Puisi-Puisi Pringadi AS

http://www.sastra-indonesia.com/
Sebuah Jawaban di Stasiun Kereta
: wan anwar

dari Ampera, aku tidak pernah berpikir akan lupa pada seporsi
mpek-mpek yang asam, dan manisnya segelas es campur di keruhnya
wajahmu. tiga puluh menit, Wan, tiga puluh menit saja aku sudah
sampai di kereta membawa sebuah koper yang berisikan wangi
parfummu tetapi aku masih meninggalkan selembar kertas kosong
atas pertanyaanmu dulu. aku duduk di gerbong ke tiga,
sebuah televisi menyala menampilkan sakit yang sama saat aku berjanji
takkan lagi pernah menemuimu yang rubuh
di jalan raya,
di sekitaran air mancur dekat masjid Agung yang luntur
sebab mata ibu tak lagi merunduk mencari aku
di sekitaran lampu merah
di pinggir-pinggir ibukota dengan sandal jepit
dan pikiran yang selalu sempit.

dari Ampera, Wan, aku merindukan kepergianmu yang angslup
di balik dua garis sejajar yang bertemu
di satu titik milikmu, titik yang menyampaikan pesan terakhirmu

di kertas kosong itu.



Suatu Malam di Cianjur
: wan anwar

Menguburmu malam-malam, aku teringat mpek-mpek kapal selam. Sagu
Yang putih berbanding lurus dengan ikan yang digiling tirus. Sebutir telur
Sudah siap dikubur dalam adonan yang gembur, membayangkan ia
Terendam dalam cuka yang masam. Aku tak mengenal perihal ombak,
Gunung, dan seribu satu gedung yang menjulang dan kau tanyakan dulu
Di sebuah kepulangan di sebuah stasiun parahyangan. Jalan
Ke kertapati ini memang tak bisa dilalui oleh kereta. Tetapi mungkin kata
Sudah sembunyi di balik koper seorang pria yang merindukan pinggir
Sungai musi yang cokelat seperti bibirmu. Aku tak mengerti
Kenapa gurih itu mengingatkanku akan sepasang puisi di surat-suratmu
Yang menceritakan Tuan dan masa silam. Sebab di kota ini, Wan
Aku bisa saja menjadi seorang Hindhi yang meluruhkan tubuhmu
Menjadi abu di sepanjang hulu. Tapi malam ini, di langit Cianjur, aku
Terlanjur lupa bagaimana caranya menyalakan api di kedua tanganku ini. Aku
Terlanjur duka melihat kafan putih yang seperti terigu bercampur belida
Telah membungkus tubuhmu yang kerap mata sapi sempurna.

Menguburmu malam-malam, aku sebenarnya adalah pohon kamboja
Yang lupa caranya tersenyum sejak aku dilahirkan.



Perihal Hatiku

…………………..perihal perih……………………….dan rasa sakit
…………..aku ingin sekali pergi ke gurun……….ke laut ke gunung ke goa
……….lalu jatuh di dua benua yang urung …terbelah diguncang angin jelek
……..angin yang kadung iri pada jemuran di tiang gantungan dengan kepalamu
………..yang tersenyum atau marah karena aku telah diam-diam lupa kepada
…………..janji dulu di taman bunga, ketika kenari mekar dan kau berupaya
……………jadi lebah yang membelah kancing-kancing bajuku yang sudah
……………….terbuka setengahnya meminta bibirmu lepas atau mata
…………………itu keranjang yang sampah bekas makan siang dulu
……………………saat segala sesuatu masih aku masih dadaku
…………………………masih malam minggu dengan remang
………………………….lampu yang nakal dan genit itu
………………………………..aku ingin sekali pergi ke
……………………………………gurun ke laut ke
……………………………………..gunung ke
………………………………………..goa ke
…………………………………………kau



Waru

…………………….sebab
….. ……………mencintaimu
……………adalah seperti ranting
………….yang tabah menjaga helai
…………………….daun
………………yang sebenarnya
…………………ingin rebah
…………………..di basah……………..di helai
…………………….tanah………….yang lain angin
………………………api………..tak bisa menahan ingin
…………………………………….gugur musim, jatuh
……………………………………..ulat-ulat daun itu
……………………………………..aku mencintaimu
………………………………………sebelum segala
…………………………………………..sesuatu
……………………………………………waktu
………………………………………………itu



Jalan Kenangan

sejak kemarau satu tahun lalu itu, bangau dan burung-burung nasar tak lagi pernah
hinggap di pohon jambu belakang rumah. sebab kandang ayam di sebelahnya sudah
kosong tak berpenghuni direnggut influenza yang tak tahu caranya menyerang kami.
daun-daun ranggas, ulat-ulat yang tabah mencerna angin sudah melanggar sumpah
untuk setia pada batang pohon yang mulai mengenal kematian. seekor lebah tengah
membangun rumah dari kotoran hidung, dan laba-laba masih menunggu tanpa
kepastian kapan seekor nyamuk berani singgah untuk dibuatkan secangkir kopi.

sejak kemarau satu tahun lalu itu, kami sudah tak pernah duduk di kursi lapuk dan
tidur di atas kasur kapuk. kami berdiri dengan berani di atas genting menangkap
kabar angin dari negeri seberang yang sudah mencuri layang-layang kami dulu.

Komentar