Langsung ke konten utama

Namrud dan Matahari Ibrahim

Salman Rusydie Anwar*
http://airbeningkehidupan.blogspot.com/

“Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya (Allah) karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan). Ketika Ibrahim mengatakan: “Tuhanku ialah Yang menghidupkan dan mematikan,” orang itu berkata: “Saya dapat menghidupkan dan mematikan.” Ibrahim berkata: “Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat,” lalu terdiamlah orang kafir itu; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.”

Kalau Anda perhatikan, perdebatan Ibrahim dengan Raja Namrud waktu itu ternyata bukan sekadar perdebatan teologis yang pada akhirnya mengantarkan Ibrahim menang telak atas Raja Babilonia itu. Namun saya kira, perdebatan itu mengandung teka-teki tertentu berkenaan dengan bagaimana masa depan ilmu teologi dan ilmu kemanusiaan itu sendiri.

Jelasnya begini: kalau Raja Namrud mengatakan bahwa ia merasa mampu “menentukan” mati tidaknya seseorang, maka hal itu konteksnya adalah kemanusiaan. Artinya, dengan kekuasaannya, Raja Namrud memang memungkinkan untuk menentukan hidup matinya nasib kemanusiaan rakyatnya sendiri yang hal itu tentu saja dapat diwujudkan melalui sistem pemerintahan yang ia kembangkan.

Jika sistem pemerintahan yang ia terapkan adalah sistem kekuasaan yang otoriter, tiran, tidak memperdulikan keadilan, sewenang-wenang, korup dan cenderung menindas, maka matilah nasib kedaulatan negaranya dan mampuslah sisi kemanusiaan rakyatnya. Dan sistem semacam ini ternyata tidak hanya berlaku pada Raja Namrud. Siapa pun saja di dunia ini, yang memerintah dengan cara-cara ala Raja Namrud, maka ia dengan sendirinya adalah Namrud-Namrud baru yang dapat “menentukan” hidup matinya rakyat manusia.

Saya menduga bahwa waktu itu Nabi Ibrahim menyadari kalau dalam aspek kemanusiaan Raja Namrud memang bisa menentukan hidup matinya seseorang dari kalangan rakyatnya sendiri. Dan itulah sebabnya kenapa ia tidak mendebat lebih jauh tentang masalah ini. Tidak mendebatnya Nabi Ibrahim mungkin juga menunjukkan sebuah kemungkinan bahwa pemerintahan ala Namrud akan kembali terjadi pada masa-masa selanjutnya. Dan kita pun pernah merasakan aroma pemerintahan ala Namrud macam itu. Bahkan tidak sedikit negara yang menganut sistem pemerintahan ala Namrud saat ini.

Akan tetapi bagaimana dengan konteks teologi dimana kesombongan Namrud pada akhirnya takluk pada perintah Ibrahim agar dia menerbitkan matahari dari sebelah Barat, tidak seperti biasanya yang terbit dari sebelah Timur? Saya menduga bahwa pada akhirnya matahari itu memang akan selalu terbit dari sebelah timur. Dan jika ia terbit dari sebelah barat, maka kiamatlah itu namanya.

Sekarang saya ingin mengajak Anda untuk berbicara matahari dalam konteks yang lebih simbolistik. Dalam tradisi sufi dan spiritualisme Islam, matahari itu adalah perlambang atau simbol dari sifat Tuhan. Sifat dan karakter matahari adalah membangunkan, yaitu membangun kehidupan untuk dijalankan kembali oleh manusia. Terbitnya matahari dengan sendirinya adalah pertanda dari bangunnya kehidupan setelah mengalami ketertiduran sebelumnya.

Selain itu, sifat matahari yang lain adalah menerangi. Kehidupan tidak akan berjalan dengan benar apabila tidak ada pencahayaan yang berasal dari matahari, sehingga menjadi jelaslah jalan-jalan mana yang harus ditempuh. Dengan matahari, Anda dapat mengenali dengan lebih jelas jurang yang ada di depan Anda, mana yang duri dan mana yang bukan. Lebih jelasnya, matahari dapat menuntun Anda pada jalan mana yang harus Anda lalui.

Lalau kalau kemudian ada istilah peradaban Timur, maka itu sebenarnya adalah peradaban matahari, atau peradaban yang dibangun di atas kesadaran yang utuh pada Tuhan serta sekaligus peradaban yang dijalankan di bawah pencahayaan matahari atau nilai-nilai ketuhanan itu sendiri.

Pertanyaannya kemudian; apakah yang dimaksud peradaban Timur itu adalah peradaban yang muncul dari wilayah-wilayah yang secara geografis ada di bagian Timur?

Terus terang saya tidak begitu setuju dengan konsep ini. Memang, konsep pembagian peradaban itu memang dibagi menjadi dua bagian. Ada peradaban Timur yang diwakili oleh negara-negara Asia dan semacamnya dan ada peradaban Barat yang identik dengan negara-negara Eropa. Akan tetapi peradaban Timut itu menurut saya hanyalah sebuah idealisme, cita-cita, nilai-nilai dan bukan pemetaan dikotomis geografis macam itu. Sebab Allah sudah menegaskan bahwa kepunyaan Allahlah barat dan timur itu. Sehingga kemana saja engkau menghadap, kalau ia ditujukan kepada “wajah Allah”, maka engkau akan selamat dan mendapat pahala kebenaran.

Sebagai sebuah idealisme, maka peradaban Timur itu sebenarnya dapat dikembangkan dimana saja. Anda boleh saja hidup di benua Amerika, tetapi jika peradaban yang Anda bangun adalah peradaban matahari atau peradaban yang menumbuhkan, membangunkan dan peradaban yang dijalankan di bawah cahaya ketuhanan, maka Anda berhak disebut sebagai pemeluk peradaban Timur.

Sekali lagi ingin saya tegaskan bahwa apa yang saya kemukakan dari awal adalah menafsir-nafsirkan, jadi bukan tafsir, dan juga hanya sebagai upaya untuk melakukan tajribah. Benar-benar tidaknya segala yang sudah saya katakan, tentu harus dikembalikan pada pengkajian dan penelitian yang lebih serius lagi. Dan disitulah letak tanggung jawab kita sebenarnya.

Kita perlu melakukan pengkajian dan pembelajaran dengan penuh tanggung jawab atas segala sesuatu yang sudah difirmankan oleh Allah. Secara historis, kisah Ibrahim dalam ayat di atas memang berbicara tentang perlawanan beliau atas arogansi dan hegemoni Namrud. Tetapi secara pesan keilmuan dan substansi petunjuknya, kisah itu juga mendorong kita untuk lebih jeli melihat peluang-peluang yang dapat kita masuki untuk menerbitkan cahaya matahari ketuhanan, agar peradaban Namrud dapat diperbaiki. Syukur-syukur dapat dihilangkan, sehingga nasib kemanusiaan tidak mengalami kematian demi kematian.

Kebumen 22 February 2010.

Komentar

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com