Langsung ke konten utama

MITOS KEKUASAAN

Puji Santosa
http://sastra-indonesia.com/

Kekuasaan dimitoskan sebagai zat kudus, yang suci dan sakral sebagai berkas-berkas cahaya kekuatan Illahi sang penyelenggara makhluk (kang murbeng dumadi). Oleh karena itu, kekuasaan dipandang sebagai daya kosmis, semacam zat yang tunduk terhadap hukum kekekalan massa. Dari satu masa ke masa, dari zaman ke zaman, dan dari satu dinasti ke dinasti lainnya jumlah total massa zat kekuasaan itu tidak pernah bertambah atau berkurang. Zat kekuasaan hanya berubah bentuk. Ibarat es jadi air, air jadi uap, dan uap jadi embun, dan embun menggumpal menjadi awan hingga turun sebagai hujan. Apabila zat kekuasaan itu mengkristal pada diri seorang tumenggung, bupati, menteri, dan ke raja lain, maka sangat berkuranglah bobot kekuasaan raja tersebut. Akibatnya, timbullah kekacauan dalam negeri, terdapatnya pemberontakan, mewabahnya pageblug atau penyakit di mana-mana, bencana nasional seperti kebakaran hutan, lahan dan pekarangan, krisis moneter, krisis kepercayaan, bencana asap, gunung meletus, gempa bumi, hujan badai, banjir bandang, gelombang rob atau tsunami, pembantaian antaretnis, pembakaran dan penjarahan, pemerkosaan masal, dan kebejatan moral, yang disebut sebagai zaman edan.

Adalah pujangga besar R.Ng. Ranggawarsita (1802—1873) yang mampu meramalkan hadirnya kekuasaan zaman edan sehingga mengakibatkan derajat negera tampak sunya-ruri (suwung, sepi, suram), karena negara demikian kacau-balau, karut-marut, undang-undangnya tidak dihargai, rakyat semakin rakus dan loba, banyak berita bohong yang sulit dipercaya, banyak orang munafik, penuh fitnahan, tipu muslihat, banyak pejabat yang menanam benih-benih kesalahan, teledoran, alpa, banyak orang yang berjiwa baik, cerdas, dan bijaksana, justru kalah dengan mereka yang culas, kerdil, dan jahat. Terjadi banyak peristiwa keanehan, tidak masuk akal, banyak orang yang stres dan putu asa, atau tidak bernalar sehingga serba sulit untuk bertindak. Keadaan seperti itu menyebabkan orang-orang menjadi gila, edan, atau tidak ada yang waras. Rumah-rumah sakit jiwa dipenuhi dengan pasien yang menderita gangguan jiwanya. Empat catur bangsa (brahmana, ksatria, waisya, sudra) sudah rusak karena tidak menetapi darma masing-masing.

Di tengah kekacauan kekuasaan zaman edan itu hadirlah 6 ksatria piningit (Sasangka, Sarjana, Sujana, Sudibya, Wijaya, dan Suteja) sebagai Ratu Adil, Mesias, Juru Selamat, yang mengembalikan negara, menyelamatkan bangsa dan rakyat, mencapai peradaban dunia yang berwibawa dan bermartabat.

Komentar

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com