Langsung ke konten utama

Sebuah Ziarah kepada Puisi

Judul: Curriculum Vitae
Penulis: Frans Nadjira
Tebal: 203 halaman
Penerbit: Matamerabook, 2007
Peresensi: Riki Dhamparan Putra
http://www.balipost.co.id/

MATAMERABOOK kembali menerbitkan kumpulan puisi penyair Frans Nadjira, “Curriculum Vitae” (CV) di pertengahan 2007 ini. Buku ini terbit dwi bahasa (Indonesia dan Inggris) dalam edisi hard cover dan soft cover, berisi 55 karya puisi terbaru penyair Frans Nadjira, dilengkapi dengan catatan pengantar oleh D Zawawi Imron dan Arif Bagus Prasetyo. Ini buku yang kehadirannya sangat dirayakan karena dapat memberi orang teladan dalam hal produktivitas dan totalitas seorang penyair. Mengingat di usia yang sudah makin senja, Frans masih sangat produktif menulis.

Banyak yang berpendapat bahwa kecenderungan puisi Frans di buku ini sangat berbeda dengan kecenderungan dua buku kumpulan puisinya yang lalu — “Springs of Fire Springs of Tears” dan “Jendela”. Kecenderungan itu ditandai dengan nuansa solidaritas sosial yang muncul begitu kuat pada sebagian besar sajak di CV. Apalagi dalam catatan Arif Bagus Prasetyo dicantumkan pula pernyataan Frans tentang “kepenyairan dan kenyataan sosial” yang cukup mengejutkan. Seperti pernyataan “Kini kita tak butuh penyair kalau itu eksklusivisme. Yang kita butuhkan sekarang, orang menulis kenyataan yang dialami suatu bangsa…” atau pernyataan yang lebih pedas lagi, “masih pantaskah kita bermain metafora?”

Pernyataan semacam itu cukup kontroversial karena dilontarkan oleh seorang guru, sahabat, sekaligus motivator di dalam menulis puisi. Ia akan berpengaruh tidak hanya dalam penilaian para penyair kepada Frans, juga dalam proses pencarian bahasa puisi para penyair itu sendiri. Sebab, bagaimanapun, metafora adalah standar yang mesti dicapai untuk melahirkan puisi yang utuh atau “jadi”. Nah, sekarang muncul gugatan: masih pantaskah kita bermain metafora?

Menurut Arif, pernyataan itu disampaikan Frans pada 1997. Keperluannya untuk mengulang pernyataan itu kembali dalam esai pengantar CV yang terbit sepuluh tahun kemudian tentu berkaitan dengan usahanya memahami kepenyairan Frans secara utuh. Arif akhirnya menyimpulkan bahwa Frans bukanlah penyair dengan tipikal puisi sunyi magis saja, tetapi sajak-sajaknya juga menunjukkan kesan solider dan keberpihakan pada orang lemah. CV tampaknya telah memberi Arif kesempatan untuk menyampaikan pandangannya itu.

Jika melihat situasi sosial politik pada 1997 yang sedang bergerak melepaskan diri dari tirani Orde Baru, dapatlah dimengerti mengapa Frans sampai mengeluarkan pernyataan itu. Saat itu banyak terjadi peristiwa penculikan aktivis dan pembungkaman gerakan-gerakan yang menuntut perubahan. Situasi seperti itu tentu telah menyentuh nurani penyair dan menginspirasinya untuk menulis puisi-puisi yang bercerita tentang kenyataan. Salah satunya, Frans yang kelahiran Makassar tahun 1943 ini. Ia diam-diam menulis puisi sosial dan baru mempublikasikannya selang sepuluh tahun kemudian.

Tidak Pamrih

Rupanya Frans bukanlah seorang narsis politik yang suka menonjol-nonjolkan diri paling berperan dalam sebuah perubahan. Ia tak ingin puisi tampil sebagai kerja heroik yang pamrih hanya karena telah berbicara tentang kenyataan. Kumpulan puisinya yang terbit setahun setelah ia bercakap dengan Arif itu malah “Springs of Fire Springs of Tears” yang tidak berpretensi menyeret-nyeret tema sosial di dalamnya. Itulah sikap yang tepat untuk menjaga kemurnian sebuah kerja kepenyairan.

Di CV, Arif juga menyimpulkan bahwa pernyataan Frans yang demonstratif mengenai hubungan penyair dengan kenyataan sosial itu toh tidak mengurangi kesan “sunyi” yang biasa didapatkan dari sajak-sajak sebelum CV. Frans masih tetap berkhidmat di dalam pencarian kesunyiannya yang seakan-akan abadi. Artinya, keluar masuk dunia sosial-dunia sunyi sebenarnya adalah usaha Frans untuk menemukan kepenuhan dirinya sebagai manusia kolektif sekaligus manusia penyair.

Mengutip Octavio Paz, Arif mengatakan hal itu karena puisi pada dasarnya adalah usaha untuk melakukan ziarah pada sejarah. Dalam konteks CV, ziarah itu tentu tidak hanya ziarah sosial, juga ziarah kepada puisi-puisi itu sendiri. Puisi adalah ziarah kepada puisi. Hal itu bermula dari adanya ketegangan relasional klasik antara puisi dan kenyataan hidup di sekitar penyair. Bahasa — lewat keindahan dan daya magisnya — kerap membuat jarak yang tak termaafkan antara puisi dan kenyataan. Sehingga penyair sering terisolasi atau terindividual oleh pencapaian bahasanya sendiri.

Itulah sebabnya, para penyair besar selalu berupaya menggugah kembali bahasa puisi mereka. Melakukan ziarah atas sikap serta tindak bahasa yang telah mereka yakini sebelumnya, untuk mendapat arti yang lebih segar dari sebuah kerja puisi. Demikianlah misalnya, penyair Subagio Sastrowardoyo pun melakukan hal yang sama ketika ia menulis sajak berjudul “Sajak”: “….Apakah arti sajak ini// Kalau anak semalam batuk-batuk// bau vicks dan kayu putih melekat di kelambu…// Apakah arti sajak ini?”

Relasi pernyataan Frans sebagaimana dikutip di bagian permulaan esai ini mesti dilihat dari sisi untuk menggugah kemapanan cara pandang tentang bahasa tersebut. Sama sekali ini memang bukan sebuah siasat bahasa atau strategi penyair untuk membuat puisi yang hanya mengandalkan makna dapat diterima sederajat dengan puisi yang kaya metafor. Dan bukan pula usaha untuk menghancurkan metafora sebagai salah satu fondasi terpenting dalam sebuah bangunan puisi.

Rendah Hati

Sesungguhnya, CV menghadirkan sikap rendah hati seorang penyair dalam menghadapi ego bahasa dan kenyataan yang tidak seimbang. Kalau boleh menggunakan pepatah “badik telah diikat sekarang…” yang tertinggal adalah sebuah pengakuan di depan waktu:

“Unda… terimakasih telah mendidikku berendah hati. Cara berpikiran yang polos dan sederhana// Memandang hidup sebagai sebuah lakon lengkap. Bahwa tak ada sesuatu yang terjadi/Tanpa kehendakNya// Mengantar aku ke suatu tempat// di mana kutemukan makna hidup// menepis jumawa dan mabuk ketokohan…”

Tentu banyak hal lagi yang masih dapat diperbincangkan soal buku ini maupun Frans Nadjira sebagai penyair. Yang jelas, selain memperkaya khazanah pustaka puisi kita, terbitnya CV dengan tampilan yang mewah dan dua bahasa, kembali menimbulkan rasa bangga kita kepada puisi dan penerbit lokal kita. Bersama-sama dengan buku puisi yang diterbitkan secara mandiri lainnya, CV bakal menginspirasi orang untuk mengurangi ketergantungan kepada penerbit besar di Jakarta maupun kota besar lain. Mudah-mudahan usaha penerbit buku ini dapat diteladani para penerbit lokal lainnya di Bali.

Komentar

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com