Langsung ke konten utama

Mata Sastra Tak Melirik Mata Uang?

Binhad Nurrohmat
http://cetak.kompas.com/

Ada ungkapan dalam khazanah tradisi Jawa: sugih tanpa banda (kaya tanpa harta). Rasa ungkapan itu ”non-materialistik” dan kontradiktif sebab makna umum ”kaya” identik dengan ”harta”. Ungkapan bervisi etika itu bagi common-sense modern bisa dianggap cuma pelipur kemelaratan atau dalih ”romantisme kemiskinan”. Dalam konteks sejenis, ada ungkapan lain dalam khazanah tradisi kita yang dianggap ”realistik” bagi nalar modern lantaran bervisi pragmatis: kalau ada uang di pinggang, dunia sempit menjadi lapang.

Aristoteles dalam La Politica menilai, sejak ditemukan uang, manusia mengenal perniagaan eceran (ritel). Sebelumnya manusia memenuhi kebutuhan hidup melalui tukar-menukar barang (barter).

Ihwal uang semula sederhana dan menjadi rumit setelah manusia belajar kapan dan dengan apa pertukaran dengan uang dilakukan bisa meraup laba. Akibatnya, uang dianggap paling penting untuk meraih kekayaan. Sejak itu pula bersemi ”nafsu” mengakumulasi. Dalam pandangan etika Aristoteles: mencari kekayaan tak terbatas, tetapi punya batas.

Karl Marx dan Georg Simmel (keduanya hidup jauh setelah masa Aristoteles) merenungi ihwal uang juga. ”Uang adalah dewa,” kata Marx. Lewat uang, spiritualitas dan kultur digusur materialistik ekonomi dan politik. Bagi Simmel, uang adalah biang penyebar kuasa-modernitas.

Kesusastraan Indonesia juga sudah mengendus efek ”kuasa-uang”, contohnya petikan novel Telegram (1972) Putu Wijaya ini: ”Terhadap hal-hal yang pernah mereka terima sebagai sesuatu yang tidak perlu diperbincangkan, kini diusahakan agar tidak menyimpang dari prinsip-prinsip ekonomi” (…) ”Satu hari penuh aku membungkuk di belakang mesin ketik. Masih ada sisa sore sedikit tatkala aku menancapkan kalimat-kalimat terakhir. Sementara itu, tengah hari, waktu makan aku telah membicarakan pada Direksi soal libur dan pinjaman uang. Untung saja ia seorang yang bisa memaklumi. Inilah yang membuat tanganku cepat sekali menyelesaikan karangan itu.”

Contoh lain, nukilan novel Pasar (1995) Kuntowijoyo ini:

”Wah, sekarang lain,” tegur penjual nasi gulai.

Paijo mengamati bajunya. ”Apa yang lain?”

”Bajunya baru. Dan tak mau jajan lagi.”

Ya. Paijo pernah bertengkar dengan penjual itu. Mereka mau rujuk kembali nampaknya.

”Wah, punya pasar luas, tetapi tak ada uang,” katanya.

”Karcis sudah lama tak ditarik?”

”Habis!”

”Salahmu sendiri? Malas!”

”Sekarang mana uang karcis!”

Paijo main-main saja, tetapi penjual nasi itu mengeluarkan uang. Paijo menerima uang itu. Dan buru-buru pergi ke kantor pasar.

Masih ada contoh lain efek ”kuasa-uang” dalam kesusastraan Indonesia, sebut saja novel Belenggu (1940) Armijn Pane dan novel Ronggeng Dukuh Paruk (1982) Ahmad Tohari. Keduanya ikut merefleksikan manusia modern yang terkena efek ”kuasa-uang” melalui tokoh Yah yang menjadi perempuan panggilan dalam Belenggu dan tokoh Srintil yang menjadi ronggeng dalam Ronggeng Dukuh Paruk.

Resepsi

Gundah gulana Bandung Mawardi dalam tulisannya di koran ini, ”Uang, Modernitas, dan Tafsir Sastra” (Minggu, 7 Maret 2010) merangsang pemaparan-pemaparan saya di atas. Ia menilai penting tema uang dalam kesusastraan.

Harapan Bandung: ”Kesanggupan untuk menggarap tema ini mungkin membuka wacana kompleks kesadaran atas fakta-fakta dalam garapan sastra” dan ”penggarapan sastra dengan tema uang tentu bisa jadi dokumen untuk membaca resepsi dan perilaku orang Indonesia terhadap uang sebagai pamrih untuk hidup atau menjadi modern”.

Rada prihatin pula Bandung menuliskan: ”Eksplorasi terhadap tema uang justru masih jarang dilakukan oleh empu-empu sastra Indonesia” dan ia mencontohkan novel-novel non-Indonesia bertema uang seperti The House of Mirth (1905) Edith Wharton dan The Great Gatsby karya F Scott Fitzgerald.

”Kuasa-uang” tak bisa dielak meski filsuf dan ilmuwan mewanti-wanti dan mengkritik habis-habisan. Di zaman ini, tanpa uang potensial menerima risiko isi pepatah ini: ada uang abang disayang, tak ada uang abang melayang.

Maka ”moralitas uang” menjadi penting. Keserakahan modernitas menjadikan uang sebagai senjata dan tujuan. Ini berarti kesusastraan yang merefleksikan moralitas uang merupakan kritik telak ke jantung modernitas.

Tak mempankah money politics, money laundering, korupsi, dan suap diteriaki oleh media massa, pamflet, jargon, slogan, poster, dan aksi massa? Belum kuatkah suara ilmu dan filsafat mendengungkan ancaman ”kuasa-uang” bagi kemanusiaan modern sehingga kesusastraan mesti turun tangan? Ilmu dan filsafat menyalakan ”kesadaran pikiran” dalam mengungkai perkara dan kesusastraan punya cara sendiri untuk menggaungkannya, misal lewat strategi literer yang menyentuh ”kesadaran batin”.

Ihwal ”kuasa-uang”, pada 1842 terbit cerpen panjang Nikolai Gogol, Shinel. Alkisah, Akaki Akakiewitsch pegawai kecil yang miskin. Ia kerap dihina karena mantelnya rombeng. Ia tak bisa segera membeli mantel baru. Setelah lama menabung, ia bisa membeli mantel baru tetapi dirampas bandit jalanan saat musim dingin. Aparat malas mengurus kasusnya. Ia mati terserang demam sebab kedinginan. Hantu Akakiewitsch gentayangan merampasi mantel (shinel) para pegawai dan siapa saja.

Shinel memendarkan kompleksitas dan absurditas efek ”kuasa-uang” dengan mengaduk rasionalitas dan irasionalitas. Akakiewitsch berjuang menabung receh demi receh untuk sehelai mantel yang lantas dirampas bandit dan setelah mati ia membalas dendam.

Apakah Gogol menakuti modernitas atau meneror ”kuasa uang” lewat hantu Akakiewitsch? Ia mahir mendeskripsikan efek ”kuasa-uang” melalui dialog, pengisahan, dan penokohan. Tanpa propaganda. Ia bercerita secara bagus dan mencerminkan pemahaman mendalam pada manusia modern dan masalah hidupnya.

Gogol tak memperalat Akakiewitsch. Akakiewitsch adalah contoh korban modernitas yang menjadikan uang sebagai ukuran dan tujuan tertinggi sehingga mengikis nilai kemanusiaan. Banyak ”Akakiewitsch lain” atau hantu-hantunya yang mengantre disastrakan, bukan?

Binhad Nurrohmat Penyair dan Sivitas Akademika Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mencari Indah dalam Buruk Rupa Dunia

Judul Buku : Cala Ibi
Penulis : Nukila Amal
Penerbit : Pena Gaia Klasik
Cetakan Pertama : April 2003
Tebal : 271 Halaman
Peresensi: Askolan Lubis
http://www.sinarharapan.co.id/

Petikan kalimat diatas diucapkan oleh Maia dalam fragmen terakhir (Surat dan Tanda Terakhir) dari novel Cala Ibi yang ditulis Nukila Amal ini.

Kalimat tersebut seolah hendak menegaskan tantang keberadaan karya ini: di tengah centang perenang realitas keseharian yang menyesakkan, Cala Ibi datang menyenandungkan irama lain yang teramat indah, namun acapkali dianggap tidak penting, yaitu mimpi.

Dengan memberi judul Cala Ibi (Naga)—yang tak lain adalah nama hewan agung lambang para kaisar Cina—pada novel ini, Nukila tampaknya hendak memberi tempat terhormat pada dunia bernama ”mimpi”.
Bagaimana tidak? Naga adalah hewan yang diyakini adanya, tapi tak seorangpun yang bisa memastikan atau melihat wujudnya.

Anehnya lagi, ia bukan sejenis reptil, tapi seperti ular. Bukan burung tapi bersayap dan bisa terbang. Bukan ikan, tapi bers…

POTRET MANUSIA MARJINAL DALAM CERPEN-CERPEN JONI ARIADINATA*

Maman S. Mahayana**)
http://mahayana-mahadewa.com/

00. Sastra adalah dunia yang serba mungkin; apapun bisa jadi mungkin (probability), termasuk di dalamnya, yang mustahil pun bisa saja menjadi mungkin. Jadi, dalam keser-bamungkinan atau kemustahilan itu, berbagai peristiwa yang mungkin dan yang mustahil, bisa saja terjadi sekali-sekali, gonta-ganti atau serempak secara tumpang-tindih. Oleh karena itu, salah satu kekhasan karya sastra (fiksi) yang sering dimanfaatkan untuk mem-bedakannya dengan karya nonfiksi adalah adanya kebolehjadian (plausibility) itu. Itulah sastra! Ia bisa menampilkan dunia yang realistik dan masuk akal secara meyakinkan. Na-mun, ia juga dapat menampilkan hal yang sebaliknya. Di sana, mungkin ada dunia jung-kir-balik, irasional, dan amburadul. Semua boleh saja terjadi, dan itu sah! Tidak ada rumus yang pasti yang berlaku universal. Selalu saja ada yang khas, unik, dan nyeleneh. Selalu ada saja kekhasan individual, meskipun ciri atau sifat-sifatnya, mungkin berlaku …

Sastra Indonesia Mutakhir: Jejak Historis dan Kecenderungan Estetiknya

Jamal T. Suryanata
http://tuasmedia-2.blogspot.com/

/ 1 /

Memperbincangkan ihwal sastra Indonesia mutakhir, sebagai suatu tema besar, tentu saja bukan sebuah persoalan yang tanpa risiko. Di samping karena begitu luasnya cakupan pengertian “sastra Indonesia” itu sendiri, juga dilantarankan oleh ketakrifan istilah “mutakhir” yang digunakan dalam judul tulisan ini memang cenderung bermakna bias (baca: bersifat deiktis).