Langsung ke konten utama

Air Mancur Kedua

A. Junianto
http://www.surabayapost.co.id/

Tiba-tiba saja aku sudah menemukan diriku di tempat ini. Dingin bangku di taman yang biasa disebut orang sebagai Alun-Alun Kota ini sudah bersiap menyambut. Rimbun beringin yang tertanam di empat sudutnya, juga sudah hendak menuntun tubuhku untuk masuk lebih dalam ke taman itu. Riuh orang yang berada di sana seperti terus memanggil namaku untuk masuk ke dalamnya dan duduk di salah satu bangkunya yang lembab dan dingin. Begitu pula tekukur ribuan burung dara yang terdengar seperti teriakan histeris yang terus memanggil-manggil namaku.

Lalu coba kuperhatikan sepintas, tidak ada yang berubah dari taman ini sejak tepat sebulan lalu aku ke sini. Sebuah masjid besar yang mulutnya menganga tepat mengarah ke gerbang taman juga masih tampak sama. Di sanalah kini aku sedang berdiri. Menatap ke arah kolam yang berada tepat di tengah taman.

Semua tampak diam, tampak bisu. Puluhan orang yang berada di dalam taman, tak ubahnya seperti sebuah manekin berjalan. Kulihat bibir mereka bergerak-gerak, tapi sama sekali tak kudengar suara bahasa mereka.”Seperti melihat pantomim saja,” pikirku.

***

Sebelumnya, perkenalkan, namaku Arya Wibisana. Sebenarnya aku bukan penduduk kota ini. Aku adalah seorang pendatang dari kota lain yang berjarak lebih dari 91 km ke arah utara kota ini.

Dengan sebuah kamera SLR yang tergantung di leherku, orang pasti mengira aku ini adalah seorang fotografer, atau bahkan sepintas dari caraku berpakaian yang terkesan seadanya, lebih mirip seorang jurnalis.

Tidak salah memang. Di kota tempatku tinggal, aku memang dikenal sebagai seorang jurnalis media cetak, meski hanya untuk sebuah media cetak lokal. Mungkin alasan pekerjaan itulah yang paling tepat untuk membawa langkah kakiku menuju ke tempat ini.

”Ah, tak usah naiflah,” pikirku membantah. Sebenarnya, lebih karena alasan perempuan itulah aku datang ke tempat ini, rela selama 3 jam berada di atas kereta bising dan pengap. Memang, 3 jam buatku bukanlah waktu yang singkat. Apalagi di atas kereta yang bising dan pengap, buatku begitu terasa membosankan, ditambah lagi dengan diriku yang tidak pernah bisa tertidur saat berada di atas kereta yang terus berguncang serta bunyi mesin yang tak pernah berhenti mendesing.

Tidak hanya itu, bayangan perempuan yang sebulan lalu kujumpai untuk kelima kalinya di taman alun-alun itu juga ternyata turut andil untuk menghalangi kelopak mataku untuk terpejam.

Aku membayangkan perempuan itu tengah termenung menatap kosong tepat ke arah kolam air mancur yang berada di tengah taman. Kubayangkan pula seutas senyum tersungging di bibirnya kala tepat pukul 2 sore air mulai muncrat dari 4 buah pipa besi yang berdiri mengacung dari dalam air kolam, serta sebuah cawan yang berada di atasnya yang mulai mengalirkan air jatuh ke dalam kolam yang ada di bawahnya. Itulah air mancur kedua. Saat-saat yang selalu dinantinya.

Aku membayangkan pula pipi tirusnya yang kuyakin kini sudah lebih tampak gemuk. Tubuh putih bersih kurusnya yang kubayangkan kini pasti sudah semakin sintal. Betapa tidak, sebulan lalu, kutemui perempuan itu—dengan pipi tirus, badan putih bersih namun kurus, tampak begitu memesonaku dengan tatapannya yang sangat kosong ke arah air mancur itu.

”Dengan kedua matanya, perempuan itu seperti hendak segera memuncratkan air keluar dari pipa-pipa yang berdiri mengacung di kolam itu,” pikirku.

Waktu itu, kucoba untuk sekadar menebak apa yang tengah dipikirkannya. Imajinasi mulai beraksi.

”Pasti perempuan itu adalah orang gila yang tengah menikmati teduhnya sore di taman alun-alun ini,” pikirku ketika pertama kujumpai perempuan itu 6 bulan lalu.

Ternyata, setelah tiap bulan, pada tanggal yang sama perempuan itu kujumpai, hampir tanpa perubahan—hanya pakaian yang melekat di tubuh putihnya saja yang senantiasa berbeda tiap kali kujumpai dia.

”Tapi dia terlalu bersih untuk seorang gila,” pikirku kemudian.

Akhirnya, kuingat, masih sebulan lalu itu, kali kelima aku melihatnya, ketika rasa penasaranku sudah mulai membuncah, kucoba menghampiri perempuan itu.

Setelah kupastikan dudukku di tepat di sebelahnya, segera saja kutatap matanya. Tanpa kuduga, tak sedetikpun perempuan itu menoleh kepadaku. Kedua bola matanya tetap saja mengarah ke arah air mancur. Begitu kosong. Begitu sunyi.

Aku seperti melihat sebuah lorong gelap nan panjang tanpa ujung di kedua mata perempuan itu.

Setelah lebih dari setengah jam kucoba menarik perhatiannya—dengan mencuri lirikannya, atau bahkan sesekali menepuk bahunya, tetap saja perempuan itu bergeming.

Maka rasa penasaranku pun sedikit demi sedikit meredup pula akhirnya.

Melihatku yang tengah putus asa, seorang penjual minum keliling, kulihat memberikan isyarat untuk segera meninggalkan perempuan itu.

Tak lama, kulihat bibirnya kemudian menyungging. ”Dia tersenyum. Ya. Dia tersenyum,” batinku berseru.

Sejak saat itulah kutahu bahwa perempuan itu akan selalu tersenyum ketika kedua kalinya air memuncrat dari 4 pipa yang berdiri mengacung dari dalam air kolam di tengah taman alun-alun itu.

Tak lama, mulai kukenal perempuan itu. Namanya Anjani. Ratna Anjani lengkapnya. Dia adalah perempuan asli kota ini. Kepadaku, perempuan itu bercerita perihal dirinya yang selalu menatap erat namun kosong ke arah air mancur itu.

Kepadaku dia bercerita bahwa saat air mancur kedua mulai muncul, yakni sekitar pukul 2 sore, calon suaminya yang tak pernah perempuan itu bersedia menyebutkan namanya, menghilang, akan kembali. ”Dia sudah berjanji, mas. Saat air mancur kedua, dia akan kembali kepadaku,” ujarnya bersemangat.

Ketika kutanya kemana perginya lelaki itu, dengan antusias pula perempuan itu menjelaskannya. Dikatakannya, 5 bulan lalu, lelaki itu pamit untuk pergi ke kota yang sama dengan kota tempatku tinggal. ”Dia ingin mencari uang tambahan untuk pernikahan kami akhir tahun ini,” serunya kepadaku.

Seperti sepasang sahabat, kami pun tampak semakin akrab. Dengan begitu semangat, Anjani menceritakan dengan sangat detail, sejak mulai dari perkenalannya dengan lelaki itu sekian tahun lalu di tempat ini, di taman ini.

Diceritakannya, lelaki itu merupakan seorang sarjana sejarah dari sebuah universitas negeri di kota tempatku tinggal. Meski calon suaminya itu bukan berasal dari kota yang sama dengan Anjani, namun kecintaannya terhadap kota ini, kota kelahiran perempuan itu, membuat lelaki itu rela menghabiskan banyak waktunya di kota itu.

Sejak menyelesaikan studinya setahun lalu, lelaki itu kemudian memutuskan untuk menetap di kota ini. Tentu saja, pertemuannya dengan Anjanilah yang menyeretnya kembali ke kota ini.

Dengan begitu semangat, Anjani menceritakan bagaimana sebuah Kantor Pos besar di sisi selatan taman inilah yang seperti selalu mengingatkan dirinya. ”Dia akan kembali,” begitu bisiknya kepadaku.

Tak lama, kemudian dia menyeretku ke arah jalan raya yang sore itu tampak lengang, telunjuknya kemudian menunjuk pada sebuah bangunan yang berarsitektur kolonial yang

di depannya kulihat plakat besar bertuliskan Hotel Pelangi. ”Menara kembar di sana itu. Katanya, itulah simbol kami, mas,” ujarnya pelan.

Awalnya aku bingung. Menara. Anjani menunjuk sepasang menara, padahal yang jelas, yang kulihat hanyalah sebuah hotel tua. Ternyata, baru kuingat, itulah menara kembar Hotel Pelangi. Dari informasi yang kutahu, menara itu sudah berdiri sejak tahun 1916. ”Bukankah itu menara Hotel Palace,” gumamku.

Sejenak Anjani termenung. Lalu ia mengajakku kembali duduk di bangku taman yang terasa dingin oleh angin sore yang basah.

Sejak itu, aku menjadi selalu ingin menemuinya di tanggal yang sama setiap bulannya. Entah kenapa aku begitu rindu akan cerita-ceritanya tentang lelaki itu, tentang tempat-tempat bersejarah mereka, tentang kota ini. Aku begitu rindu dengan suaranya tatkala berkisah tentang gedung-gedung tua di Kayutangan dan sejarah kota lama kota ini.

Aku merindukan seruannya ketika menunjuk salah satu gereja tua di sana, yang menurutnya merupakan lokasi awal dirinya bertemu dengan lelaki itu—saat kebaktian di suatu Minggu sekian tahun lalu.

***

Kini aku berada di sini. Di taman alun-alun ini. Langkah kakiku, tanpa diperintah menuju ke bangku taman yang dingin dan lembab, tempat biasa perempuan itu terduduk.

Tak lama, aku sudah menemukan tubuhku di bangku ini. Tetap tanpa suara. Gerak alam begitu terasa seperti gerak pantomim yang begitu alami. Tanpa skrip. Tanpa naskah.

Semua tetap terasa seperti manekin berjalan yang terus bergerak tanpa kudengar suara dan detak nafas mereka.

”Dimana perempuan itu,” pikirku memberontak kemudian.

Sesekali tanpa sadar, kulirik gerak jarum jam di lengan kananku. Menunjukkan pukul 13.50.

”10 menit lagi,” seruku. Pandanganku lalu membeku ke arah kolam di tengah taman itu.

Riak kolam membawa ingatanku menjelajah kota ini. Mulai dari Gereja Katolik tua di Kayutangan, Gedung Coryesu di Celaket, rumah tua dengan atap berkubah di Oro-Oro Dowo, Gedung Kembar di Jl. Arjuno-Semeru, hingga deretan rumah Belanda di Jl. Slamet, dan tentu saja, Hotel Pelangi lengkap dengan sepasang menara kembarnya dengan sebuah lambang tugu bertuliskan Malangkucecwara di bawahnya. ”Menara itu. Kita seperti menara itu,” gumamku tanpa sadar.

Terakhir, tekukur ribuan burung dara yang memadati sekitar kolam, menghentikan langkah ingatanku di alun-alun ini, tepatnya di kolam itu. ”Sebentar lagi air mancur kedua akan keluar,” pikirku. Sudah kusiapkan seutas senyum untuk menyambutnya.

Tak lama, saat itu pun tiba. Seperti terkena ledakan dari bawah, air tiba-tiba memuncrat dari 4 pipa besi yang mengacung dari dalam air kolam. ”Saatnya sudah tiba. Tidakkah engkau juga tiba?” seruku dalam hati, tanpa sadar tersungging seutas senyum di bibirku sambil kupandangi Kantor Pos Besar di sisi selatan yang sedari tadi terus mengingatkanku bahwa Anjani, akan datang sore ini.

”Engkau harus datang, istriku. Betapa aku ingin membunuhmu, sebelum kelak, salah satu benihmu akan melumatku,” gumamku yang lamat tertelan kecipak air jatuh di hamparan kolam yang ada di tengah taman itu.

Malang, 2010

Komentar

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com