Kalap

Akhmad Fatoni
Jurnal Jombangana, Nov 2010

Konon katanya, menurut cerita yang saya dengar sejak kecil. Kalap itu sejenis makhluk halus yang tinggal di air. Entah di sungai, di laut atau pun di danau. Bisa juga disebut sebagai makhluk halus yang menunggu tempat itu. Sehingga tempat itu dikeramatkan, bila berada di tempat itu harus berhati-hati dan tidak boleh berucap kotor. Bila tidak, maka akan hilang dan tak kembali. Konon orang hilang yang terkena Kalap itu sudah mati. Versi yang lain lagi bahwa orang yang hilang itu dijadikan abdi di alam lain, alam di mana Kalap itu tinggal. Versi lain lagi, bila kembali itu pun hanya bajunya saja, tetapi orangnya hilang.

Cerita Kalap terus turun-temurun dan dipercayai sebagai mitos di kampung saya. Ternyata setelah saya mencari tahu, mitos itu tidak hanya dipercaya di kampung saya saja, di kampung-kampung tetangga juga mempunyai tempat yang dijaga Kalap. Jadi ada beberapa tempat yang memang dipercayai ada Kalapnya. Di kampung saya, Kalap dipercaya menunggu Kedong Lengkong. Di kampung lain, terdapat di Sungai Wonokoyo dan di bantaran Kali Sepanjang, Sidoarjo. Untuk cerita di bantaran Kali Sepanjang, itu saya ketahui dari tetangga saya yang bekerja sebagai supir truk. Di mana ia selalu mengambil muatan dari sungai ke sungai, yang sudah dikumpulkan oleh warga sekitar kemudian dijual pada supir truk, seperti pada tetangga saya itu. Si supir truk tetangga saya itu kebetulan mengambil muatan di sekitar Kali Sepanjang. Saat itulah tetangga saya kecewa, sudah jauh-jauh tetapi tidak ada pasir yang bisa dimuat. Hal itu dikarenakan kemarin ada seorang pengambil pasir hilang tak diketemukan.

Kekosongan muatan itu sebenarnya tetangga saya juga tidak tahu penyebabnya. Namun sebelum meninggalkan lokasi, ada seorang pencari pasir lewat. Dan dipanggillah orang itu oleh tetangga saya. Barulah dari perbincangan itu, tetangga saya tahu kenapa tidak ada pasir. Cerita yang dituturkan si pencari pasir ke tetangga saya itu yakni kemarin ada orang menghilang, hilangnya orang itu dikarenakan lalap. Sebab di bantaran Kali Sepanjang memang ditunggui Kalap. Begitulah inti cerita si pencari pasir kepada tetangga saya. Ketakutan sebenarnya melanda seluruh warga, terutama para pencari pasir yang mengandalkan pendapatan dari sungai itu. Tetapi harus bagaimana lagi, para pencari pasir harus menerjang mitos itu demi menafkahi keluarga. Berusaha tidak menghiraukan mitos tentang adanya Kalap. Meski seperti itu, setiap bulan selalu ada saja yang hilang dan meninggal. Melihat kondisi satu persatu pencari pasir hilang, akhirnya sesepuh desa memutuskan untuk memberikan sesaji tiap bulan agar tidak ada lagi korban. Sesaji itu terdiri dari kembang tujuh rupa, nasi kuning yang berlauk udang.

Semenjak dilakukan ritual sesaji, kejadian orang hilang sudah tidak ada lagi. Namun sewaktu pencari pasir itu bercerita kepada tetangga saya, memang waktu itu warga lalai, yang ingat waktu untuk mengeluarkan sesaji hanya Sugondo, mudin desa. Karena Sugondo pergi menunaikan ibadah haji maka tak ada lagi yang tahu. Sehingga naas pun terjadi, sebab lupa tidak memberi sesaji. Konon si Kalap murka karena tidak ada sesaji, akhirnya membuat si Kalap mengambil korban warga sekitar yang sedang mencari pasir. Seluruh warga panik mendengar ada orang hilang lagi. Hal itu yang membuat seluruh warga bantaran Kali Sepanjang resah, lalu salah satu menelpon Sugondo. Namun usaha warga menelpon Sugondo juga sia-sia. Yang hilang tak mungkin dikembalikan lagi. Sukondo hanya berpesan, agar warga segera membuat sesaji, namun sesaji kali ini harus ditambah kembang telon dan telur angsa. Semenjak kejadian itu, warga sekitar kali Sepanjang sampai saat ini selalu mengadakan ritual sesembahan rutin tiap bulannya, dengan harapan tidak ada lagi orang yang hilang. Mendengar cerita tetangga saya itu, saya masih menyimpan tanya sekaligus tidak percaya. Apalagi sesaji yang disuguhkan bagi saya aneh. Yang membuat saya aneh dari beberapa rangkaian sesaji itu yakni udang. Kenapa harus udang? Kehadiran udang itu seperti tidak sinkron dengan beberapa fragmen sesaji yang lain.

Teka-teki itu terus menyelinap dan membuat saya terus resah. Sampai akhirnya, saya bermain ke rumah teman saya dan terjawablah teka-teki itu. Awalnya saya bercerita perihal sesaji itu pada teman saya, belum usai saya bercerita pada teman saya itu. Kakek teman saya itu, tiba-tiba memutus cerita saya. Mengambil alih saya sebagai sang pencerita waktu kemudian si kakek pun bercerita. Menurut kakek teman saya itu, Kalap memiliki tubuh seperti manusia pada umumnya. Akan tetapi ada bagian dari tubuhnya yang membuat berbeda dengan manusia yakni bentuk tangannya yang seperti supit kepiting dan di kepalanya ada bara api yang menyala-nyala. Di mana bara api itu digunakan oleh si Kalap untuk memanggang udang. Sebab si Kalap sangat suka dengan udang.

Atas dasar kesukaan si Kalap dengan udang, membuat si Kalap tidak mau diganggu sewaktu mencari udang. Entah ada orang di sekitarnya yang hanya melintas, mencuci atau apa pun. Maka orang itu oleh si Kalap langsung ditarik dan ditenggelamkan ke dalam air untuk disembunyikan. Mendengar cerita kakek dari teman saya itu, akhirnya teka-teki perihal sesaji yang dipersembahkan untuk si Kalap, terjawablah sudah. Kepercayaan akan keberadaan Kalap itu pun tidak begitu saja saya percayai. Saya tetap memberontak dan tidak mau percaya tentang hal-hal semacam itu. Ketidakpercayaan saya itu membuat saya terus mencari tahu, perihal Kalap itu.

***

Keragu-raguan saya terhadap cerita Kalap menjadi hilang ketika tetangga saya ada yang mati akibat Kalap. Namanya Ikhsan. Tetapi cerita kematian Ikhsan ini sangat lain dengan cerita-cerita yang selalu saya dengar.

Menurut cerita Kardi yang melihat peristiwa kematian Ikhsan. Kejadian berawal ketika ngerempah, mengalihkan aliran sungai. Setelah aliran tidak begitu deras obat ditaburkan dengan tujuan agar ikan-ikan pada bingung dan gelimbung. Setelah itu barulah menangkap ikan-ikan tersebut. Aktivitas mencari ikan mulai menyibukkan diri mereka masing-masing. Tidak mengurusi orang lain, tetapi segerombolan yang tadi berangkat bersama-sama untuk ngerempah mulai sibuk mencari cara bagaimana agar mendapatkan ikan banyak. Mengunakan jaring, seser, aret dan apapun dilakukan untuk menangkap ikan-ikan yang sedang limbung itu. Kemudian dimasukkan dalam tempat yang sudah disiapkan sebelum berangkat. Ada yang membawa kresek, tong atau hanya menggunakan alang-alang. Menyelundupkan dari sirip hingga tembus ke mulut ditumpuk hingga berjubel layaknya buah anggur yang masih menempel erat di tangkainya.

Kesibukan-kesibukan itulah yang membuat Ikhsan lalai. Ikhsan lupa bahwa di kedong Lengkong merupakan tempat yang angker. Nalar Ikhsan hilang ketika melihat rombongan ikan berduyun-duyun seperti pawai partai politik. Melihat itu, Ikhsan sigap dan mengejarnya hingga Ikhsan masuk dan mengikuti ikan-ikan itu makin ke tengah. Sontak Kardi yang melihat itu langsung berteriak, “San, jangan terlalu ke tengah, hati-hati.”

Ikhsan tak lagi memedulikan teriakan Kardi. Ikhsan makin ke tengah dan berenang ke dalam untuk menjaring ikan-ikan yang sedang limbung. Lama Ikhsan tidak njumbul. Kardi mulai panik, dan berteriak pada yang lain perihal yang ia lihat itu. Tak lama semuanya berkumpul di bibir kedung. Kecemasan mulai menghiasi seluruh wajah mereka. Ada yang komat-kamit mewirid apa yang ia percaya, memohon pada Tuhan, dengan harapan tidak terjadi apa-apa pada Ikhsan. Suasana hening nan senyap menyelimuti kedung. Keadaan makin mencekam setelah matahari terbenam, tetapi Ikhsan tak kunjung muncul. Semua orang diam, walau hanya sepatah kata. Yang terdengar hanya hembus nafas. Tetapi tiba-tiba Kardi memecah keheningan, “Hallo….Mbah Naim, saya Kardi.” Sontak semua mata tertuju pada Kardi. Tetapi tampaknya Kardi tak menghiraukan tatapan yang memojokkannya.

“Ini Ikhsan…tiba-tiba menghilang. Kami tadi berangkat ngerempah. Tapi Ikhsan menyelam di Kedong Lengkong dan belum muncul-muncul hingga sekarang.” Kardi memeragakan dengan tangan, dan matanya terpejam. Kemudian terdengar suara.

“Sudah berapa lama Ikhsan tak muncul setelah menyelam tadi?”

“Sdah agak lama mbah, kira-kira dua sampai tiga jam.” Mulut Kardi komat-kamit.

“Tadi kamu melihat kejadian sebelum Ikhsan menyelam hingga ia ke tengah kedung?”

“Iya…Mbah. Kebetulan saya tadi berada tidak jauh di belakang Ikhsan. Tadi ada segerombolan ikan lele, saya pun tadi sempat kaget dan tidak percaya. Jika saya perkirakan ikan-ikan itu sekitar 100-200. Melihat itu, Ikhsan langsung berlari mengejar. Berenang. Tapi ikan-ikan itu akhirnya menggiring Ikhsan ke Kedong Lengkong. Ikhsan tidak sadar akan hal itu. Sontak saya langsung berteriak mengingatkannya, tapi Ikhsan sepertinya sudah terhipnotis dengan begitu banyaknya ikan. Hingga Ikhsan pun menyelam dan masuk.”

Semua orang terpaku melihat Kardi, semua tak ada yang berkomentar. Seolah-olah semua percaya dan menaruh harap dengan Kardi. Memang di kampung saya, si Kardi cukup dikenal dan dipercaya. Banyak orang yang berobat ke Kardi dan sembuh.

“Ya sudah Kardi, sekarang pimpin orang-orang yang ada di sana untuk membacakan Ayat Kursi sebanyak 21 kali, tetapi sebelumnya kamu khususkan dulu ke Ikhsan, juga ke penjaga kedung.”
“Baiklah Mbah…terima kasih.” Setelah itu Kardi menutup telpon dan melakukan apa wejangan Mbah Naim. Kardi duduk di depan menghadap ke Kedung Lengkong dan di belakangnya semua orang duduk bersila. Ritual pun berjalan.

Setelah ritual selesai dilakukan, semua orang masih tidak ada yang bersuara. Di wajah mereka nampak keresahan, juga bulir-bulir keringat menetes, membuat mereka semakin tidak tenang. Hampir setengah jam, tidak ada tanda-tanda kemunculan Ikhsan. Kepanikan mulai melanda semua orang, hanya Kardi yang nampak masih tenang. Tiba-tiba Kardi menghampiri satu persatu semua orang dengan membawa tong. Kardi meminta kepada mereka semua untuk menyerahkan udang hasil tangkapan mereka. Setelah itu Kardi menuju ke bibir kedung lalu menyiramkan dengan pelan udang-udang dari tong yang ia bawa. Tak lama kemudian nampak tubuh Ikhsan melembang ke permukaan. Pelan-pelan Kardi berjalan ke tengah menuju jasad Ikhsan. Semua mata tertuju pada Kardi. Setelah sampai di pinggir kedung, beberapa orang membantu mengangkat tubuh Ikhsan. Namun wajah kecemasan kini diganti kesedihan, setelah melihat Ikhsan sudah meninggal.

***

Semenjak kejadian itulah, aku mulai memercayai akan kebenaran cerita tentang Kalap. Memang di jaman seperti ini, sudah banyak orang tidak percaya tentang kejadian semacam itu. Begitu pula dengan saya dan saya sebenarnya lebih setuju dengan jawaban teman saya sekantor. Ketika teman saya itu saya tanyai tentang Kalap ia menjawab dengan santainya, “Kalap itu ya Kepala Laboratorium. Padahal kau dikenal bahkan dijuluki Topan si kutu buku. Tapi Kalap saja tidak tahu.”

Mau tidak mau, setelah kematian Ikhsan saya mulai memercayai keberadaan Kalap. Dan saya hanya berpesan pada anda harap berhati-hati bila melintasi ketiga tempat itu. Kedung Lengkon, Kali Wonokoyo dan bantaran Kali Sepanjang Sidoarjo. Saya pun tidak memaksa anda percaya, tetapi hati-hati saja jangan sampai anda seperti Ikhsan dan si pencari pasir itu.
***

November 2010

Komentar