Langsung ke konten utama

Paul van Ostaijen (1896-1928)

Nurel Javissyarqi

Paul van Ostaijen (22 Februari 1896 - 18 Maret 1928) penyair juga penulis Flemish Bergia, lahir dan meninggal di kota Antwerpen. Awal puisinya dipengaruhi aliran-aliran Ekspresionisme, Surealisme, Dadaism. Keterlibatannya dalam aktivisme Flemish selama Perang Dunia I, hingga melarikan diri ke Berlin setelah perang, bertemu dengan banyak seniman, disamping mengalami krisis mental. Berbalik ke Belgia membuka galeri seni di Brussels, meninggal karena tuberkulosis pada sanatorium Miavoye-Anthée, di Wallonian Ardennes. Penyair Ceko Ivan Wernisch sangat terkesan atas kejeniusannya. Ostaijen mengimpor aliran Ekspresionis di Vlaanderen. Di antara karyanya: Music-Hall (1916), Het Sienjaal (1918), Bezette Stad (1921). Dalam Gedichten (1928), sudah terlepas sama sekali dari aliran Ekspresionis.

Bagiku, sosok kepribadian penyair ditakdirkan Tuhan atau mentakdirkan dirinya memasuki wilayah kutukan ataupun dikutuk. Terkutuk menjadi makhluk paling menyendiri, girang dalam sepi. Mulanya ter(di)seret lamunan besar, lantas memperjuangkan harkatnya demi bahan karya-karyanya berkualitas, yang berhimpitan ruang-waktu bergerak dalam kepastian perubahan.

Seperti gemawan menimbang suhu tekanan udara jiwa demi lahirnya butiran hujan bersanggup melestarikan, bersungai-sungai membagikan lelantunan inspiratif bagi semua yang terperangkap kesendirian. Yang biasa di dunia terpencil, terkucil dari penampakan semu menjadi santapan empuk hantu-hantu perasaan, was-was penalaran mawas setelah mengetahui siasat angin mengendarai pergantian jaman.

Ostaijen menghirup pelbagai faham untuk memuaskan bathinya terus dahaga, pencarian tiada putus-putusnya jikalau tak ingin dipenggal masa memilukan, kekecewaan tiada obat selain waktu harus direbut bersegala kekuatan. Pertimbangannya sehalus rambut terbelah, membelai bayu kemungkinan laksana menyusun doa, lelangkah perhitungan matang, sebelum benar-benar mengakhiri pertunjukan; pena tercerabut sedari kertas-kertas takdir kemenjadian.

Jiwa penyair menyerupai spon hidup menyerapi kisaran alam sekitar, yang diwaktunya menuntut diperas ulang. Spon itu nafas-nafas menerjemahkan derita menafsirkan kesungguhan, memaknai kegirangan kelewat batas. Sedang pertumbuhan nalarnya merangsek berderap maju memasuki jutaan penelitian, sebelum dilayarnya dalam bahasa puitika.

Maka hanya totalitas, yang mampu membahasakan secara purna; benang memasuki lubang jarum terkecil, kerejutan pelipis merambahi dataran gurun peristiwa, kerutan dahi menekuk persoalan. Sedangkan hatinya bertelaga, tenang menghadirkan bayang-bayang juga kejatuhan dedaunan, reranting patah. Ia mengukur di atas derajat seimbang, meski bumi tampak miring adanya gempa & sejenisnya.

Olehnya, resiko apapun seyogyanya kuat ditanggung, dengan melatih nafas-nafas bergejolak menuju keindahan tiap harinya. Mengasah pedang pemikiran, agar tak lumat ditelan pancaroba. Menggenggam sikap kukuh hidupnya, untuk sejarah yang memancarkan kharisma pembeda.

Atas kurnia terberi, dapat berbagi keseluruhan gerak yang menjadi jangkauan rerentangan sayapnya. Berdialog dengan benda, tetumbuhan, hewan-gemewan, lautan, pun bayi baru dilahirkan, bersandarkan paras kebiasaan memungkinkan lebih. Kemudian dicukupkan dibilik pribadinya, ruang tak seorang pun bisa sampai, kecuali dengan kalbu seirama.

Tatkala kata-katanya melantunkan nada, gagasannya berkabar hidup, alam turut berdendang menyaksikan. Ialah putra dimakamkan, ketika adanya pesta dalam kehidupan, dan dibangkitkan saat mereka sudah masanya berjatuhan.

Kepribadiannya menyerapi watak berbangsa, ia mata rantai peradaban, menghisap ruh kalbu berserakan demi gugusan manunggalnya kemandirian. Untuk kefitrohan semua insan menuju kiblat muara masing-masing berluapan damai yang dirasai membentuk tanda-tanda jaman. Kini marilah simak, salah satu puisinya:

MELOPEE
Paul Van Ostaijen

Di bawah bulan mengalun sungai panjang
Di atas sungai panjang lena mengalun bulan
Di bawah bulan di atas sungai mengalun perahu ke laut
Menyusuri ladang
menyusuri padang
mengalun perahu ke laut
mengalun dengan insan-mengalun perahu ke laut.
Demikian kawan ke laut perahu bulan dan insan
Kenapa mengalun bulan dan insan berdua-dua ke laut.

{Puisi Dunia, jilid II, disusun M. Taslim Ali, BP, 1953}

Menyimaknya, seperti membaca di dalam mimpi. Kilatan kata-kata berderet ditiup angin diserbu lautan gelombang, hingga kepala penat tidur tiadanya kenyamanan. Ada yang menggantung ingin diselesaikan, beban dituntaskan serindu kewajiban dilansungkan, pada langkah pengertian terkumpul pelahan, mengikuti pandangan di atas cahaya kesadaran.

Kesunyian riuh berharap dimaknai malam hening, ke samudera sedari sungai-sungai penalaran. Gemintang memberi penanda air berbisik di dinding-dinding perahu berdecak ganjil mensucikan perasaan. Terpancar nilai-nilai kelembutan santun, yang menembangkan perjalanan hayat.

Sungguh yang teguh menerima takdir bersimpan kaidah terindah di sekeliling alam. Kenangan halus menjelajahi pusaran angin, mencecapi kulitan hati, pemahamannya bersatu badan.

Ada terjamah mengartikan sendiri, denyut sedenyar fajar ditelusurinya menaikkan getaran makna yang terjadi, dan bayu menjelma jembatan dilalui. Mengajak menemui kangen di bawah payung langit membiru, atau gemerlapnya malam-malam gemintang.

Tebarannya tak akan rampung dihitung, hanya insaf saling berpandang. Lantas jarak ruang-waktu tiada tersekat dalam diri adanya mereka. Terdapat kesunyian serupa, pada batas-batas perasaan sesama.

Menyimak-memahami kediaman damai, tak ada intrik kala merindu terawat sapuan kuas bulu kuda mencipta. Senyum menanti gemuyu hening kebijakan lestari, ke dalam jantung sanubari.

9 November 2010, Jawa.

Komentar

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com