Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2014

Gerakan Paderi dan Puifikasi Islam

H Marjohan *
www.harianhaluan.com, 10 Nov 2013

Dalam sebuah Hadits yang shahih lagi mutawatir, Nabi Muhammad SAW bersabda: al-Islamu ya’lu wa la-yu’la ‘alaihi (Islam itu unggul dan tidak satu pun ajaran yang mampu menandingi keunggulan Islam). Namun, ketinggian Islam akan tetap bertengger di awang-awang bila umatnya enggan membawa turun ke peradaban bumi. Melangitkan yang menggeliat di pelataran bumi serta membumikan yang bergelayut di langit (wahyu) itulah gawe pokok pemuka Islam. Dalam satu kali tarikan nafas: disebut tajdidu fi al-Islam! (pemba(ha)ruan/ purifikasi Islam.

Mengungkap Makna Ta’dib al-Attas bagi Pendidikan

Yudhi Fachrudin
http://www.kompasiana.com/peradaban

Pendidikan menjadi benteng harapan terakhir dalam mengatasi solusi permasalahan-permasalahan bangsa ini. Di sisi lain, begitu kompleknya permasalahan-permasalah yang terjadi pada lingkungan sosial kerap memasuki dunia pendidikan. Ketimpangan sosial, berlakunya budaya kekerasan, sifat-sifat individualis, hedonis matrealis serta perilaku-perilaku penyimpangan lainnya yang terjadi di lingkungan sosial masyarakat turut serta mempengaruhi dunia pendidikan. Pilihan antara terlebih dahulu memperbaiki dunia pendidikan agar hadir menjadi solusi bagi masyarakatnya atau memperbaiki lingkungan sosial agar tidak menjadi “virus” bagi pendidikan.

Catatan-catatan Tagore tentang Bali

Sugi Lanus
Bali Post, 08 Sep 2013

Rabindranath dan Suniti mencatat beberapa hal yang ditemukan dalam perjalanan ke Bali ini. Rabindranath menyajikan catatan tersebut dalam bentuk surat-surat yang ditulisnya dalam perjalanan tersebut; sementara Suniti mencatat layaknya peneliti dan menyajikannya dalam bentuk paper. Dalam surat Tagore terungkap bagaimana para raja dan pendeta Bali yang ditemui menjadi lebih sadar akan jalinan budaya Bali dengan tanah India, dan mereka yang ditemui sangat antusias serta ingin memperbaharui hubungan budaya Bali dengan India.

Desakralisasi Kata-kata dalam “Mantra Pejinak Ular”

Darwin *
Riau Pos, 29 Des 2013

SIHIR kata-kata adalah kekuatan para sastrawan. Di tangan seorang sastrawan, daya pikat kata adalah unsur terpenting dalam karya sastra, baik itu prosa maupun puisi. Kata-kata biasa bisa menjadi ‘berbunga’ di ujung pena seorang sastrawan. Kata-kata yang basi di mulut politisi, bisa menjadi berisi dalam setiap ucap para sastrawan. Itulah yang dilakukan oleh Sutardji Calzoum Bachri yang populer dengan ‘’puisi mantranya’’. Atau, di seberang lain ada Ayu Utami dengan teknik komposisinya. Tentunya tidak ketinggalan Chairil Anwar dengan permainan diksinya yang sulit mencari pembandingnya di zaman Twitter saat ini. Masih banyak lagi para ‘pemain kata’ yang tidak bisa semuanya disebutkan namanya di sini.