Langsung ke konten utama

Dampak Politisasi Pendidikan

Ahmad Fatoni
http://www.jurnalnet.com/

Jurnalnet.com (Malang): Belakangan ini, dunia pendidikan kita disorot banyak kalangan, karena sering kali menjalankan sesuatu yang tidak jelas orientasinya. Pendidikan kita melalui berbagai kebijakannya belum menjelaskan ke mana anak didik akan dibawa dan akan dibuat seperti apa.

Diakui atau tidak, pendidikan kita belum membawa anak didik pada kesadaran akan dirinya sendiri sebagai manusia yang berpikir untuk merdeka. Berpikir merdeka berarti peserta didik sejak awal dilatih memiliki wawasan yang luas mengenai realitas.

Langkah tersebut tentu membutuhkan proses pendidikan yang harus didukung dengan kebijakan pemerintah yang dapat melatih kepribadian anak didik. Sayangnya, hingga kini pendidikan dipolitisasi dan dimanipulasi sedemikian rupa untuk mengabdi pada kepentingan penguasa. Kebijakan mengenai ujian nasional, salah satu contohnya.

Tampak dunia pendidikan kita masih dipenuhi kemunafikan, karena yang dikejar hanya gelar dan angka. Bukan hal mendasar yang membawa peserta didik pada kesadaran penuh untuk mencari ilmu pengetahuan dalam menjalani proses kehidupan. Ini tidak terjadi di Indonesia sebab pendidikan semata-mata dipahami hanya sekadar alat mencari kuasa.

Pendidikan di negeri ini tidak saja mencerminkan sejauh mana proses transformasi sosial telah berhasil, melainkan juga menunjukkan baik buruknya tampang sang penguasa. Sebab, para penguasa yang duduk dalam pemerintahan sering kali campur tangan lewat kebijakan-kebijakannya untuk mengelola pendidikan.

Justru di sinilah mula-mula persoalan terjadi. Sebagai instrumen, pendidikan kerap dijadikan alat kekuasaan yang ditujukan untuk mengelabui publik lewat gelar-gelar yang dijadikan prestise semu. Kenyataannya, pendidikan kita tidak pernah jujur di dalam mengajarkan nilai-nilai kebenaran karena pelaksanaan ujian, misalnya, hanyalah sebuah formalisme belaka.

Lalu nilai dan hasil ujian kalau tidak tampil sebagai simbol tanpa makna, juga sesuatu yang bisa dikalkulasi dari luar konteks ujian atau evaluasi itu sendiri. Akibatnya murid bermutu yang sudah bekerja keras menjadi korban. Ritual kebohongan seperti ini terus diulangi dengan cara mencari argumentasi pembenaran yang ujungnya adanya proyek ujian (secara) nasional.

Lantas, guru menjadi penguasa tunggal di kelas dan pemerintah menjadi penguasa yang menguasai sepenuhnya lembaga pendidikan. Dampaknya pada proses pendidikan yang terus-menerus terpuruk karena hanya mengikuti perintah. Terutama yang menyangkut kualitas moral, tidak pernah ada evaluasi serius.

Perubahan yang tampak hanya berkaitan dengan penggantian menteri pendidikan dan sebatas itulah yang bisa dilakukan pemerintah. Sistem pendidikan kita hanya mengandalkan cara berpikir yang bermuatan kurikulum, bukan pada pembentukan karakter anak didik. Bukan masalah kurikulum tidak penting, tetapi cara pandang ini akan membuat pendidikan terlepas dari realitas sosial karena anak hanya didoktrin belaka.

Inilah yang membuat bangsa ini terpuruk karena tidak mau belajar mendidik dirinya sendiri. Bangsa ini belum mau menyadari pendidikan merupakan bagian dari proses pembelajaran untuk menjadi diri sendiri yang otentik. Pendidikan tidak pernah menyentuh hal yang substansial karena dikelabui hal-hal yang sifatnya semu.

Tak pelak, pendidikan selalu dijadikan pertarungan politik abadi. Dan, di balik itu semua ada keresahan yang mendalam karena pendidikan cuma dijadikan alat politisasi. Terlebih, peserta didik mengalami frustrasi sosial amat parah sebab mereka tidak memperoleh hak untuk mendapatkan pengetahuan yang selayaknya.

Berangkat dari keresahan itulah, Benny Susetyo seolah ingin menegaskan kepada kita bahwa pendidikan kita telah gagal. Kegagalan itu, menurutnya, tak perlu diratapi, namun hendaknya direfleksikan agar tidak terulang lagi di masa mendatang.

Melalui buku Politik Pendidikan Penguasa, penulis juga mengajak kita merunut problem-problem pendidikan yang berjibun jumlahnya, mulai soal anggaran, kesejahteraan guru, hingga paradigma yang keliru, yang banyak dianut pengambil kebijakan dan praktisi pendidikan di lapangan.

_____________22/12/2005
*) Ahmad Fatoni, pengajar Universitas Muhammadiyah Malang

Komentar

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com