16/10/10

Sastra dan Pembelajaran Humanistik

Nandang Darana
http://sosbud.kompasiana.com/

Sastra atau kesusastraan banyak diartikan sebagai hasil kerja kreatif dan pergumulan reflektif seseorang dengan realitas kesehariannya yang diwujudkan lewat medium bahasa. Lewat bahasa, sastrawan mengekspresikan ziarah atau penjelajahannya atas seluruh realitas. Dalam wilayah ini terjadi proses dialektis antara pandangan-dunia seorang sastrawan dengan realitas sosial yang menjadi lingkungannya. Dengan ungkapan lain, sebuah karya (mestinya) muncul sebagai akibat ketegangan atau tarik-menarik antara dunia ideal seorang sastrawan dengan kondisi obyektif di lingkungannya. Sehingga, tidak mustahil, lewat karya sastra bisa muncul ide-ide tentang pembangunan atau perubahan masyarakat. Hal ini sangat mungkin terjadi, karena sastra berkemampuan menjelaskan gagasan –abstrak sekalipun—secara lebih komunikatif, segar, dan hidup. Barangkali, karena inilah, Sutan Takdir Alisjahbana, misalnya, menerbitkan Grotta Azzura –roman yang dikritik Teeuw sebagai “terlalu dikuasai perfilsafatan kebudayaan” pada 1970.
Selanjutnya, publik, sebagai penikmat karya sastra, tidak semata-mata menempatkan karya sastra sebagai bacaan “penghibur” yang bersifat instan. Namun, lebih dari itu, karya sastra dijadikan sebagai mitra dialog untuk sama-sama merepresentasikan segi-segi sosial dan budaya masyarakat yang tengah menggejala. Sebab, membaca karya sastra berarti juga membaca pikiran dan peristiwa yang terjadi dalam masyarakat yang menjadi latar belakang munculnya sebuah karya. Pada titik ini, kritik sastra yang muncul juga menekankan perhatian pada ide atau gagasan yang terkandung dalam suatu karya sastra.

Untuk itu, perlu diupayakan terciptanya suatu masyarakat sastra yang memungkinkan terjadinya keintiman dalam proses pertukaran gagasan lewat karya sastra. Dengan cara ini, sastrawan dan publiknya ditempatkan dalam suatu pola hubungan interaktif: sastrawan dan publiknya melakukan “tawar-menawar” tentang konstruk tertentu bentuk transformasi sosial. Diharapkan, dari situ bisa muncul suatu dialektika yang, secara evolutif atau pun revolutif, membangun ruang bagi tumbuh-suburnya dinamika sastra dalam suatu kontek tradisi, sosial, dan budaya. Oleh sebab itu, peran sastrawan dan masyarakat bagi munculnya gagasan tersebut perlu ditegaskan kembali.

Pertama, sebagai seorang kreator, sastrawan berada dalam pergulatan proses kreatif melalui upaya perumusan wilayah estetik dan tematik dalam karyanya. Pada wilayah estetik, sastrawan dituntut untuk mengeksplorasi bakat, kecerdasan, dan keseriusannya untuk memunculkan temuan baru dalam wilayah kerjanya. Sehingga, sekalipun seorang sastrawan masuk pada arus estetika tertentu, ia tidak sekaligus kehilangan kediriannya sebagai seorang kreator. Misalnya, estetika yang sempat dikembangkan Chairil Anwar pada 1945-an, yang mendobrak puitika Amir Hamzah, muncul pada karya-karya Goenawan Mohamad, Abdul Hadi WM, Sapardi Djoko Damono, dan Subagyo Sostrowardoyo. Tetapi toh, masing-masing memiliki kekuatan tersendiri yang merupakan ciri kedirian mereka sekaligus –dalam batas-batas tertentu—menjadi penegas mazhab mereka secara eksistensial.

Pada wilayah tematik, bakat dan kecerdasan saja tidak cukup. Wilayah ini lebih meminta “ruh”, ketulusan, dan empati yang besar pada sastrawan. Karya sastra lahir dari kehadiran diri secara total dari seorang sastrawan dalam realitas yang dibicarakannya; sesuatu yang oleh Goenawan Mohamad dan Arief Budiman disebut sebagai ganzheit. Tuntutan ini amat penting, agar sastrawan tidak melakukan distorsi antara teks-teks yang terdapat dalam karyanya dengan perilaku kesehariannya. Maka, kejujuran dan kesetiaan atas pesan-pesan tertinggi dalam karya sastra mesti ditempatkan secara istimewa dalam kerja kesusastraannya. Jika tidak, maka sastrawan tak ubahnya seperti zombi-zombi yang berlumuran gincu kata-kata dan kearifan: sastrawan sejajar dengan rezim yang telah mengantarkan negeri ini pada lubang kebangkrutan sendi-sendi kehidupan yang luar biasa di republik ini.

Kedua, tentang peran masyarakat. Sesungguhnya masyarakat, yang merupakan society dan bukan sekedar community, memiliki peran sejajar dengan sastrawan sendiri. Sebab, masyarakat –dengan segala fenomenanya—adalah sumber inspirasi bagi sastrawan. Dinamika sosial yang terjadi di masyarakat kerap menjadi tema yang muncul dalam karya. Selanjutnya, sampai batas-batas tertentu, masyarakat merupakan “pasar” bagi kemasan estetik dan tematik kerja kreatif sastrawan. Bisa jadi juga, masyarakat akan menetapkan apakah suatu karya berhak mendapat acungan jempol atau dimasukan ke dalam keranjang sampah. Jadi, apresiasi masyarakat tidak lain merupakan respon atas stimulus yang diberikan sastrawan lewat karyanya. Dalam hal ini, masyarakat akhirnya berposisi sebagai mitra dialog para sastrawan. Secara makro, proses dialog yang berlangsung kemudian menjadi dialog internal masyarakat, mengingat bahwa sastrawan sendiri merupakan bagian tak terpisahkan dari masyarakat. Pada titik ini, tanda-tanda tegaknya bangunan masyarakat sastra dapat ditengarai.
**

Membangun masyarakat sastra, hakekatnya adalah menempatkan sastra sebagai disiplin umum secara fungsional dalam kehidupan. Maksudnya, pembelajaran sastra mesti lebih diarahkan sebagai kebutuhan setiap individu, sejajar dengan kebutuhan pembelajaran moral dan pengetahuan agama. Dengan kata lain, ada tuntutan yang bersifat humanistik dalam proses pembelajaran sastra. Konsekuensinya, tiap-tiap warga masyarakat hendaknya mendapatkan –paling tidak—dasar-dasar pengetahuan sastra. Inilah sebabnya, perpustakan umum dan upaya peningkatan apresiasi sastra melalui media massa mesti digalakkan dan dijadikan tanggung-jawab bersama sebagai syarat utama munculnya masyarakat sastra.

Selain itu, pada masyarakat sastra, sastra menjadi sarana untuk mengaca diri dan model latihan untuk mengasah kepekaan intuitif serta keberpihakan pada nurani. Dengan demikian, sastra akan menempatkan bahasa lebih dari seni komunikasi –meminjam istilah Eka Budianta (Republika, 5/7/1998). Tetapi, ia merupakan bagian dari pembelajaran kehidupan dan proses pendewasaan manusia. Pada titik ini, sastra akan muncul sebagai wilayah yang menyentuh dan mewakili sendi-sendi kehidupan manusia.

Dalam kerangka tersebut, masyarakat dapat dipahami sebagai “tubuh” bagi sastra, sekaligus memaknai sastra sebagai representasi dari “ruh” masyarakat: masyarakat tanpa sastra bagaikan sosok tubuh tanpa ruh dan jiwa; sebaliknya, sastra tanpa masyarakat tiada lain dari jiwa-jiwa atau ruh yang tidak memiliki “badan” bagi kehidupannya di dunia. Dengan demikian, Sastrawan merupakan perwujudan dari jiwa masyarakat yang melakukan pewartaan tentang gejolak dan ghirah yang mengendap dalam sanubari masyarakat. Maka wajar, bila rintihan dan nubuwwat sastrawan menjadi ekpresi dari harapan dan hikmat ilahiyah bagi masyarakatnya.

Pengetahuan dan penghayatan sastra seperti itulah yang kemudian dapat menjadikan tiap-tiap individu dalam masyarakat memahami jati dirinya sebagai manusia, sekaligus berpeluang untuk terus-menerus melakukan pembebasan dari segala macam hegemoni. Sastra, pada titik ini, selanjutnya, menjadi wahana libertarian. Kekuatan sastra sudah bukan lagi milik elit sastrawan belaka, tetapi telah menjadi milik bersama: sastrawan dan masyarakat muncul sebagai moral-force.
***

Tidak ada komentar:

A Rodhi Murtadho A. Anzib A. Junianto A. Qorib Hidayatullah A. Yusrianto Elga A.D. Zubairi A.S. Laksana Abang Eddy Adriansyah Abdi Purmono Abdul Azis Sukarno Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi W. M. Abdul Kirno Tanda Abdul Wachid B.S. Abdurahman Wahid Abidah el Khalieqy Abiyyu Abu Salman Acep Zamzam Noor Achiar M Permana Ade Ridwan Yandwiputra Adhika Prasetya Adi Marsiela Adi Prasetyo Adreas Anggit W. Adrian Ramdani Afrizal Malna Afthonul Afif Agama Para Bajingan Aguk Irawan Mn Agus B. Harianto Agus Buchori Agus R. Sarjono Agus R. Subagyo Agus Sulton Agus Sunarto Agus Utantoro Agus Wibowo Aguslia Hidayah Ahda Imran Ahmad Fatoni Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Nurhasim Ahmad Sahidah Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ajie Najmudin Ajip Rosidi Akbar Ananda Speedgo Akhiriyati Sundari Akhmad Fatoni Akhmad Saefudin Akhmad Sekhu Akhmad Taufiq Akhudiat Alan Woods Alex R. Nainggolan Alexander G.B. Alhafiz K Ali Shari'ati Alizar Tanjung Alvi Puspita Alwi Karmena Amarzan Loebis Amien Kamil Amien Wangsitalaja Amiruddin Al Rahab Amirullah Amril Taufiq Gobel Amy Spangler An. Ismanto Andrea Hirata Andy Riza Hidayat Anes Prabu Sadjarwo Anett Tapai Anindita S Thayf Anjrah Lelono Broto Anne Rufaidah Anton Kurnia Anton Suparyanto Anung Wendyartaka Anwar Holid Aprinus Salam Ari Dwijayanthi Arie MP Tamba Arif B. Prasetyo Arif Bagus Prasetyo Arif Hidayat Aris Darmawan Aris Kurniawan Arswendo Atmowiloto Arti Bumi Intaran Arwan Tuti Artha AS Sumbawi Asarpin Asef Umar Fakhruddin Asep Sambodja Asep Yayat Askolan Lubis Asrul Sani Asvi Marwan Adam Asvi Warman Adam Audifax Awalludin GD Mualif Awaludin Marwan Bagja Hidayat Balada Bale Aksara Bambang Bujono Bambang Irawan Bambang Kempling Bambang Unjianto Bamby Cahyadi Bandung Mawardi Beni Setia Berita Berita Utama Bernando J. Sujibto Berthold Damshäuser Binhad Nurrohmat Bobby Gunawan Bonnie Triyana Bre Redana Brunel University London Budhi Setyawan Budi Darma Budi Hatees Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budiman S. Hartoyo Burhanuddin Bella Cak Kandar Catatan Cepi Zaenal Arifin Cerbung Cerpen Chairil Anwar Chamim Kohari Cucuk Espe D Pujiyono D. Zawawi Imron Dadang Ari Murtono Dahono Fitrianto Dahta Gautama Damanhuri Damhuri Muhammad Dami N. Toda Damiri Mahmud Danarto Dantje S Moeis Darju Prasetya Darwin David Krisna Alka Dedy Tri Riyadi Deni Ahmad Fajar Denny JA Denny Mizhar Deny Tri Aryanti Dian Hartati Dian Sukarno Dicky Dina Oktaviani Dinas Perpustakaan Daerah Lamongan Djenar Maesa Ayu Djoko Pitono Djoko Saryono Djuli Djatiprambudi Dodi Ambardi Dody Kristianto Donatus Nador Donny Anggoro Donny Syofyan Dorothea Rosa Herliany Dwi Arjanto Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Kartika Rahayu Dwi Khoirotun Nisa’ Dwi Pranoto Dwicipta Edy Firmansyah Eep Saefulloh Fatah Eka Budianta Eka Fendri Putra Eka Kurniawan Eko Darmoko Eko Hendri Saiful Eko Suprianto Emha Ainun Nadjib Endah Sulwesi Endi Haryono Endri Y Enung Sudrajat Erwin Erwin Dariyanto Erwin Setia Esai Esha Tegar Putra Evan Ys Evieta Fadjar F. Aziz Manna Fadjriah Nurdiarsih Fahrudin Nasrulloh Faidil Akbar Fakhrunnas MA Jabbar Fanani Rahman Farida-Suliadi Fatah Yasin Noor Fathurrahman Karyadi Feby Indirani Felik K. Nesi Fenny Aprilia Festival Sastra Gresik Fikri MS Firdaus Muhammad Firman Nugraha Fuad Nawawi Galang Ari P. Gampang Prawoto Ganug Nugroho Adi Gerakan Literasi Nasional Gerakan Surah Buku (GSB) Gerson Poyk Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gregorio Lopez y’ Fuentes Gugun El-Guyanie Gunawan Budi Susanto Gunawan Maryanto Guntur Alam Gus tf Sakai Gusti Eka H Marjohan HA. Cholil Mudjirin Hadi Napster Halim HD Hamberan Syahbana Hamdy Salad Hamsad Rangkuti Han Gagas Hanik Uswatun Khasanah Hans Pols Hardi Hamzah Haris del Hakim Haris Firdaus Hasan Gauk Hasan Junus Hasif Amini Hasnan Bachtiar Hasta Indriyana Hawe Setiawan Helwatin Najwa Hepi Andi Bastoni Heri KLM Heri Latief Heri Ruslan Herman RN Hermien Y. Kleden Herry Lamongan Heru Kurniawan Heru Nugroho Hudan Hidayat Hudan Nur Hudel Humaidiy AS Humam S Chudori I.B. Putera Manuaba Ibn Ghifarie Ibnu Rizal Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi Idrus Ignas Kleden Ika Karlina Idris Ilham khoiri Ilham Yusardi Imam Cahyono Imam Muhtarom Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Imron Rosyid Imron Tohari Indiar Manggara Indra Intisa Indra Tranggono Indrian Koto Intan Indah Prathiwie Inung AS Iskandar Noe Iskandar P Nugraha Iwan Nurdaya-Djafar Iyut Fitra J.J. Rizal Jacques Derrida Jafar Fakhrurozi Jafar M Sidik Jafar M. Sidik Jaleswari Pramodhawardani Jamal D Rahman Jamal T. Suryanata Jamrin Abubakar Janual Aidi Javed Paul Syatha Jean Couteau Jean-Marie Gustave Le Clezio Jefri al Malay Jihan Fauziah JJ Rizal JJ. Kusni Jodhi Yudono Johan Edy Raharjo Joko Pinurbo Jokowi Undercover Jonathan Ziberg Joni Ariadinata Joni Lis Efendi Jual Buku Juli Jumari HS Junaidi Jusuf AN Kang Warsa Karya Lukisan: Andry Deblenk Kasijanto Sastrodinomo Kasnadi Katrin Bandel Kedung Darma Romansha Keith Foulcher Khansa Arifah Adila Khisna Pabichara Khrisna Pabichara Kirana Kejora Koh Young Hun Komunitas Deo Gratias Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias Korrie Layun Rampan Kostela (Komunitas Sastra Teater Lamongan) Kristine McKenna Kritik Sastra Kukuh Yudha Karnanta Kurie Suditomo Kurniawan Yunianto Kuswaidi Syafi'ie Kuswinarto L. Ridwan Muljosudarmo Lan Fang Langgeng W Latief S. Nugraha Leila S. Chudori Leo Kelana Leo Tolstoy Lia Anggia Nasution Linda Christanty Liza Wahyuninto LN Idayanie Lukman Santoso Az Luky Setyarini Lutfi Mardiansyah M Abdullah Badri M Aditya M Anta Kusuma M Fadjroel Rachman M. Arman AZ M. Faizi M. Harir Muzakki M. Kanzul Fikri M. Lubabun Ni’am Asshibbamal S. M. Misbahuddin M. Mushthafa M. Nahdiansyah Abdi M. Raudah Jambak M. Yoesoef M.D. Atmaja Mahmud Jauhari Ali Mahwi Air Tawar Makyun Subuki Maman S Mahayana Marcus Suprihadi Mardi Luhung Marhalim Zaini Mario F. Lawi Maroeli Simbolon S. Sn Martin Aleida Martin Suryajaya Marwanto Mashuri Matroni Matroni El-Moezany Mawar Kusuma Max Lane Media: Crayon on Paper Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia MG. Sungatno Misbahus Surur Miziansyah J. Moh. Samsul Arifin Mohammad Eri Irawan Muhammad Antakusuma Muhammad Firdaus Rahmatullah Muhammad Muhibbuddin Muhammad Rain Muhammad Yasir Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun A.S Muhammd Ali Fakih AR Muhidin M. Dahlan Mukhlis Al-Anshor Mulyo Sunyoto Munawir Aziz Murnierida Pram Musa Asy’arie Mustafa Ismail N. Syamsuddin CH. Haesy Nandang Darana Nara Ahirullah Naskah Teater Nazar Nurdin Nenden Lilis A Nezar Patria Nina Herlina Lubis Ning Elia Nirwan Ahmad Arsuka Nirwan Dewanto Nobel Noor H. Dee Noval Jubbek Novelet Nu’man ‘Zeus’ Anggara Nunik Triana Nur Faizah Nur Wahida Idris Nurcholish Madjid Nurdin Kalim Nurel Javissyarqi Nuriel Imamah Nurman Hartono Nuruddin Al Indunissy Nurul Anam Nurul Hadi Koclok Obrolan Oka Rusmini Oktamandjaya Wiguna Olivia Kristinasinaga Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Oyos Saroso H.N. Pandu Jakasurya Parak Seni Parakitri T. Simbolon PDS H.B. Jassin PDS. H.B. Jassin Pembebasan Sastra Pramoedya Ananta Toer Pramoedya Ananta-Toer Pringadi Abdi Surya Pringadi AS Prof. Tamim Pardede sebut Bambang Prosa Proses Kreatif Puisi PuJa Puji Santosa Puput Amiranti N PUstaka puJAngga Putu Wijaya Qaris Tajudin R.N. Bayu Aji Radhar Panca Dahana Rahmat Hidayat Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Ranang Aji S.P. Ranggawarsita Ratih Kumala Ratna Sarumpaet Ratu Selvi Agnesia Raudal Tanjung Banua Remy Sylado Rengga AP Resensi Resistensi Kaum Pergerakan Revolusi RF. Dhonna Riadi Ngasiran Ribut Wijoto Ridwan Munawwar Galuh Riki Dhamparan Putra Risang Anom Pujayanto Riswan Hidayat Riyadi KS Rodli TL Rofiqi Hasan Rojil Nugroho Bayu Aji Rukardi S Sopian S Yoga S. Jai Sabrank Suparno Sahaya Santayana Sainul Hermawan Sajak Sakinah Annisa Mariz Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sanggar Teater Jerit Sapardi Djoko Damono Sarabunis Mubarok Sari Oktafiana Sartika Dian Nuraini Sasti Gotama Sastra Sastra Liar Masa Awal Satmoko Budi Santoso Saut Situmorang Sejarah Sekolah Literasi Gratis (SLG) Sekolah Literasi Gratis (SLG) STKIP Ponorogo Selo Soemardjan Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Septi Sutrisna Sergi Sutanto Sevgi Soysal Shinta Maharani Shiny.ane el’poesya Sholihul Huda Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Siswoyo Sita Planasari A Siti Rutmawati Siti Sa’adah Sitor Situmorang Slamet Hadi Purnomo Sobih Adnan Soeprijadi Tomodihardjo Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sotyati Sri Wintala Achmad St. Sunardi Stefanus P. Elu Stevy Widia Sugi Lanus Sugilanus G. Hartha Suherman Sukardi Rinakit Sulaiman Djaya Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sungging Raga Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Surat Suripto SH Suryadi Suryanto Sastroatmodjo Susianna Susiyo Guntur Sutan Iwan Soekri Munaf Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Suyadi San Syafruddin Hasani Syahruddin El-Fikri Syaiful Amin Syifa Aulia Syu’bah Asa T Agus Khaidir Tasyriq Hifzhillah Tatang Pahat Taufik Ikram Jamil Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Presetyo Teguh Ranusastra Asmara Teguh Winarsho AS Temu Penyair Timur Jawa Tengsoe Tjahjono Theresia Purbandini Thowaf Zuharon Tia Setiadi Tita Maria Kanita Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Tony Herdianto Tosa Poetra Tri Purna Jaya Triyanto Triwikromo Tu-ngang Iskandar Tulus S Ulfatin Ch Umbu Landu Paranggi Umi Kulsum Universitas Indonesia Universitas Jember Urwatul Wustqo Usman Arrumy Utami Widowati UU Hamidy Veronika Ninik Vien Dimyati Vino Warsono Virdika Rizky Utama Vyan Taswirul Afkar W Haryanto W. Herlya Winna W.S. Rendra Wahyu Heriyadi Wahyu Hidayat Wahyu Utomo Walid Syaikhun Wan Anwar Wandi Juhadi Warih Wisatsana Wawan Eko Yulianto Wawancara Wayan Budiartha Wayan Supartha Wendoko Wicaksono Adi William Bradley Horton Wisnu Kisawa Wiwik Widayaningtias Wong Wing King Y. Wibowo Yang Lian Yanuar Yachya Yetti A. KA Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yopie Setia Umbara Yos Rizal Suriaji Yoserizal Zein Yosi M Giri Yudhi Fachrudin Yudhi Herwibowo Yulia Permata Sari Yurnaldi Yusri Fajar Yuval Noah Harari Z. Afif Zacky Khairul Uman Zakki Amali Zamakhsyari Abrar Zawawi Se Zehan Zareez Zen Hae Zhou Fuyuan Zul Afrita