Langsung ke konten utama

Melawan Madesu

Eko Hendri Saiful *
Tabloid Seputar Ponorogo, edisi VII 14-20 Feb 2012

Betapa prihatin saya menyaksikan masyarakat negeri ini yang terus hidup dilanda  kecemasan. Di saat kita butuh sosok pemimpin berjiwa mandiri yang mampu menjadi panutan, justru kita disuguhkan oleh  perilaku parasit yang merugikan. Kini orang yang menetap di negeri ini, atau sering disebut sebagai rakyat, tak lebih dari orang-orang yang terus menderita tekanan batin. Hidup dalam ketakutan akan kemiskinan dan penderitaan.

Tidaklah salah jika ada orang menyebut negeri yang berkembang ini sebagai negeri yang terancam madesu (masa depan suram). Negeri yang hidup dalam bayang-bayang paceklik. Akal dan moral. Bayangkan, belum ditemukannya  solusi untuk menutupi utang luar negeri, kini sudah ditambah dengan kasus-kasus sengketa kaum minoritas yang meresahkan. Tak jarang sengketa-sengketa itu berujung pada kematian. Harga sebuah nyawa di negeri ini memang masih dipertanyakan. Yang paling menyedihkan ialah korupsi yang semakin lama semakin  bertambah. Bahkan sepertinya sudah mengakar menjadi sebuah tradisi kokoh bangsa kita. Seperti yang dilukiskan oleh Pramodya Ananta Toer dalam novelnya.

Dalam Korupsi (1954), Pram menyampaikan kritik atas totalitas manusia Indonesia  yang koruptif. Korupsi dalam karya Pram digambarkan sebagi masalah utama yang tak mungkin diselesaikan. Secara terang-terangan, ia juga menuding sumber kebobrokan moral bersumber pada dua hal: uang dan kekuasaan. Ungkapan inilah yang ditanggapi oleh A Teeuw dengan menyarankan masyarakat untuk membaca karya Pramodya setelah Trilogi novelnya: Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, dan Rumah Kaca. Dalam hal ini saya sangat setuju dengan Georeg Well dalam karyanya yang berjudul Animal Farm yang mengambil karakter  hewan sebagi simbol kesombongan, keserakahan, sekaligus sikap koruptif dari manusia, seperti yang digambarkan dalam Novel Korupsi karya Pram

Menanggapi apa yang ditulis Pram, seorang Ilmuan,Yudi Latif (2005), juga pernah meneliti bahwa saat ini korupsi terjadi di semua kalangan masyarakat termasuk kaum intelektual. Kaum intelektual kita mulai tergerus dengan sikap kolonial yang tunduk pada kekuasaan serta melupakan unsur kemurnian keilmuan itu sendiri. Lemahnya imunitas kaum intelektual semakin membuat negara ini berada dalam ancaman buruk pendidikan .Padahal pendidikan merupakan jalan terbaik untuk membentuk masa depan.

Sungguh mengharukan jika kita merenungkan masalah pendidikan, khusunya soal budaya baca. Negara kita menjadi sebuah negara yang termiskin dalam hal budaya membaca di Asia. Penyebabnya beraneka macam. Mungkin dikarenakan ketersediaan buku bacaan yang jumlahnya terbatas. Tau pemerintah yang tak paham arti ilmu pengetahuan. Barangkali juga  disebabkan oleh minimnya kesadaran masyarakat kita akan manfaat membaca.

Sakit hati yang mendalam tentu akan berujung pada sebuah pelampiasan. Saya tidak akan menyalahkan Sony Hutagalung jikalau dia bunuh diri dengan membakar diri di depan Istana Merdeka. Karena memang suda tiada upaya bagi orang miskin (tersakiti) setelah ia bekerja keras dan mengurangi makan, selain ia melakukan bunuh diri.

Mungkin hati Sony sudah terlanjur tersakiti secara mendalam. Mungkin pula, ia membayangkan dalam angan-angannya mengenai sebuah negara yang memiliki madesu, yang hidup atas belas kasih negara tetangga. Atau barangkali Sony juga memahami bahwa suatu ketika negeri kesatuan ini akan pecah menjadi serpihan-serpihan wilayah yang hidup dengan egoisme dan kedaulatan masing-masing. Sony sudah jengkel dengan kasus korupsi.

Namun, ada satu hal yang perlu perlu direnungkan dari kasus Sony Hutagalung. Kalau sikap ini dianggap sebagai suatu sikap yang paling efektif dalam usaha perlawanan terhadap madesu, mungkin Sony salah. Sekalipun ada seratus orang bahkan seribu orang yang melakukan bakar diri ataupun gantung diri masal maka tak akan mengubah situasi yang terjadi. Yang perlu kita lakukan ialah bersama-sama saling intropeksi terhadap kesalahan kita. Jangan sampai kita menyalahkan mereka, namun kita sendiri juga bersalah. Janganlah kita berpikir untuk memperbaiki negeri ini. Karena dimanapun tempatnya kita pasti mengalami kesulitan dalam menemukan ’’bengkel’’ yang bisa memperbaiki atau ’’ rumah sakit’’ yang bisa menyembuhkan luka yang telah mengendap selama puluhan tahun. Dengan jalan apun kita harus membangun kembali bangsa ini dan berusaha melawan madesu.

Sajak-sajak Matsnawi karya Jalaludin Rumi, memang bukanlah  sebuah sajak yang mampu menciptakan perubahan dengan dalam hal pemerolehan kecerahan masa depan. Apalagi melunturkan budaya korupsi yang sudah mendarah daging. Namun, setidaknya membaca sajak-sajak ini kita mampu berefleksi sekaligus memahami sebuah pengaguman pada Sang Khalik yang jika kita waras akan mengeluarkan sebuah energi positif yang mampu menggerakkan kita untuk segera menyelamatkan bangsa ini dari masa depan suram.

Lainnya, Kita harus harus mampu menciptakan kembali budaya baca yang diikuti olek praktek yang bermanfaat bagi masyarakat. Harus ada kesepakatan bahwa seharusnya pendidikan berorientasi pada nilai. Pendidikan tidak boleh sebatas pada transfer pengetahuan dan kehlian personal. Tak kalah penting adalah pengembangan jati diri dan kemampuan mengkritisi dan menularkan nilai dasar bersama, seperti kejujuran, keadilan, kerja keras, kesederhanaan, disiplin, dan kebersamaan. Terpenting adalah toleransi terhadap hak dan kepentingan orang lain. Mungkin ini yang bisa kita lakukan agar kita tidak menjadi sebuah negara yang bermadesu. Atau kita ingin menjadi orang yang hidup dengan bayang-bayang madesu. Silahkan pilih!

*) Eko Hendri Saiful, Penulis tinggal di Perumahan Patihan Kidul.

Komentar

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com