Langsung ke konten utama

Pram, Said, dan Kritik Sastra

Asarpin
http://www.lampungpost.com/

KRITIK sastra sudah sejak lama ditanggapi dengan dua kemungkinan: disuka atau dibenci. Sudah terlampau banyak yang tidak suka dengan kritik sastra, dan begitu banyak juga yang mengharapkan lahirnya kritik sastra dengan berbagai genrenya.

Telisik ini tidak bermaksud menyajikan berbagai model kritik sastra. Tapi hanya sekadar mendiskusikan kembali apa yang disebut kritik biografi dan kritik teks. Apa boleh buat, dua persoalan ini akan terus muncul. Suka tidak suka, sebuah kritik tidak mungkin dipisahkan dari teks dan pengarang.

Saya ingin mengambil contoh dari dua nama yang selama ini terlibat penuh dalam dunia kritik sastra. Seperti sudah banyak diketahui, Pram, selain novelis juga kritikus sastra. Pram termasuk berjasa menyulut polemik yang kritis di negeri ini. Ratusan esai kritik sastra lahir dari tangannya. Buku Realisme Sosialis dan Sastra Indonesia dan buku Menggelinding I adalah contoh terbaik bagaimana Pram mencurahkan perhatian dengan kritik sastra.

Pram tidak memisahkan sastra dengan pengarangnya, karena baginya, sebuah karya tidak lahir tanpa keberadaan manusia sebagai pengarang. Tingkah-laku, filosofi, dan ideologi atau sikap politik pengarang, bagi Pram, mesti dibedah, diangkat, dan dibabat jika memang sejarah mengharuskan kita harus bertindak demikian.

Tentu saja banyak yang tak sepakat dengan sikap Pram yang tegas itu. Sebagian besar pengarang menolak kritik sastra semacam itu. Tugas seorang kritikus bagi mereka adalah membedah dan mengkritik sastra, bukan sibuk mengungkit-angkit biografi pengarangnya. Tapi yang sepakat dengan cara Pram itu tak kalah banyaknya. Bahkan mungkin jauh lebih banyak.

Fenomena itu tak hanya terjadi di Indonesia. Ketika Edward W. Said banyak mempersoalkan sikap pengarang di Barat, para kritikus terbelah dalam dua pendapat. Gagasan Said tentang teks dan pengarang ternyata tak hanya disambut meriah di Barat, tapi juga menyedot perhatian kritikus di dunia ketiga seperti di Palestina, Mesir, India, Indonesia.

Kedua tokoh ini sama-sama dikagumi oleh gerakan feminisme. Kalau gagasan Said banyak digunakan kaum feminis di belahan dunia untuk mengkritik budaya patriarki dan kekerasan terhadap perempuan, tokoh-tokoh perempuan dalam novel-novel Pram mendapat simpati bagi gerakan feminisme di Indonesia. Keduanya banyak dipengaruhi oleh gagasan Marxis, termasuk Marx dan Gramsci.

Contoh gamblang keterkaitan Said dengan Marxis adalah satu kutipan dari Karl Marx di halaman pembukaan buku Orientalisme: “Mereka tidak bisa tampil sendiri; mereka harus ditampilkan”. Sementara keterkaitan Said dengan gagasan Gramscian terlihat pada kalimat dalam pendahuluan yang mengutip buku Prison Notebooks karya Gramsci: “Titik tolak dari kerja kritik adalah kesadaran tentang siapa diri seseorang itu sebenarnya, dan menyadari diri sendiri sebagai satu hasil dari proses sejarah sampai detik-detik yang terakhir, yang telah mengendapkan dalam diri Anda suatu ketidakterbatasan jejak, tanpa meninggalkan inventaris.”

Di Indonesia, Pram menulis sebuah novel sejarah tentang jejak langkah dan inventaris perjuangan yang dilakukan kaum pribumi sejak mula pertama abad ke-20. Said tidak hanya dicap sebagai kaum Marxis tapi benar-benar berhaluan kiri. Shelley Walia dalam Edward W. Said dan Penulisan Sejarah (2003) bahkan menyebut Said sebagai Pos-strukturalis-Kiri.

Kritik-kritik yang dilontarkan Said amat berpengaruh, tidak hanya bagi sastrawan, tapi juga bagi para politikus. Said memang jago membingkai dan menerasi ulang praktek-praktek imperialisme yang dilandasi oleh produksi pengetahuan dan bagaimana formasi diskursif bernama Timur ditulis dan diciptakan oleh imperium Barat lewat novel, sebagaimana ia tulis dalam Kebudayaan dan Kekuasaan.

Kedua pengarang ini mengambil pendirian politik aktif lewat tulisan-tulisan yang kritis. Said memanfaatkan posisinya sebagai orang yang ditundung menjadi posisi yang berpengaruh, diperhitungkan, dan hampir-hampir tak pernah bisa ditundukkan. Pram memanfaatkan posisi tertindasnya, posisinya sebagai manusia bubu, untuk kemudian “mendendam” dengan memantapkan dirinya lewat karya kreatif yang gemilang.

Bagi Said, tak ada kalangan yang tak bisa dikritik atau dicela kalau memang diperlukan. Tak ada Paus yang harus senantiasa dipuja dan dimintai petunjuk. Pram dengan keras mengkritik orang yang bahkan memilki jasa terhadap dirinya. Ia mengakui “Paus Sastra Indonesia”, H.B. Jassin, sebagai gurunya. Tapi banyak sekali kritik yang dilontarkan Pram terhadap kritikus yang berpengaruh tersebut.

Pram dan Said begitu percaya pada kekuatan narasi dan keduanya dikenal sebagai sejarawan sastra yang mencurahkan perhatian terhadap estetika dan politik, teks dan pengarang, dunia dan pembaca. Keduanya sadar kalau setiap karya sastra tak terpisahkan dari realitas pengalaman manusia dalam jungkir-baliknya, dalam kenikmatan dan kemewahannya.

Keduanya dikenal sangat usil terhadap pribadi dan sikap pengarang yang “melacur”, juga sejarah dan sastra, hingga relasi pribadi dan publik.

Pembelaan Said terhadap negara-negara terjajah menunjukkan satu model kritik sastra yang berpihak.

Upaya Pram membongkar penerbit-penerbit kolonial di Indonesia, kritiknya atas beasiswa dari penjajah yang diterima sastrawan Indonesia yang sedang terjajah, sastrawan-sastrawan yang bermental pengemis dan menghamba dana kepada pemerintah, melacurkan karier, sikap usilnya terhadap fungsi dan kegunaan sastra di tengah revolusi, menunjukkan kalau Pram tidak hanya asyik dengan karya sastra, tapi juga sebagai penyelidik dan pengamat gerak-gerik para pengarang.

Komitmen semacam itu sering dianggapi sebagai memata-matai atau ditolak dengan sikap sinis oleh lawan-lawan polemiknya. Bisakah kita membaca sebuah buku dengan tidak mengetahui sama sekali pengarangnya? Kalau saya membeli sebuah buku, tentu pertama-tama karena saya tahu siapa pengarang buku itu. Kalau saya tidak tahu, mungkin saya akan berpikir ulang atau membeli yang lain.

Pada mulanya mengetahui pengarang, kemudian baru mengetahui teks atau isi sebuah buku. Tapi bisa juga berjalan paralel. Kadang-kadang kita mengetahui teks terlebih dulu baru pengarangnya, tapi tak jarang kita mengetahui pengarangnya lebih dulu ketimbang karyanya. Dengan kata lain, tak mungkin memisahkan karya dengan pengarang karena keduanya ibarat darah dan daging.

Mempersoalkan dari mana uang dan kekayaan yang diperoleh seorang pengarang, bagi Said, bukan hal sia-sia. Pengarang sebagai intelektual itu manusia minoritas yang berkualitas, dan sikap kritisnya terhadap apa pun harus tetap dijaga. Peran kritikus harus selalu mengingatkan, mempertanyakan, dan menghantam jika memang diperlukan.

Harus diakui, Pram memang berusaha membawa sastra ke ranah politik yang konkret, dengan mendukung semboyan “politik sebagai panglima”. Sementara bagi Said, sebagaimana dikutip Shelley Walia, “sudah tiba saatnya untuk menceburkan kebudayaan ke dalam lumpur politik”.

Dengan prinsip semacam itu, Pram dan Said membangkang terhadap pandangan dominan dan menempatkan keduanya sebagai intelektual sejarah yang kritis, dengan tidak memisahkan kerja sastra dan kerja politik.

Keduanya memegang teguh prinsip-prinsip, hati nurani, dan komitmen pada perubahan sosial dan transformasi.

Dari tangan kedua tokoh yang telah tiada itu, segalanya tak mungkin dipisahkan dari politik. Muara dari segala proses kreatif seseorang adalah politik. Bahkan ketika Anda mempublikasikan esai kepada masyarakat, kata Said dalam Peran Intelektual (1998), Anda telah memasuki kehidupan politik. Jadi, jika tak ingin politis, janganlah menulis esai atau berbicara. Lebih baik diam saja di rumah.

Asarpin, Pembaca sastra

Komentar

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com