Langsung ke konten utama

Fenomena Komunitas Sastra: Dari Pengunjung Stasiun Senen sampai “Warung” Bulungan

Sihar Ramses Simatupang
Sinar Harapan, 28 Feb 2009

Di areal lapangan yang menghubungkan antara Stasiun Senen dan Gelanggang Remaja Jakarta Pusat, di tengah penumpang kereta api yang ingin pulang dan pergi, di antara pedagang kaki lima, pengamen dan pengemis kota Jakarta, diskusi bertajuk “Sepilihan Puisi Penyair” karya Giyanto Subagio-Kongkow Sastra Planet Senen-Labo Sastra” ini pun digelar. Tepatnya di Plaza Depan Gelanggang Remaja Jakarta Pusat, Jalan Stasiun Senen Nomor 1, Senin (23/2). Pembicaranya penyair Dharmadi dan sastrawan juga pengamat budaya Mustafa Ismail.

Terpal dilebarkan karena pelataran Senen barusan “diserbu” oleh hujan. Areal kosong yang kerap dijadikan lahan parkir itu pun disulap menjadi tempat pembahasan puisi karya Giyanto Subagio. Orang-orang yang berminat dengan dunia sastra, baur dengan para penjaja jualan di Senen dan penumpang kereta di Stasiun Senen yang melintasi areal itu. Tak hanya keramaian, kerumunan, tapi juga keakraban. Wajar jika aktivis teater dan sutradara Teater Kubur, Dindon WS, berkomentar singkat, “Bagus suasana seperti ini, sastra jadi tak eksklusif karena cair dengan publik,” ujarnya.

Darmadi mengulas karya penyair Giyanto Subagio dari tema sosial hingga kemanusiaan. Menurutnya, karya Giyanto sudah nampak nuansa spiritualnya. Sayangnya, menurut Dharmadi, jejak dan posisi kepenyairan tak dapat dibaca hanya dengan sembilan puisi. “Namun, saya coba mengapresiasi. Bila dilihat dari topografi, puisi ini konvensional karena lurus, diksi tak menggunakan bahasa yang rumit sehingga mudah dimengerti dan sederhana, struktur dari rima, irama bunyi sederhana. Tapi bukan berarti tak baik, semua baik, yang penting bagaimana rasa kita indera keenam kita gunakan sebagai mata pisau,” ujarnya.

Mustafa Ismail melontarkan pandangannya. Bagi Mustafa, karya Giyanto yang menyajikan realitas sudah lebih dari cukup. Kata-katanya polos, bahasa sederhana dan mudah dipahami. Bila penikmat puisi menjadikan simbol sebagai standar kemutlakan, menurutnya, tetap saja akan dipertanyakan apakah karya Giyanto “tergolong” puisi. “Kendati simbol tak harus dari kata perkata, tapi bisa berupa bangunan. Bangunan itu yang jadi simbol. Puisinya menjauh dari yang disampaikan, sayangnya dramatik kurang penuh dibangun olehnya,” papar Mustafa.

Salah satu peserta diskusi, yang duduk di atas karpet terpal, menutup tanah taman di pelataran Planet Senen itu, si penyair Akhmad Sekhu dengan suara lantang berujar, “Menurut saya, karya Giyanto lebih bagus pada puisi yang belakangan dia tulis. Lebih terasa spiritualnya. Saya katakan, puisi yang lama itu bernuansa pencarian, sedangkan fenomena itu tak ada di dalam puisinya yang sekarang. Sayangnya, puisi lainnya yang terbaru itu tak disertakan,” papar Sekhu.

Sastra di Bulungan

Serius tapi santai, santai tapi serius. Demikianlah komunitas Sastra Reboan #11 juga memilih tempat di tengah publik, Wapres Bulungan. Lokasi yang biasa disebut wapres ini adalah sebuah warung sederhana dengan panggung kecil yang di sekelilingnya diletakkan meja-meja dan kursi. Areal Wapres yang tepatnya beralamat di Jl Bulungan No 1 Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, ini kerap dijadikan juga sebagai ajang show live band-band indie.

Rabu (25/2) malam, di areal yang letaknya tak jauh dari Gelanggang Remaja Jakarta Selatan ini, diskusi dan apresiasi sastra bertema “Mengucap Cinta” pun digelar. Selain talkshow dan pembacaan puisi oleh selebritas Wanda Hamidah dan dimoderatori Kirana Kejora, ada penampilan lain dari penyair asal Aceh, Fikar W Eda, penyair Johannes Sugianto, Jodhi Yudono & Friends, Orkestra Bocah, Lullaby Band, serta pembacaan puisi Atisatya Arifin dan trio Khrisna Phabicara, Atisatya Arifin dan Kemuning, serta novelis Handoko Zainsam pun ikut mengisi acara.

Momen apresiasi ditutup dengan sajian musik dari Jodhi & Friends (Jodhi Yudono, Tutut, dan Irul) menggulirkan lagu-lagu bertajuk “Buat Harry”, “Mata Air”, dan “Sepasang Daun-Daunan”. Selain itu, ada sajian dari Lullaby Band yang baru pertama kali tampil di Reboan.

Di antara hilir mudik orang-orang Stasiun Senen, di tengah keramaian terminal Blok M, ajang apresiasi seni itu digelar. Bukan sekadar bicara kualitas karya dan kualitas apresiasi, melainkan juga menjadikan sastra dan seni—meminjam kata-kata Dindon WS–tak lagi ekslusif.

Dijumput dari: http://asekhu.wordpress.com/2010/04/19/fenomena-komunitas-sastra-dari-pengunjung-stasiun-senen-sampai-warung-bulungan/

Komentar

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com