Langsung ke konten utama

Amien Kamil Menggandeng Iwan Fals dalam Tamsil Tubuh Terbelah

Jodhi Yudono
http://entertainment.kompas.com/

Tujuh orang lelaki bertelanjang dada dengan dupa di tangan bergerak-gerak di tengah panggung. Musik bersuasana belantara pun terdengar, sebelum akhirnya penyair Amien Kamil membaca puisi Membalik Tanah.

Suasana kelabu segera terbangun dengan kibaran bendera di latar belakang oleh seseorang yang hanya nampak sebagai bayang-bayang. Dalam puisi ini, Amien membaca dari balik panggung. Suaranya cuma menjadi ilustrasi bagi tujuh orang yang berada di panggung.

Usai Amien membaca, muncul penyanyi Oppie Andaresta berpakaian kemben, melangkah ke panggung diiringi dua perempuan yang juga berpakaian seperti yang dikenakan Oppie. Setelah melakukan gerakan serupa tarian, Oppie pun duduk lalu membaca puisi karya Amien berjudul Belajar Menjadi Manusia.

Oppie silam, barulah Amien muncul di panggung seraya berputar-putar membawakan Metamorfosis. Begitulah, berturut-turut Amien pun terus membaca puisi karya-karyanya. Sayang, pada tiap akhir bacaannya, penyair kelahiran Jakarta 44 tahun lalu ini tak memberi kesempatan kepada penonton yanag memadati Teater Kecil untuk menghormatinya dengan tepuk tangan. Baru di akhir acara, terutama saat ia membaca puisi Tamsil Tubuh Terbelah, Amien berhasil mencairkan suasana dengan gestur tubuh dan ekspresi wajahnya yang komedikal. Penonton pun bertepuk gemuruh buat Amien.

Amien yang dalam pembacaan puisi yang berlangsung di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta yang berlangsung 22-23 Februari 2008 membawa beberapa penampil, tampak benar cukup repot mengendalikan irama permainan. Bahkan saat ia membaca puisi Metamorfosis yang ia dahulu dengan gerakan berputar-putar, Amien sempat blank lantaran tak berhasil menemukan kata-kata yang harus ia baca pada buku yang ia pegang.

Kehadiran Iwan Fals yang menyanyikan dua puisi Amien (Merekam Musim Gugur dan Puisi Merah Jambu) tak menghasilkan jejak baru bagi musikalitas Iwan yang mencoba bersentuhan dengan puisi. Beberapa penampil lain yang cenderung berlama-lama di panggung, ternyata malah rada membiaskan acara pokok: Amien Kamil membaca puisi.

Jika dalama pementasan Amien dipenuh dengan warna dan juga beragam bentuk tampilan, hal ini memang sesuai dengan janji Amien sebelum pementasan bahwa ia akan menampilkan kolaborasi seni multi-media yang menyampaikan interpretasi berbeda dari sejumlah puisi Antologi milik Amien yang terpilih menjadi 10 buku puisi terbaik dan berhak menjadi nominator Khatulistiwa Literary Award 2007.

Pertunjukan ini merupakan eksperimentasi dan eksplorasi seni yg menghadirkan unsur audio visual berupa komposisi musik bunyi, orkestrasi cahaya dan sapuan warna perupa, juga ensamble ritmis gerak aktor serta olah vokal penyanyi tersaji dalam sebuah pertunjukan kolaborasi seni multimedia.

Sebuah impresi dan ekspresi dari berbagai disiplin seni menjadi bangunan pertunjukan, di dalamnya hadir keanggunan dramatika kata-kata, misteri bunyi dan atmosfir metafisika.

Pada penampilan hari pertama, Amien Kamil didukung oleh penyanyi Oppie Andaresta, Iwan Fals, Toto Tewel, Irawan Karseno, nDjagong Perkusi, Yohannes Sucihandono, Aidil Usman & Republic of Performing Arts.

Riwayat keaktoran Amien Kamil, dia sempat bergabung dengan Bengkel Teater Rendra. Pada tahun 2003-2005 berkolaborasi dengan penyair Jerman, Brigitte Oleschinski. Pentas multi-media di Festival Puisi Berlin, Koln, Bremen dan Hamburg. Juga International Literature Festival "Letras Del Mundo" di Tamaulipas-Tampico, Mexico.

23 Februari 2008
http://entertainment.kompas.com/read/2008/02/23/07034155/amien.kamil.menggandeng.iwan.fals.dalam.tamsil.tubuh.terbelah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mencari Indah dalam Buruk Rupa Dunia

Judul Buku : Cala Ibi
Penulis : Nukila Amal
Penerbit : Pena Gaia Klasik
Cetakan Pertama : April 2003
Tebal : 271 Halaman
Peresensi: Askolan Lubis
http://www.sinarharapan.co.id/

Petikan kalimat diatas diucapkan oleh Maia dalam fragmen terakhir (Surat dan Tanda Terakhir) dari novel Cala Ibi yang ditulis Nukila Amal ini.

Kalimat tersebut seolah hendak menegaskan tantang keberadaan karya ini: di tengah centang perenang realitas keseharian yang menyesakkan, Cala Ibi datang menyenandungkan irama lain yang teramat indah, namun acapkali dianggap tidak penting, yaitu mimpi.

Dengan memberi judul Cala Ibi (Naga)—yang tak lain adalah nama hewan agung lambang para kaisar Cina—pada novel ini, Nukila tampaknya hendak memberi tempat terhormat pada dunia bernama ”mimpi”.
Bagaimana tidak? Naga adalah hewan yang diyakini adanya, tapi tak seorangpun yang bisa memastikan atau melihat wujudnya.

Anehnya lagi, ia bukan sejenis reptil, tapi seperti ular. Bukan burung tapi bersayap dan bisa terbang. Bukan ikan, tapi bers…

POTRET MANUSIA MARJINAL DALAM CERPEN-CERPEN JONI ARIADINATA*

Maman S. Mahayana**)
http://mahayana-mahadewa.com/

00. Sastra adalah dunia yang serba mungkin; apapun bisa jadi mungkin (probability), termasuk di dalamnya, yang mustahil pun bisa saja menjadi mungkin. Jadi, dalam keser-bamungkinan atau kemustahilan itu, berbagai peristiwa yang mungkin dan yang mustahil, bisa saja terjadi sekali-sekali, gonta-ganti atau serempak secara tumpang-tindih. Oleh karena itu, salah satu kekhasan karya sastra (fiksi) yang sering dimanfaatkan untuk mem-bedakannya dengan karya nonfiksi adalah adanya kebolehjadian (plausibility) itu. Itulah sastra! Ia bisa menampilkan dunia yang realistik dan masuk akal secara meyakinkan. Na-mun, ia juga dapat menampilkan hal yang sebaliknya. Di sana, mungkin ada dunia jung-kir-balik, irasional, dan amburadul. Semua boleh saja terjadi, dan itu sah! Tidak ada rumus yang pasti yang berlaku universal. Selalu saja ada yang khas, unik, dan nyeleneh. Selalu ada saja kekhasan individual, meskipun ciri atau sifat-sifatnya, mungkin berlaku …

Sastra Indonesia Mutakhir: Jejak Historis dan Kecenderungan Estetiknya

Jamal T. Suryanata
http://tuasmedia-2.blogspot.com/

/ 1 /

Memperbincangkan ihwal sastra Indonesia mutakhir, sebagai suatu tema besar, tentu saja bukan sebuah persoalan yang tanpa risiko. Di samping karena begitu luasnya cakupan pengertian “sastra Indonesia” itu sendiri, juga dilantarankan oleh ketakrifan istilah “mutakhir” yang digunakan dalam judul tulisan ini memang cenderung bermakna bias (baca: bersifat deiktis).