-Islam! (pemba(ha)ruan/ purifikasi Islam.
Khusus di Minangkabau secara kultural dan Sumatera Barat secara provinsial, gerakan pembaruan pemikiran al-Islam telah diretas oleh “Tiga Serangkai”nya tanah Minang: Haji Miskin, Haji Soemanik dan Haji Piobang sejak 1803-1821 M. Dalam sejarah, langkah yang mereka ayunkan disebut Gerakan Paderi generasi pertama. Sasok-jarami/Bengkalai yang mereka wariskan, diulas Tuanku Imam Bonjol, Tuanku Tambusai dan Tuanku Rao (1821-1837). Sejarawan cenderung mengistilahi Gerakan Paderi generasi kedua. Baik generasi pertama maupun kedua berhadapan dengan syirik peninggalan jahiliah sebagai rimah-rimah Agama Hindu, sekitar abad ke-7 M. Yaitu apa yang disebut animisme, dinamis­me dan totemisme. Lebih dikerucutkan, komunitas Islam di daerah ini terkon­taminasi pemikiran-pemikiran irrasional.

Misalnya (1), mempercayai capak-capak baruak (mantra/magig) yang dilafazkan dukun; (2), ayam, keris, pisau dan sejenisnya yang telah ditapuang-tawa(r)i sang dukun tadi dipandang kiramaik (bertuah) dan punya kekuatan supra-natural); (3), murai berkicau di suyuak/di sudut rumah, pertanda Malaikat Izrail bakal mencabut nyawa ahlu al-bait;(4), andai bencana menyapu sebuah komunitas semisal di taratak, dusun dan nagari diantisipasi dengan: Ratik tolak bala; (5), orang-orang tertentu semisal guru mengaji, dukun dan lainnya cenderung di-kultus individukan. Sisa air yang direguknya diperebutkan serta titah yang digulirkan tak boleh ditantang seujung kuku pun kalau dilanggar bisa-bisa katulahan (tidak hormat secara budaya); dan pemikiran-pemikiran mistikal lainnya yang berkecambah di daerah ini.

Syirik Modern

Akan tetapi kita yang hidup di zaman modern yang kian menapak maju sekarang justru berhadapan dengan syirik modern dengan segala bentuk dan manifestasinya. Diperbudak hawa nafsu berarti memosisikan hawa nafsu sebagai tuhan terutama nafsu lawwamah (nafsu binatang). Betapa segelintir masyarakat di kota dan di nagari ingin jadi orang kaya (milioner) secara mendadak. Indikasinya? Selain keranjingan togel/toto gelap, porkas dan sejenisnya yang bernama pencurian berupa: mengicuh, menyikat, menyikut, menepak, menipu dan menepong serta maling dan merugikan pihak lain semakin bernanah berdarah di negeri ini.

Kalau tempo doeloe yang namanya si pemaling akrap benar dengan peralatan tradisional. Sebut saja, ladiang/pedang, kampak, pisau, linggis dan sejenisnya. Namun sekarang—sebagaimana diberitakan mass media cetak dan elektronik, si perampok justru bergelut dengan setumpuk peralatan/cara-cara canggih semisal pistol, bius, hipnotis, komputer dan lainnya. Modus overandi yang dimainkan juga cukup beragam lagi bervariasi. Sebut saja manggadabiak (mengancam) karyawan bank pakai pistol agar menyerahkan kunci brankas: menguras uang yang ada dalam brankas/”kotak” ATM; mengacungkan senjata pada pedagang sembari menyikat habis assetnya yang bejibun. Atau belakangan ini menyuruh: mentransfer uang ke rekening tertentu sembari mengepit kepala harimau: mengelabui kita dengan mengatas namakan pejabat tinggi pusat, provinsi dan kabupaten/kota; dan kiat-kiat lain yang membuat orang jadi bangkrut.

Tidak cuma di kota-kota pelbagai kasus pencurian juga sangat menggalaukan di komunitas kampung. Hati siapa tak terenyuh, berdalih(l) kebebasan di alam reformasi sebagian masyarakat tergelicik malanyak dan malanyau (menghabisi) kebun: kakau, cengkeh, buah pala, kulit manis, serta kebun sawit dan lainnya secara illegal. Khusus yang disebut penghabisan (sawit) karena investor mempercayakan keamanan areal pada pihak keamanan setempat—ujung-ujungnya berkelabatlah bentrok fisik antara pejabat berseragam dengan rakyat. Dan, yang membuat kening berkarut-marut konflik vertikal dan horizontal tersebut ada yang berakhir dengan el-maut lantraran dengan alasan membela diri: petugas melakukan apa yang disebut: tembak di tempat! Kondisi merisaukan ini kerap mencuat ke permukaan di daerah sawit. Sebut saja Pasaman Barat, Agam, Sijunjung, Darmasraya dan Solok Selatan. Sekali lagi tergila-gila dengan rayuan dunia (hubbub ad-dunya), apalagi dengan cara tidak sehat berarti menduakan Tuhan. Dan, pada hakikatnya itulah yang dusebut syirik modern.

Krisis Kepemimpinan

Lalu pertanyaan menggelitik! Kenapa sebagian masyarakat nekat memburu harta dengan cara-cara tidak halal? Selain kian menipisnya kesadaran beragama—juga mencontoh kakobeh dan kurenah segelintir elite politik di Tanah Air. Bukankah budaya paternalistik masih dikepit masyarakat kian ke-mari. Satu adagium mengatakan: andai guru (baca: pemimpin) kencing berdiri-maka murid/rakyat kencing berlari.

Sigilah! Betapa sebagian petinggi negeri bersilantas angan benar menilep uang negara. Nyaris tiap hari kita disuguhi berita baik mass media cetak maupun elektronik: bahwa para juragan negeri tergelincir ke dalam lumpur materialisme, konsumtifme, pragmatisme dan hedonisme. Yang menyergap sebongkah hati mereka dalam rentang waktu 24 jam: bagaimana menimbun harta sebanyak mungkin. Bukan buat satu keturunan bila perlu mampu membiayai tujuh dinasti. Dan, yang membuat kita terhenyak-bengong obsesi memperkaya diri (self oriented), memperkaya kelompok dan kroni itu tidak hanya melanda habitus eksekutif dan legislatif—tapi pihak yudikatif pun tidak kalah nekadnya.

Walau lima belas tahun sudah reformasi bergulir di Tanah Air namun yang bernama suvremasi hukum yang disorakkan ketika membidani reformas dan demokratissi, pada 1998 lalu, terkesan masih diselimuti diskriminatif dan polaritatif. Indikasinya? Pencuri sepasang sandal jepit terpaksa berurusan dengan aparat hukum. Sedang si perampok uang Negara dalam jumlah gadang-badagok (amat banyak) dibiarkan bebas melenggang kian ke-mari.

Dan, yang membuat kening berkarut-marut aparat hukum sejak dari gerbang pertama (polisi) sampai lorong terakhir (hakim) sepertinya terpengap dalam kepompong sempit berpikir sehasta ke muka. Hati siapa tak terenyuh, kalau seorang Ketua Mahkamah Konstitusi (MK), Akil Muchtar—menyandang prediket tersangka menerima uang suap. Pasalnya? Konflik yang menggelembung pasca Pilkada Gunung Mas, Kalimantan Tengah dan Lebak Baten yang dibawa ke institusi yang dibiduki Akil Muchtar tersebut. Konon tarif untuk sengketa Pilkada Bupati/Walikota harganya sekitar dua milyar. Sedang sengketa Pilkada Gubernur: lima milyar. Nah! Bukankah ini namanya hukum bisa dibeli bagi yang berkantong tebal!

Selain itu, gaji besar sepertinya bukan sebuah jaminan seseorang/sekelompok orang untuk tidak dgerogoti virus dan wabah korupsi. Bukankah gaji seorang Ketua MK mencapai angka Rp. 40 jua/bulan. Dan, jumah sebanyak itu masih ditukuk tunjangan jabatan sebanyak Rp 9 juta. Lalu kenapa Akil masih tergiur uang sogok? Dalam pendekatan tashauf Islam itulah yang dinamai al-qalb al-marid. Maksudnya? Penyakit hati berupa: serakah, tamak serta tak pernah merasa kenyang. Dan, pada hakikatnya kangker hati semacam itu benarlah yang sedang berjangkit dan menular di negeri ini. Sehingga yang bernama KKN (kolusi, korupsi dan nepotisme) bukannya semakin mampu diminimalisir tapi malahan kian berkecambah.

Memosisikan Hukum sebagai Panglima

Dalam satu adagium dikatakan: Andai politik diposisikan menjadi panglima, like and dislike maka sebuah Negara cepat atau lambat bakal hancur berkeping-keping. Tapi, kalau hukum dijadikan sebagai panglima, maka sebuah Negara akan aman, sejahtera dan sentosa. Makanya ke depan bahkan sekarang juga—yang namanya hukum di negeri ini harus ditegakkan dan dijunjung tinggi tanpa diskriminatif, polaritatif dan tebang pilih.

Dan, dalam kerangka ini akan lebih afdal kita camkan ke petala hati sepenggal hadits Nabi Muhammad SAW: “kehancuran umat di masa lalu, karena membiarkan si pencuri kakap bergentayangan di mana-mana, dan menghukum si pemaling kecil (shaghir) dengan hukuman berat. Andai si jantung hatiku, Siti Fatimah tertangkap basah mencuri, pasti Aku potong tangannya” (laqa­tha’­ta yadaha/Hadits shahih & mutawtir).

Khatimah! Supaya yang bernama syirik baik yang berkategori klasik (salafiyah) maupun yang bermodel syirik modern/kontemporer (khalafiyah) sebagaimana disinggung di muka, maka sejatinyalah pemuka agama kita (Rijalu ad-Din) melakukan pembaruan pemikiran Islam. Tegasnya, sebelum NKRI ini lumat dan hancur berkeping-keping sudah tiba saatnya kita menelusuri, mengaktualisasi plus mengap­likasikan purifikasi Islam yang diretas oleh sutradara Paderi tempo doeloe. Semoga!

*) Pemerhati Sosial-Budaya

Tidak ada komentar:

A Rodhi Murtadho A. Anzib A. Junianto A. Qorib Hidayatullah A. Yusrianto Elga A.D. Zubairi A.S. Laksana Abang Eddy Adriansyah Abdi Purmono Abdul Azis Sukarno Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi W. M. Abdul Kirno Tanda Abdul Wachid B.S. Abdurahman Wahid Abidah el Khalieqy Abiyyu Abu Salman Acep Zamzam Noor Achiar M Permana Ade Ridwan Yandwiputra Adhika Prasetya Adi Marsiela Adi Prasetyo Adreas Anggit W. Adrian Ramdani Afrizal Malna Afthonul Afif Agama Para Bajingan Aguk Irawan Mn Agus B. Harianto Agus Buchori Agus R. Sarjono Agus R. Subagyo Agus Sulton Agus Sunarto Agus Utantoro Agus Wibowo Aguslia Hidayah Ahda Imran Ahmad Fatoni Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Nurhasim Ahmad Sahidah Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ajie Najmudin Ajip Rosidi Akbar Ananda Speedgo Akhiriyati Sundari Akhmad Fatoni Akhmad Saefudin Akhmad Sekhu Akhmad Taufiq Akhudiat Alan Woods Alex R. Nainggolan Alexander G.B. Alhafiz K Ali Shari'ati Alizar Tanjung Alvi Puspita Alwi Karmena Amarzan Loebis Amien Kamil Amien Wangsitalaja Amiruddin Al Rahab Amirullah Amril Taufiq Gobel Amy Spangler An. Ismanto Andrea Hirata Andy Riza Hidayat Anes Prabu Sadjarwo Anett Tapai Anindita S Thayf Anjrah Lelono Broto Anne Rufaidah Anton Kurnia Anton Suparyanto Anung Wendyartaka Anwar Holid Aprinus Salam Ari Dwijayanthi Arie MP Tamba Arif B. Prasetyo Arif Bagus Prasetyo Arif Hidayat Aris Darmawan Aris Kurniawan Arswendo Atmowiloto Arti Bumi Intaran Arwan Tuti Artha AS Sumbawi Asarpin Asef Umar Fakhruddin Asep Sambodja Asep Yayat Askolan Lubis Asrul Sani Asvi Marwan Adam Asvi Warman Adam Audifax Awalludin GD Mualif Awaludin Marwan Bagja Hidayat Balada Bale Aksara Bambang Bujono Bambang Irawan Bambang Kempling Bambang Unjianto Bamby Cahyadi Bandung Mawardi Beni Setia Berita Berita Utama Bernando J. Sujibto Berthold Damshäuser Binhad Nurrohmat Bobby Gunawan Bonnie Triyana Bre Redana Brunel University London Budhi Setyawan Budi Darma Budi Hatees Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budiman S. Hartoyo Burhanuddin Bella Cak Kandar Catatan Cepi Zaenal Arifin Cerbung Cerpen Chairil Anwar Chamim Kohari Cucuk Espe D Pujiyono D. Zawawi Imron Dadang Ari Murtono Dahono Fitrianto Dahta Gautama Damanhuri Damhuri Muhammad Dami N. Toda Damiri Mahmud Danarto Dantje S Moeis Darju Prasetya Darwin David Krisna Alka Dedy Tri Riyadi Deni Ahmad Fajar Denny JA Denny Mizhar Deny Tri Aryanti Dian Hartati Dian Sukarno Dicky Dina Oktaviani Dinas Perpustakaan Daerah Lamongan Djenar Maesa Ayu Djoko Pitono Djoko Saryono Djuli Djatiprambudi Dodi Ambardi Dody Kristianto Donatus Nador Donny Anggoro Donny Syofyan Dorothea Rosa Herliany Dwi Arjanto Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Kartika Rahayu Dwi Khoirotun Nisa’ Dwi Pranoto Dwicipta Edy Firmansyah Eep Saefulloh Fatah Eka Budianta Eka Fendri Putra Eka Kurniawan Eko Darmoko Eko Hendri Saiful Eko Suprianto Emha Ainun Nadjib Endah Sulwesi Endi Haryono Endri Y Enung Sudrajat Erwin Erwin Dariyanto Erwin Setia Esai Esha Tegar Putra Evan Ys Evieta Fadjar F. Aziz Manna Fadjriah Nurdiarsih Fahrudin Nasrulloh Faidil Akbar Fakhrunnas MA Jabbar Fanani Rahman Farida-Suliadi Fatah Yasin Noor Fathurrahman Karyadi Feby Indirani Felik K. Nesi Fenny Aprilia Festival Sastra Gresik Fikri MS Firdaus Muhammad Firman Nugraha Fuad Nawawi Galang Ari P. Gampang Prawoto Ganug Nugroho Adi Gerakan Literasi Nasional Gerakan Surah Buku (GSB) Gerson Poyk Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gregorio Lopez y’ Fuentes Gugun El-Guyanie Gunawan Budi Susanto Gunawan Maryanto Guntur Alam Gus tf Sakai Gusti Eka H Marjohan HA. Cholil Mudjirin Hadi Napster Halim HD Hamberan Syahbana Hamdy Salad Hamsad Rangkuti Han Gagas Hanik Uswatun Khasanah Hans Pols Hardi Hamzah Haris del Hakim Haris Firdaus Hasan Gauk Hasan Junus Hasif Amini Hasnan Bachtiar Hasta Indriyana Hawe Setiawan Helwatin Najwa Hepi Andi Bastoni Heri KLM Heri Latief Heri Ruslan Herman RN Hermien Y. Kleden Herry Lamongan Heru Kurniawan Heru Nugroho Hudan Hidayat Hudan Nur Hudel Humaidiy AS Humam S Chudori I.B. Putera Manuaba Ibn Ghifarie Ibnu Rizal Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi Idrus Ignas Kleden Ika Karlina Idris Ilham khoiri Ilham Yusardi Imam Cahyono Imam Muhtarom Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Imron Rosyid Imron Tohari Indiar Manggara Indra Intisa Indra Tranggono Indrian Koto Intan Indah Prathiwie Inung AS Iskandar Noe Iskandar P Nugraha Iwan Nurdaya-Djafar Iyut Fitra J.J. Rizal Jacques Derrida Jafar Fakhrurozi Jafar M Sidik Jafar M. Sidik Jaleswari Pramodhawardani Jamal D Rahman Jamal T. Suryanata Jamrin Abubakar Janual Aidi Javed Paul Syatha Jean Couteau Jean-Marie Gustave Le Clezio Jefri al Malay Jihan Fauziah JJ Rizal JJ. Kusni Jodhi Yudono Johan Edy Raharjo Joko Pinurbo Jokowi Undercover Jonathan Ziberg Joni Ariadinata Joni Lis Efendi Jual Buku Juli Jumari HS Junaidi Jusuf AN Kang Warsa Karya Lukisan: Andry Deblenk Kasijanto Sastrodinomo Kasnadi Katrin Bandel Kedung Darma Romansha Keith Foulcher Khansa Arifah Adila Khisna Pabichara Khrisna Pabichara Kirana Kejora Koh Young Hun Komunitas Deo Gratias Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias Korrie Layun Rampan Kostela (Komunitas Sastra Teater Lamongan) Kristine McKenna Kritik Sastra Kukuh Yudha Karnanta Kurie Suditomo Kurniawan Yunianto Kuswaidi Syafi'ie Kuswinarto L. Ridwan Muljosudarmo Lan Fang Langgeng W Latief S. Nugraha Leila S. Chudori Leo Kelana Leo Tolstoy Lia Anggia Nasution Linda Christanty Liza Wahyuninto LN Idayanie Lukman Santoso Az Luky Setyarini Lutfi Mardiansyah M Abdullah Badri M Aditya M Anta Kusuma M Fadjroel Rachman M. Arman AZ M. Faizi M. Harir Muzakki M. Kanzul Fikri M. Lubabun Ni’am Asshibbamal S. M. Misbahuddin M. Mushthafa M. Nahdiansyah Abdi M. Raudah Jambak M. Yoesoef M.D. Atmaja Mahmud Jauhari Ali Mahwi Air Tawar Makyun Subuki Maman S Mahayana Marcus Suprihadi Mardi Luhung Marhalim Zaini Mario F. Lawi Maroeli Simbolon S. Sn Martin Aleida Martin Suryajaya Marwanto Mashuri Matroni Matroni El-Moezany Mawar Kusuma Max Lane Media: Crayon on Paper Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia MG. Sungatno Misbahus Surur Miziansyah J. Moh. Samsul Arifin Mohammad Eri Irawan Muhammad Antakusuma Muhammad Firdaus Rahmatullah Muhammad Muhibbuddin Muhammad Rain Muhammad Yasir Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun A.S Muhammd Ali Fakih AR Muhidin M. Dahlan Mukhlis Al-Anshor Mulyo Sunyoto Munawir Aziz Murnierida Pram Musa Asy’arie Mustafa Ismail N. Syamsuddin CH. Haesy Nandang Darana Nara Ahirullah Naskah Teater Nazar Nurdin Nenden Lilis A Nezar Patria Nina Herlina Lubis Ning Elia Nirwan Ahmad Arsuka Nirwan Dewanto Nobel Noor H. Dee Noval Jubbek Novelet Nu’man ‘Zeus’ Anggara Nunik Triana Nur Faizah Nur Wahida Idris Nurcholish Madjid Nurdin Kalim Nurel Javissyarqi Nuriel Imamah Nurman Hartono Nuruddin Al Indunissy Nurul Anam Nurul Hadi Koclok Obrolan Oka Rusmini Oktamandjaya Wiguna Olivia Kristinasinaga Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Oyos Saroso H.N. Pandu Jakasurya Parak Seni Parakitri T. Simbolon PDS H.B. Jassin PDS. H.B. Jassin Pembebasan Sastra Pramoedya Ananta Toer Pramoedya Ananta-Toer Pringadi Abdi Surya Pringadi AS Prof. Tamim Pardede sebut Bambang Prosa Proses Kreatif Puisi PuJa Puji Santosa Puput Amiranti N PUstaka puJAngga Putu Wijaya Qaris Tajudin R.N. Bayu Aji Radhar Panca Dahana Rahmat Hidayat Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Ranang Aji S.P. Ranggawarsita Ratih Kumala Ratna Sarumpaet Ratu Selvi Agnesia Raudal Tanjung Banua Remy Sylado Rengga AP Resensi Resistensi Kaum Pergerakan Revolusi RF. Dhonna Riadi Ngasiran Ribut Wijoto Ridwan Munawwar Galuh Riki Dhamparan Putra Risang Anom Pujayanto Riswan Hidayat Riyadi KS Rodli TL Rofiqi Hasan Rojil Nugroho Bayu Aji Rukardi S Sopian S Yoga S. Jai Sabrank Suparno Sahaya Santayana Sainul Hermawan Sajak Sakinah Annisa Mariz Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sanggar Teater Jerit Sapardi Djoko Damono Sarabunis Mubarok Sari Oktafiana Sartika Dian Nuraini Sasti Gotama Sastra Sastra Liar Masa Awal Satmoko Budi Santoso Saut Situmorang Sejarah Sekolah Literasi Gratis (SLG) Sekolah Literasi Gratis (SLG) STKIP Ponorogo Selo Soemardjan Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Septi Sutrisna Sergi Sutanto Sevgi Soysal Shinta Maharani Shiny.ane el’poesya Sholihul Huda Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Siswoyo Sita Planasari A Siti Rutmawati Siti Sa’adah Sitor Situmorang Slamet Hadi Purnomo Sobih Adnan Soeprijadi Tomodihardjo Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sotyati Sri Wintala Achmad St. Sunardi Stefanus P. Elu Stevy Widia Sugi Lanus Sugilanus G. Hartha Suherman Sukardi Rinakit Sulaiman Djaya Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sungging Raga Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Surat Suripto SH Suryadi Suryanto Sastroatmodjo Susianna Susiyo Guntur Sutan Iwan Soekri Munaf Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Suyadi San Syafruddin Hasani Syahruddin El-Fikri Syaiful Amin Syifa Aulia Syu’bah Asa T Agus Khaidir Tasyriq Hifzhillah Tatang Pahat Taufik Ikram Jamil Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Presetyo Teguh Ranusastra Asmara Teguh Winarsho AS Temu Penyair Timur Jawa Tengsoe Tjahjono Theresia Purbandini Thowaf Zuharon Tia Setiadi Tita Maria Kanita Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Tony Herdianto Tosa Poetra Tri Purna Jaya Triyanto Triwikromo Tu-ngang Iskandar Tulus S Ulfatin Ch Umbu Landu Paranggi Umi Kulsum Universitas Indonesia Universitas Jember Urwatul Wustqo Usman Arrumy Utami Widowati UU Hamidy Veronika Ninik Vien Dimyati Vino Warsono Virdika Rizky Utama Vyan Taswirul Afkar W Haryanto W. Herlya Winna W.S. Rendra Wahyu Heriyadi Wahyu Hidayat Wahyu Utomo Walid Syaikhun Wan Anwar Wandi Juhadi Warih Wisatsana Wawan Eko Yulianto Wawancara Wayan Budiartha Wayan Supartha Wendoko Wicaksono Adi William Bradley Horton Wisnu Kisawa Wiwik Widayaningtias Wong Wing King Y. Wibowo Yang Lian Yanuar Yachya Yetti A. KA Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yopie Setia Umbara Yos Rizal Suriaji Yoserizal Zein Yosi M Giri Yudhi Fachrudin Yudhi Herwibowo Yulia Permata Sari Yurnaldi Yusri Fajar Yuval Noah Harari Z. Afif Zacky Khairul Uman Zakki Amali Zamakhsyari Abrar Zawawi Se Zehan Zareez Zen Hae Zhou Fuyuan Zul Afrita