Puisi-Puisi Oka Rusmini

http://www.jawapos.com/
MISA

Di sebuah café. Kau duduk terdiam. Segelas wine. Sepiring roti. Juga kentang dan sedikit keju dingin. Kau tak bicara. Matamu yang biru, lengkap dengan laut dan ombak. Menyiram tubuhku yang dingin, mungkin mendekati layu.

Di luar hujan. Tak biasanya hujan di kota ini. Kupesan secangkir kopi, setangkup roti, juga separuh steak. Aku tidak ingin memakannya. Aku hanya senang duduk diam sambil memandang wajahmu yang bersih. Harum susu dan keju di tubuhmu menyentuh kulitku. aku menggigil.

Sore itu, kau tak meneguk minumanmu. Kau menyulut rokok. Aku menggigil. Kulihat kau mulai berani menatapku. Tak ada senyum. Kurasakan ombak membasahi tubuhku. Berapa usiaku kini? Seorang lelaki tanpa nama telah memasuki kebunku. Memetik jantung dan memanah hatiku.

Aku telah melumuri tubuhku dengan pandan berduri. Sesaji, juga doa-doa yang sering ditiupkan anak lelakiku di tabung telingaku. Kau tak mau pergi.

Di café itu aku seperti menunggumu. Kali ini kupesan vodka. Berharap cairan itu mampu membunuhmu. Kuhidupkan laptop. Meluncur di jalan google. Aku mencoba mencari namamu, mungkin tersangkut di sudut-sudut jalan. Atau kau mulai memiliki nama baru yang tak pernah kau bisikkan di telingaku?

Hujan, mulai turun membasahi kaca jendela. Sedikit salju runtuh. Kurasakan hawa dingin menyergap tengkukku. Kurasakan kesepian yang terus mencongkeli tubuhku. Apakah yang kau taburkan dalam pikiranku?

Kulihat kabut semakin tebal. Aku belum juga menghabiskan potongan croissant kejuku. Seorang pelayan dengan senyumnya menatapku tajam. Aku ikut menatapnya. Dua matanya yang sendu, memuntahkan pisau ke jantungku. Aku tak bisa berkelit. Aku melihat matamu menjelma di matanya. Warna kulitnya, bau tubuhmu yang alami tanpa tersentuh parfum. Menyergapku. Aku sesak napas. Tetapi aku tak ingin menghindar darinya.

Di sebuah café yang sunyi. Laptopku tak juga panas. Aku sibuk memandang mata seorang pelayan yang mengingatkanku padamu. Ia tawarkan kopi. Aku menggeleng.

Senja terus memejamkan matanya. Sayup-sayup kudengar suara Frank Sinatra. Kau tidak juga mau pergi. Di mana kau bersembunyi? Takutkah kau menemuiku.

Aku menunggumu. Sambil terus melirik handphone berharap kau mengirim sebaris huruf. Sekadar menanyakan kabarku, atau menulis kalimat pendek: hai!

2008



YUGEK

Aku pernah dinikahkan dengan laut.

Ketika, tubuh kanak-kanakku mengelupas. Sebuah upacara besar digelar. Sesaji, bunga, tujuh mata air diruapkan di tubuh kurusku. Mataku dirajah. Ubun-ubunku ditancapkan mantra. Kepalaku ditaburi beragam bunga. Kulitku dibakar cairan kuning. Aku menjelma bidadari. Tubuhku dililitkan kain-kain kuno.

Aku berenang di rimba semesta. Tak pernah kupercaya laki-laki yang tumbuh dalam kepala teman-teman perempuanku. Aku sering menatap mereka sambil mengunyah gulali. Atau menelan kacang sukro. Menatap perempuan-perempuan kecil bergaya bak badut-badut aneh di depanku. Seorang perempuan telah meninggalkan seorang kanak-kanak di altar ditemani batang pohon. Udara dingin. Dan senyap yang terus-menerus menyuapkan api dalam tubuh kecilku. Membakar kaki-kakiku.

Aku tak ingin tumbuh. Orang-orang menatapku sambil mengiris hati, jantung, dan memeras keringatku. Kesunyian terus mengepung. Tak ada lelaki dan perempuan yang menyusui tubuhku. Ke mana ibuku? Di mana bapakku?

Perempuan-perempuan bertubuh batu memahat tulangku, meniupkan darah ke jantungku. Siapa yang mengirimku ke ladang tandus ini?

Kukenal para penyapu Pura. Juga para pemetik bunga kamboja. Mereka mengabarkan: Ibuku telah hilang. Bapakku sibuk mendekap perempuan bercadar. Rambutnya ular. Hatinya panah beracun. Kulitnya pandan berduri. Dari manakah mahluk itu berasal.

Aku pernah dinikahkan dengan laut.

Seorang lelaki berdiri di depanku. Dengan sekerat taman bunga. Kata-kata manis. Kedua lengannya selalu siap menyentuh kulit kanak-kanakku. Apakah aku telah jatuh cinta padanya?

Matanya biru. Dengan laut ombak, dan aliran sungai yang terus mengalir. Kadang aku mengambil lokan dari telapak tangannya.

Kubuat cincin, kalung, dan anting. Aku dimandikan oleh buih laut. Kulitku digosok biji pasir. Lelaki itu siapakah dia?

Aku pernah dinikahkan dengan laut.

Orang-orang tak pernah bisa mengupas pikiranku. Mereka juga takut menatap mataku yang bulat, tajam. Bertabur nanah dan racun. Mata milikku mampu membunuh siapa pun yang menyentuh kulitku.

Aku pernah dinikahkan dengan laut.

Pagi-pagi orang-orang mengantarku. Mereka tidak lagi memiliki mata. Tubuhku dibalut bunga, juga air mata. Mereka dudukkan aku di pinggir pantai. Angin laut, menjatuhkan satu kuntum bunga di atas kepalaku. Tak ada matahari. Cuaca gelap. Para perempuan membacakan mantra. Para pemangku menghidupkan dupa, bunga, dan sesaji. Orang-orang terus memejamkan mata. Sambil mengulang mantra yang sama. Aku duduk diam. Sambil menunggu orang-orang selesai meleburku dengan laut.

Aku pernah dinikahkan dengan laut.

Kuharap seorang lelaki muncul. Dan aku akan jatuh cinta padanya. Lalu berlindung di dadanya yang bidang. Mengusap rambutnya yang tajam. Menyentuh kulitnya yang harum. Mencium bibirnya yang lentur. Mengusap matanya dengan bibirku. Menghirup ubun-ubunnya. Lalu memeluknya erat sambil bercerita tentang rahasia perjalanan darah dalam tubuhku.

Aku pernah dinikahkan dengan laut.

Kubayangkan seorang laki-laki muncul dari buih laut. Sambil membacakan sajak-sajak erotik yang menyumbat lubang-lubang tubuhku.

Aku pernah dinikahkan dengan laut.

Entah apa yang dicari orang-orang padaku. Subuh merayap. Kau tidak juga datang dan menjemputku. Sementara aku kuyup diguyur mata air dan bunga-bunga yang mulai membusuk. Mungkin aku akan menjelma bangkai.

Aku pernah dinikahkan dengan laut. Kau percaya padaku?

2008

*) Saat ini tinggal di Denpasar, Bali. Ia menulis puisi, novel dan cerita pendek. Bukunya yang telah terbit: Monolog Pohon (1997), Tarian Bumi (2000), Sagra (2001), Kenanga (2003), Patiwangi (2003), Warna Kita (2007) , Erdentanz (novel Tarian Bumi edisi bahasa Jerman, (2007) , Pandora (2008) dan Tempurung (2010).

Komentar