Hidupkan Sastra, Dirikan Warung Apresiasi

Kisah Orang-orang Dekat Gus Dur
Zakki Amali
http://suaramerdeka.com/

KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) telah kembali ke pangkuan Tuhan. Apakah wafat Gus Dur membuat orang- orang dekatnya juga menghilang dari peredaran? Tidak. Mereka antara lain Zastrouw Al-Ngatawi dan Aris Junaidi terus berkarya.

KETUA Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) NU, Zastrouw Al-Ngatawi mengungkapkan, sastra dan budaya merupakan media pendidikan hati dan sosial, sehingga membuat orang peka terhadap kondisi sekeliling.

“Mampu menghaluskan hati dan perilaku ekstrim,” katanya, baru-baru ini. Dalam beragama, kata pria kelahiran Pati ini, orang yang mengenal sastra mampu bersikap arif.

Namun yang membuat perihatin, tak banyak generasi muda yang gigih menekuni sastra hingga moncer. Dalam ingatannya, di Pati sastrawan yang masih eksis dapat dihitung jari, di antaranya yang masih cemerlang berkarya adalah Anis Sholeh Baasyin.

“Sekarang siapa yang mau meneruskan, pendidikan saja belum mengarah ke sana,” paparnya.
Untuk itu, kata dia, sastra dan budaya wajib diajarkan melalui jalur pendidikan yang menyentuh aspek kognitif dan motorik pelajar.

Tergerak atas realitas tersebut, ia membawa gerbong Lesbumi “ngamen” dari daerah ke daerah untuk memberi dukungan pelaku seni dan sastrawan setempat.

Kegiatan terakhir menggelar konser perjalanan religi ke beberapa pesantren dengan mengandeng Iwan Fals.
Sebelumnya, mengandeng Komunitas Mata Pena Yogyakarta menggelar pelatihan menulis kreatif dari pesantren ke pesantren.

Respons santri positif. Melalui kegiatan itu mereka didorong untuk berkarya. “Jadi potensi kalau tidak didorong dengan event kadang terpendam, maka perlu dibuat kegiatan-kegiatan bertema sastra dan budaya,” ujarnya.

Kantong

Ia beserta seniman Ibu Kota, tahun ini, berencana membuat gerakan kantong-kantong budaya di berbagai daerah untuk mengapresiasi sastra dan budaya.

Kantong tersebut serupa panggung hiburan yang menyajikan karya putra daerah yang tidak terakomodasi industri budaya dan sastra. Mereka dapat menampilkan puisi, cerpen, teater, dan film dokumenter. Untuk itu, dia akan mengandeng pakar, salah satunya Alex Komang sebagai kurator film dokumenter.

Daerah yang akan didirikan panggung bernama “Warung Apresasi” itu, di antaranya Pati, Yogyakarta, Wonosobo, dan Barjarnegara. Tidak menutup kemungkinan di kota lainnya.

Jaringan Warung Apresasi yang terpusat di Bulungan Jakarta itu akan menjadi pertukaran budaya daerah yang akhirya menopang budaya nasional.

“Nanti bisa saling tukar film dokumenter dari berbagai daerah untuk diputar dan dipelajari kebudayaannya seperti apa,” katanya.

Potensi penggaran film dokumenter itu tidak kalah dengan industri film yang telah mapan. Sebab, nilai-nilai tentang kearifan dan cerita daerah lebih ditonjolkan sebagai identitas akar sejarah.

“Kami membangun jalur alternatif kebudayaan karena orang sudah jenuh dengan corak industrial budaya dan sastra,” katanya yang kerap mengenakan blangkon dan sorjan itu.

Sementara itu, Ketua Dewan Kesenian Kudus Aris Junaidi mengatakan, perkembangan kesenian di daerahnya akan ditopang dengan pembentukan kantong-kantong budaya baru, seperti di gedung eks Kawedanan Tenggeles dan eks Kawedanan Cendono yang merupakan aset milik Pemkab Kudus.

Tempat tersebut akan dimanfaatkan untuk membangun panggung baru. Selama ini, sudah ada kantong budaya yang menghidupkan kesenian di Kudus, yakni Padepokan Seni Muria Asih (Pasma) dan Olah-Olah Kampung Seni di Desa Dersalam Kecamatan Bae Kudus.

Namun, menurut mantan asisten pribadi KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ini, semakin semarak jika dimaksimalkan dengan potensi daerah.

“Fokus tahun ini adalah pengenalan terhadap siswa SD hingga SLTA tentang kesenian khas Kudus,” ujar Ketua DKK sejak 2010 ini.

Sepanjang 2011, ia menggelar event dengan dana seadanya untuk menggairahkan kesenian, seperti festival dongeng, lomba gegurita, dan pelatihan. Tahun ini, kegiatan yang diangkat, antara lain pengenalan seni lukis.

09 Januari 2012

Komentar