Ketika Gus Mus Hijrah ke Cerpen

Satmoko Budi Santoso
http://www.suaramerdeka.com/

Sekarang ini peran pelawak sudah diambil-alih oleh para politikus, dan saya menulis karena memang ingin menulis, saya tak ingin dijajah oleh isme-isme apa pun

KUTIPAN itu adalah pernyataan salah seorang Rais Nahdlatul Ulama KH A Mustofa Bisri dalam acara pagelaran baca cerpen bertajuk ”Gus Mus Hijrah ke Cerpen”, 24 Oktober, pukul 20.00, di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta. Di hadapan lebih dari 700 pengunjung, Gus Mus mengucapkan kalimat tersebut sebagai prolog pembacaan cerpen Gus Jakfar.

”Saya kira, saya juga harus bersyukur karena dianugerahi Tuhan dengan kemampuan menulis. Begitu pula saya bersyukur karena saya berteman dengan kawan-kawan seniman, kawan-kawan sastrawan, sehingga menambah semangat dalam berkarya,” ujar kiai yang sastrawan itu dalam situasi yang ingar-bingar.

Anehnya ketika sampai pada momen baca cerpen, khalayak jadi khidmat menikmati. Runtutan cerita dalam cerpen Gus Jakfar yang memaparkan perihal kelebihan yang dimiliki seseorang karena adanya ilmu kasyaf, ilmu yang berupa kemampuan ”membaca tanda-tanda tertentu” dari diri orang lain, disimak hadirin dengan penuh keseriusan.

Tentu, meski dalam beberapa potong adegan cerita tetap ada yang pantas membikin tertawa karena logika cerita yang dirasa lucu.

Hanya satu cerpen yang dibacakan Gus Mus. Itu pun sudah menyita waktu hampir setengah jam. Pembaca lain yang tampil adalah cerpenis Joni Ariadinata, dan aktor gaek Bambang Darto, yang track record-nya di dunia teater Yogya tak lagi diragukan.

Yang menarik sebagai suguhan format pertunjukan, tentu saja adalah penampilan Joni Ariadinata ketika membacakan cerpen Gus Mus, Amplop-amplop Abu-abu. Sebuah cerpen yang menceritakan sisi ironi seorang juru dakwah yang selalu dikasih amplop sebagai imbalan berdakwah, namun suatu ketika isi amplop yang ia terima bukan berisi uang melainkan sobekan kertas berupa kritik untuk mengoreksi diri sendiri sebelum menyampaikan nilai-nilai Islam kepada umat lain.

Imbangi Gus Mus

Didukung dengan kemampuan membaca dan melafalkan nukilan ayat-ayat Alquran secara benar, Joni mampu mengimbangi kharisma Gus Mus yang sekalipun dalam teknik pembacaan tak seteatrikal Joni, namun penguasaan cara bertutur Gus Mus tetap terjaga, lugas dan gamblang, sangat bisa dinikmati sebagai pertunjukan baca cerpen.

Penampilan Bambang Darto memang lebih kocak, mengundang decak tawa, pas dengan situasi cerpen yang dibacakan, Bidadari Itu Dibawa Jibril. Sebuah cerita yang menggambarkan keberadaan seorang perempuan yang pada suatu hari menghilang dan orang-orang yang mengenalnya menganggapnya telah dibawa malaikat Jibril.

Ditemui usai pertunjukan, penyair Joko Pinurbo menyampaikan kesan, sosok Gus Mus sungguh layak ditampilkan tak hanya sebagai figur kiai, tetapi juga figur estetik. Persepsi Joko cukup jelas, sebagai sebuah karya seni, apa yang dihasilkan Gus Mus tak boleh disepelekan.

Dalam cerpen-cerpennya yang dibacakan atau yang secara khusus terkumpul dalam antologi cerpen Lukisan Kaligrafi yang diterbitkan Penerbit Kompas ini, terasa bahwa kemampuan mengeksplorasi tema cerita pada wilayah pesantren adalah sesuatu yang ”lebih” karena jarang disentuh cerpenis lain.

”Secara estetik, pertaruhan yang utama adalah seberapa jauh penggarapan pola estetika itu betul-betul menukik pada problem-problem pesantren,” papar Joko.

Sebagai momen yang diharapkan menjadi alternatif siraman rohani melalui jalan sastra dalam menyongsong bulan Ramadan pun tercapai. Di samping maksud lain sebagai upaya promo atau launching atas buku baru Gus Mus tersebut.

Penyair Nur Zain Hae mengungkapkan, setidaknya acara itu akan menjadi masukan bagi kaum tradisionalis pesantren. ”Ingat, muatan kritik dalam cerpen-cerpen Gus Mus merambah wilayah feodalisme cara berpikir dan cara memandang persoalan.

Acara yang dipersembahkan Lembaga Kajian Kebudayaan ”Akar Indonesia”, Penerbit Kompas, Tratag Budaya Estetik, dan bekerja sama dengan Taman Budaya Yogyakarta serta Penerbit LKiS ini pastilah tak hanya pertunjukan baca cerpen saja.

Kelompok musik pengiring, Sampak Patrol, juga berhasil menghidupkan suasana dengan musikalisasi eksperimen yang berangkat dari spirit musik Hadrah maupun musik-musik padang pasiran yang lain.

Komentar