06/12/08

KEGELISAHAN TANDA HIDUP

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Kegairahan hidup dan semangat yang meledak-ledak! Itulah kesan yang segera muncul ketika kita pertama kali dapat mengobrol dengan sosok Sitor Situmorang. Sebagai seorang Batak, ia sangat terbuka, lugas, dan gampang diajak bicara. Semalaman kita bisa dengan enteng berdiskusi, berdebat atau berbual-bual ke sana ke mari, jika ada topik pembicaraan yang diminatinya. Gaya dan sikapnya yang terkesan sangat egaliter itu, tidak jarang bakal menyeret kita pada pusaran masalah yang disodorkannya. Itulah sebabnya, mengobrol dan berdiskusi dengan seorang Sitor Situmorang, selalu memberi keasyikan dan pesona tersendiri. Jika tak berhati-hati, ia akan menghipnotis kita dengan masalah-masalah yang sebenarnya bukan masalah kita. Itu juga salah satu kepiawaiannya menyodorkan problem dirinya yang lalu digiring seolah-olah menjadi problem bersama.

Meskipun demikian, dalam hal tertentu atau jika ia punya masalah yang belum dapat diselesaikannya, Sitor juga terkesan seperti sengaja menyimpan misteri. Jika sudah begitu, sangat mungkin ia lebih suka memilih menyendiri, mengasingkan diri, menikmati sepi, atau asyik-masyuk dalam perjalanan kegelisahannya mencari. Itulah sosok pengelana yang terjerat oleh hasratnya yang tak pernah berhenti mencari. Dan ia akan terus melakukan itu dalam hiruk-pikuk keramaian atau dalam sepi yang membakarnya. Demikianlah, kesan yang samar-samar dapat kita tangkap dari sosok pribadi Sitor Situmorang, salah seorang penyair penting dan terkemuka di negeri ini.

Boleh jadi lantaran itu pula, ciri yang paling menonjol dari kepenyairan Sitor adalah gerak langkahnya yang seperti tiada pernah berhenti mencari. Periksalah puisi-puisi awalnya sebagaimana yang termuat dalam Surat Kertas Hijau (Jakarta: Dian Rakyat, 1985 (cet. III, Cet. I, 1953). Dikatakannya, “Kujelajahi bumi dan alis kekasih/ Kuketok dinding segala kota/Semua menyisih// Dalam kegelandangannya itu, lahirlah sikap yang justru sangat menentukan gerak langkah perjalanan hidupnya kemudian: Sejak itu sepakat kebuntuan/Jadi teman seperjalanan kekosongan/Dalam sajak mencari kepenuhan/Perang antara kesetiaan dan pengembaraan// (“Berita Perjalanan”)

Hampir semua puisinya dalam antologi itu mewartakan sebuah pencarian yang panjang. Dan sepi terasing menjadi bagian yang tak pernah lepas dari perjalanannya itu hingga kini. Dalam hal itulah, dapat dipahami jika kemudian A. Teeuw –di antara keterpesonaannya pada puisi-puisi Sitor—menyebutnya sebagai manusia penyair dari tiga zaman, tiga negeri, dan tiga bahasa. Inilah yang dikatakan kritikus asal Belanda itu dalam bukunya Tergantung pada Kata (Jakarta: Pustaka Jaya, 1980: 32—33).

“Tiga zaman: sesudah Chairil Anwar, dia menjadi penyair Angkatan 45 yang terkemuka, dengan varian eksistensialisnya sendiri; lantar dia menonjol pula di zaman demokrasi terpimpin, dengan sajak yang … kehilangan sari kepenyairannya; kemudian, sesudah selingan delapan tahun terpaksa bungkam dalam tahanan, dia muncul lagi di panggung puisi Indonesia dengan arus sajak baru yang mewakili perkembangan baru ….

Tiga negeri: sebagai penyair Sitor menunjukkan tiga sifat orientasi geografi budaya: jelas dia penyair Batak, yang setiap kali kembali pada tanah asal. Sudah tentu dia penyair Indonesia pula, wakil negara … Dan akhirnya (atau awalnya; sebab Surat Kertas Hijau sebagian besar lahir dari “bumi Prancis”) dia penghuni Eropa, khususnya Prancis, tetapi pula Italia dan Belanda dan beberapa negeri lagi.”

Tiga bahasa: sudah tentu puisi yang dikarangnya terutama dalam bahasa Indonesia –tetapi sesudah pembebasannya dari tahanan, dia mencipta pula cukup banyak puisi dalam bahasa Inggris (The Rites of the Bali Aga) dan dalam bahasa Belanda.”

Pernyataan Teeuw itu tentu saja sangat beralasan. Bagaimanapun juga, sikap hidup Sitor yang ingin terus mencari dan menikmati kegelisahannya dalam sepi –yang dalam bahasa Sitor sendiri, ”kegelisahan tanda hidup”—menyeretnya pada sejumlah risiko yang harus dihadapinya. Dan Sitor bukan sosok manusia yang suka melepaskan diri dari tanggung jawab. Ia konsekuen atas pilihan hidup yang dijalaninya. Niscaya pula di dalamnya, termasuk sikap kepenyairannya. Dalam arti luas, sikap itu menjadi sebuah ideologi yang dianut dalam kehidupan berkesenian.

Sikap hidup berkesenian itu, tentu saja didasari oleh komitmennya terhadap perjuangan kebangsaan yang diyakini sebagai keharusan. Maka, di awal memasuki kehidupan berkesenian, selepas keterlibatannya di dalam pergolakan perjuangan mempertahankan kemerdekaan hingga ia ditangkap Belanda dalam agresi kedua dan kemudian dijebloskan ke penjara Wirogunan Yogyakarta, ketika ia merasa ikut terpanggil memikirkan masalah-masalah kebudayaan, Sitor Situmorang dengan lantang membela konsepsi kesenian Angkatan 45.

Manakala keberadaan Angkatan 45 mendapat serangan dan tentangan yang secara tegas dikatakan Jogaswara, bahwa "Angkatan 45 Sudah Mampus" (Spektra, No. 1, Th. I, 1949), Sitor dalam artikelnya, “Konsepsi Seni Angkatan 45” (Gelanggang, 27 November 1949), justru menafikan pandangan itu. “Angkatan 45 tidak mampus, tetapi sungguh masih hidup segar dan lincah!" Jika bagi pelukis Affandi konsepsi seni Angkatan 45 itu sebagai “Peri-kemanusiaan” yang menurut Chairil Anwar, “human-dignity”, maka Sitor menerjemahkannya sebagai harga-diri manusia. Pembelaannya atas gagasan Chairil itu, jelas mencerminkan pandangan dan sekaligus sikapnya dalam berkesenian. Dari berbagai pandangan dan istilah yang berkembang berkenaan dengan konsepsi seni Angkatan 45 itulah, H.B. Jassin kemudian merumuskannya dengan istilah humanisme universal. Sebuah ideologi kultural yang menempatkan martabat manusia dan kemanusiaan sejagat sebagai dasar dalam perjuangan di lapangan kesenian dan kebudayaan.
***

Selanjutnya, Sitor Situmorang tidak lagi terlibat dalam simpang-siur perdebatan mengenai konsepsi seni Angkatan 45 lantaran ia pergi ke Belanda (1950) dan kemudian ke Prancis (1952). Tahun 1953 ia kembali ke tanah air sambil mengusung oleh-olehnya mengenai eksistensialisme. Ia hanyut dalam problem filsafat itu yang –sadar atau tidak—masuk dan menyelusup dalam tiga antologi puisi, Surat Kertas Hijau (1953), Dalam Sajak (1955), Wajah tak Bernama (1955), satu antologi cerpen Pertempuran dan Salju di Paris (1956), dan satu antologi drama Jalan Mutiara (1954).

Ketika kepengarangannya begitu penting dalam peta kesusastraan Indonesia masa itu dan karya-karyanya mendapat sorotan luas, Sitor kembali meninggalkan Indonesia untuk studi tentang film dan drama di Amerika Serikat (1956). Setahun studi di negeri Paman Sam itu (1956—1957), ia pulang ke Indonesia dan kemudian menjadi Pemimpin Umum harian Berita Indonesia dan Warta Dunia (1957) dan menjadi dosen di Akademi Theater Nasional Indonesia. Di samping itu, ia juga kemudian dipercaya menduduki jabatan Ketua Lembaga Kebudayaan Nasional (1959). Boleh jadi karena berbagai kesibukannya yang cenderung rutin itu atau mungkin juga lantaran kemapanannya, sosok Sitor Situmorang seperti telah melupakan sikap hidupnya. Bahkan, belakangan, ia ikut hanyut dalam hingar-bingar kegiatan politik praktis. Di situlah kepribadian Sitor yang semula menyatakan “kegelisahan tanda hidup” seperti tenggelam. Ia condong mengabdikan diri pada hiruk-pikuk politik.

Perubahan pun terjadi. Ia tercatat sebagai anggota Partai Nasional Indonesia (PNI). Tidak terelakkan, sikap berkeseniannya, juga mengikuti arus deras kehidupan politik. Tentu saja keadaan itu sangat besar pengaruhnya dalam diri kepengarangannya. Maka, karya-karyanya yang terbit ketika itu, sungguh tidak mewakili pribadi asli sosok pengelana yang tiada henti mencari atau seseorang yang senantiasa diterjang kegelisahan. “Kelincahan dan kemerduan yang tadinya terdapat dalam sajak-sajaknya diganti dengan bahasa bombastis dan slogan-slogan murah. Hal itu tampak sekali dalam sajak-sajaknya yang terkumpul dalam antologi Zaman Baru (1962),” begitulah komentar Ajip Rosidi (1976: 118) atas terjadinya perubahan kepengarangan Sitor Situmorang.

Politik agaknya memang sering kali mengubah sikap dan pandangan seseorang tentang sesuatu. Itu pula yang terjadi dalam diri Sitor Situmorang. Mengenai hal itu, perhatikanlah pendapat Subagio Sastrowardojo (1989; 202) berikut ini: “Sitor Situmorang pada dasarnya adalah seorang individualis, yang telah terbukti sanggup menciptakan sajak-sajak yang bagus dalam kumpulan-kumpulan sajaknya yang terdahulu, justru karena menyatakan dirinya secara jujur dalam sajak. Tetapi sekali ia berusaha melibatkan dirinya ke dalam kepentingan kolektif dalam ujud ideologi politik, agama, atau budaya, sajak-sajaknya lalu kehilangan keyakinan. Penyelaman dan penyatuan dirinya tidak bisa lebih dari lintasan permukaan.”

Tak hanya itu, Sitor Situmorang yang semula membela Chairil Anwar, kini hendak disisihkan. Dikatakannya, “Chairil Anwar adalah individualis tak bertanah air, kosmopolitan versi Indonesia. … Jadi, dapatlah dikatakan, bahwa Chairil Anwar adalah penyair yang dalam sikap maupun pengakuan adalah kosmopolitan yang tidak punya arti buat revolusi kita, kecuali sebagai dokumentasi tentang keasingan dan keisengan di tengah revolusi dan di tengah masyarakat sendiri. … Penamaan “Angkatan 45” oleh karenanya sepanjang dihubungkan dengan prestasi Chairil Anwar, makin tidak tepat lagi.” Begitu penegasan Sitor Situmorang dalam artikelnya, “Chairil Anwar dalam Alam Manipol” (Sastra Revolusioner. Lembaga Kebudayaan Nasional Daerah Jawa Barat, 1965; 30—31).
***

Tetapi, bukan Sitor Situmorang namanya jika ia berhenti mengalami kegelisahan. Maka, selepas ia dibebaskan dari tahanan politik (1966—1974), ia seperti menemukan dirinya kembali. Di dalam penjara, ia memang diam dalam pengertian yang “sediam-diamnya”. Dan seperti sikap hidupnya semula, “kegelisahan tanda hidup” Sitor pun diterjang oleh perasaan itu. Di sini terjadi lagi perubahan sikapnya dalam berkesenian.

Ketika ia dibelenggu ideologi politik, ia mengusung propaganda Sastra Revolusioner. Menurutnya, “suatu gagasan dan kegiatan kebudayaan yang basis sosialnya adalah pada perjuangan revolusioner, dengan sokoguru-sokoguru penyelesaian revolusi, sokoguru pembebasan rakyat: buruh dan tani… dan segalanya diabdikan kepada politik revolusioner …” (Sastra Revolusioner, hlm. 16), maka sikap dan pandangan mengenai sastra revolusioner itupun, dicampakkannya sejalan dengan kebebasan dirinya. Sitor kembali menjadi manusia pencari yang tak pernah berhenti, penggelisah yang menikmati kegelisahannya sebagai tanda hidup! Sitor pun kembali menggelandang.

“… kebebasan yang baru ditemukan Sitor sesudah delapan tahun terpaksa diam dan terasing, membuatnya mabuk dan mempunyai nafsu lapar untuk hidup, dan puisi menjadi salah satu kebutuhan hidup yang pokok, yang harus dipenuhi belaka. Curahan puisinya tidak hanya terbatas dalam bahasa Indonesia –ia juga menerbitkan sajak-sajaknya dalam bahasa Inggris … dan dalam bahasa Belanda. … Dorongan kreatifnya begitu kuat, sehingga Sitor bisa disebut … sebagai penyembur sajak,” begitu A. Teeuw (Sastra Indonesia Modern II, hlm. 112) melihat lahirnya kembali penyair ini.

Selepas itu, dari tangan Sitor Situmorang lahirlah sejumlah karyanya yang terasa begitu jujur dan lebih mencerminkan kembali sikap berkeseniannya semula: “kegelisahan tanda hidup!” Tercatat, beberapa karyanya yang penting: Dinding Waktu (1976), Angin Danau (1982), Bloem op enn Rots (1990), dan Rindu Kelana (1994).
***

Bagaimanapun, dalam perjalanan kesusastraan Indonesia, sosok penyair Sitor Situmorang, tetaplah punya tempat tersendiri. Dan karya-karya yang telah dihasilkannya, tidak hanya memancangkan tonggak-tonggak penting, tetapi juga mengungkapkan sikap kepenyairan dan berkeseniannya. Di luar persoalan itu, yang sungguh mengagumkan dari kesadarannya berkesenian adalah hasrat untuk tak berhenti menjalani proses belajar: Belajar sepanjang hayat!

Dalam sebuah diskusi yang diselenggarakan Komunitas Bambu beberapa tahun lalu, Sitor menyampaikan pengakuannya: “Guru spiritual saya tidak lain adalah Hamzah Fansuri! Dan saya banyak belajar dari penyair sufi itu.” Niscaya Hamzah Fansuri hanyalah satu satu saja dari sekian banyak guru spiritual lain yang memberi pencerahan pada kepenyairan Sitor. Boleh jadi karena itu pula, Sitor tak hendak menghentikan proses belajar. Tentu saja ia juga tak mau mencampakkan kegelisahannya, agar ia dapat terus berkarya. Maka, pantaslah jika sikap hidup Sitor cukup dinyatakan dalam satu kalimat: Kegelisahan tanda hidup! Kita tunggu saja karyanya yang mencerminkan sikap hidupnya itu!

Tidak ada komentar:

A Rodhi Murtadho A. Anzib A. Junianto A. Qorib Hidayatullah A. Yusrianto Elga A.D. Zubairi A.S. Laksana Abang Eddy Adriansyah Abdi Purmono Abdul Azis Sukarno Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi W. M. Abdul Kirno Tanda Abdul Wachid B.S. Abdurahman Wahid Abidah el Khalieqy Abiyyu Abu Salman Acep Zamzam Noor Achiar M Permana Ade Ridwan Yandwiputra Adhika Prasetya Adi Marsiela Adi Prasetyo Adreas Anggit W. Adrian Ramdani Afrizal Malna Afthonul Afif Agama Para Bajingan Aguk Irawan Mn Agus B. Harianto Agus Buchori Agus R. Sarjono Agus R. Subagyo Agus Sulton Agus Sunarto Agus Utantoro Agus Wibowo Aguslia Hidayah Ahda Imran Ahmad Fatoni Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Nurhasim Ahmad Sahidah Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ajie Najmudin Ajip Rosidi Akbar Ananda Speedgo Akhiriyati Sundari Akhmad Fatoni Akhmad Saefudin Akhmad Sekhu Akhmad Taufiq Akhudiat Alan Woods Alex R. Nainggolan Alexander G.B. Alhafiz K Ali Shari'ati Alizar Tanjung Alvi Puspita Alwi Karmena Amarzan Loebis Amien Kamil Amien Wangsitalaja Amiruddin Al Rahab Amirullah Amril Taufiq Gobel Amy Spangler An. Ismanto Andrea Hirata Andy Riza Hidayat Anes Prabu Sadjarwo Anett Tapai Anindita S Thayf Anjrah Lelono Broto Anne Rufaidah Anton Kurnia Anton Suparyanto Anung Wendyartaka Anwar Holid Aprinus Salam Ari Dwijayanthi Arie MP Tamba Arif B. Prasetyo Arif Bagus Prasetyo Arif Hidayat Aris Darmawan Aris Kurniawan Arswendo Atmowiloto Arti Bumi Intaran Arwan Tuti Artha AS Sumbawi Asarpin Asef Umar Fakhruddin Asep Sambodja Asep Yayat Askolan Lubis Asrul Sani Asvi Marwan Adam Asvi Warman Adam Audifax Awalludin GD Mualif Awaludin Marwan Bagja Hidayat Balada Bale Aksara Bambang Bujono Bambang Irawan Bambang Kempling Bambang Unjianto Bamby Cahyadi Bandung Mawardi Beni Setia Berita Berita Utama Bernando J. Sujibto Berthold Damshäuser Binhad Nurrohmat Bobby Gunawan Bonnie Triyana Bre Redana Brunel University London Budhi Setyawan Budi Darma Budi Hatees Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budiman S. Hartoyo Burhanuddin Bella Cak Kandar Catatan Cepi Zaenal Arifin Cerbung Cerpen Chairil Anwar Chamim Kohari Cucuk Espe D Pujiyono D. Zawawi Imron Dadang Ari Murtono Dahono Fitrianto Dahta Gautama Damanhuri Damhuri Muhammad Dami N. Toda Damiri Mahmud Danarto Dantje S Moeis Darju Prasetya Darwin David Krisna Alka Dedy Tri Riyadi Deni Ahmad Fajar Denny JA Denny Mizhar Deny Tri Aryanti Dian Hartati Dian Sukarno Dicky Dina Oktaviani Dinas Perpustakaan Daerah Lamongan Djenar Maesa Ayu Djoko Pitono Djoko Saryono Djuli Djatiprambudi Dodi Ambardi Dody Kristianto Donatus Nador Donny Anggoro Donny Syofyan Dorothea Rosa Herliany Dwi Arjanto Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Kartika Rahayu Dwi Khoirotun Nisa’ Dwi Pranoto Dwicipta Edy Firmansyah Eep Saefulloh Fatah Eka Budianta Eka Fendri Putra Eka Kurniawan Eko Darmoko Eko Hendri Saiful Eko Suprianto Emha Ainun Nadjib Endah Sulwesi Endi Haryono Endri Y Enung Sudrajat Erwin Erwin Dariyanto Erwin Setia Esai Esha Tegar Putra Evan Ys Evieta Fadjar F. Aziz Manna Fadjriah Nurdiarsih Fahrudin Nasrulloh Faidil Akbar Fakhrunnas MA Jabbar Fanani Rahman Farida-Suliadi Fatah Yasin Noor Fathurrahman Karyadi Feby Indirani Felik K. Nesi Fenny Aprilia Festival Sastra Gresik Fikri MS Firdaus Muhammad Firman Nugraha Fuad Nawawi Galang Ari P. Gampang Prawoto Ganug Nugroho Adi Gerakan Literasi Nasional Gerakan Surah Buku (GSB) Gerson Poyk Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gregorio Lopez y’ Fuentes Gugun El-Guyanie Gunawan Budi Susanto Gunawan Maryanto Guntur Alam Gus tf Sakai Gusti Eka H Marjohan HA. Cholil Mudjirin Hadi Napster Halim HD Hamberan Syahbana Hamdy Salad Hamsad Rangkuti Han Gagas Hanik Uswatun Khasanah Hans Pols Hardi Hamzah Haris del Hakim Haris Firdaus Hasan Gauk Hasan Junus Hasif Amini Hasnan Bachtiar Hasta Indriyana Hawe Setiawan Helwatin Najwa Hepi Andi Bastoni Heri KLM Heri Latief Heri Ruslan Herman RN Hermien Y. Kleden Herry Lamongan Heru Kurniawan Heru Nugroho Hudan Hidayat Hudan Nur Hudel Humaidiy AS Humam S Chudori I.B. Putera Manuaba Ibn Ghifarie Ibnu Rizal Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi Idrus Ignas Kleden Ika Karlina Idris Ilham khoiri Ilham Yusardi Imam Cahyono Imam Muhtarom Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Imron Rosyid Imron Tohari Indiar Manggara Indra Intisa Indra Tranggono Indrian Koto Intan Indah Prathiwie Inung AS Iskandar Noe Iskandar P Nugraha Iwan Nurdaya-Djafar Iyut Fitra J.J. Rizal Jacques Derrida Jafar Fakhrurozi Jafar M Sidik Jafar M. Sidik Jaleswari Pramodhawardani Jamal D Rahman Jamal T. Suryanata Jamrin Abubakar Janual Aidi Javed Paul Syatha Jean Couteau Jean-Marie Gustave Le Clezio Jefri al Malay Jihan Fauziah JJ Rizal JJ. Kusni Jodhi Yudono Johan Edy Raharjo Joko Pinurbo Jokowi Undercover Jonathan Ziberg Joni Ariadinata Joni Lis Efendi Jual Buku Juli Jumari HS Junaidi Jusuf AN Kang Warsa Karya Lukisan: Andry Deblenk Kasijanto Sastrodinomo Kasnadi Katrin Bandel Kedung Darma Romansha Keith Foulcher Khansa Arifah Adila Khisna Pabichara Khrisna Pabichara Kirana Kejora Koh Young Hun Komunitas Deo Gratias Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias Korrie Layun Rampan Kostela (Komunitas Sastra Teater Lamongan) Kristine McKenna Kritik Sastra Kukuh Yudha Karnanta Kurie Suditomo Kurniawan Yunianto Kuswaidi Syafi'ie Kuswinarto L. Ridwan Muljosudarmo Lan Fang Langgeng W Latief S. Nugraha Leila S. Chudori Leo Kelana Leo Tolstoy Lia Anggia Nasution Linda Christanty Liza Wahyuninto LN Idayanie Lukman Santoso Az Luky Setyarini Lutfi Mardiansyah M Abdullah Badri M Aditya M Anta Kusuma M Fadjroel Rachman M. Arman AZ M. Faizi M. Harir Muzakki M. Kanzul Fikri M. Lubabun Ni’am Asshibbamal S. M. Misbahuddin M. Mushthafa M. Nahdiansyah Abdi M. Raudah Jambak M. Yoesoef M.D. Atmaja Mahmud Jauhari Ali Mahwi Air Tawar Makyun Subuki Maman S Mahayana Marcus Suprihadi Mardi Luhung Marhalim Zaini Mario F. Lawi Maroeli Simbolon S. Sn Martin Aleida Martin Suryajaya Marwanto Mashuri Matroni Matroni El-Moezany Mawar Kusuma Max Lane Media: Crayon on Paper Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia MG. Sungatno Misbahus Surur Miziansyah J. Moh. Samsul Arifin Mohammad Eri Irawan Muhammad Antakusuma Muhammad Firdaus Rahmatullah Muhammad Muhibbuddin Muhammad Rain Muhammad Yasir Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun A.S Muhammd Ali Fakih AR Muhidin M. Dahlan Mukhlis Al-Anshor Mulyo Sunyoto Munawir Aziz Murnierida Pram Musa Asy’arie Mustafa Ismail N. Syamsuddin CH. Haesy Nandang Darana Nara Ahirullah Naskah Teater Nazar Nurdin Nenden Lilis A Nezar Patria Nina Herlina Lubis Ning Elia Nirwan Ahmad Arsuka Nirwan Dewanto Nobel Noor H. Dee Noval Jubbek Novelet Nu’man ‘Zeus’ Anggara Nunik Triana Nur Faizah Nur Wahida Idris Nurcholish Madjid Nurdin Kalim Nurel Javissyarqi Nuriel Imamah Nurman Hartono Nuruddin Al Indunissy Nurul Anam Nurul Hadi Koclok Obrolan Oka Rusmini Oktamandjaya Wiguna Olivia Kristinasinaga Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Oyos Saroso H.N. Pandu Jakasurya Parak Seni Parakitri T. Simbolon PDS H.B. Jassin PDS. H.B. Jassin Pembebasan Sastra Pramoedya Ananta Toer Pramoedya Ananta-Toer Pringadi Abdi Surya Pringadi AS Prof. Tamim Pardede sebut Bambang Prosa Proses Kreatif Puisi PuJa Puji Santosa Puput Amiranti N PUstaka puJAngga Putu Wijaya Qaris Tajudin R.N. Bayu Aji Radhar Panca Dahana Rahmat Hidayat Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Ranang Aji S.P. Ranggawarsita Ratih Kumala Ratna Sarumpaet Ratu Selvi Agnesia Raudal Tanjung Banua Remy Sylado Rengga AP Resensi Resistensi Kaum Pergerakan Revolusi RF. Dhonna Riadi Ngasiran Ribut Wijoto Ridwan Munawwar Galuh Riki Dhamparan Putra Risang Anom Pujayanto Riswan Hidayat Riyadi KS Rodli TL Rofiqi Hasan Rojil Nugroho Bayu Aji Rukardi S Sopian S Yoga S. Jai Sabrank Suparno Sahaya Santayana Sainul Hermawan Sajak Sakinah Annisa Mariz Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sanggar Teater Jerit Sapardi Djoko Damono Sarabunis Mubarok Sari Oktafiana Sartika Dian Nuraini Sasti Gotama Sastra Sastra Liar Masa Awal Satmoko Budi Santoso Saut Situmorang Sejarah Sekolah Literasi Gratis (SLG) Sekolah Literasi Gratis (SLG) STKIP Ponorogo Selo Soemardjan Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Septi Sutrisna Sergi Sutanto Sevgi Soysal Shinta Maharani Shiny.ane el’poesya Sholihul Huda Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Siswoyo Sita Planasari A Siti Rutmawati Siti Sa’adah Sitor Situmorang Slamet Hadi Purnomo Sobih Adnan Soeprijadi Tomodihardjo Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sotyati Sri Wintala Achmad St. Sunardi Stefanus P. Elu Stevy Widia Sugi Lanus Sugilanus G. Hartha Suherman Sukardi Rinakit Sulaiman Djaya Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sungging Raga Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Surat Suripto SH Suryadi Suryanto Sastroatmodjo Susianna Susiyo Guntur Sutan Iwan Soekri Munaf Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Suyadi San Syafruddin Hasani Syahruddin El-Fikri Syaiful Amin Syifa Aulia Syu’bah Asa T Agus Khaidir Tasyriq Hifzhillah Tatang Pahat Taufik Ikram Jamil Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Presetyo Teguh Ranusastra Asmara Teguh Winarsho AS Temu Penyair Timur Jawa Tengsoe Tjahjono Theresia Purbandini Thowaf Zuharon Tia Setiadi Tita Maria Kanita Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Tony Herdianto Tosa Poetra Tri Purna Jaya Triyanto Triwikromo Tu-ngang Iskandar Tulus S Ulfatin Ch Umbu Landu Paranggi Umi Kulsum Universitas Indonesia Universitas Jember Urwatul Wustqo Usman Arrumy Utami Widowati UU Hamidy Veronika Ninik Vien Dimyati Vino Warsono Virdika Rizky Utama Vyan Taswirul Afkar W Haryanto W. Herlya Winna W.S. Rendra Wahyu Heriyadi Wahyu Hidayat Wahyu Utomo Walid Syaikhun Wan Anwar Wandi Juhadi Warih Wisatsana Wawan Eko Yulianto Wawancara Wayan Budiartha Wayan Supartha Wendoko Wicaksono Adi William Bradley Horton Wisnu Kisawa Wiwik Widayaningtias Wong Wing King Y. Wibowo Yang Lian Yanuar Yachya Yetti A. KA Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yopie Setia Umbara Yos Rizal Suriaji Yoserizal Zein Yosi M Giri Yudhi Fachrudin Yudhi Herwibowo Yulia Permata Sari Yurnaldi Yusri Fajar Yuval Noah Harari Z. Afif Zacky Khairul Uman Zakki Amali Zamakhsyari Abrar Zawawi Se Zehan Zareez Zen Hae Zhou Fuyuan Zul Afrita