11/10/11

Puasa di “Lembur” Ahmad Bakri

Deni Ahmad Fajar*
Pikiran Rakyat, 20 Sep 2008

AHMAD Bakri (1917-1988) adalah satu dari sedikit sastrawan Sunda yang produktif. Ahmad Bakri juga tercatat sebagai pengarang Sunda favorit. Humor segar yang dibangun dengan bahasa yang lancar jadi ciri khas karya-karya Ahmad Bakri. Bisa dikatakan tidak ada karya Ahmad Bakri yang luput dari bumbu humor. Tentu humor bukan satu-satunya kekuatan pengarang kelahiran Rancah Ciamis ini.

Yang menarik, Ahmad Bakri juga banyak menulis dengan setting waktu bulan Puasa atau Ramadan. Karya Ahmad Bakri dengan setting seperti itu bisa ditemukan pada “Srangenge Surup Manten” (1968), “Ki Merebot” (1987), “Payung Butut” (1989), dan “Saudagar Batik” (2004). Tentu bukan hanya Ahmad Bakri yang menulis cerita dengan setting bulan Puasa, dan juga banyak ditemukan pada carpon (carita pondok/cerita pendek) Ahmad Bakri. Misalnya, “Bedug ti Nagri Ajrak” dan “Lebaran Poe Jumaah”. Carpon “Lebaran Poe Jumaah” dan tiga carpon lain yang ber-setting bulan Puasa, kemudian dikumpulkan dalam “Ki Merebot”. Hebatnya, setting bulan Puasa pada karya Ahmad Bakri tidak sekadar tempelan untuk membangun cerita. Pada beberapa buku, Ahmad Bakri seperti sengaja ingin membedah sampai bubuk leutik mengenai bulan Puasa di pilemburan. Paling tidak bulan Puasa di pilemburan yang diketahui dan dialami sendiri oleh Ahmad Bakri.

Akan tetapi, bukan berarti kita tidak bisa menemukan pituah atau ajaran dari karya-karya Ahmad Bakri yang ber-setting bulan Puasa. Pada “Ki Merebot” yang telanjur “dicap” sebagai cerita humor itu, kita bisa menemukan ajaran (agama Islam) di dalamnya. Karena dibungkus dengan humor yang cair, pituah yang ada pada karya Ahmad Bakri tidak kaku (ini adalah kelebihan Ahmad Bakri lainnya). Meminjam istilah Acep Zamzam Noor, di tangan Ahmad Bakri, pituah, ajaran, atau tema-tema keagamaan sering tampil dengan santai dan kadang terkesan main-main,misalnya, urang pilemburan pada zaman baheula, menandai datangnya waktu buka puasa hanya dengan melihat kelelawar keluar dari sarangnya. Bagaimana pula gemparnya urang Lembur Cilamping ketika mengetahui hari Lebaran tepat pada hari Jumat. Lebaran pada hari Jumat bagi urang Cilamping dipercaya akan mengundang harimau hanya karena pada hari yang sama ada dua khotbah, yaitu khotbah Idulfitri dan khotbah Jumat (dalam “Ki Merebot”).

Bisa jadi semua itu hanya rekaan, tapi sangat mungkin seperti itulah alam pikiran urang lembur baheula yang dialami yang kemudian dicatat Ahmad Bakri lewat karya-karyanya.

Pada beberapa karya lainnya, seperti pada “Payung Butut” misalnya, digambarkan bagaimana kebiasaan masyarakat berkirim makanan kepada orang-orang di masjid seusai menunaikan salat Tarawih atau mereka yang menggelar tadarusan. Tidak lupa pula digambarkan bagaimana gegeden (tokoh masyarakat seperti digambarkan lewat Bapak Naib) memberi tanda datangnya waktu beduk Magrib hanya dengan mengangkat tangan sehingga satu saat terjadi kecelakaan, anak-anak muda yang sedang menunggu waktu buka puasa di teras masjid langsung memukul beduk karena melihat Bapak Naib mengangkat tangan. Padahal, waktu buka puasa masih setengah jam lagi. Sementara waktu itu, Bapak Naib mengangkat tangan hanya untuk mengusir ayam yang masuk ke halaman rumahnya.

Seiring perubahan zaman, apa yang digambarkan Ahmad Bakri tentang semua hal yang terjadi pada bulan Puasa di pilemburan zaman dulu, tentu akan sulit ditemukan sekarang ini. Kalaupun masih ditemukan, tentu tidak seradikal apa yang ditulis Ahmad Bakri lewat karya-karyanya. Pada titik ini, tidak berlebihan bila karya-karya Ahmad Bakri yang ber-setting bulan Puasa, telah lahir sebagai dokumentasi tentang apa-apa yang hilang dari kehidupan urang lembur pada zaman baheula dalam “mengisi” bulan Puasa. ***

* Deni Ahmad Fajar, Anggota kelompok diskusi budaya Rawayan.
Dijemput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2008/09/puasa-di-lembur-ahmad-bakri.html

Tidak ada komentar: