Antara Rumah dan Kebun

Han Gagas
http://www.lampungpost.com/

AKU terbangun di tengah malam oleh rasa lapar. Perut yang melilit dan keroncongan telah mengalahkan kantukku yang berat. Sebungkus mi instan mulai aku siapkan tapi tercium bau harum menusuk hidung menghentikan aktivitasku. Bau seperti bunga mawar, atau melati, tapi juga mirip harumnya kantil. Ahh, bukankah ketiga kembang itu adalah bunga ziarah. Hatiku berdesir.

Bau itu bertambah menyengat hidungku. Halaman tak ada tanaman bunga, cuma bonsai beringin dan asam yang kubawa tadi pagi dari kontrakan. Mungkinkah bau ini berasal dari kebun itu? Tubuhku bersiaga. Kuhentikan ujung jariku yang hendak menyobek bungkus mi. Segala inderaku memeka. Terdengar dericit serangga garengpung dan desis kipas angin yang berputar, selebihnya hanya kesunyian belaka.

Bukankah angin serasa mati, kalau benar dari kebun, dengan apa bau itu bisa terbawa hingga kemari? Apakah sebuah bau bisa melayang di rongga udara tanpa sedikit pun angin meniupnya. Kipas angin yang berputar tampaknya tak akan bisa menjangkau sampai kebun itu, bahkan halaman pun tidak.

Kakiku melangkah dengan pikiran yang waspada menuju jendela pintu utama. Dari sana segala yang ada di muka rumah bisa tampak lebih jelas. Langkah demi langkah kugerakkan dengan keberanian kelu untuk mengalahkan sesuatu yang menakutkan yang melintas di benakku. Dan, nyaliku ternyata tak cukup berani untuk melihat apa yang terjadi.

Aku menghidupkan televisi agar ada perasaan ditemani. Iklan produk memorak-porandakan suara-suara tadi; dericit garengpung dan kipas angin yang mendesis. Ketika aku meninggalkan kamar tadi, istriku tidur dengan bayi kami yang melingkar di perutnya. Sebenarnya tidur bayi itu gelisah tapi kipas angin yang berputar dan irama tepukan tangan di pantatnya membuatnya jatuh tertidur lagi. Sedangkan istriku, tampaknya ia juga gelisah, dan wajahnya pucat, hanya karena kelewat kelelahan membuatnya bisa jatuh tertidur. Seharian pindahan dan membereskan segala sesuatu membuat tubuhku juga pegal-pegal. Tapi bukan kelelahan itu yang menjadi persoalan. Siapa pun mestinya merasa bahagia dan berpengharapan baik ketika menempati rumah baru, tapi kami, tiada rasa yang meliputi selain waswas dan perasaan aneh.

Suara televisi yang mengusir kesunyian menebalkan nyaliku. Kakiku kembali melangkah, jengkal demi jengkal menuju kusen jendela. Dengan ujung jari kusentuh tepi korden putih ini-korden pemilik rumah lama yang terasa kasar di jariku. Aku hendak membukanya tapi hatiku kembali berdesir. Bau harum bunga kembali menusuk, lebih keras, sepertinya seluruh ruang tamu ini diisi begitu wangi oleh bau itu.

Sehabis magrib tadi aku mengunci pintu utama, lalu membuka korden itu dan melongokkan kepala untuk memastikan apakah pagar rumahku sudah terkunci atau belum. Dari sudut itu, latar belakang pagar itu dengan jelas tergambarkan. Seruas jalan desa, dan dibaliknya menghampar kebun yang luas dengan pohon-pohon yang campur aduk: mahoni, waru, jati, mangga, dan lamtoro. Sebagian menjulang terlalu tinggi hingga melampaui kabel listrik di jalan. Gelap membias, dengan bayang-bayang pohon yang meraksasa. Aku berdoa: semoga malam pertama ini terlewati tanpa sesuatu yang menakutkan.

Kini, aku khawatir akan menemukan hal berbeda di kebun itu. Ada kabar mengerikan tentangnya yang aku dengar, tapi aku mengacuhkannya saat itu karena harga rumah ini begitu cocok dengan kocek kami yang tipis. Aku pegawai rendahan yang keuangannya harus dibantu istriku dengan menjahit. Hidup di zaman sekarang harus dihadapi berdua sambil mengetatkan ikat pinggang, agar terus bisa berjalan tanpa harus berutang pada rentenir.

Kami mencari rumah yang cocok sudah terlalu lama. Tiga bulan lebih ke sana kemari dibawa makelar-makelar tanah yang menganggapku daging empuk. Juga memeriksa iklan di koran lokal. Semuanya nihil. Kelewat mahal. Mungkin kami bisa membelinya dengan menjaminkan SK pengangkatan pegawaiku tapi aku tak bisa berpikir lagi bagaimana mencukupi kebutuhan sehari-hari dengan gaji yang dipotong hampir tiga perempat. Apalagi ASI istriku sudah tak keluar, susu formula demikian mahal, dan bayiku termasuk anak yang rakus pada susu itu.

Sungguh pilihan yang sulit manakala aku menemukan rumah ini yang sangat murah dan terjangkau-rumah petak dengan satu kamar, ruang tamu, dapur, dan kamar mandi-tapi lengkap dengan kabar kebun itu yang mencengangkan. Seorang makelar menerangkannya disertai Pak RT yang rumahnya agak jauh dari tempat ini.

“Banyak yang melirik rumah ini tapi setelah mendengar cerita tentang kebun itu maka para calon pembeli mengurungkan niatnya. Sebenarnya itu bukan hal yang gawat, yang penting kita percaya dan yakin sama Tuhan, bukankah begitu, Pak RT?” Makelar itu meyakinkanku tapi dengan nada yang ragu. Matanya memohon persetujuan Pak RT.

Pak RT hanya manggut-manggut saja sambil tersenyum samar.

“Sebagai makelar saya harus menceritakan ini karena orang membeli rumah tidak hanya beli bangunan dan tanah tapi juga lingkungan. Saya tak mau dibilang bohong karena menutupi sesuatu.” Wajah makelar tampak serius dengan mata bulat-bulat seperti dibuat-buat.

Pak RT manggut-manggut lagi. Aku terbawa juga, ikut manggut-manggut.

Cerita itu aku simpan sendiri. Kueram di dada. Aku tahu betul sifat istriku. Ia amat takut dengan hantu, segala cerita, bahkan pada hantu guyonan atau hantu pura-pura yang sering ditampilkan di televisi. Sungguh ia akan segera memindah gelombang atau mematikan televisi itu dengan kesal.

Aku memutuskan membeli rumah itu tanpa menceritakan kisah kebun itu pada istriku. Hidup di kontrakan sangat menderita, tak punya privasi, dan pemilik rumah selalu bertindak seperti raja. Minta dituruti, dihormati, dilayani. Sungguh menyebalkan. Lagipula kontrakan itu sudah tak bisa diperpanjang lagi. Mencari kontrakan lain juga tak mudah. Apalagi uang tabungan kami sudah terkumpul lumayan, bila tidak segera digunakan bisa tercecer-cecer lagi. Dengan alasan-alasan itu pula istriku menyetujui, manut katanya.

Esoknya kami segera pindahan, menyewa mobil pikap untuk mengangkut barang-barang. Ketika kami menurunkan barang di halaman rumah baru, seorang tetangga datang. Aku merasa bakal ada sesuatu yang tak biasa. Sial. Perempuan muda itu terlalu banyak bercerita, mencerocos tanpa henti, seperti kran yang airnya mengocor.

“Wah, ibu adalah perempuan paling berani yang saya kenal,” lanjut tetangga itu dengan ramah, namun segera menyengat instingku.

“Kenapa?” sahut istriku.

“Lho, ibu belum tahu ceritanya?”

Istriku mengerenyit. Ia menggeleng. Aku hendak segera mencegah obrolan itu tapi tangis bayi di gendonganku menghentikan langkahku. Kupanggil istriku tapi ia diam saja. Aku segera berlari ke arah mereka, tapi…

“Ibu tak tahu bahwa kebun itu dulunya adalah tempat pembuangan bayi-bayi hasil aborsi. Dan rumah ini adalah milik bidan keparat itu. Kami telah mengusirnya pergi. Setiap ada yang menempati rumah ini, bayi-bayi itu seakan hidup lagi menuju rumah ini menuntut bidan itu agar nyawanya dikembalikan.”

Tenggorokanku tercekat. Kata-katanya kelewat cepat keluar. Paras istriku berubah drastis. Menjadi pias, tanda ia amat ketakutan.

“Kenapa ibu bicara begitu!” sergahku kasar.

“Maaf, Pak.” Ia buru-buru pergi.

Tubuh istriku bergetar. Kuiringkan langkahnya menuju sofa, dan mendudukkannya. Bayi kami terus menangis, karena tangisan ini ia tak terlalu menuruti perasaan takutnya. Namun, pandangannya kini beralih ke kebun itu, dan rumah ini, wajahnya bertambah pucat. Aku segera mengambil segelas air putih, dan ia meminumnya dengan lekas.

Perasaan menyesal mengganggu pikiranku. Aku mendekati istriku yang kini dilanda kemarahan. Wajahnya yang pucat berangsur memerah.

“Ini soal besar, Mas! Tapi kau tak berterus terang padaku.” Dadanya berguncang, matanya berlelehan.

“Aku minta maaf. Tapi kau tahu, kan keadaannya. Keuangan kita, tak ada rumah yang murah di zaman sekarang dan pemilik kontrakan sudah menyuruh kita pergi. Kita punya iman.”

Istriku diam, sesenggukan.

“Semua telah aku bayar lunas dengan uang kita.”

“Kita jual lagi. Kita pindah saja!”

“Kita yakin sama Tuhan. Orang mati tak bisa mengganggu hidup kita, kalau mengganggu, Tuhan yang melindungi.” Kata-kata itu menusuk jantungku sendiri. Lebih terasa itu untukku.

Istriku duduk sesenggukan, kakinya ditekuk berpeluk pada lutut. Aku memeluknya. Ini tangisan terlamanya. Perlahan dadaku ikut terguncang. Apakah aku terlalu memaksakan diri terhadap pilihan ini?

Senja memerah menyapu halaman rumah. Kutatap kebun itu, merahnya senja juga menghampar di sekujur tubuhnya. Menerobos dahan dan daun juga rumpun ketela. Sepi tak ada orang melintas. Ruas jalan ini buntu, di ujung sana adalah tepi sebuah sungai. Gelap hampir turun, langit mulai kelam, kami terus berpelukan, menguatkan satu sama lain, bayi kami sedang pulas di dipan itu. Sepertinya karena bayi kami yang pulas itulah yang memompa nyali istriku. Malam telah memerangkap semuanya. Tak bisa tidak, malam ini harus tidur di sini. Aku meyakinkan istriku dengan doa yang khusyuk.

Malam pertama di tempat baru membuat kami tak bisa tidur seperti biasanya. Bayi kami tampak gelisah, juga istriku, tapi keterpaksaan ini kami jalani dengan sepenuh doa. Akhirnya karena kelelahan pindahan, kami bisa jatuh tertidur.

Lampu tiba-tiba mati! Gelap. Aku tergeragap. Mataku memicing. Keadaan yang semula berisik oleh suara televisi mendadak hening hanya ada suara dengkur istriku yang berkelindan dengan dericit garengpung. Untung istri dan anakku tak terbangun karena gelap ini. Ujung jariku masih memegang korden ini. Pikiranku beralih hendak mencari lampu senter tapi terdengar suara dari luar yang mengagetkanku. Jantungku berdetak kencang, kulitku memeka, merinding.

Terdengar dengan jelas suara seperti langkah kaki yang diseret. Dan, tercium bau busuk yang sangat menyengat. Seperti bau bangkai. Di manakah bau harum tadi?

Kakiku terpaku di tempat. Ujung jariku kaku memegang korden. Tak bisa digerakkan. Muncul tawa cekikikan anak-anak kecil di luar. Tanganku gemetar. Jantungku copot!

Suara langkah terseret makin dekat…

Aku hendak berdoa, tapi lidahku kelu. Tenggorokanku tercekat!

Terdengar suara menyayat-yayat, memilukan. Isak tersedu.

Aku hanya bisa membatin esok akan menziarahimu dengan bunga tiga rupa itu: mawar, melati, dan kanthil.

Solo, 5 Mei 2010

———–
Han Gagas, cerpennya dimuat sejumlah media massa nasional dan daerah. Anggota redaksi buletin Pawonsastra Solo. Buku kumpulan cerpennya Jejak Sunyi (2008).

Komentar