Langsung ke konten utama

Perempuan Menggoda Seni

Binhad Nurrohmat
http://www.sinarharapan.co.id/

Misalkan tak ada tubuh perempuan di dunia ini, nasib seni pasti tak seperti saat ini keadaannya. Citra molek dan sensualitas tubuh perempuan telah menyulut api ilham dan merangsang gagasan penciptaan karya seni di berbagai titik ruang dan masa. Banyak karya agung berupa patung dan lukisan berobjek tubuh perempuan sintal dan seksi, film dan musik legendaris menampilkan sosok cantik-menawan dan desahan lembut perempuan, dan sastra pun tak tahan menolak godaan citra dan tubuh perempuan yang kerap terasa begitu luhur dan magis itu.

Apa boleh buat, dalam budaya masyarakat yang laki-laki ini, aroma dan jejak sensualitas sudah kadung melekat dan dihegemoni oleh citra dan tubuh perempuan sejak berabad-abad silam. Perempuan telah menjadi mitos dan legenda hidup yang merajai imajinasi umat manusia sampai hari ini.

Figur perempuan semakin menyesaki layar televisi dan majalah. Tubuh, senyum, geraian rambut, dan raut wajah perempuan yang menggairahkan mejeng bertahun-tahun di papan-papan iklan seluas lapangan badminton yang berjajar di pinggir jalan-jalan besar. Boleh dipastikan, semua itu dilakukan juga demi alasan seni. Seni membuat kita dipaksa mengerti dan mafhum terhadap tindakan dan upaya reka-bentuk itu yang sebelumnya sulit diterima nalar maupun pandangan moral umum.

Seni semestinya berterima kasih kepada perempuan karena telah banyak berhutang kepada citra dan tubuh perempuan sebagaimana orok yang menetek kepadanya. Jika boleh mengiaskan dengan psikoanalisis Sigmund Freud, citra dan tubuh perempuan itu semacam libido yang banyak menentukan bentuk, pikiran, maupun tindakan seni. Atau, barangkali pandangan sosiologis, biologis, filosofis, maupun mitologis tentang perempuan sebagai sosok ibu yang terus-menerus menjaga kelestarian silsilah spesies manusia di muka bumi ini juga telah menjadi atau setidaknya memengaruhi alam pikiran bawah sadar kolektif dan mendasari dorongan penciptaan seni selama ini.

Barangkali juga latar penciptaan cerpen-cerpen Teguh Winarsho AS dalam kumpulan Tato Naga (2005) tak terhindarkan dari pengaruh citra dan tubuh perempuan itu. Teguh berjenis kelamin lelaki, maka biarkanlah jika dia berhasrat kepada perempuan, toh itu perbuatan normal belaka. Tapi jika memang ada kesejajaran atau kesamaan modus antara godaan biologis lelaki kepada tubuh perempuan dengan godaan artistik lelaki kepada tubuh perempuan, bagaimanakah cara mengukurnya?

Secara tekstual, dunia cerpen Teguh menghadirkan, memosisikan, dan menasibkan tubuh perempuan sedemikian rupa sehingga setidaknya dapat diukur secara biologis maupun sosiologis. Dunia cerpen Teguh tak menempatkan tubuh perempuan secara filosofis maupun mitologis. Tubuh perempuan hadir secara biologis dalam hubungan-hubungan sosial sehari-hari yang konkret, sederhana, maupun ruwet.

Tak ada pencanggihan untuk membangun karakter tertentu. Teramat realis dalam segenap kelembutan dan keseronokannya. Dunia cerpen Teguh mengumbar realisme-aksional dalam hubungan lelaki-perempuan maupun alam pikiran tokoh perempuan, yang masih bisa terasa lazim maupun malah sudah menyimpang secara seksual maupun sosial. Dunia cerpen Teguh berlatar lingkungan masyarakat udik yang terpinggirkan.

Cerpen “Menari Srinti” (2002) menggambarkan sikap lugu seorang perempuan yang menjadi langganan kencan gelap lurah di kampungnya sendiri. Ada ironi dalam urusan tata krama hubungan maupun sikap sosial masyarakat udik terpampang gamblang di sini. Gadis Srinti yang kedapatan bunting tiga bulan dan dia kikuk untuk mengabarkan kenyataan itu kepada lurah yang telah membuahinya supaya menanggung hasil perbuatannya itu.

Setelah tahu, lurah malah memaksa Srinti aborsi. Bukankah tugas adminitratif lurah mengayomi warganya, termasuk kesucian warga gadisnya? Inilah contoh watak dan nafsu kekuasaan yang mampu membungkam atau setidaknya menunda naluri keterusterangan dan keterbukaan objek yang berada di bawah kekuasaannya.

Dalam cerpen itu, perempuan merasa menjadi korban lelaki dan kekuasaan. Sebaliknya, dalam cerpen “Perempuan Suci” (2003), ada Maisesa, seorang pelacur yang bunting di luar nikah dan memiliki anak tanpa suami. Maisesa, yang merasa sebagai perempuan suci itu, tak merasa hancur harga dirinya. Dia malah bangga meski orang-orang di kampungnya habis-habisan menghina dia. Pelacur itu melahirkan anak haram bernama Gandring. Dia menolak tawaran orang yang mau membeli Gandring. Setelah Gandring bertumbuh menjadi lelaki tampan yang memikat banyak perempuan, Maisesa tak rela ada orang lain merebut tubuh maupun cinta Gandring. Dia bernafsu kepada anaknya itu. Maisesa ingin memiliki Gandring seutuhnya, dan bahkan menidurinya.

Maisesa merupakan simbol perempuan yang menanggalkan dan bahkan melawan penilaian dan label sosial yang konservatif terhadap perempuan. Dia subjek yang kuat dan menang, tak seperti Srinti. Paradoks tubuh perempuan tampil mencolok lewat dua tokoh perempuan itu.

Keduanya sama-sama dijadikan objek pemuas nafsu kaum lelaki. Srinti merasa dirugikan dan bahkan terancam eksistensinya sebagai perempuan dan manusia, tapi Maisesa justru sebaliknya. Maisesa berhasil menolak penilaian sosial terhadap tindakan dan tubuhnya baik secara sosial maupun moral konservatif yang konon dibentuk olah cara pandang lelaki itu.

Perempuan mampu menebarkan sikap dan tindakan yang meneror tata sosial udik dalam dunia cerpen Teguh. Perempuan bisa tampil macho dan bahkan urakan sebagaimana tindakan sewenang-wenang kaum lelaki terhadap perempuan. Tokoh Maisesa adalah sejenis subversi yang melakukan penyerangan dan bahkan penghancuran terang-terangan terhadap label-label sosial yang buruk dan sepihak yang kerap mendera dan ditempelkan kepada para perempuan semacam Maisesa. Maisesa adalah korban yang gagah dan sekaligus hero yang mengagumkan.

Dunia cerpen Teguh juga menggambarkan kecemasan perempuan yang juga merupakan kecemasan sebuah etnik asing di Indonesia, misal dalam cerpen “Tato Naga dan Inisial ‘SL’ ”. Kecemasan etnik itu dibangun secara sistematis dan politis oleh skandal kebijakan politik kekuasaan yang jahat dalam skala besar di negeri ini. Kecemasan itu bahkan menjadi sebuah mitos atau hantu sosial-politik yang mendarah-daging dan memiliki konsekuensi yang nyata dan fatal secara sosial maupun politik.

Tokoh perempuan dalam cerpen itu bernama Shin Ling. Dia menjalin hubungan cinta dengan seorang preman bernama Mudrika. Salah satu pekerjaan rutin Mudrika adalah memalak toko-toko Cina. Ini sebuah hubungan yang memiliki potensi skandal juga.

Maka keduanya sepakat menjalin hubungan cinta diam-diam. Sungguh runyam, urusan hubungan asmara juga bisa dihantui dan terancam oleh variabel politik sehingga hubungan itu harus dirahasiakan dari mata publik. Bahkan dalam surat Mudrika maupun tato di tubuhnya, nama Shin Ling ditulis dengan inisial “SL”.

Citra dan tubuh perempuan menjadi pusat cerita dalam dunia cerpen Teguh beserta segenap kompleksitasnya dan tampil dalam gambaran yang adil maupun timpang: perempuan bisa menentukan nasibnya sendiri sebagai objek atau subjek, sebagai pecundang atau pemenang, tak lebih dan tak kurang sebagaimana kemungkinan-kemungkinan nasib yang dimiliki lelaki juga.

Lelaki-perempuan memiliki potensi yang sama: sama-sama pintar saling menggoda demi tercapai tujuan masing-masing. Meski ada juga perempuan yang tak kuasa keluar dari kubang lumpur kekalahan sebagaimana nasib Srinti yang dikencani, dihamili, dan dipaksa aborsi oleh lurah.

Dan jika benar ada yang disebut politik rayuan (seduction), maka bisa jadi perempuan dalam dunia cerpen Teguh ada yang telah memiliki kesadaran untuk memberdayakan kekuatan kemolekan tubuhnya sendiri untuk merebut kembali kehadirannya, eksistensinya di hadapan kekuasaan lelaki. Dengan kemolekan tubuhnya, perempuan menebarkan strategi penaklukan dan merayu titik-titik lemah lelaki dan menaklukannya tanpa kekerasan.

Tubuh perempuan bukan lagi sebagaimana anggapan umum yang cenderung menempatkannya sebagai objek yang ditaklukkan dalam hubungan seks, yang digagahi dan bukan yang menggagahi. Politik rayuan itu akan memungkinkan untuk menempatkan eksistensi perempuan sebagai subjek, bukan tubuh yang dinikmati lelaki melainkan yang menikmati tubuh lelaki juga. Dunia cerpen Teguh seakan ingin membisikkan ucapan: Duhai lelaki, selamat tergoda perempuan, selamat berbahagia untuk kalian semua, dan waspadalah…!

*) Penulis adalah seorang penyair.

Komentar

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com