Langsung ke konten utama

Yogya Basis Sastra Alternatif

Amien Wangsitalaja
http://www.kr.co.id/

MEDIA SASTRA, terutama sastra tulis, merupakan media yang cenderung tidak diminati secara massal dan karenanya cenderung tidak memiliki “masa hidup” yang panjang. Pamusuk Eneste dalam “Timbul dan Tenggelamnya Majalah Kebudayaan” (Matabaca, vol 1/no.4/ November 2002) menyimpulkan bahwa banyak majalah kebudayaan yang masih rutin terbit, yaitu Horison dan Basis ditambah dua lagi yang agak diragukan keberlangsungan terbitnya, yaitu Kalam dan Kolong.

Dari keempat nama yang disodorkan Pamusuk itu, hanya Horisonlah yang memiliki perhatian dalam porsi yang besar terhadap sastra, sementara lainnya lebih berorientasi pada kebudayaan secara umum (bahkan Basis sama sekali sudah menghilangkan rubrik sastranya). Dengan demikian bisa dikatakan Indonesia masih hanya memiliki satu majalah sastra saja, yaitu Horison. Karena itulah, kegelisahan untuk membuat media sastra alternatif penting untuk dimajukan, minimal untuk menyemarakkan wahana ekspresi dan publikasi sastra kita.

Lantas, kenapa Yogyakarta dimajukan sebagai tempat kemunculan media sastra alternatif itu? Jika kita renungkan secara serius, agaknya bukan tidak mungkin jika Yogyakarta memang kondusif untuk tempat melahirkan media sastra alternatif tersebut.

Pertama, dari sisi motif-motif politik. Jika dibandingkan dengan Jakarta, misalnya, maka suasana di Yogyakarta lebih memberi tempat kepada tumbuhnya sikap saling menghargai di antara para pekerja sastra. Politik “perkubuan” boleh dibilang telah usang untuk dikembangkan di kota ini, terutama setelah kematian Linus Suryadi. Suasana ini tentu berbeda dengan Jakarta, yang bias-bias politik “perkubuan”-nya teramat kental.

Di sana, setidaknya, ada kubu Utan Kayu “TUK” dan Utan Kayu “Horison” (karena Horison mulai Januari tahun ini juga bermarkas di Utan Kayu) sebagai dua kubu yang memiliki power tertentu yang diperhitungkan dalam perpolitikan” sastra. Kemudian di wilayah marjinalnya terdapat komunitas Masyarakat Sastra Jakarta (MSJ), Komunitas Sastra Indonesiia (KSI), komunitas-komunitas sastra pergerakan yang melahirkan Media Kerja Budaya (MKB), juga komunitas-komunitas lain yang mencoba untuk lebih bersikap independen semacam Yayasan Multimedia Sastra (YMS).

Kentalnya bias politik “perkubuan” tentu akan membuat kehadiran ataupun kemunculan seseorang atau sesuatu apa pun dalam khasanah komunikasi sastra di Jakarta, akan mudah direspons dalam suasana kesalingcurigaan. Melejitnya nama seseorang sastrawan, pemilihan nama-nama tertentu sebagai peserta sebuah festival sastra internasional, peluncuran buku antologi sastra, penjurian-penjurian dan penghargaan-penghargaan sastra, dan sebagainya; adalah peristiwa-peristiwa yang tak pernah luput dari nuansa politik “perkubuan” tersebut. Komunikasi sastra telah kehilangan kesahajaannya dan upaya-upaya pemajuan dunia kesusastraan rentan untuk tergiring ke penjadian dunia kesusastraan sebagai alat untuk peneguhan kubu politik.

Jika kita hendak memunculkan sebuah media sastra baru atau alternatif di Jakarta, jangan-jangan sebelum media tersebut berhasil muncul kita sudah disibukkan untuk menjawab berbagai sinisme dan kecurigaan yang ditujukan terhadap motif-motif apa pelahiran media ini, siapa berdiri di belakangnya, dan pertanyaan-pertanyaan lain yang berlagak kritis tapi sebetulnya melulu politis. Jika demikian, tentu Yogyakarta bisa dijadikan kota alternatif untuk penggairahan dan pemajuan sastra, termasuk misalnya untuk menjadikan kota ini basis dari media sastra alternatif. Penggairahan dan pemajuan sastra yang diharapkan lebih bersahaja dan tidak tenggelam oleh banalitas nafsu politik mudah-mudahan bisa dilakukan di sini.

Kedua, dari sisi motif-motif ekonomi. Dalam tulisan di Matabaca tersinggung di atas, Pamusuk Eneste mengutip pendapat Jakob Sumardjo perihal mengapa sebuah majalah kebudayaan (atau majalah sastra) cenderung mudah mati di tengah jalan. Menurut Jakob Sumardjo, ada beberapa hal yang menyebabkan sebuah majalah kebudayaan bisa bertahan hidup, dan salah satunya adalah bahwa majalah itu harus bukan mengejar keuntungan komersial tapi keuntungan kultural.

Faktor pengesampingan motif komersial inilah poin yang kemungkinan besar komunitas sastra Yogyakarta masih bisa menjalankannya, yang orang-orang dari kota-kota besar lain (Jakarta, Bandung, dsb.) sulit untuk melepaskan diri dari jaring-jaring sikap hidup materialistik dan pengejaran keuntungan material semacam itu.

Kita bisa belajar dari dunia penerbitan buku secara umum. Yogyakarta adalah gudang dari puluhan penerbit alternatif. Penerbit-penerbit kecil mandiri banyak muncul dari kota ini dengan karakteristik utama yang dimiliki oleh mereka adalah: (1) berangkat berbekalkan semangat idealistik, (2) tidak memaksudkan sebagai sebuah usaha dagang yang murni profit oriented, (3) bermodal finansial yang pas-pasan, (4) memiliki semangat mendobrak mainstream wacana yang status quo.

Penerbit-penerbit alternatif jika menerbitkan sebuah buku pertama kalinya, bukan untuk mengejar keuntungan komersial, tapi untuk keuntungan kultural. Dan terbukti di Yogyakarta semangat-semangat tersebut masih bisa dipelihara, dan penerbit-penerbit alternatif tersebut juga terbukti bisa bertahan hidup di kota ini. Dari contoh bisa bertahannya penerbitan buku alternatif di Yogyakarta inilah, maka bukan tidak mungkin ide untuk menjadikan Yogyakarta sebagai basis penerbitan media sastra alternatif, akan menemukan relevansinya.

Beberapa media sastra alternatif itu pun memang telah mulai mencoba untuk muncul dari sini. Contohnya Jurnal Cerpen Indonesia. Bahkan, Jurnal Puisi yang pada mulanya terbit di Jakarta dan merasa kewalahan untuk bertahan hidup dan sempat sekarat bertahun-tahun, akhirnya memilih untuk bertahan terbit di Yogyakarta.

Kemudian sesudah itu dan karenanya, masih terbuka kesempatan untuk menggagas dan melahirkan media sastra lain di sini. Mari beramai memunculkan media-media sastra lain di sini. Mari jadikan Yogyakarta sebagai basis media sastra alternatif. Dan kalaupun di kota ini pernah dideklarasikan Asosiasi Penerbit Alternatif (APA) dan Aliansi Penerbit Independen (API), bukan tidak mungkin akan lahir juga Asosiasi Media Sastra Alternatif (AMSA) yang mudah-mudahan khalis dari kepentingan politik dan ekonomi secara sempit. ***

Komentar

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com