Kota Bandung dan Peristiwa Seni

Soni Farid Maulana
Pikiran Rakyat, 27 Des 2008

DIGELARNYA acara “100 Tahun Pa Daeng” oleh Serambi Piraous di Gedung Merdeka Jln. Asia-Afrika Bandung, pameran seni rupa “Window Display” karya perupa Wiyoga Nuhardanto di Selasar Sunaryo Art Space, dan pameran seni rupa “Breakthrough” di Studio Jeihan yang menampilkan karya 47 perupa Kota Bandung, merupakan tiga dari sekian kegiatan seni di bulan Desember 2008 di Kota Bandung. Digelarnya acara tersebut diharapkan bisa memberikan makna yang signifikan bagi perkembangan dan pertumbuhan seni di negeri ini.

Acara 100 Tahun Pa Daeng menjadi penting direnungkan karena dalam konteks yang demikian itu, kita mengenang seorang tokoh yang telah berjasa dalam mencipta angklung modern yang tangga nadanya berasal dari Barat, yakni do-re-mi-fa-so-la-si-do. Inti dari peringatan tersebut bagi kita yang hidup dewasa ini adalah merenungkan kembali makna daya kreatif dalam berkesenian, yakni menciptakan sesuatu karya seni yang berguna bagi nusa dan bangsa. Jasa Pa Daeng dalam dunia pendidikan, khususnya pendidikan seni tidak bisa dilupakan. Oleh karena itu, tidak aneh kalau negara memberikan berbagai tanda jasa dan bintang jasa untuk Pa Daeng.

Berkait dengan hal tersebut, pada sisi yang lain, sepanjang 2008, setidaknya di Bandung digelar 30 pameran seni rupa, baik tunggal maupun bersama. Sementara untuk pertunjukan teater, termasuk monolog di dalamnya digelar 20 pertunjukan. Pertunjukan teater dan pameran seni rupa, termasuk kegiatan seni cukup sering diselenggarakan di Bandung. Sementara untuk kegiatan sastra, tercatat 23 kegiatan. Di dalamnya termasuk acara baca puisi, diskusi sastra, pembagian hadiah sastra, dan peluncuran buku karya sastra.

Data-data yang saya catat dalam laporan akhir tahun ini, berdasarkan pada hasil olah data yang dilakukan oleh Hanif Hafsari Chaeza dari Pusat Data Redaksi HU Pikiran Rakyat Bandung, yang berdasarkan pada hasil liputan dan agenda budaya di suplemen Khazanah. Sementara data lain yang saya dapat dari Disbudpar Jawa Barat, untuk kegiatan seni pertunjukan di Jawa Barat sepanjang 2008 tercatat 98 kali. Peristiwa lainnya masih pada Desember 2008, di Bogor, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata menggelar Kongres Kebudayaan 2008. Lalu di Jakarta, Komunitas Sastra Indonesia (KSI) dan Pemda Jakarta menggelar Jakarta International Literary Festival 2008, yang pembicaranya antara lain datang dari Jepang, Portugal, Prancis, Korea, Singapura, serta Indonesia.

**

TENTU saja kegiatan seni yang berlangsung di Bandung sepanjang 2008 bukan hanya itu. Ada juga festival film pendek, pertunjukan musik, serta kegiatan-kegiatan lainnya seperti pertunjukan tari dan pertunjukan seni tradisional lainnya. Jika kegiatan seni rupa tampak dominan, itu terjadi karena di Bandung pameran seni rupa tidak hanya diselenggarakan di kampus-kampus yang memiliki jurusan seni rupa, tetapi juga diselenggarakan berbagai galeri seni rupa. Galeri yang paling aktif menyelenggarakan kegiatan seni rupa antara lain Selasar Sunaryo Art Space (SSAS), yang telah menginjak usia ke-10 tahun.

Penyair Goenawan Mohamad menyebut SSAS sebagai permata, yang kian tua kian berkilau sinarnya. Berkilau karena SSAS mempunyai peran yang cukup besar dalam menumbuhkembangkan seni rupa di Kota Bandung, baik untuk merangsang daya kreatif para perupa agar lebih bergiat lagi dalam berkarya seni, maupun dalam hal menumbuhkan daya apresiasi siswa dan mahasiswa terhadap karya seni rupa yang digelar di situ.

“SSAS ingin menyumbangkan sesuatu yang berguna bagi perkembangan dan pertumbuhan seni di Kota Bandung, khususnya dalam bidang seni rupa kontemporer. Berkait dengan itu, aspek apresiasi seni sebagai bagian dari dunia pendidikan mempunyai peran yang cukup penting di dalamnya,” ujar perupa Sunaryo, pemilik sekaligus salah seorang pengelola SSAS dalam percakapannya dengan penulis beberapa waktu lalu di tempat tinggalnya, Jln. Dago Pakar Timur, Bandung.

Lepas dari soal tersebut, tampak jelas bahwa berbagai kegiatan seni yang berlangsung di Bandung selama ini lebih banyak diselenggarakan oleh swasta daripada pemerintah. Untuk kegiatan sastra, misalnya, yang bisa dikatakan berskala besar adalah Temu Sastrawan 10 Provinsi, yang baru saja digelar di Lembang, Kabupaten Bandung Barat, pada November 2008. Acara ini sepenuhnya didanai Pemprov Jabar c.q. Disbudpar Jabar. Sementara untuk seni pertunjukan yang berskala bersar adalah “Temu Taman Budaya se-Indonesia”, yang dananya sebagian besar konon dikucurkan dari pusat. Acara tersebut sayangnya tidak dihadiri Gubernur Jabar Ahmad Heryawan, sebagai tuan rumah. Saat itu, Menbudpar Jero Wacik mengkritik habis tuan rumah yang diwakili Kadisbudpar Jabar, H.I. Budhyana, M.Si.

**

KOTA Bandung sebagai etalase budaya di Jawa Barat masih memegang peranan yang cukup penting dalam hal menumbuh-kembangkan seni dan budaya di Jawa Barat. Itu terjadi karena di Kota Bandung tidak hanya ada perguruan tinggi seni, baik untuk seni tradisional maupun seni kontemporer, baik untuk jurusan musik, karawitan, teater, tari, dan seni rupa, tetapi juga karena di Bandung bermukim banyak seniman yang cukup berwibawa dalam bidangnya masing-masing, yang hingga kini masih kreatif dan produktif dalam berkarya seni.

Sayangnya, dalam kondisi yang demikian itu, pemerintah yang seharusnya bijak menanggapi berbagai persoalan yang muncul dalam dunia kesenian di Jawa Barat, sepanjang 2008, pada satu sisi seakan “tutup mata & telinga” dalam menyelesaikan persoalan keuangan yang dihadapi manajemen Gedung Kesenian (GK) Rumentang Siang, sehingga terancam bubar. Bila memasuki 2009, manajemen GK Rumentang Siang benar-benar bubar maka sejarah kesenian di Bandung mengalami masa kelam. Apa pun kelebihan dan kelemahannya, GK Rumentang Siang mempunyai peran yang cukup penting dalam hal menumbuhkembangkan kesenian di Bandung, baik untuk bidang teater, pertunjukan sastra, tari, dan seni-seni lainnya.

“Studiklub Teater Bandung (STB) yang menyejarah itu tumbuh dan besar di Bandung. Mendiang Suyatna Anirun berjasa besar dalam menumbuhkan seni teater di Bandung, yang sebagian besar diproduksi di Gedung Kesenian Rumentang Siang. Bila benar-benar bubar, ini berarti sejarah buram bagi dunia kesenian kita,” ujar penyair Godi Suwarna dalam percakapannya dengan penulis, dalam suatu kesempatan di Gedung Kesenian Rumentang Siang, Jln. Baranang Siang, Bandung. Selain itu, Godi mengakui bahwa dari tangan Suyatna banyak lahir peteater-peteater dari generasi kemudian yang kini sudah malang melintang.

Berkait dengan itu, dalam memasuki 2009, para seniman berharap Pemprov Jabar lebih bersungguh-sungguh dalam membangun kesenian di Bandung. Dalam bidang seni rupa, misalnya, begitu banyak seniman yang mengharapkan Pemprov Jabar maupun Pemkot Bandung mendirikan museum seni rupa berskala internasional. Apa sebab? Karena Kota Bandung dalam sejarah perkembangan dan pertumbuhan seni rupa kontemporer memegang peranan yang cukup penting di dalamnya. Hal itu antara lain dengan berdirinya sekolah seni rupa di ITB, yang dalam perjalanannya kini menjadi Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ITB, Bandung.

“Seharusnya di Bandung ada museum seni rupa, apalagi Kota Bandung diposisikan sebagai gerbang pariwisata Jawa Barat,” ujar Biranul Anas, Dekan FSRD ITB dalam sebuah kesempatan. Untungnya dalam situasi yang demikian itu di Bandung ada perupa yang murah hati, yang mendirikan museum seni rupa kecil-kecilan, apa pun namanya, meski yang dikoleksi di museum tersebut adalah karya pribadi mereka. Selain SSAS, ada Museum Barli, Studio Jeihan, Serambi Pirous, Museum Patung Nyoman Nuarta, dan beberapa tempat lainnya.

Sumber: http://cabiklunik.blogspot.com/2008/12/kota-bandung-dan-peristiwa-seni.html

Komentar