Langsung ke konten utama

Mashuri, Menulis untuk Mengisi Hidup

Kukuh Yudha Karnanta
http://www.surabayapost.co.id/

Sehabis sekolah, Mashuri muda mengayuh sepedanya menuju perpustakaan daerah di kota Lamongan. Jarak 15 km dari sekolahnya tak membuatnya merasa lelah. Ia harus mencari buku-buku yang harus dibacanya karena di sekolah dan pesantrennya tidak menyediakan buku yang diharapkan. Demi mendapatkan buku bacaan itu, Mashuri muda juga rela membolos mengaji di PP Salafiyah Wanar dan PP Ta’sisut Taqwa, Galang, Lamongan.

Tidak hanya itu, demi mendapatkan buku, Mashuri muda juga rela berburu buku ke penjual buku-buku bekas di Jl. Semarang, Surabaya. “Saya suka berburu buku-buku Islam esoteris yang menghentak seperti karya-karya Al-Hallaj dan Ibnu Arabi. Juga karya sastra Jawa seperti Serat Wulangreh, Hidayatjati, dan lainnya,” ujar lulusan Pasca Sarjana Filsafat Islam IAIN Sunan Ampel Surabaya ini.

Tidak hanya membaca, Mashuri muda juga gemar tulis menulis. Majalah dinding di sekolahnya pernah dibuat geger. Salah satu puisinya berjudul ‘Jerawat’, menjadi guyonan teman-temannya, pasalnya dalam satu baitnya berbunyi; ‘Wajah tanpa jerawat seperti malam tanpa bintang.’

Dunia tulis menulis dan membaca buku semakin menjadi setelah ia diterima di jurusan Sastra Indonesia, Universitas Airlangga Surabaya. Di sini Mashuri banyak mencipta puisi, prosa, naskah drama, dan esai. “Saya tidak ingin terpatok pada satu genre. Semua ingin saya pelajari,” lanjutnya.

Saat itu ia menyadari, penulis pemula selalu banyak keinginan dan tergesa memetik hasil. Meski begitu, ia tidak mengkhususkan diri menulis dengan gaya tertentu atau mematok harapan tinggi.

“Saya merasa masih harus banyak mengetahui ragam dan gaya tulisan sebelum memilih style yang paling tepat dengan saya,” lanjutnya.

Sebagai penulis pemula, karya-karyanya juga sering ditolak media massa. Mashuri mengaku ingat karya yang pertama kali ia kirimkan di media. “Cerpen berjudul ‘Orang-orang Hitam’. Saya mencoba gaya penulisan surealisme. Tapi tidak dimuat,” ujarnya.

Saat itu ia masih menulis dengan mesik ketik. Meski begitu ia tidak pernah patah arang. Barulah pada tahun 1996 beberapa puisinya diterbitkan di harian Karya Dharma. “Butuh dua tahun saya harus menaklukkan media massa,” kenangnya.

Sejak saat itulah, semangat menulisnya terus mengalir. Apalagi ia juga bergiat di teater dan juga di Forum Studi Sastra dan Seni Luar Pagar (FS3LP), tulisannya semakin sering diterbitkan di media massa lokal dan nasional. Meski menulis dengan banyak genre ia mengaku tidak pernah kesulitan. “Saya sepakat dengan pendapat Octavio Paz, menulis cerpen untuk menerangkan puisi,” lanjut Ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Jawa Timur.

Mashuri tidak menampik bahwa sebagai sastrawan, dirinya tidak lepas dari pemikiran ideologis yang ia sampaikan melalui karya-karyanya. Hal itu, menurut Mashuri, wajar dalam dunia penulisan. Kegelisahannya pada Islamisasi dan kegemaran membaca buku-buku Islam, kejawen, serta filsafat barat, menurut Mashuri, terakumulasi di alam bawah sadar, lalu termanifestasi pada karya-karyanya.

Dari sekian tahun perjalanannya di dunia penulisan, adalah novel ‘Hubbu’, menjadi momentun penting pencapaian kreatifnya. Novel ‘Hubbu’ pada tahun 2006 lalu dinobatkan sebagai novel terbaik dalam sayembara novel Dewan Kesenian Jakarta. Mashuri mengatakan, dirinya tidak berniat menulis novel untuk memenangkan lomba, melainkan semata ingin berkarya.

“Sebenarnya itu min khaitsu layaktasib alias sesuatu yang tak terduga,” ujarnya sembari tersenyum.

‘Hubbu’ yang berarti cinta itu mengungguli 249 novel lain. Alhasil, selain mendapat hadiah uang tunai Rp 20 juta. Namun yang disayangkan Mashuri, penerbitan ‘Hubbu’ sedikit terlambat, padahal peraih juara dua sudah diterbitkan. “Hubbu baru diterbitkan tahun 2007 oleh Gramedia Pustaka Tama,” kata Mashuri.

Dalam novel itu, Mashuri mengisahkan tokoh bernama Jarot, lelaki asal Desa Alas Abang, Lamongan, yang terobsesi pada Sastra Jendra Hayuningrat. Jarot mengalami problem eksistensial ketika menjumpai nilai-nilai kultur Surabaya dan pemikiran filsafat barat yang didapat di kampusnya.

“Kegelisahan terbesar saya adalah soal Islam dan Jawa. Saya merasa proses Islamisasi yang dibawa walisanga masih menyisakan banyak celah,” terangnya.

Ditambahkannya, fenomena sekarang, kita sering abai dengan tradisi-tradisi terdahulu, sebelum Islam menjadi sedemikian dominan. Mashuri mencontohkan, salah satu poin yang dikritisinya perihal budaya patrialkal.

“Zaman Majapahit dan Mataram kuno, seorang perempuan masih bisa menjadi raja. Setelah Demak berdiri, tidak ada perempuan menjadi raja. Pola pikir itu terbawa hingga sekarang,” katanya.

Novel itu, menurut penulisnya, mencampur unsur wayang dengan kekinian. Mashuri gemar memadukan surealis, sufi, dan pendayagunaan bahasa dalam karya puisi dan romannya “Unsur yang dicampur aduk itu menarik,” ungkapnya.

Mashuri mengaku awalnya ia ingin memberi judul Mahabbah. Tapi kata itu lekat pada sosok Rabiah Adawiyah, sufi perempuan dari Basra, Irak. Akhirnya ia mencari akar katanya, Hubbu.

Bagaimana melahirkan novel ini? Dengan kiasan, Mashuri mengibaratkan proses kreatif karya ini mirip orang mengandung. Ia tidak mempersiapkan karya ini khusus untuk sayembara. “Saya hanya mencari bentuk lain pengungkapan atau ekspresi bersastra,” ujar pengagum Sapardi Djoko Damono dan Goenawan Mohamad ini.

Kini pekerjaan menulisnya dilakukan di antara kesibukannya sebagai staf peneliti bahasa dan sastra di Balai Bahasa Surabaya dan juga sebagai wartawan surat kabar Memorandum. Menurutnya, menulis untuk mengisi hidup, sedangkan menjadi wartawan dan PNS untuk menyambung hidup. “PNS juga berarti ‘Penyair Negeri Sipil,” selorohnya.

BIODATA
Nama: Mashuri
TTL: Lamongan, 27 April 1976
Istri : Hani’atul Mariah
Anak :Mayang Khalila Ihya Hurriya Posmoderna
Pekerjaan : Peneliti Balai Bahasa Surabaya dan wartawan
Pendidikan: S1 Sastra Indonesia Fakultas Sastra Universitas Airlangga
Penghargaan : Juara I Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta (2006)
Penghargaan Seniman Jawa Timur, Gubernur Imam Utomo (2008)

Karya:
1. Hubbu (2007)
2. Antologi puisi Ngaceng (2007)
3. Jawadwipa 3003 (2003)
4. Pengantin Lumpur (2005)
5. Puisinya Terkumpul di 20 antologi bersama lainnya

Komentar

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com