Penyair dan Politikus

Yanuar Yachya
Jawa Pos, 18 Mei 2008

KETIKA eks Presiden Amerika Serikat Richard Nixon dijatuhkan dari kursi panas White House karena skandal Watergate 1974 yang menggetarkan, politikus ini berkata “Politik itu ibarat puisi….”

Selaksa tafsir tercurah dari ungkapan mendadak menjadi bijak dari mulut seorang politikus. Lalu, orang pun bisa meraba ke arah mana ungkapan itu ditujukan. Juga kepada siapa, arah labuh dari ungkapan yang bisa jadi sebuah refleksi kekecewaan itu. Ada sesuatu yang tersirat saat seorang politikus terpaksa berbicara mengenai puisi.

Seperti sebuah pesan, Nixon melontarkan kata-kata itu sebagai garis bawah tebal bahwa ungkapan politik memang menggetarkan, bombastis, penuh kamuflase-dalam lanskap tertentu-tidak harus sama persis dengan kenyataan. Ungkapan singkat itu mungkin tidak bisa diterjemahkan Nixon secara fasih, seperti saat Pablo Neruda, politikus penyair peraih Nobel Sastra 1973 asal Cile yang sukses menerjuni dunia politik berkat kepiawaiannya berpuisi. Namun sejatinya Nixon bisa merasakan getaran-getaran tajamnya kata-kata atau ungkapan puisi.

Jika dicermati, ada insinuasi yang sama dari penganalogian politik dengan puisi. Namun, ada ruang berbeda yang menempatkan puisi dan politik pada pilah-pilah tersendiri. Tapi, sebagian besar memang, politikus lebih senang “berpuisi” ketika melakonkan makna politiknya. Yang ujung-ujungnya tak lain adalah kata kekuasaan. Saat “berpuisi” seorang politikus memainkan kerangka kata-kata dan syair, namun setiap syair dilakonkan secara akrobatik.

Jujur saja, sebenarnya tak gampang untuk menjadi penyair. Tak banyak seseorang yang “rela” mengorbankan dirinya bergelut dengan kata-kata untuk berpuisi, menghujat, memaki, mengkritik, memuji hingga merenung-renung dalam sebuah kontemplasi untuk melahirkan sebuah pemaknaan yang tak jelas tujuannya. Tak sasaran dan targetnya.

Makanya sangat sedikit penyair yang memiliki kekuatan puisi mendalam. Dalam kamus “kepenyairan”, meskipun ada perbandingan antara penyair zaman ini dengan zaman sebelumnya, setidaknya ada kekuatan yang membedakan antara penyair yang satu dengan lainnya jika dilihat dari kekuatan puisinya.

Dibedakan dalam Ilmu Sastra Tiongkok, ada tiga kekuatan chi yang menyelimuti penyair besar, yaitu chi bakat, chi idealis dan chi kata. Kekuatan-kekuatan ini bisa dilihat dari hebatnya penyair sekelas Muhammad Iqbal, penyair Urdu yang menjadi pahlawan besar bagi Pakistan. Atau di Indonesia sendiri ada penyair Chairil Anwar, yang “sekali berarti, sudah itu mati….”

Kekuatan kata-kata yang dihadirkan para penyair itu memiliki instingtif membaca situasi pada zamannya. Larik-larik puisinya begitu sugestif, patriotik dan filosofis. Zaman pada saat dia hidup menjadi jejak rekam dibenak penyair.

Tak berbeda sebenarnya dengan seorang politikus. Mereka merekam setiap jejak atau ruang politik yang ada di sekelilingnya. Bahkan, setiap jengkal napas tetangga dan temannya mereka tafsirkan sebagai tarikan napas politik. Politik ibarat sebuah peta yang berubah kapan saja. Setiap mengamati peta politik di sekelilingnya, seorang politikus harus pandai-pandai mengatur kata-kata, irama, janji-janji yang menggetarkan kawan atau lawan.

Coba cermati dan maknai dendang dikumandangkan WS Rendra ketika memainkan larikan kata-katanya. Begitu menghipnotis penikmatnya. Lalu bagaimana jika dibandingkan dengan manuver-manuver yang dimainkan Gus Dur dan Muhaimin Iskandar, sama-sama menghipnotisnya. Juga ketika manuver itu berada di tangan Amien Rais yang sedang enjoy “bersitegang” dengan SBY-JK. Yang dipisahkan antara manuver WS Rendra dan para politikus itu adalah perbedaan tradisi, namun membangun harmoni yang boleh jadi dipahami secara samar.

Banyak sekali produk-produk politikus yang menguasai segenap liku-liku yang disebut the art of politics. Tak berlebihan memang, jika sekarang, Achmady, bupati Mojokerto itu sedang memainkan puisinya untuk menggamit dua tujuan berbeda tanpa kehilangan harga dirinya. Tarik ulur untuk tetap bertahan sebagai bupati pasca-turunnya SE Mendagri yang memaksa incumbent mundur dari jabatannya jika ingin nyalon, menguatkan asumsi itu. Perlu “puisi” dan kata-kata sakti agar tetap aman sebagai bupati dan lenggang menapak Pilgub Jatim.

Di sisi lain, ada semacam permainan puisi dari politikus lawan jika dilihat dari mendadaknya penerbitan SE Mendagri yang awalnya adem-ayem saja. Siapa yang memiliki chi kuat, dia yang menang.

Atau bisa juga dicermati meradangnya peta politik secara cepat di Jombang. Bagaimana bisa terjadi yang awalnya Suyanto-Fikri tiba-tiba menjadi Suyanto-Widjono atau juga tiba-tiba Nyono-Halim hingga Mundjidah-Ikhsan. Toh awalnya adem-ayem saja. Tiba-tiba ada getaran mengagetkan, manuver-manuver mengejutkan seperti menggelegaknya sebuah “puisi” yang dimainkan politikus-politikus lokal Kota Santri itu.

Insinuasi yang sama juga sudah terasa di Kota Mojokerto yang mendekati detik-detik Oktober 2008. Bagaimana seorang Abdul Gani jauh-jauh hari sudah memancang Noercholis agar tak lari dari kepungannya. Juga bombastisnya hubungan yang diembuskan para politikus lainnya dengan Bachtiar Sukokarjadji sebagai salah satu jago yang dielus-elusnya. Atau juga getolnya Djoni Sudjatmoko yang tiba-tiba menjadi anak muda yang pemberani menerobos peta politik Mojokerto. Mengejutkan dan secara sama membuat penasaran.

Tak heran jika dalam situasi seperti ini, ada tokoh-tokoh politik lebih besar dan lebih cakap dari warna aslinya dengan munculnya manuver-manuver yang amat represif. Citra, berbeda dengan prasangka, adalah sesuatu yang seperti bayangan. Ia seakan-akan menyugestikan sebuah kenyataan dengan bagus dan memikat.

Namun, bagaimana caranya untuk bisa membedakan mana yang sesungguhnya puitis, dan mana yang benar-benar kenyataan, ketika para politikus ini selalu menyembunyikan kelemahan dan menutupinya dengan sifat-sifat unggulan dengan kepiawaiannya bersyair? Pengalaman membuktikan, indahnya puisi hanya bisa dirasakan namun sulit diterjemahkan. Yang terang hak untuk menilai kembali kepada para penonton. Karena tidak semua politikus pintar berkata-kata puitis.

Dijumput dari: http://kotamojokerto.wordpress.com/2008/05/25/penyair-dan-politikus/

Komentar